Delima, gadis yang hidup dengan rasa percaya diri yang rendah. Terbiasa dibully membuatnya menarik diri dari pergaulan dan merasa dirinya tak pernah berharga. Sampai Ia dicintai oleh Richard Kusumadewa, mantan pemakai narkoba dan playboy kelas kakap. Akankah Richard mampu merubah Delima dan mengembalikan rasa percaya dirinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Breakfast With Love
Richard
Ternyata menikahi Adel tak semudah yang kubayangkan. Ada saja cobaan yang harus kujalani. Selain masalah restu juga siapa yang akan menikahkan.
Pulang dari rumah kontrakkan Adel, aku berniat hendak mencari tahu dulu apakah benar keluarganya Adel masih tinggal di tempat yang sama. Namun rencana hanya tinggal rencana.
Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Tubuhku terasa letih dengan semua aktifitas hari ini. Lelah fisik dan juga lelah pikiran.
Aku berniat ingin mandi air hangat lalu langsung tidur setelah menyuruh orang kepercayaanku menyelidiki keberadaan orang tua Adel. Tapi saat aku membuka pintu rumah, sudah ada Papa, Mama, Leo dan Maya yang menunggu.
Huft... Rencana istirahat gagal total.
Aku disidang dahulu oleh mereka. Ditanya bagaimana reaksi orang tuanya Adel. Ditanya apakah akhirnya direstui dan banyak lagi.
"Papanya Adel merestui kami berdua." belum selesai aku bicara keempat orang itu langsung mengucap syukur.
"Alhamdulillah." jawab mereka kompak.
"Tapi...."
"Tapi kenapa lagi?" tanya Papa penasaran.
"Ada syarat dan ketentuan yang berlaku?" tanya Leo.
"Adelnya nolak Kakanda?" tanya Maya.
"Mereka mau diadakan resepsi yang super mewah? Bilang saja Mama siap gitu!" kata Mama penuh semangat.
Huft... Keluarga ini apa yang salah ya? Heboh semuanya.
"Bukan. Ada masalah pribadi dan sifatnya rahasia yang harus aku dan Adel selesaikan." jawabku pernuh misterius.
"Yaaahhh... Apa sih pake rahasia-rahasiaan segala? Kita kan akan jadi keluarga nantinya." protes Mama. Ia paling tidak suka kalau ada yang diumpetin kayak gini.
"Mama betul itu. Enggak ada rahasia diantara kita." Papa mengamini perkataan Mama.
"Hmm.... Aku bingung harus jujur mengatakannya pada kalian atau tidak. Jujur saja, aku takut kalian akan membocorkan sama yang lain. Itu yang membuatku ragu."
"Ih kalau enggak mau kasih tau, jangan bikin orang penasaran!" protes Maya.
"Iya nih. Mama kan enggak suka digantung kayak gini!" protes Mama.
Hanya Leo yang sejak tadi tidak berkomentar, namun sekalinya bertanya membuatku harus berkata jujur.
"Kalau memang ada masalah dalam proses kamu, sebaiknya cerita sama kita semua. Kalau memang yang akan kamu ceritakan sifatnya rahasia, tentu kita sebagai keluarga enggak akan menyebarkan aib saudaranya. Kalau kamu pendam sendiri, percaya deh kamu akan mumet,"
"Kalian kan akan menikah, masalahnya nanti banyak. Jangan terlalu menumpuk masalah. Nanti kamu malah emosi dan melampiaskannya sama Adel. Belum menikah kalian sudah banyak bertengkar, apalagi nanti? Mungkin kita enggak bisa banyak membantu, tapi pasti akan sedikit meringankan beban pikiran kalian." kata Leo dengan bijak.
"Nah! Papa juga mau bilang kayak gitu tuh." balas Papa.
"Mama juga."
"Maya juga."
Nah tiga orang ini pasti hanya ikut-ikutan saja deh. Mau benar atau salah ikut aja.
"Kalau aku cerita, kalian janji ya bakal tetap dukung aku dan lanjutin niatku menikahi Adel?" kuajukan dulu syarat dan ketentuan sebelum mereka berubah pikiran.
"Iya. Janji." jawab semuanya kompak. Aku pun tersenyum dibuatnya.
Aku mengambil udara dulu untuk menambah stok sabar. Setelah ini pasti mereka akan memberondongku dengan beragam pertanyaan.
