NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pengakuan Sang Tetua

​Angin lembah yang sebelumnya berhembus liar kini berhenti sepenuhnya, seolah ikut menahan napas menyaksikan pemandangan tak masuk akal di atas Jembatan Penilaian.

​Potongan tubuh Boneka Kristal Perak yang terbelah dua tergeletak membisu di lantai jembatan. Sisa-sisa energi spiritual dari intinya yang hancur menguap menjadi kabut tipis.

​Tetua Akademi berjubah putih yang bertugas mengawasi ujian itu masih terpaku di tempatnya. Jenggot putihnya bergetar ringan. Ia telah mengawasi Jembatan Penilaian selama tiga puluh tahun, dan melihat ribuan jenius elit dari seluruh penjuru kerajaan mencoba menaklukkannya. Namun, tidak pernah sekalipun ada seseorang yang menghancurkan boneka tahap Pembentukan Fondasi secara frontal menggunakan kekuatan mentah!

​"Ujiannya sudah selesai, bukan? Di mana asrama untuk Murid Inti?"

​Suara dingin Lin Chen memecah lamunan sang Tetua.

​Tetua itu menelan ludah dengan susah payah, memaksakan dirinya untuk kembali tenang. Ia mengamati pemuda berjubah hitam di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Meskipun Lin Chen menyembunyikan wajahnya dari ekspresi sombong, aura ketajamannya tidak bisa disembunyikan—seperti sebuah pedang dewa yang siap membelah langit.

​"Bagus... Sangat bagus!" Tetua itu tiba-tiba tertawa keras, tawanya dipenuhi oleh kekaguman dan kegembiraan. "Nama yang diukir pada medali pendaftaranmu adalah Lin Chen, bukan? Kau tidak hanya lulus, Nak, kau telah memecahkan rekor Jembatan Penilaian yang telah bertahan selama tiga ratus tahun!"

​Tetua itu menjentikkan jarinya. Sebuah cahaya keemasan melesat dari tangannya dan melayang di depan Lin Chen. Itu adalah sebuah jubah sutra berwarna ungu gelap dengan sulaman bintang jatuh emas di dadanya, beserta sebuah medali giok ungu yang memancarkan energi spiritual yang sangat murni.

​"Mulai detik ini, kau resmi menjadi Murid Inti Langsung dari Akademi Bintang Jatuh," ucap Tetua itu dengan nada resmi. "Medali ungu ini adalah identitasmu. Dengan ini, kau berhak menempati salah satu dari sepuluh puncak roh di akademi, Puncak Awan Ungu. Selain itu, kau mendapatkan akses tak terbatas ke lantai tiga Paviliun Sutra, dan jatah bulanan berupa seratus Batu Spiritual Menengah serta sepuluh Pil Pengumpul Esensi tingkat tinggi!"

​Di kejauhan, Pangeran Xiao Tian dan Mu Hongling yang baru saja merangkak melewati batas dua mil dengan susah payah, mendengar pengumuman tersebut.

​Wajah Pangeran Xiao Tian seketika berubah menjadi hijau karena iri hati dan amarah yang mendidih. "Seratus Batu Spiritual Menengah setiap bulan?! Hak istimewa Murid Inti Langsung... Itu seharusnya menjadi milikku! Rakyat jelata itu berani mencuri takdirku!"

​Mu Hongling, sang Iblis Merah, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Matanya menatap punggung Lin Chen dengan campuran rasa takut, tidak percaya, dan... ketertarikan yang janggal. "Kekuatan yang luar biasa brutal. Pemuda ini jelas bukan manusia biasa."

​Lin Chen menerima jubah ungu dan medali giok tersebut tanpa menunjukkan ekspresi terkejut atau gembira. Baginya, sumber daya ini hanyalah alat kecil untuk mempercepat pemulihan kekuatannya. Ia memasukkan jubah itu ke dalam cincin penyimpanannya, lebih memilih tetap mengenakan jubah hitam sederhananya.

​"Terima kasih atas petunjuknya, Tetua," ucap Lin Chen singkat. Tanpa basa-basi lebih lanjut, ia melangkah melewati gerbang raksasa Akademi Bintang Jatuh, meninggalkan kerumunan peserta ujian yang masih berjuang di atas jembatan.

