Namanya Dinara, perempuan 29 tahun yang terjebak dengan dua pria bermasalah dalam hubungan percintaannya, sehingga dirinya dijadikan bagian dari tumbal ilmu hitam.
Seseorang menginginkan kematiannya hanya karena dia di anggap sebagai wanita penggoda.
Dimulai dengan mantra pelet yang diterimanya, Dina menjadi pribadi yang berbeda dan setengah gila mengejar laki - laki yang tidak pernah disukainya.
Akhirnya santet berdatangan pada malam - malam dimana seharusnya Dina bisa tertidur lelap.
Dibantu ayahnya yang pernah ngelmu di sebuah padepokan Dina berusaha mempertahankan nyawanya.
Apakah Dina berhasil melewati angkara yang selalu didatangkan padanya? Apakah Dina akhirnya menemukan labuhan cintanya?
Simak kisah cinta Dinara dan perjalanan spiritualnya yang penuh air mata dan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 31
"Duduk sini Nduk," panggil Bapak yang sudah menemukan tempat nyaman untuk duduk. Pendopo kecil dekat dengan pohon beringin besar.
"Kamu akan belajar meditasi di sini."
Meditasi di tempat umum? Banyak peziarah lalu lalang dengan berbagai suara ini jelas akan mengganggu. Kenapa tidak di rumah saja kalau cuma mau belajar meditasi. "Ini kan terlalu ramai Pak."
"Tujuan meditasi ini adalah belajar melatih fokus pikiranmu, ini tidak ramai Nduk, nanti ketika pintu dua alam itu terbuka kamu akan tahu apa itu yang namanya ramai, kalau kamu tidak bisa menjaga fokus pikiranmu tetap tenang, kamu tidak akan bisa mengendalikan mata batinmu yang terlanjur terbuka. Kamu tidak akan bisa meredam keramaian itu.
Kamu masih ingat kemarin ketika merasa mendengar sesuatu setelah mandi garam Al-Qur'an? suara - suara berisik dan dengung itu adalah suara makhluk halus, suara seperti itu nanti akan lebih banyak terdengar.
Mata batinmu sebenarnya sedikit aktif, bapak akan membantumu membukanya dan mengendalikannya. Bisa tetap fokus di tempat ramai adalah cara cepatnya."
Kata-kata Bapak persis seperti yang disampaikan kakek berbaju Surjan itu, Bapak yang akan membuka semuanya.
"Duduklah bersila dengan nyaman Nduk, pejamkan mata dan fokuskan pikiranmu di titik antara dua alismu," kata Bapak sembari menyentuh titik yang dimaksud. Antara dua alis tapi sedikit ke atas.
"Bernafas teratur dan jaga konsentrasimu agar tidak terpecah. Jika ada pikiran-pikiran yang muncul lepaskanlah!, kembalikan fokus ke titik ini lagi. Selanjutnya bayangkan kamu hanya menatap titik ini dan bernafas melalui titik ini."
Aku mengangguk walaupun ragu. Aku yakin ini tidak akan mudah. Tempat ini benar-benar penuh di hari Minggu. Peziarah datang dari luar kota dengan bis - bis besar. Apalagi Syekh Jumadil Kubro konon disebut sebagai Bapak para Wali, jadi tidak heran jika tempat ini begitu ramai pengunjung.
"Bapak beri kamu waktu 10 menit pertama buat latihan, Bapak yakin kamu bisa Nduk, Bapak akan berjaga di sebelahmu."
Bapak kembali mengingatkanku untuk membaca ayat kursi tujuh kali dan Al-fatihah tujuh kali sebelum memulai meditasi.
Aku mengucap Bismillah dan mulai berdoa. Memejamkan mata dan berusaha untuk fokus mengikuti ajaran Bapak.
Menit pertama aku masih mendengar langkah-langkah kaki peziarah dan suara obrolan mereka yang melintas dekat dengan pendopo ini. Menit-menit berikutnya juga demikian, aku masih belum bisa mengosongkan pikiran. Otak terasa penuh, tidak mau diajak kompromi untuk mendapatkan fokus.
Oh God, tidak biasanya aku sesulit ini untuk konsentrasi. Pikiran - pikiran tentang pekerjaan yang aku tinggalkan dengan tidak bertanggungjawab hari ini justru menghantui. Farida pasti kerepotan mengurus semuanya sendiri.
Alan, ya Alan yang ngaku duda itu benar-benar membuatku ingin muntah sekarang. Hampir tidak ada lagi simpati untuknya. Radang hatiku belum juga sembuh, aku masih kesal jika mengingat apa yang dia lakukan padaku.
Apa bedanya dengan Anton? Cowok macho itu terlalu brengsek untukku. Tapi bolen pisang buatan toko roti nya aku sangat suka. Bahkan jika disuruh memilih antara bolen pisang keju atau Andric yang manis aku tetap cinta dengan bolen pisang keju si tukang roti. Ah, aku memang konyol.
Tidak ada fokus yang kudapat, entah ini sudah menit ke berapa aku masih saja dibayangi pikiran-pikiran nyeleneh dan gak jelas. Akhirnya aku mendengar Bapak mengucapkan angka sembilan, yang artinya 9 menit terbuang sia-sia.