"Jadi, Om Hartono tidak bisa menikahkanku dengan Adel. Karena.... Adel bukan anak kandungnya."
"Hah? Jadi Adel anak siapa dong?" tanya Maya yang pertama kali.
"Ya anak manusia. Masa anak jin!" jawabku sebal.
"Adel anak selingkuhan Mamanya?" tanya Mama kemudian.
"Kebanyakan nonton sinetron nih pasti." jawabku tak kalah sebalnya.
"Atau Adel anak yang dibuang di semak-semak lalu karena kasihan, Pak Hartono merawatnya sampai besar. Pasti begitu kan?" Papa malah ikut-ikutan sama Mama dan Maya. Eh tapi diantara mereka jawaban Papa yang paling mendekati kebenaran sih.
"Bukan. Adel itu adalah anak dari orang yang pernah didakwa sama Pak Hartono." jawabanku belum selesai tapi sudah dibalas dengan mereka bertiga.
"Hah? Bapaknya Adel seorang pembunuh?" kini Mama yang bertanya pertama kali.
"Bukan kali Ma. Bapaknya Adel pencuri kan? Atau perampok? Atau -" belum selesai Maya bertanya, Papa sudah menyelanya.
"Adel buat sogokan karena orang tuanya mau hukumannya diringankan dengan Pak Hartono kan?" tebak Papa.
Huft... Sabar.... Sabar....
Punya keluarga yang kelakuannya ajaib begini sampai ke menantunya juga ajaib. Ya Allah... Dosa apa aku ini???
Lagi-lagi aku harus berterima kasih pada Leo. Dia menambah stok sabarku. Jika tidak aku sudah masuk ke kamar dan mengacuhkan mereka semua.
"Kalian ini kebiasaan deh! Dengerin dulu kalau Richard lagi ngomong. Jangan dipotong terus. Tebakan kalian juga dari tadi salah terus. Jadi lama nih gara-gara kalian!" omel Leo panjang lebar.
"Ih kamu juga bikin lama tau Yo. Kebanyakan ceramah." balas Mama.
"Iya. Dia malah bikin tambah lama." Maya membela mertuanya.
Hadeh... Bisa stress lama-lama kayak gini. Belum nikah aja udah bikin mumet.
"Masih mau dilanjutin enggak nih?" tanyaku sebal.
"Masih." jawab mereka kompak.
"Oke. Aku lanjutin. Jadi menurut cerita Om Hartono, Papa kandungnya Adel itu korban salah tangkap. Masalahnya adalah barang bukti yang ditemukan cukup kuat, ada sabu-sabu dan uang. Padahal uang itu habis jual hasil panen kopi, tapi ya Om Hartono tak bisa berbuat banyak,"
"Ya ampun Adel." Maya sudah berlinang air mata.
"Adel punya dua saudara laki-laki. Mama kandungnya tak sanggup membiayai tiga anak dan tak bisa mengurus Adel yang batu seminggu dilahirin. Karena itu Adel dititipkan ke Om Hartono untuk disekolahkan dan disayangi seperti anak kandungnya."
"Tapi Pak Hartono tau alamat orang tua kandungnya dimana?" tanya Leo sebelum ketiga orang itu bertanya.
Aku mengeluarkan Hp-ku dan menunjukkan foto berisi catatan alamat rumah orang tua Adel. "Ini. Tadi Om Hartono kasih alamatnya sama aku."
"Tolong kirimin ke aku. Biar aku suruh orang mastiin dulu. Kamu jangan langsung kesana sebelum dipastiin. Biar enggak sia-sia sudah pergi jauh eh orangnya sudah pindah." tuh kan, hanya Leo yang pikirannya paling logis.
"Iya. Niatku juga begitu. Kamu kabarin lah kalau sudah ada kepastiannya. Rencananya rabu aku dan Adel mau kesana."
"Iya. Aku usahain secepatnya. Ada orang kita kok disana. Anak cabang perusahaan Papa dekat sana. Paling hanya sejam. Aku suruh besok Ia datang kesana."
"Thanks, Bro." aku menepuk lengan Leo. Entah sudah berapa banyak Ia menolongku.
"Yoi."
"Er... Mama dan Papa gimana? Enggak masalah kan kalau Adel bukan anak kandungnya Om Hartono?" kali ini aku meminta pendapat kedua orang tuaku. Bagaimanapun, restu mereka adalah restu Allah juga.