​Akademi Bintang Jatuh dari dalam terlihat seperti sebuah kerajaan tersendiri. Bangunan-bangunannya terbuat dari batu giok putih dan kayu cendana berusia ribuan tahun. Di udara, burung-burung bangau spiritual beterbangan, membawa pesan atau mengangkut para instruktur tingkat tinggi.

​Formasi Pengumpul Qi di dalam akademi jauh lebih kuat daripada di luar gerbang ibu kota. Begitu Lin Chen melangkah masuk, ia bisa merasakan energi spiritual yang begitu kental hingga nyaris membentuk embun di udara.

​Dipandu oleh peta spiritual yang tersimpan di dalam medali ungu miliknya, Lin Chen berjalan mendaki menuju Puncak Awan Ungu.

​Puncak ini adalah salah satu dari sepuluh wilayah eksklusif yang hanya boleh ditempati oleh para jenius teratas. Area ini terisolasi dari keramaian asrama Murid Luar dan Murid Dalam, dikelilingi oleh lautan awan yang memancarkan pendar keunguan akibat padatnya Qi elemen angin dan petir.

​Di puncak bukit tersebut, berdiri sebuah paviliun mewah berlantai tiga. Di halamannya terdapat kebun tanaman herbal tingkat menengah dan sebuah mata air spiritual buatan yang airnya memancarkan energi menenangkan.

​"Tempat yang lumayan," gumam Lin Chen. "Setidaknya di sini aku tidak perlu menghirup udara yang sama dengan serangga-serangga berisik di bawah sana."

​Lin Chen memasuki ruang kultivasi utama di paviliun tersebut. Ruangan itu dibangun dari Batu Serap Roh, yang secara otomatis menyaring kotoran dari energi spiritual di udara sebelum masuk ke dalam tubuh kultivator. Di tengah ruangan, terdapat sebuah bantalan duduk yang terbuat dari Anyaman Rumput Roh Es, yang berfungsi mendinginkan pikiran agar terhindar dari penyimpangan Qi.

​Ia melepas pedang beratnya dan duduk bersila di atas bantalan tersebut.

​Lin Chen memejamkan mata, memindai lautan jiwanya. Pertarungan di atas Jembatan Penilaian, terutama melawan boneka tingkat Pembentukan Fondasi, telah memaksa fisik barunya bekerja melebihi batas amannya.

​"Meski fisiku telah ditempa oleh metode ekstrem, menggunakan Tebasan Pemecah Bintang dengan basis kultivasi Tingkat 7 masih meninggalkan keretakan halus di meridian kananku," analisis Lin Chen dengan tenang.

​Ia segera mengeluarkan jatah bulanannya yang baru saja ia dapatkan: sepuluh Pil Pengumpul Esensi tingkat tinggi dan puluhan Batu Spiritual Menengah.

​Ia memasukkan dua butir pil ke dalam mulutnya sekaligus. Begitu pil itu lumer, ledakan energi murni yang jauh lebih lembut daripada pil tingkat rendah menyebar ke seluruh tubuhnya. Di bawah kendali Sutra Pedang Kehampaan, energi itu langsung diarahkan menuju meridiannya yang retak, menambalnya dengan energi cahaya keemasan.

​Hanya dalam waktu satu jam, luka dalamnya sembuh total, dan meridiannya menjadi selangkah lebih tangguh dari sebelumnya.

​"Fondasi di tingkat Kondensasi Qi sudah nyaris sempurna. Sekarang, aku perlu mempersiapkan diri untuk menembus ke Ranah Pembentukan Fondasi. Namun, menerobos ranah besar tidak bisa dilakukan hanya dengan menyerap energi mentah. Aku membutuhkan elemen pemantik yang kuat."

​Di kehidupan sebelumnya, Lin Chen membangun fondasinya menggunakan sari pati dari bintang purba. Tentu saja, di Benua Langit Biru ini, mencari bintang purba adalah hal yang mustahil. Ia harus mencari material pengganti yang setara di dunia fana ini.

​Tok. Tok. Tok.

​Suara ketukan pintu paviliun memecah kesunyiannya. Lin Chen membuka matanya perlahan, aura pedangnya menyusut kembali ke dalam Dantian.

