"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
POV Dewa
"Menikahlah dengan ku Arin"
Aku mengatakan hal ini saat aku menyadari betapa malangnya hidup Arin. Arin adalah satu-satunya sahabat ku dulu, dia satu-satunya teman yang tidak mengejekku karena aku gendut.
Aku sudah menyukainya sejak lama, sayang papa di pindah tugas kan ke luar negeri, jadi aku harus jauh darinya.
Aku tidak bisa melupakannya, selera makanku berkurang, aku bahkan tidak tertarik dengan makanan apapun saat mama menyuguhkan nya, di hati ku hanya ingat Arin. Dulu aku ingin menolak ikut, namun mama tidak tega. Begitu aku lulus SMA, aku ingin kembali ke Indonesia.
Sayangnya papa sakit, aku makin merana karena terus di landa rindu dengan gadis pujaanku. Aku terpaksa bekerja sambil kuliah di luar negeri.
Perusahaan mau pesat,ayah juga mulai membaik, hingga aku di perbolehkan kembali ke Indonesia.
Aku sangat bahagia, bahkan aku langsung membeli sebuah cincin berlian untuknya. Aku akan membawanya ke LA jika dia mau nanti.
Dalam perjalanan aku tidak berhenti tersenyum membayangkan betapa cantik parasnya. Dia yang begitu anggun, pekerja keras dan juga tidak cengeng.
Sejak SMP dia sudah sekolah sambil bekerja, dia dari desa kayaknya butuh uang untuk membantu bapaknya.
Setelah pulang sekolah aku sering mengikuti dia, dia perempuan baik, selalu menolong orang di sekitarnya. membayangkan dos membuat ku tidak sabar ingin menemui nya.
Sampai di Indonesia, ku minta supir langsung ke toko kue tempat dia bekerja. Dia dulu tinggal di toko itu. Aku sering di beri kue buatan nya. Jika saja di izinkan, aku sangat ingin memiliki toko ini. tapi kata org kepercayaan ku, toko itu penuh sejarah, pemilik nya tidak mau menjual nya.
Aku ingin langsung menemui Arin, tapi kata penjaga toko dia hari ini libur.
Aku juga bertanya apa dia sudah tidak tinggal di tempat ini? Jawaban penjaga toko benar-benar membuat hati ku hancur berkeping-keping.
Ternyata Arin sudah menikah dengan anak pemilik toko ini, gadis seperti dia memang pantas di sukai banyak orang. Hati ini gulana, perjalanan ku terasa sia-sia. Apa aku terlambat? Harusnya aku datang lebih awal, harusnya aku tidak ikut ke luar negeri. Sekarang Arin telah menikah. Aku harus bagaimana? Rasanya separuh hidupku telah hilang. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahku lenyap dalam seketika.
Aku meminta supir ku untuk pulang sendiri, Ku Kendarai mobil ini tanpa arah. Jika pantas menangis rasanya aku ingin menangis, aku pukul stir mobil dengan keras. Rasanya aku ingin menjerit keras. Andai saja ini di dunia novel, aku ingin sekali kembali ke masa lalu, aku tidak akan meninggalkan Arin. Aku akan terus bersama dia dan tidak akan membiarkanmu dia di miliki orang lain.
Aku begitu frustasi hingga hampir saja menabrak sebuah truk, hati ini berdebar. Segera ku belokkan mobil ku ke sebuah toko swalayan.
Aku harus menenangkan diri. Aku masuk ke toko itu, aku membeli sebuah minuman dingin agar hati dan pikiran ku lebih tenang. Namun tidak aku sangka, begitu akan ke luar aku melihatnya. Wanita yang selama ini aku rindukan masuk dengan tergesa-gesa. Aku tidak jadi ke luar. Aku tahu dia sudah menikah. Tapi entah kenapa kaki dan tubuh ini kembali berjalan mengikutinya. Setidaknya biar ku pandangi dia dari jauh untuk sedikit menghilangkan rasa rindu. Dia berbelanja dengan tergesa-gesa, aku ingin sekali membantunya yang nampak kesalahan. Dia masih cantik, hanya saja tubuhnya makin kurus sama seperti ku.
