NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kapan kak Sekar pulang?

Pak Nanang duduk di ruang tamu sederhana itu. Wajahnya tampak bingung sekaligus gelisah.

"Aku itu betulan bertemu Sekar, Ratmini." Katanya untuk kesekian kalinya.

Bu Ratmini dan Pakde Banyu mendengarkan dengan serius.

"Tadi aku lihat dia berdiri sendirian di tengah hujan dekat jalan setapak arah kebun jagungku."

Pak Nanang menarik napas panjang.

"Awalnya aku kira salah lihat. Makanya aku sampai mengusap mata berkali-kali."

"Lalu?" tanya Pakde Banyu.

"Pas aku dekati, ternyata benar Sekar."

Pak Nanang menatap keduanya dengan sungguh-sungguh.

"Aku bahkan bicara sama dia."

"Apa yang dia bilang?" Tanya Bu Ratmini cepat.

"Ndak banyak."

"Dia bilang, dia dingin."

Bu Ratmini langsung menunduk.

Hatinya terasa semakin tidak nyaman.

"Aku lalu ajak dia pulang." Lanjut Pak Nanang.

"Bahkan capingku kuberikan ke Sekar," kata Pak Nanang tiba-tiba.

Bu Ratmini dan Pakde Banyu langsung menoleh kepadanya.

Pak Nanang sendiri tampak baru menyadari sesuatu. Tangannya refleks menyentuh kepalanya yang sejak tadi memang tidak mengenakan caping.

Matanya perlahan membesar.

"Caping..."

"Kenapa, Pakde?" Tanya Pakde Banyu.

Pak Nanang tampak berpikir keras.

"Tadi waktu ketemu Sekar di tengah hujan, aku kasih caping itu padanya."

"Caping itu ku pakaikan sendiri ke kepalanya."

Bu Ratmini dan Dila saling berpandangan.

Pria tua itu menunjuk ke arah luar rumah.

"Sepanjang jalan dia ada di sampingku."

"Aku lihat sendiri."

"Aku dengar suaranya."

"Aku bahkan beberapa kali ngajak dia ngobrol."

Suasana rumah menjadi hening.

"Tapi dia memang lebih banyak diam." Lanjut Pak Nanang.

"Lalu pas sampai di sini?"

Pak Nanang menatap Bu Ratmini.

"Aku panggil kamu dari bawah rumah."

"Terus waktu kamu tanya di mana Sekar."

Suara Pak Nanang mulai melemah.

"Tapi pas aku nengok.."

Pria tua itu terdiam.

Wajahnya tampak pucat mengingat kejadian itu.

"Dia sudah ndak ada."

"Saya ndak lihat dia pergi."

"Saya juga ndak lihat dia lari."

Pak Nanang menggeleng pelan.

"Tahu-tahu hilang begitu saja."

Bu Ratmini meremas ujung bajunya.

Sementara Pakde Banyu mulai mengernyit dalam.

Sebagai orang yang mengenal Pak Nanang sejak lama, dia tahu pria tua itu bukan orang yang suka mengarang cerita.

Apalagi sampai datang malam-malam dalam keadaan basah kuyup hanya untuk membuat kebohongan seperti ini.

Setelah beristirahat sejenak, menghangatkan tubuh, dan menceritakan semua yang dialaminya, Pak Nanang akhirnya pamit untuk pulang.

Bu Ratmini, Pakde Banyu, dan Dila mengantarnya sampai ke tangga rumah.

"Hati-hati di jalan, Pakde." Kata Bu Ratmini.

"Iya." Jawab Pak Nanang pelan.

Pria tua itu masih tampak bingung dengan kejadian yang baru saja dialaminya.

Sebelum pergi, dia bahkan sempat menoleh sekali lagi ke arah jalan depan rumah, seolah masih berharap melihat sosok Sekar berdiri di sana.

Namun jalanan itu kosong, hanya gelap malam yang menyelimuti desa.

Tak lama kemudian, Pak Nanang pun berjalan pulang.

Setelah sosoknya menghilang di kegelapan malam, Pakde Banyu kembali masuk ke dalam rumah bersama Bu Ratmini dan Dila.

Pikiran mereka masih dipenuhi cerita yang baru saja disampaikan Pak Nanang.

Pakde Banyu lalu duduk dan menatap adiknya.

"Rat..."

Bu Ratmini mengangkat wajahnya.

