Hidup Kinan berubah ketika pergantian CEO terjadi di kantor ia bekerja. Walaupun ia hanya seorang office girl, namun CEO yang baru tampak tak menyukainya. Berbagai alasan dibuat sang CEO untuk membuat kerja Kinan menjadi sulit. Hingga pada saat ia melakukan kesalahan sepele namun berdampak hingga ia dipecat. Kebenciannya kepada sang CEO pun semakin menjadi.
Raditya Abhimanyu, CEO tampan dan (tentunya) kaya raya kembali pulang dari Amerika dan menjadi pimpinan perusahaan konstruksi besar milik ayahnya. Raditya adalah pria dingin yang "mati rasa". Segala hal bisa ia dapatkan membuatnya ingin mencari hal baru untuk hidupnya. Untuk itu ia memulai sebuah petualangan. Petualangan yang membuat ia mengetahui sebuah rahasia yang sangat penting untuk hidupnya.
Bagaimana pertemuan Raditya dan Kinan terjadi?
Apakah mereka berakhir saling jatuh cinta?
Ini novel romantis komedi pertama saya. Semoga banyak yang suka dan menikmatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armasita Wardhojo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK DURHAKA?
Kamar tidur ini selebar lapangan tenis, dengan ranjang besar di dalamnya. Tirai berwarna coklat keemasan tersibak, membuat sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kaca yang berukuran besar. Radit menggeliat, merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal. Ia membuka mata perlahan. Ia berada di kamarnya sendiri.
Tangan kanannya memijat tengkuknya yang kaku, sepertinya ia terlalu lama tidur dalam posisi telungkup. Ia melirik ke arah jam dinding. Pukul 10.00. Namun hari ini hari Sabtu. Ia libur bekerja.
Seketika ia teringat tentang semalam. Kinan, gumamnya dalam hati. Ia teringat terakhir kali memeluk wanita itu dan kemudian tak ingat apapun. Radit beranjak dari ranjang, kini ia beralih ke kamar mandi. Air dingin dari shower mengucur deras di kepalanya. Tapi entah kenapa bayangan Kinan masih belum bisa pergi dari otaknya.
"Bukan berarti dia masih mencintai Shandy, dia hanya mencintaimu, namun Shandy tetaplah ayah dari Shanju. Ia semata-mata ingin menyelamatkan ayah dari anaknya."
"Apa kau akan menikahi orang yang tak kau cintai?"
Perkataan Miko terngiang di kepalanya. Ia merasa bingung saat ini. Tinggal menghitung hari, pernikahannya dengan Nuri akan dilangsungkan. Namun, hatinya selalu menolak untuk melakukan itu.
"Radit, kalau kau sudah selesai cepat keluarlah!"
Terdengar teriakan suara Nuri dari balik pintu kamar mandi. Radit segera memakai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Wah.. tubuhmu tampak sempurna sekali." ujar Nuri sesaat setelah Radit keluar dari pintu. Nuri duduk di samping ranjang Radit. Matanya menatap dari ujung rambut hingga kaki lelaki itu.
"Hentikan pikiran mesum mu, apa yang kau lakukan disini?"
Nuri tertawa.
"Ayo kita batalkan pernikahan ini!" ucapnya dengan tegas. Raditya terdiam. Ia seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan Nuri.
"Aku serius. Aku akan menikahi orang lain. Orang yang mempunyai perasaan yang sama denganku"
"Maafkan aku" ujar Raditya, ia menangkap kejujuran pada ucapan Nuri.
"Kau tak perlu minta maaf. Aku yang minta maaf. Aku sudah melakukan banyak hal yang salah demi mendapatkanmu"
"Apa kau sedang mabuk? kenapa tiba-tiba mengatakan ini?"
"Ya, aku sedang mabuk cinta Raditya."
Radit tersenyum. Entah apa yang sedang dialami Nuri beberapa hari yang lalu namun hari ini Nuri benar-benar seperti sahabatnya.
"Aku sudah membicarakan hal ini dengan kedua orang tuaku. Mereka akhirnya setuju dengan keputusanku"
"Benarkah?" tanya Radit setengah terkejut.