"Bagi Papa sih enggak masalah." jawab Papa tanpa dipikir dulu.
"Mama juga. Adel baik. Tetap saja dia anak didikannya Pak Hartono, meskipun bukan anak kandung, tapi hasil didikan Pak Hartono bisa terlihat di dirinya." jawab Mama.
"Mm... Ada satu lagi, Ma."
"Apa?" tanya Mama.
"Jadi baik keluarga Om Hartono maupun istrinya tidak ada yang tau kalau Adel itu bukan anak kandung mereka. Mamanya Adel mau rahasia itu terkubur rapat selamanya."
"Bagaimana caranya? Pasti akan ketahuan dong?" protes Mama.
"Ya justru itu Ma masalahnya. Mamanya Adel maunya acara akad nikah dilakukan tertutup dan hanya orang tertentu yang menyaksikannya. Ia tak mau rahasia ini sampai bocor. Itu syarat yang diajukan Mamanya Adel. Sepertinya keluarga mereka sering mencibir Om Hartono dan istrinya karena tak kunjung memiliki anak. Mamanya Adel sudah berbohong dan mengatakan kalau Adel adalah anak yang Ia lahirkan. Ia tak mau kebohongannya diketahui publik." aku menyampaikan pesan Mamanya Adel pada mereka semua. Apakah mereka bisa menerimanya?
"Papa sih enggak masalah. Tapi Mama kamu kayaknya masih mau menyampaikan unek-uneknya deh." Papa menunjuk Mama yang kini sudah bertampang masam.
"Kok belum apa-apa pihak besan sudah ngatur-ngatur kita sih? Kalau dia yang berbohong, kenapa kita juga harus membantu menutupi kebohongannya?" Mama mulai sebal.
"Ma, please. Tiap orang kan punya masalahnya sendiri. Mungkin saking tertekannya karena selalu dicibir makanya Mamanya Adel melakukan hal itu. Kita enggak pernah tau apa yang orang lain alami, jangan langsung menjudge sendiri." kataku.
"Ya tapi masa sih pernikahan kalian harus tertutup begitu? Nanti dikiranya kalian tekdung duluan lagi!" cibir Mama.
"Kayak aku dan Leo dulu ya Ma?" si oon malah ikut-ikutan komentar lagi. Kupelototi dia yang menunduk karena merasa bersalah. "Maaf, Kakanda."
Leo menepuk pundakku. Mencoba meleraiku dan Maya. Huft... Kenapa Maya malah kena cipratan amarahku?
"Hanya acara akad nikahnya saja, Ma. Resepsinya kan enggak." Leo membantuku bicara. Lagi.
"Betul, Ma. Hanya akad nikahnya saja. Kita bilang saja kalau sengaja tertutup agar lebih khidmat acaranya. Pasti mereka mengerti kok." aku mencoba memberi pengertian pada Mama.
Mama terdiam seperti mempertimbangkan perkataanku dan Leo. "Baiklah. Tapi resepsinya harus diadain ya?" ancamnya.
"Iya, Ma. Iya. Mama yang buat ya acaranya." aku harus baik-baikkin Mama. Ingat, Mama yang punya kuasa diatas segalanya. Perempuan selalu benar.
"Bener loh!" aku mengangguk.
"Oke. Karena sudah beres semua, ayo kita bubar. Sudah malam. Besok harus kembali bekerja lagi." Leo membubarkan kami dan kami pun kembali ke kamar masing-masing.
Untunglah aku memasang alarm tadi malam, kalau tidak pasti aku kesiangan karena hanya tidur beberapa jam saja. Aku langsung mandi dan berangkat pagi menjemput Adel.
Aku memberikan kunci mobilku pada supir. Memintanya membawa ke kanto, sementara aku membawa mobil Adel.
Aku menunggu di depan rumah kontrakkannya, saat Ia keluar kontrakkan Ia amat terkejut melihat keberadaanku.
"Pagi calon makmum." gombalan receh yang berhasil membuat pipi Adel bersemu merah. Ia terlihat cantik memakai kemeja kembang-kembang berwarna ungu. Rok hitam selutut menambah manis penampilannya.
"Kamu udah sarapan belum?" tanya Adel saat kami berjalan kaki menuju tempat mobilnya diparkirkan, yakni di warung Pak Husin.