​Siapa yang berani mengganggu Murid Inti Langsung pada hari pertamanya?

​Lin Chen bangkit dan berjalan membuka pintu paviliun utama. Di teras depan, berdiri seorang pemuda berjubah putih khas Murid Dalam. Pemuda itu memiliki wajah pucat dan tubuh kurus, namun matanya memancarkan kecerdikan yang licik. Kultivasinya berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 8.

​Melihat Lin Chen yang keluar dengan wajah tanpa emosi, pemuda itu segera membungkuk dalam-dalam, menyembunyikan kilatan sinis di matanya.

​"Salam hormat, Kakak Seperguruan Lin Chen," sapa pemuda itu dengan nada yang sangat sopan. "Saya adalah Murid Dalam, Fang Han. Saya datang kemari atas perintah dari Perkumpulan Naga Sejati."

​"Perkumpulan Naga Sejati?" Alis Lin Chen sedikit terangkat.

​Fang Han tersenyum. "Benar, Kakak Lin. Di dalam akademi, para murid tingkat tinggi membentuk berbagai faksi untuk saling melindungi dan berbagi sumber daya. Perkumpulan Naga Sejati adalah faksi terkuat yang ada saat ini, dipimpin langsung oleh Kakak Senior Pertama kita yang berada di Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat 3."

​Pemuda kurus itu mengeluarkan sebuah kotak kayu berukir naga dari balik lengan bajunya dan menyodorkannya ke depan.

​"Mendengar Kakak Lin memecahkan rekor Jembatan Penilaian, Kakak Senior Pertama secara khusus mengundang Anda untuk bergabung dengan faksi kami. Di dalam kotak ini ada hadiah perkenalan berupa Lima Ratus Batu Spiritual Menengah."

​Fang Han menatap Lin Chen, senyum liciknya perlahan terlihat. "Tentu saja, sebagai balasannya, Puncak Awan Ungu ini harus diubah menjadi basis operasi sementara Perkumpulan Naga Sejati, dan sebagian jatah bulanan Kakak Lin akan dialokasikan sebagai... kontribusi perlindungan."

​Lin Chen melirik kotak kayu itu, lalu menatap Fang Han seolah sedang melihat seonggok sampah yang bisa berbicara.

​Ia sangat paham dengan permainan busuk di sekte dan akademi. Mereka menyebutnya undangan, padahal ini adalah pemerasan terang-terangan. Memanfaatkan senioritas untuk memeras murid baru yang berbakat agar tunduk pada dominasi mereka.

​Lin Chen tidak berbicara. Ia hanya mengangkat tangannya dan menampar udara di depannya dengan punggung tangannya.

​PLAAAAKK!

​Sebuah tamparan angin yang sangat keras menghantam wajah Fang Han. Tubuh pemuda Tingkat 8 itu terpelanting ke belakang seperti boneka jerami, terlempar menuruni puluhan anak tangga Puncak Awan Ungu sebelum mendarat dengan keras di tanah berdebu. Kotak kayu di tangannya hancur, menumpahkan batu-batu spiritual ke tanah.

​Fang Han memuntahkan darah beserta tiga gigi gerahamnya. Ia menatap ke atas bukit dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan dan amarah. "L-Lin Chen! Beraninya kau! Ini adalah tawaran langsung dari Kakak Senior Pertama! Jika kau menolak, kau akan menjadi musuh seluruh Perkumpulan Naga Sejati! Kau tidak akan bisa berjalan sejengkal pun di akademi ini!"

​Berdiri tegak di teras paviliun, Lin Chen menatap dingin ke arah semut yang menjerit di bawah sana.

​"Kembali ke sarangmu dan sampaikan pada 'Naga Sejati' khayalan kalian itu," suara Lin Chen bergema turun, dipenuhi oleh niat membunuh yang membuat darah Fang Han membeku. "Jika dia atau anjing-anjing peliharaannya berani menginjakkan satu kaki lagi di Puncak Awan Unguku, aku akan memotong kaki itu dan menyuapkannya ke tenggorokan kalian sendiri."

​Tanpa menunggu balasan dari Fang Han yang ketakutan, Lin Chen membalikkan badannya dan membanting pintu paviliun hingga tertutup rapat.

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!