"Kamu percaya sama cerita Pak Nanang tadi?"

Bu Ratmini terdiam beberapa saat.

"Entahlah." Jawabnya pelan.

Wanita itu menunduk.

"Tapi Pak Nanang itu bukan orang yang suka berbohong."

Pakde Banyu mengangguk pelan, dia juga berpikiran sama.

"Aku kenal dia sudah puluhan tahun." Lanjut Bu Ratmini.

"Nda mungkin dia datang malam-malam dalam keadaan begitu hanya untuk mengarang cerita."

Ruangan kembali hening.

"Tapi..." suara Bu Ratmini mulai bergetar.

Pakde Banyu menatapnya.

"Kalau memang benar dia bertemu Sekar."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata wanita itu.

"Kalau memang benar dia membawa Sekar pulang."

Bu Ratmini menggenggam kedua tangannya erat.

"Lalu ke mana Sekar pergi?"

Tidak ada yang menjawab.

Karena itulah pertanyaan yang sejak tadi menghantui mereka semua.

"Dia nda mungkin hilang begitu saja saat sudah di depan mata." Lanjut Bu Ratmini lirih.

"Rumah ini sudah dekat."

"Kalau memang itu Sekar, kenapa dia nda masuk?"

"Kenapa dia nda memanggilku?"

"Kenapa dia pergi lagi?"

Pakde Banyu menghela napas panjang. Dia merasa tidak memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

"Kak Sekar kenapa ya, Bu?" Tanya Dila pelan.

Suaranya terdengar lirih. Gadis kecil itu duduk di dekat ibunya sambil memeluk lututnya sendiri.

Sudah lebih dari sebulan kakaknya menghilang.

Dan sama seperti Bu Ratmini, dia juga sangat merindukan Sekar.

Bu Ratmini menoleh ke arah putrinya.

Melihat wajah Dila yang sedih membuat dadanya terasa semakin sesak.

Ia lalu meraih tangan anaknya dan menggenggamnya erat.

"Entahlah, Nduk." Jawabnya pelan.

Air mata mulai menggenang di matanya.

"Ibu juga nda tahu."

Dila menunduk.

"Aku kangen sama Kak Sekar."

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Bu Ratmini semakin perih.

Karena bukan hanya Dila yang merasakan hal itu.

Dia sendiri merasakan kerinduan yang jauh lebih besar.

"Kak Sekar kenapa nda pulang-pulang ya, Bu?" tanya Dila pelan.

Matanya tampak berkaca-kaca.

Sudah lebih dari sebulan berlalu, namun kakaknya masih belum juga kembali.

Bu Ratmini menatap wajah putri bungsunya itu dengan hati yang terasa sesak.

Dia tahu Dila sangat merindukan Sekar, sama seperti dirinya.

Bu Ratmini lalu mengusap lembut kepala Dila.

"Dila berdoa saja, Nduk." Katanya pelan.

"Semoga kakakmu cepat pulang."

Dila menunduk.

"Supaya bisa kumpul lagi sama kita" katanya lirih.

Wanita itu berusaha tersenyum meski matanya mulai berkaca-kaca.

"Kita minta sama Allah supaya Kak Sekar selalu dalam lindungan-Nya."

"Dan kalau memang Allah mengizinkan, semoga kakakmu bisa cepat pulang dan berkumpul lagi sama kita."

Dila mengangguk pelan.

"Iya, Bu."

Bu Ratmini lalu memeluk anaknya erat.

Sementara itu, di dalam hatinya sendiri, dia terus memanjatkan doa yang sama.

Doa yang hampir setiap malam ia ucapkan sejak Sekar menghilang.

Semoga anaknya baik-baik saja. Dan, semoga suatu hari nanti, pintu rumah itu kembali terbuka, lalu Sekar masuk sambil memanggilnya seperti dulu.

1
Yulia Lia
akhirnya Sekar di temukan ,tapi sudah menjadi mayat😭😭😭
Mega Arum
typo Thor... kalimat Nda...sebaiknya tidak, msl tdk mungkin...
Nurr Tika
itu arwah sekar
Mega Arum
menarik
Rini Yunita
q curiga kl wulan adalah pelakunya
Nurr Tika
sedihnya smpe sini
Siti Yatmi
duh ..Thor .betapa hancur hati seorang ibu .tiap hari berharap anaknya pulang, tapi malah mayat yg ditemukan, ga sanggup deh, bayangin nya ..
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!