"Belum. Nanti saja di kantor. Aku bisa suruh OB beli. Atau kamu mau sarapan dulu?" aku melihat jam tanganku, hari senin kalau kebanyakan mampir bisa telat nanti Adel. Kalau aku sih bebas.
"Aku bawa telur rebus sih buat sarapan. Atau buat kamu aku belikan nasi uduk Mpok Uum aja ya." Adel menunjuk tukang nasi uduk dekat warung Pak Husin yang mulai ramai pembeli.
"Terserah kamu aja deh."
"Oke. Tunggu sebentar ya." aku duduk di depan warung Pak Husin. Ternyata ada susu low fat yang Ia jual.
"Pak, mau susu low fatnya 4." aku mengeluarkan uang seratus ribu dan memberikannya pada Pak Husin. "Kembaliannya ambil saja. Buat uang parkir."
"Ya ampun baik bener, Bang. Kayak Leo aja. Eh kalian agak mirip mukanya. Adik kakak ya?" ternyata Pak Husin peka juga jadi orang. Bisa melihat kemiripan kami berdua yang hanya sedikit saja.
"Iya. Saya Kakaknya Leo. Richard." aku memperkenalkan diri. Selama ini aku tak pernah mengobrol akrab sampai memperkenalkan diri seperti ini pada Pak Husin. Aku harus mulai membangun hubungan karena aku akan sering nitip mobil disini nantinya.
"Walah, bener dugaan saya. Kalau mau naruh mobil silahkan saja. Leo juga sudah biasa kok. Anggap aja rumah sendiri." kata Pak Husin ramah.
"Siap, Pak. Makasih banyak ya."
Adel datang menghampiriku. "Ayo. Aku udah beliin buat kamu sarapan nih." Ia memberikan bungkusan nasi uduk yang Ia bawa.
"Aku juga beliin kamu sarapan. Simpan di laci buat besok dan besoknya lagi." aku gantian memberikannya bungkusan yang kubawa.
"Apa ini?" Adel memeriksa bungkusan dariku. "Ya ampun, kamu perhatian banget." Ia tersenyum senang karena perhatian kecil yang kuberikan.
"Jangan cuma makan telur aja. Minum susu biar tambah sehat. Kita jalan sekarang yuk nanti kamu telat."
Aku mengantar Adel ke kantornya. Ia bekerja di salah satu Kantor Cabang Utama. Berarti Adel lumayan cerdas, masih muda sudah menjadi SPV di KCU. Sebuah pencapaian yang tak mudah menurutku.
"Kok diparkirin? Kamu enggak bawa aja mobilnya?" tanya Adel bingung saat aku memarkirkan mobilnya di parkiran kantor.
"Nanti sore aku enggak bisa jemput ya. Kamu bawa mobil kamu aja. Aku udah suruh sopir bawa mobil aku ke kantor. Kerjaanku hari ini agak padat, aku harus menyelesaikannya sebelum kita berangkat ke Palembang. Kamu jangan lupa ajukan cuti juga ya." aku mengusap kepala Adel dengan lembut, membuat wajahnya memerah malu.
Saat turun aku pun membukakan pintu untuknya. Lalu aku berjalan berdua menuju lobby. "Ini kunci mobilnya. Nanti siang jangan lupa makan yang bener ya. Jangan menunda makan apalagi muntahin makan lagi!" Adel tersenyum saat kuceramahi. Ia tahu aku bawel demi kebaikannya.
"Aku antar sampai sini ya. Nanti kirim pesan ya kalau kamu enggak sibuk!" pesanku.
Adel hanya tersenyum sambil mengangguk malu. "Bye calon imamku."
Sekarang aku yang gantian tersenyum. Sudah berani dia gombal receh kayak aku. "Bye cantik."
Aku pun meninggalkan kantor Adel dan menyetop taksi dipinggir jalan. Dengan tangan kiri memegang plastik berisi nasi uduk dan tangan kanan memegang jas.
"Pak, ke Sudirman ya!"
Kuambil Hp dan mulai mengambil foto. Kutaruh bungkus nasi uduk diatas jok mobil. Tak lupa kutulis caption di statusku:
Breakfast with love
Bukan berisi telor mata sapi. Bukan juga berisi sandwich. Melainkan sebungkus nasi uduk.
****
Hi semua!
Sudah senin lagi nih...
Semoga semuanya makin sehat dan bahagia ya.
Jangan lupa like dan vote kalian ya. Jangan kasih kendor! Hatur nuhun... Maacih... 😘😘😘