Arin tidak sadar jika dia aku ikuti, hingga dia berhenti di sebuah rak, aku tersenyum kecil saat melihat tubuh kecilnya mencoba mengambil barang di rak paling atas.
Dia sama sekali tidak berubah, tetap menjadi wanita pekerja keras yang tidak pernah menyerah. Aku berjalan ke arahnya dan membantunya mengambil pewarna makanan. Aku berdiri tepat di belakangnya, rasanya aku ingin memeluk tubuh itu, aku ingin sekali menculik dan membawa dia pergi dari sini.
Dia menoleh dan menatap ku, aku tertawa kecil karena dia ternyata tidak mengenali ku, wajar saja, tubuhku berubah,jadi dia pasti lupa. Hingga saat aku menggaruk rambut ku beberapa kali, dia langsung tersadar dan mengenali diriku.
Aku ingin mengajaknya makan, namun dia menolak, dia bersama suami nya ke sini, jadi dia buru-buru.
Dari situ aku merasa ada yang aneh, jika dia bersama suaminya, kenapa suaminya tidak ikut masuk dan membantu Arin? Apa hubungan mereka tidak baik? Karena terlalu banyak berfikir aku jadi kehilangan kesempatan untuk meminta kontak nomor ponsel Arin.
Dia bahkan langsung berpamitan padaku. Aku ingin mengejarnya tapi ragu.
"Apa dia tidak bahagia? dia tampan kurus, wajahnya juga tidak seceria dulu"
Aku berlari kecil untuk mengikuti dia, dia benar-benar sendirian dengan barang sebanyak itu. Aku langsung mengejek suaminya yang tidak peka. Istri cantik dan penuh semangat ini, di biarkan begitu saja berbelok sebanyak ini sendirian. Andai saja aku yang jadi suami Arin, aku tidak akan membiarkannya, aku akan menjadikan dia ratu.
Aku kembali mengikuti Arin, dia mendorong keranjang belanjaan ke parkiran, sebenarnya aku ingin sekali membantunya, tapi takut dia justru bertengkar dengan suaminya nanti.
Tapi tidak aku sangka, Arin justru terlihat bingung, tidak tahu apa yang terjadi, dia terlihat sedih, bahkan ingin menangis.
Aku mengepalkan tangan ku, rasanya ingin ku hajar suaminya, pasti dia di tinggal pergi suaminya. Di saat seperti ini, aku ingin sekali memeluknya, menghapus air matanya dan pergi ke tempat yang indah untuk menenangkan hatinya. Aku kembali mendekat.
Dia mengatakan jika suaminya adalah seorang Adi Negara, dia ada urusan mendadak jadi dia pergi lebih dulu. Aku makin yakin jika hubungan Arin dan suaminya tidak baik. Saat aku menawarkan diri mengantar dia pulang, dia langsung menolak. Pasti ada sesuatu. Dia tidak mau langsung pulang, padahal dia membawa banyak barang. Pasti suaminya yang melarang. Dari sini aku yakin sekali Arin tidak bahagia dengan pernikahan nya. Dia bahkan mengajak ku ke monas.
Bahkan ke menara Eiffel saja aku pasti kabulkan, apalagi hanya di Monas. Aku jadi meratapi kehidupan Arin, apa suaminya tidak perduli padanya? Hingga ke Monas saja Arin tidak pernah mengunjungi nya? Dari ini aku ingin sekali membawa dia pergi denganku. Aku akan me ratu kan dia. Akan ku bawa dia keliling dunia.