"Iya. Sampai aku memakai korset penyangga, punggungku hampir remuk dipukul ibuku semalaman."
Mereka lalu tertawa. Nuri berdiri perlahan. Sepertinya dia memang sedang sakit punggung. Radit membantunya berdiri. Nuri menatap Radit dengan hangat.
"Menikahlah dengan Kinan. Dia sangat mencintaimu. Nanti, ayo kita besarkan Shanju bersama-sama"
"Kau kenal Shanju?"
"Ya, aku akan menikah dengan ayahnya"
"Apa kau sudah gila? Shandy? Kau akan menikah dengan Shandy? si brengsek itu?"
"Hei.. dia tak sebrengsek yang kau tahu."
"Tidak..tidak.. Menikahlah dengan pria lain tapi jangan pria itu. Aku tak ingin kau terluka karenanya"
"Dia lah yang mengobati lukaku. Shandy lah yang selalu ada bersamaku. Melindungiku. Dia mencintaiku, sama seperti kau mencintai Kinan"
"Nuri.." sergah Radit.
"Radit.. Shandy bukanlah seperti apa yang keluargamu sangkakan. Dia sangat mencintai kakakmu."
"Tapi tak lihatkah kau apa yang telah menimpa Kinan? Shandy mencampakkannya begitu saja. Aku tak ingin hal itu terjadi padamu"
"Kau tahu kenapa ia melakukan itu? Ia hanya ingin melindungi istri dan anaknya agar tidak diganggu oleh rentenir yang kejam itu. Dia bangkrut dan terjerat hutang. Ia bahkan harus menjual satu ginjalnya. Dia tak seburuk yang kau kira"
Raditya terdiam. Ia merasa banyak hal yang tidak ia ketahui. Dan Nuri yang saat ini berdiri di hadapannya, begitu bersemangat membela Shandy. Seolah ia tahu banyak tentang laki-laki itu.
"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau mengenal Shandy?"
Nuri tersenyum.
"Rahasia"
"Halah..kau ini! Lalu bagaimana dengan pernikahan kita? Bagaimana kita membatalkannya? kita bahkan sudah menyebar undangan."
"Aku punya sebuah rencana"
...***...
H-4 Hari pernikahan.
Hall utama telah disulap menjadi tempat jamuan makan malam. Ya, malam ini Raditya menggelar gathering untuk para tamu yang akan hadir di acara pernikahannya nanti. Meja-meja bundar dengan piring-piring keramik mahal diatasnya, dekorasi bunga hidup yang membuat seisi ruangan harum menyegarkan, ditambah lagi mini orkestra untuk menghibur para tamu.
Sekitar 50 orang telah datang dan memenuhi meja-meja yang telah ditentukan. Radit tampil dengan sangat gagah malam ini. Mengenakan setelan berwarna biru tua, ia sangat mempesona. Senyum di wajahnya tak pernah terhenti. Ia nampak sangat bahagia.
Sebagian besar tamu merasa keheranan. Kenapa mereka harus membawa undangan pernikahan ke acara gathering ini. Sebelum masuk ke Hall utama, mereka wajib menyerahkan kartu undangan itu dan sebagai gantinya mereka menerima souvenir berupa arloji bermerk terkenal.
Raditya maju ke atas panggung, disusul Nuri yang tampak cantik di belakangnya. Mereka berdua berdiri berdampingan. Tak lama kemudian mereka kompak membungkukkan badan kearah para tamu. Semua orang tercengang. Radit mengambil mikrofon.
"Selamat malam semuanya. Terima kasih telah datang di acara dadakan ini. Saya dan Nuri bermaksud untuk meminta maaf kepada semuanya yang hadir disini bahwasanya kami sepakat untuk membatalkan pernikahan kami. Oleh karena itu kami meminta kembali undangan yang terlanjur kami sebar dan kami memberikan souvenir itu sebagai ungkapan permintaan maaf kami." ucap Radit diiringi dengan tundukan kepala.
"Saya pribadi juga meminta maaf kepada kedua orang tua saya, kepada Pak Bastian dan Bu Merliana yang mungkin kecewa dengan keputusan kami. Namun, kami percaya keputusan ini adalah keputusan terbaik bagi kami. Kami bahagia menjadi sahabat dan akan selamanya seperti itu. Sekali lagi kami minta maaf" lanjut Nuri.
