NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27 Rindu

Pukul dua belas malam, bertepatan dengan pengepungan basecamp Bima Sakti dan penangkapan Edo....

Musik berdentum keras memekakkan telinga di dalam basecamp Geng Black Shadow. Di tengah ruangan yang remang, para anggota inti tengah asyik berpesta. Mereka menenggak minuman keras dan mengisap drugs tanpa memedulikan dunia luar.

Sial bagi mereka, malam ini adalah akhir dari segalanya. Barisan aparat kepolisian dan tim agen rahasia yang dikerahkan oleh Haidar tiba-tiba datang mengepung tempat itu secara senyap.

Pengepungan itu dipimpin langsung oleh Ipda Rendi, perwira pertama rekan sejawat Iptu Akbar.

Saat pintu utama dibuka paksa, sejumlah anggota geng sudah dalam kondisi fly berat. Mereka lunglai, kehilangan kesadaran di bawah pengaruh zat terlarang.

Sementara itu, di dalam kamar utama, Raka dan Vella tengah bercumbu mesra. Keduanya tenggelam dalam asmaraloka, memadu kasih dan mereguk kenikmatan surga dunia, mengabaikan batas yang semestinya dijaga.

"Raka... aku mau lagi," Vella berbisik lirih. Ia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan sepasang mata yang sudah terasa berat, menikmati sentuhan Raka yang kian terbakar api hasrat.

Ruangan itu kedap suara, sehingga keduanya tidak mendengar suara riuh di luar kamar, dan kian terbuai dalam kenikmatan semu.

Begitu pintu didobrak dan suara letusan tembakan senjata api laras pendek menggelegar, Raka seketika tersentak panik.

Dengan napas memburu dan tangan bergetar hebat, ia bergegas mengenakan celananya.

Di atas ranjang, Vella yang telanjur mabuk berat dan lemas setelah berbagi peluh, hanya bisa refleks menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.

Raka bergerak kesetanan menuju jendela, berniat melarikan diri menembus kegelapan malam. Namun jelas, pergerakannya kalah cepat.

Dorr!

Satu tembakan presisi dari Ipda Rendi seketika bersarang telak, melumpuhkan kaki kanan Sang Ketua Black Shadow hingga ia tersungkur menghantam lantai.

Raka merintih kesakitan sembari memegangi kakinya yang mengucurkan darah segar.

Dengan wajah pias dan air mata yang mulai mengalir, ia mendongak menatap moncong senjata aparat.

"Ampun, Pak... tolong jangan bawa saya. Biarkan saya pergi," pinta Raka meratap pilu, kehilangan seluruh keangkuhannya sebagai pemimpin geng yang culas.

Sayang, ratapannya hanya dianggap seperti angin lalu. Sama sekali tidak diindahkan oleh Ipda Rendi dan anak buahnya. Mereka tetap meringkus Raka dengan sigap, lalu memasukkannya ke dalam mobil patroli untuk segera dibawa ke Mapolres.

Sebelum keluar dari ruangan, Ipda Rendi menatap sekilas sosok yang masih terbaring di atas ranjang dengan sepasang mata terpejam dan hanya terbalut selimut tipis berwarna putih. Ia lalu menghubungi Briptu Fatma dan rekan-rekannya untuk segera datang ke basecamp Black Shadow, menangani Vella.

.

.

Pukul tiga dini hari...

Xavier memaksa tubuhnya yang terasa sangat lemas untuk beranjak dari posisi duduk. Ia berjalan tertatih, membawa langkah kakinya menghampiri tunggangan besi miliknya yang terparkir di sudut gudang tua.

ZX-25R melesat, membelah keheningan kota, ditemani lampu penerang jalan yang temaram.

Pulang ke rumah. Itu yang diinginkan Xavier saat ini. Merebahkan tubuh dan sejenak mengistirahatkan pikirannya yang berkecamuk.

Setibanya di rumah, Xavier bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Namun, sebelum sempat membuka pintu kamar, terdengar suara lembut memanggil dari arah belakang. Membuatnya tersentak kaget dan refleks menoleh.

