"Jangan pernah Lo ikut campur dalam urusan gue!!" Alifa Zea Amanda~
"saya akan ikut campur. karena apa yang kamu lakukan itu salah!" ghibram Naufal Rizal~
Alifa, seorang mafia terjebak dalam pesantren demi memenuhi janjinya untuk nenek. ia selama disana tak tinggal diam. beberapa kali ia mencoba kabur, namun ada seorang Guz yang selalu menggagalkan rencananya.
seperti apa kisah lanjutan nya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alcanbery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. chapter tiga puluh satu
Jangan lupa vote, vote, dan vote.
Komen, like dan bintang...
Jangan lupa taruh di daftar bacaan, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita berikut nya.
Follow IG bunny @quensha_sha
______________________
Happy reading...
•
•
•
"Bagaimana mungkin?" Gumam Rangga.
Alifa berusaha berdiri. Namun, lagi-lagi Alifa terjauh. Gus Rizal dengan sigap menarik Alifa agar tidak jatuh.
"Manda, kamu lebih baik istirahat saja. Kami yang akan mencari adik kamu." Ujar Gus Rizal.
Alifa menghempas tangan Gus Rizal dengan kasar. "gue ngak mau istirahat sebelum Adek gue ketemu!"
"Semua bodyguard berpencar lah! cari keberadaan Albert sekarang juga!"
"Untuk Lo, Rangga. Dalam 24jam Lo ngak bisa temukan Albert, gue ngak segan-segan menghukum Lo!"
***
Pagi hari...
**Prang...
Prang...
Prang**...
Alifa membuang semua kelantai. Banyak sekali pecahan kaca dimana-mana, makanan berceceran di lantai, dan noda minuman yang tumpah.
Semenjak kejadian tadi malam, Rangga terpaksa harus mentoktok tubuh Alifa, agar Alifa tidak ngotot untuk pergi.
Alifa terbaring tak berdaya diatas kasur kingseze miliknya. Air matanya terus saja mengalir dari kelopak matanya. Alifa berusaha untuk menggerakkan kakinya, namun seberapa kerasnya ia mencoba selalu tak membuahkan hasil. Alhasil Alifa terus terjatuh.
Cekrek...
Sasa, diva, zhara dan Kelly datang ke kamar Alifa dengan membawa makanan kesukaan Alifa. Mereka ber-4 menaruh makanan dan minuman itu diatas nakas.
"Alifa makanlah dulu gih." Ujar zhara.
"Sudah sejak tadi malam perut mu belum ke isi mbak. Mbak mau makan apa? Nanti kami akan buatkan." Bujuk diva.
"Pergi!" Titah suara lemah dari Alifa.
"Tapi, mbak..."
"Gue bilang pergi!" Ujar Alifa sekali lagi.
"Kami ngak akan pergi sebelum Lo makan, Alifa!" Ujar Kelly dengan nada tinggi.
Alifa mengambil makanan yang ada diatas nakas. Lalu, ia membuangnya lagi makanan itu.
"Udah gue makan kan? Sekarang kalian pergi!"
"Huh. jika itu mau Lo, kami akan pergi." Ujar Kelly pasrah.
Mereka ber-4 meninggalkan Alifa sendirian didalam kamar.
***
Ruang makan....
"Apa Alifa mau makan makanan yang tadi kalian bawa?" Tanya Arnold.
Kelly menggeleng kepala. "Dia membuangnya lagi." Ujar lemah Kelly.
"Katanya dia hanya mau adiknya, Albert saja." Sambung Sasa.
"Kami sudah menugaskan bodyguard untuk mencari Albert. Seharusnya mereka sudah menemukan Albert berada." Ujar Kelvin.
"Aku mengkhawatirkan kondisi Alifa. Dia tidak mau makan, minum apalagi menyentuh nya? Kalo begini terus racunnya malah akan menyebar lagi ke tubuh Alifa." Ujar Kelly khawatir.
Kelvin menarik tangan Kelly dalam pelukan nya. "Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir Alifa pasti akan baik-baik. Begitulah pula dengan Albert." Ujar Kelvin sambil membelai rambut Kelly.
***
Satu Minggu kemudian...
Sudah satu Minggu Alifa mengurung dirinya dalam kamar. Membuat semua keluarga sangat panik, cemas dan khawatir terjadi sesuatu hal buruk pada Alifa.
Sementara itu, keluarga Abah sudah pulang sejak subuh, dikarenakan ada kepentingan mendadak di pesantren. Hanya ada umi, elang dan Sasa yang tetap tinggal di mansion dayton.
Selama satu minggu, Alifa tidak pernah menyentuh makanan. Ia hanya meminum air putih dan obat penawarnya saja.