Aku mendengar perutnya berbunyi, aku meminta nya makan dulu, tapi dia menolak saat aku ajak makan di restoran dan justru memberiku kue buatannya. Kue yang sangat ingin ku makan, aku memintanya menyuapi ku, dia tanpa ragu melakukan nya, bahkan kami makan dengan sendok yang sama. Rasanya begini saja sudah membuat ku bahagia bukan main.
Kami ke Monas, dia sangat bahagia sekali melihat jakarta dari atas tugu Monas ini. Aku diam-diam memotret nya.
Tak terasa hari sudah sore, dia meminta pulang, namun anehnya dia tidak mau aku antar sampai rumah. Aku menuruti kemauannya. Meski tak tega.
Dia bilang akan di jemput suami, tapi dia justru naik angkot dengan bawaan sebab itu, rasanya aku ingin sekali menghajar suami Arin yang membiarkan istrinya kesusahan seperti itu.
Aku sengaja ke toko Arin, aku bertanya di mana rumah pemilik toko itu, aku berniat membeli toko ini dan memberikan toko ini ke Arin, akan aku kelola Toko ini, akan aku cari banyak karyawan agar Arin tidak perlu repot-repot terjun sendiri membeli bahan ke pasar.
Namun saat aku membuka pintu, ternyata pemilik toko ini adalah saudara jauh mama,Tante Tina dia istri Om Bagas. Tepatnya almarhum om Bagas. Tapi bukankah Aga bilang dia masih single? dia bilang belum menikah? Aku pernah bertemu dengannya sekali saat aku ke Singapur, dia bersama teman-temannya di sana dengan sebuah misi rahasia.
Dia bahkan memberitahuku ingin segera melamar gadis pujaannya dan foto yang dia tunjukkan bukanlah Arin. Itu terjadi belum lama ini. Apa Aga tidak mau mengakui Arin? Kenapa dia bilang belum menikah ke teman-temannya? kenapa Aga kejam sekali pada Arin? Aku yakin itu, aku akan merebut Arin, akan aku jadikan dia wanitaku, tidak akan aku biarkan dia merasa tanpa pengakuan.
"Siapa ya?" Tanya Tante Tina. niat hati ingin membeli toko kue itu, tapi aku urungkan, saat tahu kalau Tante Tina pemilik toko itu.
"Saya Dewa tante, keponakan Om Bagas"
Bu Tina memeluk ku, dia menangis dan mempersilahkan aku masuk.
Niat hati ingin membeli, tapi aku urungkan, aku mengubah rencana dengan memberi Tante modal agar tokonya makin besar.
Tante menolak, dia bilang kalau ingin memberikan Toko itu pada menantunya.
Tak bersedia lama, Arin datang, dia sempat terkejut melihat ku, Tante memperkenalkan aku padanya. Kamu pun duduk bertiga, saat Tante mau ke belakang. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku langsung bilang ke Arin jika aku ingin menikahinya.
"Kamu gila ya?"
Kata Arin, ya aku memang Gila karena dia
"Aku tahu kamu tidak bahagia, aku juga tahu Aga tidak setia, tinggalkan dia dan ikutlah bersamaku" Aku kembali berjuang demi mendapatkannya. Jika dia setuju, akan aku bongkar semua rahasia Aga. Tidak akan aku biarkan dia menyakiti Arin.
Arin nampak bingung dan tidak percaya aku tahu rahasianya rumah tangganya. Aku ingin menyentuh tangannya dan meyakinkan dia bahwa dia juga berhak bahagia. Tapi dia langsung menepis tanganku.
"Aku yakin bisa meluluhkan hati Mas Aga, jadi maaf. Aku tidak bisa"
Arin langsung berdiri meninggalkan ku, aku menyesal karena terlalu buru-buru mengatakan ini. Aku harusnya mendekati dia dulu. Tidak menodongnya dengan pernikahan. Aku tahu Arin gadis yang baik,k meski dia tidak bahagia, dia tidak akan mau bercerai begitu saja.
'Bodoh bodoh bodoh'
Aku merutuki diriku sendiri yang begitu gegabah.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...