"Mama..." gumam Xavier lirih. Seketika ia dihinggapi rasa takut saat mamanya mulai menelisik wajahnya dengan tatapan penuh curiga.

"Vier, kenapa wajahmu dipenuhi noda darah? Kamu berkelahi lagi?" cecar Raina. Ia merendahkan nada suaranya, menuntut putra sulungnya untuk segera memberi jawaban.

Xavier menunduk dan terdiam sejenak. Ia mencoba mencari jawaban yang tepat, demi menghindari kemurkaan sang mama.

"Tadi, Vier menghantam dinding dan membanting motor Edo sampai remuk," ucapnya jujur. "Vier nggak bisa ngendaliin emosi, Ma, waktu tahu kebusukan Edo. Bukan cuma mengkhianati kepercayaan Vier, dia juga jalanin bisnis gelap, prostitusi dan drugs."

"Astagfirullah..." Raina menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia serasa tak percaya jika Edo--sahabat Xavier yang sudah dianggapnya seperti putra sendiri--ternyata adalah seorang penjahat keji, perusak masa depan generasi muda.

"Tadi, Edo diringkus polisi, Ma. Dia dibawa ke Mapolres," Xavier kembali berkata jujur. Namun, sebisa mungkin ia tetap menutupi hal lain--dosa besar yang telah ia lakukan terhadap Sukma karena hasutan Edo, penyebab utama mengapa ia teramat marah pada sahabat sekaligus wakil jenderal Geng Bima Sakti itu.

"Yang penting, kamu tidak ikut terseret kan, Vier? Mama sungguh tidak ingin putra Mama berurusan dengan penegak hukum dan menjadi pelaku kriminal."

Xavier bergeming. Kalimat yang dituturkan oleh Raina seketika menyentil ulu hati. Membuatnya tak berani menegakkan kepala untuk menatap manik mata sang mama, yang kini terlihat mulai berkaca-kaca.

"Vier nggak ikut terseret, Ma. Tapi, besok pagi, Vier bakal menemui Edo di penjara. Vier pengen tahu alasan dia ngejalanin bisnis terkutuk itu, yang udah jelas-jelas Vier larang," ujar Xavier lirih.

Raina menghela napas panjang, lalu mengusap lembut bahu putranya untuk memberikan ketenangan.

"Alhamdulillah. Sekarang, cepat masuk ke kamarmu dan mandi pakai air hangat. Setelah mandi, Mama akan obati lukamu."

Xavier mengangguk tipis. "Iya, Ma," sahutnya. Ia segera membuka pintu, lalu membawa ayunan kakinya masuk ke dalam kamar.

Selama lima belas menit, Xavier berendam di dalam bathtub. Selama itu pula, ia tenggelam dalam lamunan. Membiarkan adegan di malam kelam itu kembali membayang jelas di ingatan.

Suara Sukma yang bergetar memohon belas kasih, wajah piasnya yang dipenuhi gurat ketakutan, rintihan, dan sumpah serapahnya--semua itu terasa kembali nyata.

Tubuh Xavier seketika gemetar, bibirnya berulang kali merapalkan kata maaf. Sungguh, ia teramat menyesal dan merasa sangat berdosa pada sosok Hawa yang telah ia hancurkan marwahnya. Wanita yang ternyata sejak lama menyimpan perasaan cinta dalam diam.

.

.

Di tempat berbeda...

Di keheningan sepertiga malam, Sukma tenggelam dalam ibadahnya. Ia rukuk dan sujud dengan khusyu', memasrahkan segalanya pada Ilahi, menanggalkan sejenak beban duniawi.

Dua salam terlafaz, Sukma masih setia duduk di atas sajadah. Ia berzikir, lalu menengadahkan kedua telapak tangannya. Memohon dan merayu Tuhannya, agar berkenan meluaskan lagi hatinya yang terasa sempit. Memampukan dirinya untuk selalu sabar, ikhlas, dan rida menjalani goresan takdir, serta menghapus satu nama yang masih mengendap di dalam benak.

Namun, bukannya terhapus, nama itu malah tertera lebih jelas dan seolah-olah berdengung nyata di telinga.

