Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 17 (Lanjutan) Penyatuan Dua Hati
Di bawah temaram lampu kamar penthouse yang redup, dinginnya pendingin ruangan seolah lenyap, digantikan oleh gelombang kehangatan yang menjalar di antara kedua tubuh mereka. Arini bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, bersahutan dengan deru napas Adrian yang memburu di dekat wajahnya.
“adrian,aku takut”
“syutt aku akan pelan-pelan”
Adrian menundukkan kepalanya, mengunci bibir merah muda Arini dalam sebuah ciuman yang mendalam. Kecupan yang awalnya terasa lembut sebagai bentuk permintaan izin, perlahan berubah menjadi lumatan yang intens, menuntut, dan sarat akan rasa kepemilikan yang posesif.
“ahhhh” Arini melenguh tertahan di sela ciuman mereka, merasakan bagaimana bibir hangat Adrian bergerak dengan ritme yang memabukkan, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan rasional yang selama ini ia agungkan sebagai seorang sarjana cum laude.
Perlahan, kedua tangan kekar Adrian bergerak nakal ke arah gunung kembar arini “ah adrian,lepaskan tanganmu itu” namun bukannya berhenti adrian malah melanjutkan menanggalkan helai demi helai pakaian yang menjadi pembatas di antara mereka, mengekspos lekuk tubuh ramping Arini di atas seprai sutra abu-abu gelap.
Ketika jemari hangat Adrian menyentuh kulit halusnya, tubuh Arini refleks meremang. dan mengeluarkan suara-suara syahdu. Adrian membawa kecupannya turun dari bibir, menyusuri garis rahang, menuju leher jenjang Arini, dan memberikan sesapan lembut yang membuat istrinya itu semakin tenggelam dalam pusaran gairah.
kecapan menggelegar di dalam kamar yang hanya disaksikan dengan dua insan yang dimabuk ghairah.
“Aaah adrian” suara merdu dari Arini terngiang dipendengaran adrian
Adrian yang masih betah di bagian gunung kembar Arini, yang satu digenggam dan yang satunya lagi di mainkan oleh lidah yang cukup mahir untuk seorang pemula bagi mereka.
“Aaah” suara yang tertahan arini seolah membuat kecanduan baru bagi adrian.
“Teruslah bersuara baby, jangan di tahan karna hanya ada kita berdua” seolah tau isi pikiran istrinya adrian memilih melanjutkan ritual yang akan menjadi kecanduan dia untuk kedepannya.
Lidah adrian tidak hanya diam di satu tempat,dia mulai menjelajah bagian rawa bawah, arini reflek menutup bagian kaki bawah dengan rapat karna malu yang mulai mengerjap. “apakah kamu malu baby?” semburat merah di pipi Arini seolah memberikan jawaban untuk pertanyaannya. “rileks baby, aku akan sedikit main-main sebentar” dan adrian pun mulai memainkan rawa baru itu dengan lidahnya disesap bagian rawa itu dengan kecapan yang indah.
“ah adrian aku sudah tidak tahan mau pipis” meskipun arini cerdas dalam bidang akademik namun perihal ranjang dia masih tabu dan hal itu ketara oleh CEO yang akan membobol gawang arini tersebut.
“tahan baby, aku akan segera memasuki belalai ku ini” namun sangat sulit untuk memasuki gawang tersebut bahkan arini sendiri sudah mengeluarkan air mata dan membuat adrian tidak tega.
“apa kita lanjut besok saja?” tanya adrian karna dia sudah melihat sang istri mengeluarkan air mata
“tidakkk lanjutkan saja aku bisa sedikit menahannya”
Dan perlahan tapi pasti adrian mulai membobol gawang arini dengan peluh keringat didahi sang CEO tersebut. “awh sakittt sekali adrian” “tahan sebentar,aku akan perlahan menggerakkannya nanti lama kelamaan akan hilang sakitnya sayang” dan benar saja lama kelamaan tempo yang awalnya perlahan berubah menjadi saling menuntut satu sama lain saling bersahutan suara merdu yang menggema didalam kamar tersebut.
“ah…ah tangan ku sangat nakal adrian” Setiap gesekan kulit yang intim, embusan napas yang berkejaran, dan sentuhan protektif Adrian malam itu terasa begitu nyata. Tidak ada lagi pasal kontrak, tidak ada lagi batasan angka atau status sosial di antara sang konglomerat dan mantan pelayannya. Di dalam kamar yang sunyi itu, mereka berdua menyerahkan diri sepenuhnya pada ikatan batin dan fisik yang kudus. Penyatuan malam itu berjalan dengan penuh kelembutan namun membakar, mengunci komitmen mereka sebagai suami istri seutuhnya sebelum badai konfrontasi esok hari menerjang kehidupan mereka.