"Silahkan menikmati jamuan dari kami."
Raditya dan Nuri turun dari panggung disambut tepuk tangan dari para tamu. Beberapa dari mereka datang menghampiri Radit dan bersalaman. Nuri juga mendapatkan banyak support dari beberapa tamu wanita.
Pak Bastian dan Bu Merliana tak bereaksi. Mereka terlihat sangat shock hingga tak mampu mengucapkan apapun.
"Kami minta maaf Pak, Bu. Tapi Nuri bersujud memohon kepada kami untuk membatalkan pernikahannya. Sebagai orang tua, kami hanya ingin Nuri bahagia dengan keputusannya. Maafkan kami." Pak Darmawan memulai pembicaraan di meja yang mulai mendingin itu. Bu Tina hanya menunduk menahan emosi.
"Kalian tidak memberitahu kami tentang acara ini?" tanya Pak Bastian.
"Kami juga tak menyangka ada acara ini. Nuri bilang ini hanya acara penggalangan dana" jawab Pak Darmawan.
"Apa karena wanita itu? sehingga Nuri membatalkan pernikahan ini?" gumam Bu Merliana. Namun nampaknya semua orang di meja mendengarnya.
"Tidak. Nuri telah memilih pria lain untuk menikah dengannya" ujar Bu Tina pelan. Ia merasa sangat bersalah.
"Apa?" Bu Merliana langsung berdiri dari mejanya.
"Siapa pria itu?" tanya Pak Bastian.
...***...
Kinan berjalan pelan, bukan karena ia ingin mencoba menjadi anggun namun ia benar-benar tak bisa berjalan dengan baik diatas sepatu berhak tinggi. Dia juga mencoba untuk tidak menginjak gaun berwarna hijau emerald yang melilit indah di tubuhnya. Oh, dia memang tampil sangat cantik malam ini. Seperti orang yang berbeda.
Shandy mencoba untuk menawarkan bantuan, ia mengulurkan tangannya.
"Tidak, aku bisa berjalan sendiri" tolak Kinan.
"Kau berjalan seperti siput. Nanti kita ketinggalan acaranya" gerutu Shandy.
"Lagipula kau yang memaksa aku untuk pakai gaun seperti ini, mana sepatunya tinggi sekali"
"Lalu kau mau pakai kaos oblong dan celana jeans kesayanganmu itu? Sudah jangan bawel!"
Mereka memasuki Hall utama secara bersamaan. Kinan terlihat gugup karena ternyata banyak orang yang ada disana. Ada yang berbicang, ada yang sibuk berdansa diiringi musik orkestra, ada pula yang berdiri mengelilingi Raditya yang nampak sibuk berbicara.
"Mas.."
"Hmm"
"Apa dadaku tak terlihat begitu menonjol? kurasa gaun ini terlalu rendah bagian depannya" tanya Kinan dengan polos. Shandy menatap dada Kinan, ia lalu cekikikan.
"Apanya yang menonjol?" balasnya sambil berjalan pergi. Meninggalkan Kinan yang sewot dengan ekspresi Shandy.
Tadi siang, Shandy memberikannya gaun itu, mengajaknya untuk ke salon untuk merias diri, hingga menyewa mobil. Shandy bilang ada acara penting yang harus ia hadiri, ternyata acara Morawa Grup. Kinan sebenarnya enggan untuk masuk, namun Shandy bilang jika ini adalah saat yang tepat baginya untuk menebus kesalahan. Ia sangat memaksa Kinan untuk ikut dengannya.
Kinan berdiri di pojok ruangan. Ia melihat Shandy menghampiri Nuri. Ia tertawa kecil. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana bisa Nuri menyukai seorang seperti Shandy? Namun, Shanju bercerita dengan penuh semangat tentang Nuri kepadanya. Kinan rasa, wanita itu memang benar-benar menyukai Shandy. Yang terpenting adalah, wanita itu bisa menerima Shanju. Tak peduli apapun yang pernah Nuri lakukan kepadanya, Kinan memaafkannya. Melihat Shandy bisa menemukan semangat lagi dalam hidupnya adalah kebahagiaan bagi Kinan. Dengan begitu, Shanju pasti akan bahagia. Ia juga yakin, Kak Juliana pasti juga bahagia disana.