"Allah..." Sukma berucap lirih. Ia refleks mengusap lembut perutnya yang kembali berdenyut samar.

Tiba-tiba, rasa rindu hadir mengambil alih kebencian yang sejenak lesap. Selayaknya seorang wanita yang tengah mengandung, ia ingin didampingi, dijaga, dan dihujani kasih sayang oleh ayah biologis janin yang dikandungnya.

Namun, Sukma buru-buru mengempas perasaan dan keinginannya itu. Ia menanamkan kuat-kuat di dalam benak bahwa ia tidak boleh lemah. Harus tangguh, dan tidak mudah terpedaya oleh kata maaf yang pernah diucapkan Xavier, yang mungkin hanya palsu.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Najwa Aini
sini..aku peluk..mbak Raina...
Najwa Aini
Dan putranya mengulang dosa yg sama. Tapi untungnya..sapir punya inisiatif utk bertanggung jawab lbh awal
Najwa Aini
Jangan sampai Sukma nanti seperti Larasati..
Najwa Aini
Sukma kekeuh ingin melupakan. ia juga bertahan agar tdak merasa iba, apalagi tersentuh dengn ketulusan sapir..

intinya..Sukma itu sebenarnya sdah tidak marah. sudah memaafkan. hanya belum disadari. belum dirasakan. atau justru sdah disadari, tapi ditolak..

pertanyaannya, dgn itu, dia lagi menghukum sapir, atau menghukum dirinya sendiri...
Najwa Aini
Yahh..aku mikir gimana cara nyampein salamnya ya...
apa nyampek beringharjo..diam bentar. trus ngomong gitu..aja..ya udah terserahlah..
Ayuwidia: Sebelum ngomong, mampir dulu ke warung soto Pak Muh, Kak. Habis itu baru nyampein salamnya si comel
total 1 replies
Najwa Aini
Nahhh...👍👍👍...
Aku suka ini Sapirr
Nofi Kahza
Woah..teges banget Lo, Pir. tapi gpp. gue dukung. semakin cepat semakin bagus😌😌
Nofi Kahza
omelete plus mayones. Ya Ampun laper aku jadinua/Hunger//Hunger/
Ayuwidia: Gassss bikin 😀
total 1 replies
Nofi Kahza
ish! si Nofi, Lo usil banget jadi cewek. Anak siapa sih?🫣🫣
Ayuwidia: Anak mami 😆
total 1 replies
Queen tie
namanya jg novel,,, kalau direal kehdpnan, sdh pasti Suksma mau dinikahi, lagian jg semua dr awal kesalahan dr kakaknya berimbas keadik, kita ikuti terus pantenginnnnn, semangat2 buat vier sj dah,, si Nyai mah bnrnya nau, cuma trs inget diperkaos,, lagian si ustaz kyk nda ada wanita baik saliha lain🤭😄
Ayuwidia: Woah, makasih Kak 😄
total 1 replies
Nofi Kahza
jaga hati agar tak berpaling dari Sapir kan maksudnya??🤭🤭
Nofi Kahza
kayak nggak rela kalau Xavier harus pulang. kan jadi jauh dengan Sukma..🥹
Najwa Aini
loh..kok disuruh baca istighfar.
sukma itu lagi menemukan salah satu tanda kebesaran Allah..harusnya bertasbih dia, bukan disuruh baca istighfar
Nofi Kahza
ini mah paling kesukaan Kirana, atau kesukaan othornya juga🤣🤣
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Nofi Kahza
ciee.. cieee.... udah sayang sayang ajanih si Sapir🤭
Najwa Aini
Udah paten nih ya, Sukma dipanggil Nyai
Najwa Aini
Lumayan lah. dari pada gak sama sekali...🤣
Nofi Kahza
aku baru aja ke Gugel, tanya arti hamba yang papa. Baru tau aku🫣
Nofi Kahza
nah, bentar lagi habis ini jadi imam sholat Sukma ya, Pir...
sekarang kau dh nggk benci lho ma kamu🤭
Najwa Aini
Aku semangatin dari jauh ya Pirr...🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!