Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: EMBUSAN NAPAS TERAKHIR
Suasana di dalam ruang perawatan kelas dua RSUD perlahan mulai dilingkupi rasa syukur yang ketika matahari pagi berangsur naik. Setelah melewati masa-masa kritis di ruang IGD, kondisi Tante Yuni dinyatakan sudah jauh membaik oleh tim dokter. Alat bantu pernapasan yang tadinya terpasang kini sudah dilepas, digantikan oleh selang oksigen kecil yang melingkar di hidungnya. Wajah pucatnya perlahan mulai memancarkan rona kehidupan, bahkan wanita paruh baya itu sudah bisa tersenyum dan mengobrol ringan dengan anak semata wayangnya.
Kenan duduk setia di sisi ranjang, menggenggam erat tangan ibunya yang terasa mulai hangat. Di sudut ruangan, Pak Dadang, Bunda Baren, Aldi, dan Sendy setia menemani. Rasa lega yang luar biasa sempat membuncah di dalam dada mereka melihat Tante Ambar bisa tertawa lirih mendengarkan celetukan banyolan dari Sendy yang sengaja dibuat-buat untuk mencairkan suasana.
Kabar baik lainnya juga datang dari pihak kepolisian lewat telepon yang diterima Aldi. Proses hukum terhadap ayah Kenan dipastikan akan terus berjalan tanpa ada kata damai. Dengan bukti visum cedera fisik Tante Yuni yang sangat jelas serta kesaksian dari Aldi dan Sendy, pria tua bangka yang tidak bertanggung jawab itu kini resmi mendekam di balik jeruji besi mapolsek untuk mempertanggungjawabkan perbuatan biadabnya.
Namun, karena kondisi fisik Tante Yuni yang masih dalam masa pemulihan pasca-syok dan pengobatan kankernya, pihak rumah sakit memberikan peraturan ketat bahwa pasien belum bisa dijenguk oleh banyak orang sekaligus. Warga komplek RT 04 yang sejak pagi tadi datang berbondong-bondong, termasuk Jasmine yang datang dengan mata yang tampak sembab dan lelah, hanya diperbolehkan melihat dari balik kaca pembatas ruang perawatan atau bergantian masuk maksimal dua orang saja.
Aldi yang berdiri di dekat pintu masuk sesekali mengoordinasikan kedatangan warga dengan sikap yang sangat tenang dan dewasa, meskipun ia tetap secara konsisten menjaga jarak aman, menolak untuk bertatapan mata secara langsung dengan Jasmine yang berdiri tidak jauh di koridor luar.
Waktu terus bergulir hingga malam kembali menyelimuti rumah sakit. Sekitar pukul sebelas malam, suasana di dalam ruangan perawatan berubah menjadi sangat sunyi. Pak Dadang dan Bunda Baren sudah pamit pulang duluan karena harus beristirahat, sedangkan Aldi dan Sendy tetap bersikeras tinggal untuk menemani Kenan berjaga di ruang tunggu dalam.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lampu tidur mini berwarna kuning redup, Kenan masih duduk di kursi plastik samping ranjang ibunya. Tante Yuni menoleh lambat, menatap wajah lelah anak laki-lakinya dengan tatapan mata yang teramat sangat teduh, memancarkan rasa kasih sayang yang begitu melimpah.
"Kenan... anak Mama yang paling ganteng, paling pinter," bisik Tante Ambar dengan suara yang sangat lembut, tangannya yang lemah bergerak pelan mengusap punggung tangan Kenan. "Makasih ya, Le... sudah jadi anak yang baik buat Mama selama ini. Maafin Mama kalau selalu ngerepotin kamu."
Kenan tersenyum manis, mengecup punggung tangan ibunya dengan khidmat. "Mama ngomong apa sih. Kenan gak pernah ngerasa direpotin sama sekali. Mama fokus sembuh aja ya, biar nanti kita bisa jalan-jalan lagi bertiga bareng Aldi sama Sendy."
Tante Yuni tersenyum tipis, matanya perlahan mulai tampak sangat berat dan sayu. "Mama... Mama tiba-tiba ngantuk banget, Le. Badannya rasanya enteng banget sekarang."
Kenan yang mengira ibunya hanya kelelahan biasa setelah seharian mengobrol dengan warga, langsung membenarkan letak selimut tebal ibunya hingga sebatas dada. "Iya, Ma. Tidur aja, tidur yang nyenyak ya. Kenan bakal jagain Mama di sini, gak bakal ke mana-mana kok."
Tante Yuni mengangguk pelan sekali. Sepasang matanya perlahan terpejam dengan sangat damai, seiring dengan helaan napasnya yang teratur dan tenang. Senyuman tipis masih membekas di sudut bibirnya yang kering. Kenan mengembuskan napas lega, ikut menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba memejamkan mata sejenak untuk mengusir rasa penat di kepalanya di tengah keheningan malam yang kian pekat.
Waktu seolah merayap dalam senyap, membawa malam menuju puncaknya di angka tiga dini hari. Suasana koridor rumah sakit sudah sangat sepi, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan sesekali suara langkah kaki perawat yang berjaga malam.
