Takdir membawa ku dalam keadaan ini, setelah suami ku mas Arend meninggal dunia, aku menikah lagi dengan adik kembar mas Arend, yaitu Arick.
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Datang Ke Kantor Polisi
POV AUTHOR
Mardi mendatangi kantor kepolisian saat jam 9 pagi. Beliau langsung mengikuti semua prosedur yang telah ditetapkan kepolisian untuk melihat hasil rekam medis sang anak.
Sang Penyidik, menjelaskan bahwa rekam medis adalah salah satu barang bukti dalam kecelakaan itu, hingga tidak bisa diambil dan di bawa pulang. Anggota keluarga hanya diperbolehkan untuk melihat dan Penyidik akan menjelaskan semua isinya. Juga penyebab dari kecelakaan itu terjadi.
Cukup lama Mardi menunggu, saat rekam medis itu sedang dalam proses pengambilan. Mardi menunggu dengan pikiran yang kalut, duduknya pun tak tenang. Membayangkan banyak hal yang ia takutkan akan terjadi.
Jangan kecewakan papa Rend, papa mohon.
Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Mardi ketika melihat sang penyidik datang dengan membawa amplop coklat ditangannya.
Ia menelan salivanya dengan susah payah.
Mardi menarik kursinya lebih dekat dengan meja, ia mulai membaca hasil rekam medis itu dengan sangat teliti. Ia baca satu per satu kata dalam kertas itu dengan mata yang terbuka lebar.
"Alkohol negatif." Gumam Mardi pelan, namun masih terdengar ditelinga sang Penyidik, yang diketahui namanya adalah inspektur Arief.
"Ya, bapak Arend tidak mengkonsumsi Alkohol sebelum kecelakaan itu terjadi." Arief mencoba menjelaskan, "Kecelakaan itu terjadi karena ban mobil selip saat di belokan yang curam. Mobil tidak bisa dikendalikan dan terjadilah kecelakaan, faktor cuaca juga mempengaruhi, saat itu sedang hujan badai." Tambah Arief.
Mardi terdiam, hatinya terasa sangat lega ketika mendengar penjelasan itu. Mardi juga sangat percaya jika sang anak yang ia bangga-banggakan tidak akan mungkin melakukan hal bejat itu.
"Bisakah saya melihat juga rekam medis Lila, wanita yang mengalami kecelakaan bersama anak saya?" Tanya Mardi menggebu, ia juga ingin tahu semua tentang Lila. Ingin memastikan semua ucapan Lila adalah bohong.
"Maaf Pak, hanya anggota keluarga yang boleh melihat rekam medis korban."
"Apakah setelah kecelakaan itu, baik Arend maupun Lila dilakukan Visum?" Mardi harap-harap cemas, dilihatnya Arief yang mengangguk dan ia menghela napas lega.
"Benar Pak, baik bapak Arend ataupun ibu Lila keduanya menjalani Visum et Repertum. Hal ini dilakukan untuk melindungi hak keduanya dari ketidakadilan, jika diketahui kecelakaan itu termasuk dalam kasus pidana ataupun perdata."
Glek!
Lagi-lagi Mardi menelan salivanya dengan susah payah, ia sangat ingin tahu apakah Arend dan Lila benar-benar melakukan itu.
"Saya mohon Pak, saya mohon izinkan saya untuk melihat rekam medis Lila." Mardi memohon, bahkan tangannya terkatup rapat didepan dada.
"Maaf Pak, tidak bisa, lebih baik besok bapak kesini lagi dengan salah satu anggota keluarga ibu Lila. Karena dari pihak keluarga ibu Lila juga belum ada yang melihat hasil rekam medis ini."
Mardi terdiam, pikirannya masih seperti benang kusut, masih belum menemukan ujung benangnya.
"Baiklah Pak, besok saya akan kemari lagi."
Akhirnya Mardi memutuskan untuk pulang, jam setengah 12 dia keluar dari kantor polisi itu.
Mardi termenung, mengabaikan semua yang terjadi disekelilingnya. Tidak peduli meski berulang kali Amir bertanya, "Langsung pulang Pak?"
Mardi tidak peduli, ia hanya terdiam, duduk dan melamun di dalam mobil.