Selama satu Minggu, kondisi Alifa semakin memburuk. Terpaksa keluarga Alifa membawanya kerumah sakit.
Lagi-lagi saat Alifa siuman, ia membuang makanan, minuman dan obat yang suster bawakan. Alifa juga menolak keras jika Rangga yang menangani dirinya.
Cekrek...
Elang datang ke kamar VVIP Alifa. Tak lupa, elang membawakan nasi goreng dan jus jambu biji kesukaan Alifa.
"Alifa, yuk makan. Gue yang akan suapin Lo." Elang menyodorkan satu sendok di mulut Alifa.
Alifa menatap datar sendok itu.
"Sedikit saja." Bujuk elang.
Alifa diam saja.
Tingkah keras kepala Alifa membuat elang harus ekstra sabar.
"Alifa, Lo tahu ngak? Jika Lo ngak makan pasti bang Reza akan sangat marah ke Lo." Ujar elang mencairkan suasana.
"Reza udah ngak peduli sama gue. Dia ninggalin gue begitu saja." Ujar Alifa.
Elang menaruh kembali makanan dan minuman itu diatas nakas.
"Itu tidak benar. Bang Reza ngak ninggalin Lo kok. Dia pasti akan kembali. Gue yakin itu. Sekarang ayo makan biar saat bang Reza pulang dia ngak akan marah sama Lo." Bujuk elang menyodorkan kembali satu suapan ke Alifa.
Alifa menerima suapan dari elang. Elang tersenyum Alifa akhirnya mau makan. Walaupun hanya sedikit saja.
***
Malam hari...
Alifa tidak sengaja mendengar suara anak kecil menangis. Entah kenapa hatinya menjadi cemas mendengar tangisan anak kecil itu.
'kenapa hati gue sakit. Siapa anak kecil itu?' batin Alifa.
"Alifa, ada apa?" Tanya Sasa.
"Tangisan itu seperti nya tidak asing ditelinga gue." Ujar Alifa.
"Apa maksud mu, Alifa?" Tanya Sasa lagi.
"Bantuin gue bangun. Gue mau ketemu sama anak itu." Ujar Alifa.
Sasa mau tak mau harus menuruti keinginan Alifa. Sasa berserta perawat pribadi Alifa membantu Alifa ke kursi roda. Sasa membantu mendorong kursi roda Alifa.
"Dimana kamu mendengar suara tangisan itu?" Tanya Sasa.
Alifa menunjuk keruangan sebelahnya. "Disini."
Brak...
Alifa menendang pintu dengan keras. Pintu terbuka dengan paksa. Para dokter dan suster yang ada didalam sangat terkejut melihat pemilik rumah sakit ini ada dihadapan mereka.
Alifa membulatkan matanya menemukan sosok yang ia cari selama ini. Sasa menutup mulutnya tak percaya dengan tindakan sembrono para dokter dan suster itu.
"Alifa, itu... Itu..." Ujar Sasa syok.
Alifa menatap tajam para dokter dan suster itu.
"Kakak..."
Albert memeluk erat Alifa. Alifa membalas pelukan Albert.
"No---noa muda, ini tidak seperti yang anda bayangkan." Ujar dokter gugup.
"Siapa yang menyuruh kalian melakukan hal seperti ini dirumah sakit milik dayton?!" Ujar Alifa menekan semua kata-kata nya.
Para dokter dan suster bergidik ketakutan. Apalagi aura kuat yang dipancarkan Alifa membuat mereka kesulitan membuka mulut.
"Jawab!"
"Jika kalian ngak mau menjawab, saya pastiin seumur hidup kalian akan sangat menyesali hal ini! Cam kan ini! Sasa ayo kita pergi." Ujar Alifa.
Sasa menganggukkan kepalanya. Ia mendorong kursi roda Alifa kembali keruang rawat Alifa.
***
"Kakak, aku sangat merindukanmu. Ikhik... Ikhik..."
Alifa menghapus air mata Albert.
"Jagoan kakak tidak boleh menangis. Katakan pada kakak, bagaimana kamu bisa sampai disini?" Tanya Alifa.
Albert diam. Diamnya Albert menunjukkan bahwa Albert tak baik-baik saja. Alifa mengusap kepala adiknya dengan lembut.
'kakak tahu kamu ngak akan cerita ke kakak. Kakak ngak akan memaksamu untuk bicara.' batin Alifa.
Alifa mengelus kepala Albert dengan penuh kasih sayang.
"Kakak..." ujar Albert tertegun memandangi Alifa.
"Tidak apa-apa kalo kamu belum siap cerita sama kakak. Kakak paham sekali." Ujar Alifa.