Klek.
Pintu ruang perawatan Tante Yuni dibuka perlahan dari luar. Seorang suster dengan seragam putihnya masuk sembari membawa sebuah botol cairan infus baru dan beberapa peralatan medis kecil di atas baki stainless steel. Tugasnya malam ini adalah melakukan pengecekan rutin berkala dan mengganti cairan infus pasien yang sudah mulai menipis.
Kenan yang hanya tertidur ayam langsung tersentak bangun, mengucek matanya yang memerah sembari membenarkan posisi duduknya. "Eh, malam, Sus," sapa Kenan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Malam, Mas. Maaf mengganggu tidurnya ya, saya mau ganti cairan infusnya sebentar sekalian cek tekanan darah Ibunya," jawab suster itu dengan nada suara yang sangat pelan agar tidak mengejutkan pasien.
Suster itu melangkah mendekati sisi ranjang sebelah kanan. Namun, begitu pandangan matanya jatuh ke arah wajah Tante Yuni, langkah kaki perawat itu mendadak terhenti sejenak. Ada sebuah kejanggalan yang langsung ditangkap oleh instingnya. Posisi tidur Tante Yuni tampak terlalu diam—bahkan dada wanita paruh baya itu sama sekali tidak menunjukkan gerakan naik turun yang menandakan adanya aktivitas pernapasan.
Dengan dahi berkerut, suster itu segera meletakkan bakinya di atas meja nakas. Ia mengulurkan jari telunjuk dan tengahnya, menempelkannya tepat di atas urat nadi pergelangan tangan Tante Yuni.
Detik itu juga, raut wajah suster itu langsung berubah drastis menjadi sangat pucat. Kulit tangan Tante Ambar yang disentuhnya terasa sangat dingin, kaku, dan tidak ada satu pun denyutan nadi yang terasa di sana. Suster itu dengan cepat mengalihkan jarinya ke arah leher, mencoba mencari denyut nadi karotis, lalu meraba bagian dada Tante Ambar. nihil.
Suster itu mundur satu langkah dengan tatapan mata yang bergetar hebat. "Mas... Mas Kenan," panggil suster itu, suaranya mendadak bergetar panik. "Bisa tolong panggilkan dokter jaga di depan sekarang? Cepat, Mas!"
Kenan yang awalnya masih setengah sadar seketika langsung ditarik paksa masuk ke dalam realitas yang mengerikan. Jantungnya mendadak berdegup dengan sangat kencang. "Kenapa, Sus? Mama saya kenapa?!"
Tanpa menunggu jawaban dari suster, Kenan langsung melompat dari kursinya, merangsek maju menempelkan kedua tangannya ke pipi ibunya.
Deg.
Dunia Kenan rasanya seolah runtuh total detik itu juga. Kulit pipi ibunya yang beberapa jam lalu masih terasa hangat dan lembut, kini sudah terasa sangat dingin, kaku, dan anteng. Tidak ada deru napas hangat yang keluar dari hidungnya. Tante Ambar tidur dengan posisi yang terlalu sempurna, terlalu damai, meninggalkan seluruh rasa sakit akibat kanker dan siksaan suaminya untuk selama-lamanya di sepertiga malam yang sunyi ini.
"Mama... Mama! Bangun, Ma!" teriak Kenan histeris, suaranya yang melengking memecah keheningan malam rumah sakit. Ia mengguncang-guncang pundak ibunya yang sudah kaku dengan air mata yang seketika tumpah deras membasahi pipinya. "Mama jangan bercanda, Ma! Katanya cuma ngantuk tadi! Mama bangun, Ma! Jangan tinggalin Kenan sendirian!"
Mendengar teriakan histeris yang sangat memilukan dari dalam ruangan, Aldi dan Sendy yang sedang bersandar di kursi ruang tunggu luar langsung tersentak kaget. Mereka berdua bergegas menerobos masuk ke dalam pintu kamar perawatan.
Begitu sampai di dalam, pemandangan yang tersaji benar-benar mengiris hati mereka. Kenan sudah berlutut di lantai dengan kepala yang menempel di dada ibunya, menangis meraung-raung bagaikan anak kecil yang kehilangan seluruh arah hidupnya. Sementara suster di samping ranjang hanya bisa menundukkan kepala dengan pandangan mata yang penuh rasa duka mendalam.
Sendy yang melihat tubuh kaku Tante Yuni langsung membeku di tempat, kedua tangannya menutup mulut dengan air mata yang reflek mengalir deras tanpa bisa ia tahan. Sementara Aldi, dengan seluruh kekuatan mental yang tersisa di dalam jiwanya, melangkah maju dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia merangkul tubuh Kenan dari belakang, memeluk erat sahabat karibnya itu di tengah badai duka yang teramat sangat dahsyat, membiarkan air matanya sendiri ikut jatuh membasahi kaos oblong hitamnya di bawah kesunyian ruang ICU yang mendadak berubah menjadi ruang duka paling kelam malam itu.