Mata Kinan tertuju pada salah satu sudut ruang. Seorang anak kecil menumpahkan minumannya. Ia nampak ketakutan ketika Kinan menghampirinya.
"Jangan berlari nanti kau terpeleset!" sergah Kinan namun anak itu tetap berlari menjauh. Kinan melihat lantai basah dan cemas jika nanti ada orang yang terpeleset. Untunglah tak lama kemudian ia bertemu dengan Ardy.
"Ardy..Dy...sini!" Kinan melambaikan tangannya.
"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ardi yang tak menyadari bahwa itu adalah Kinan, seniornya di Pantry.
"Nona..nona.. Aku Kinan"
"Kak Kinan? Wah.. kau cantik sekali Kak"
"Kau ini, sudahlah cepat ambilkan pel, biar ku bersihkan lantai ini sebelum ada orang jatuh"
Ardy tak menyahut. Ia melihat Kinan dengan datar.
"Mental babu mu itu apa sudah mendarah daging kak? Kau mau mengepel dengan pakai gaun macam itu? Sudah biar aku saja yang membersihkan."
"Ah benar juga" gumam Kinan menyadari penampilannya.
... ***...
Radit sedang asyik mengobrol dengan para relasi yang datang ke acaranya, hingga sorot matanya menangkap sosok wanita memakai gaun hijau emerald berdiri sendirian di pojok ruangan.
"Permisi, saya ke toilet sebentar" ujarnya sembari meninggalkan kerumunan.
Langkahnya menuju lurus ke arah Kinan. Matanya tak berkedip. Dan nampaknya wanita itu tak menyadari kehadirannya. Kinan sibuk menatap ke arah lainnya. Seorang laki-laki menghampirinya.
"Apa kau sendirian Nona?" tanya pria itu kepada Kinan.
"A..aku bersama dengan.." Kinan celingukan mencari Shandy namun pria itu tak terlihat.
"Dia tamu undangan ku" jawab Radit
"Oh.. Raditya! Maaf, kukira dia sendirian. Kau tahu aku tak bisa membiarkan wanita cantik kesepian" goda pria itu sambil melirik Kinan.
"Ah, kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya pria itu kepada Kinan.
"Jhony, aku tertarik dengan design yang kau tawarkan pada Morawa, besok akan kuatur pertemuan perusahaanmu" Radit menyela pembicaraan pria itu.
"Wah.. hahaha.. caramu mengusirku memang benar-benar khas Raditya Abhimanyu. Baiklah, aku akan pergi. Kutunggu telepon dari Morawa ya"
Pria itupun pergi. Kinan menjadi salah tingkah, --juga malu dengan Raditya. Ia kini hanya menunduk.
"Apa kau diundang kemari?" tanya Radit dengan dinginnya. Ia bahkan tak tersenyum menyapa.
"Mas Shandy yang mengajakku"
Raditya mengulurkan tangannya.
"Ikutlah denganku!"
Kinan meraih tangan Radit walau dengan ragu-ragu. Radit segera menggenggam erat tangan Kinan dan mengajaknya menemui orang tuanya. Di meja yang sama, nampak Nuri dengan Shandy juga sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Bukankah kau yang membawa kabur anakku? hingga Juliana memberontak kepada kami dan pergi dari rumah? Sekarang kau merebut Nuri dari Raditya?" Bu Merliana tampak emosional melihat Shandy berdiri di depannya. Pak Bastian yang tadinya hanya duduk diam tiba-tiba berdiri hendak memukul Shandy. Namun, Raditya menangkap tangan ayahnya.
"Siapa yang seharusnya dipukul? Orang yang dicintai kak Juliana atau ayah yang tak menghiraukan anaknya?" ucap Radit dengan mata berkaca-kaca.
Seluruh Hall utama menjadi hening. Musik orkestra pun berhenti. Kini pandangan semua orang terpaku pada satu meja itu.