Mungkin aku perlu ikut yoga setelah ini untuk belajar meditasi, sekalian untuk kesehatan mengingat aku malas berolahraga.
Aku kembali ingat Pakde Karman yang begitu ramah ketika menyambutku datang, menawarkan bantuan dan kekuatan, karenanya juga aku sampai di sini, karena dia berniat menghabisi ponakannya yang tidak pintar ini. Aku bernafas dengan tenang dan teratur, terus seperti itu. Aku tidak akan memperbolehkan Beliau merusak konsentrasiku.
Aku hanya melihat titik itu yang lama-kelamaan berubah menjadi warna biru. Merasakan udara keluar masuk melewati titik berwarna biru itu, melewati Cakra Ajna.
Tidak ada rasa sakit, tidak ada tekanan, tidak ada rasa takut, tidak ada emosi, tidak ada aku. Tenang seperti berada di tepi pantai tanpa ombak. Sensasi yang tidak pernah aku rasakan.
Entah sudah berapa lama ketenangan itu hadir ketika aku mulai mendengar suara - suara asing yang cukup mengganggu. Itu seperti suara orang bicara tapi tidak jelas sedang membicarakan apa. Telingaku seperti baru kemasukan air, ada dengung yang menggangguku sehingga suara itu tidak terdengar jelas. Aku mencari sumber suara itu.
Pohon beringin di dekat pendopo mengeluarkan suara berisik, seperti ada desis ular yang keluar dari sana, aku mengamati memang ada ular sebesar lengan melingkar di dahan atas. Aku tidak takut ular, aku memakannya pada saat mengikuti pendidikan survival mapala di kampus. Ular itu pergi begitu saja, mungkin merasa terganggu karena aku terus memperhatikannya.
Aku berjalan ke arah belakang, bertemu beberapa orang berkelebat, bukankah itu terlalu cepat untuk lari seseorang? Lagian ini makam kenapa mereka tidak berjalan saja dengan sopan.
Perempuan cantik itu berdiri melihatku dan tersenyum anggun. Kemben hitam bersulam benang emas, selendang kuning yang menutup bahu dan kain jarik motif parang itu cukup menonjol. Apa sedang ada syuting film Angling Dharma di sini?
Aku kembali berjalan makin jauh dan tanpa arah meninggalkan keanehan - keanehan yang aku lihat. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Seperti ada orang yang memanduku untuk mengikutinya. Apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan orang ini dengan mengajakku berkeliling?
Ketika tiba-tiba suara hatiku menyuruhku berhenti, ada seseorang di sana berdiri membelakangiku. Laki-laki itu mengenakan pakaian Jawa kuno, aku tidak bisa menaksir umurnya karena hanya melihat bagian punggungnya. "Alam iki sejatining guru." (Alam itu guru sejati).
Hanya itu kata yang aku dengar dari orang yang memanduku berkeliling. Dia pergi, menghilang begitu saja.
Aku tidak lagi mengikutinya karena aku mendengar suara panggilan lain, itu suara Bapak. Apa aku pergi terlalu jauh sampai harus dicari seperti ini. Ah, Bapak masih memperlakukan aku seperti anak kecil.
"Nduk…."
"Dinara…." Aku berjalan mengikuti suara Bapak, cukup mudah menemukan Bapak, ternyata Bapak masih duduk di sampingku di pendopo kecil ini. Aku membuka mata, sedikit bingung dengan keadaan yang ada, "iya pak?"
"Sudah selesai, ayo kita istirahat dulu."
Aku masih duduk bersila, kakiku kesemutan dan tidak bisa digerakkan. Mungkin aliran darahnya tersumbat, aku memberi pijatan kecil sebelum berdiri.
Tenggorokanku juga kering, Bapak menyodorkan air mineral gelasan yang sudah terbuka dan aku menghabiskannya dengan cepat. Entah mengapa aku begitu rileks dan bahagia, aku bersholawat dengan ceria.
Suasana masih ramai, lebih ramai dari sebelum aku meditasi. Tempat ini memang di buka 24 jam dan ini adalah hari libur.
Bapak mengajakku keluar area makam dan berjalan cepat menuju tempat dimana kami parkir mobil. Aku justru mengikutinya dengan lambat, aku menikmati keramaian ini, rasanya aku jadi suka berlama-lama di tempat ini.
"Ayo Nduk," panggil Bapak tidak sabar. Akhirnya Bapak berhenti dan menungguku. Kami berjalan beriringan menuju parkiran.
"Kita mau kemana Pak?" tanyaku penasaran.
"Makan, Bapak udah lapar."
Bapak pasti sedang bercanda, Bapak orang yang paling bisa menahan lapar. Aku sedikit tidak percaya kali ini karena kami sudah makan sore tadi sebelum masuk area makam.
"Setelah makan balik sini lagi Pak?"
"Gak Nduk, langsung pulang."
"Kok pulang Pak?, ini kan masih sore." Suara adzan terdengar lantang dari masjid. Baru juga masuk waktu isya.
"Kita subuhan dulu aja kalau gitu," kata Bapak memutar arah menuju masjid.
Subuh? yang benar saja!
***
tapi tetap suka ceritanya