"Raditya!" bentak ayahnya.
"Aku tahu ayah sangat menyesal dengan kepergian kak Juliana. Ayah cemburu dengan Shandy karena kak Juliana lebih memilih dia daripada ayah. Tapi bukankah hanya Shandy yang menemani Juliana di saat-saat terakhirnya? Ayah dimana saat itu? Ayah punya uang triliunan tapi tak pernah berhasil menemukan anak ayah yang hilang? Apa ayah benar-benar mencarinya?"
Shandy melihat Radit. Ia terharu melihat perubahan sikap Radit yang lebih dewasa. Ia seperti sedang melihat Juliana dalam diri Radit saat ini.
"Raditya Abhimanyu, kau ingin mempermalukan orang tuamu malam ini?" sahut Bu Merliana dengan suara lantang. Ia merasa malu menjadi tontonan semua orang di Hall utama.
"Iya. Karena hanya rasa malu yang selalu ibu tuhankan. Ibu malu mempunyai menantu seperti Shandy, hingga Juliana memilih pergi. Ibu memilih membayar Kinan untuk diam tentang Shanju, padahal dia memang anak Juliana, cucu ibu."
"Ibu, maaf jika aku adalah anak durhaka, tapi aku mulai muak dengan sikap Ibu yang hanya peduli dengan citra dan nama baik."
"Raditya!" Bentak Pak Bastian disertai tamparan keras dari Bu Merliana. Bu Merliana lalu beranjak pergi. Disusul Pak Bastian di belakangnya.
Suasana menjadi canggung. Setiap orang kembali ke meja masing-masing. Para pelayanan membawa nampan dan menyajikan makanan ke setiap meja. Musik orkestra kembali mengalun. Raditya menatap Ayah dan Ibu Nuri.
"Maafkan saya karena telah merusak suasana! Saya meminta maaf" ucap Raditya.
"Lebih baik kau pergi saja. Beristirahatlah! kau melalui hari yang melelahkan" ucap Pak Darmawan. Bu Tina mengangguk pelan.
Kinan menarik tangan Radit, mengisyaratkan untuk menyuruhnya pergi dari Hall utama.
"Pergilah anak durhaka! Biar aku yang mengurus ini semua" ucap Nuri menggoda Radit. Shandy dan Kinan tersenyum mendengarnya.
"Terima kasih untuk semuanya, Nuri"
Nuri melirik Kinan yang tampil cantik dengan gaun yang ia belikan. Kecantikan Kinan seolah terpancar indah malam ini. Nuri meraih tangan Kinan. Dengan bibir bergetar ia mulai bicara.
"Maafkan aku Kin. Aku yang selama ini banyak menyakitimu. Perbuatanku begitu buruk. Aku lah orang yang menyuruh Miki untuk melecehkanmu. Maaf kan aku" ujarnya dengan terisak.
Kinan memeluk Nuri, "Terima kasih karena menerima Shanju. Aku tak pernah melihatnya sebahagia sekarang. Terimakasih juga telah menerima mas Shandy walau dia banyak sekali kekurangan. Kebaikanmu melebihi apa yang telah kau lakukan padaku. Terima kasih Bu Nuri"
Nuri melepaskan pelukannya.
"Jangan panggil aku seperti itu, Nyonya Raditya"
"Hey! Jangan panggil aku..."
"Apa? Kau tak mau dipanggil Nyonya Raditya?" sahut Radit. Ia lalu melangkah pergi dengan kesal. Kinan menghela nafas.
"Hmm.. Ia masih saja kekanak-kanakan"
"Sudahlah! Susul dia sana. Emosinya sedang memuncak. Kau harus bisa menenangkannya"
Shandy mendorong tubuh Kinan agar wanita itu segera berlari mengejar Raditya. Kinan berlari kecil setengah terseok-seok karena tak biasa dengan sepatu hak tingginya.
"Radit.. Radit..Raditya!!"
...***...
Mau ngorbanin anakmu yg tinggal satu2nya ini ya Nyonya, demi status dan gengsimu?
Apa Shandy ingin memanfaatkan Shanju, utk mendapatkan uang dari orang tua Juliana?