Kenapa Rend? kenapa kamu harus meninggal dengan cara seperti ini? kamu bukan hanya menyakiti Jihan, tapi juga adikmu Arick.
"Mir, sebaiknya kita temui Arick dulu." Akhirnya Mardi buka suara, Amir mengangguk dan menjawab iya ucapan majikannya ini.
Mardi menunggu disalah satu cafe didekat hotel Arick. Ia menunggu dengan hati yang tidak tenang. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat dengan jelas Arick yang mulai mendorong pintu masuk cafe itu. Mardi melambai, ingin Arick segera sampai disini.
Baru saja Arick mendudukkan dirinya, Mardi langsung berucap dengan tidak sabaran.
"Rick, bagaimana ini Nak? papa tidak bisa melihat rekam medis Lila, papa belum bisa memastikan apakah Arend dan Lila benar-benar_"
Ucapan Mardi terhenti, lidahnya kelu untuk melanjutkan ucapannya.
"Tenang Pa, sabar." Arick mencoba menenangkan, meskipun sebenarnya ia sama kalutnya dengan semua orang, tapi Arick ingin terlihat tenang. Tidak ingin menambah keadaan menjadi riuh.
Mardi berulang kali menarik dan mengeluarkan napasnya pelan-pelan. Ya, benar kata Arick, saat situasi seperti ini sebaiknya kita berpikir positif, jangan terlalu terbawa amarah.
"Arend tidak pernah mabuk Rick, Lila sudah membohongi kita." Jelas Mardi saat ia sudah mulai merasa tenang.
"Alhamdulilah." Arick mengusap wajahnya kasar, seolah menarik semua beban yang tergambar jelas di wajahnya.
"Tapi papa belum bisa memastikan tentang hubungan Lila dan Arend. Rekam medis itu hanya boleh dilihat oleh anggota keluarga, kita bisa meminta tolong pak Hamid untuk melihat rekam medis itu Rick." Mardi mulai menyampaikan isi kepalanya.
Tanpa menjawab ucapan sang ayah, Arick langsung merogoh ponselnya di dalam saku celana. Cepat-cepat ia menghubungi nomor Hamid.
Satu jam yang lalu, Hamid mengirim pesan kepada Arick, ia berkata jika hari ini ia, anak bungsunya dan sang istri akan langsung pulang ke lampung. Banyak pekerjaan yang sudah terkendala di sana. Hamid juga mengirimkan alamat rumah kontrakan Lila di jakarta.
Pikiran Arick semakin kalut ketika mendapati nomor Hamid tidak tidak bisa dihubungi.
Ya Allah. Batin Arick penuh permohonan.
"Nomor pak Hamid tidak bisa dihubungi Pa." Lirih Arick, tangannya terjatuh lemah di atas meja, menunjukkan keputusasaan yang mendalam.
Mardi terdiam, masih terus berpikir bagaimana caranya untuk melihat rekam medis itu. Mardi yakin jika saat ini Hamid sudah dalam perjalanan pulang ke lampung, rasanya pun ia merasa iba pada Hamid. Hamid sudah sangat membantu selama ini dan rasanya tidak mungkin juga meminta Hamid untuk kembali lagi ke Jakarta.
Jika ia mengajak Lila untuk melihat rekam medis itu, apakah Lila bersedia? atau malah Lila akan menghapus semua barang bukti?
Ayah dan anak itu sama-sama terdiam dalam jangka waktu yang cukup lama, bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Pa, bagaimana jika kita memberi tahu Jihan tentang semua ini?" Arick mulai buka suara, ketakutan akan Jihan mengetahui cerita ini dari Lila mendominasi isi kepalanya. Arick takut Jihan akan semakin terpukul. Bukankah lebih baik jika ia yang memberi tahu semuanya?
"Apakah harus seperti itu Rick? papa sungguh tidak tega memberi tahu Jihan. Papa tidak mau Jihan kecewa Rick." Mata Mardi mulai berembun, sejak awal ia mengenal Jihan, Mardi sudah sangat menyayangi Jihan seperti anak kandungnya sendiri, sofia pun sama seperti itu.
Sudah sejak lama, Mardi dan Sofia menginginkan seorang anak perempuan. Ketika Jihan datang ke rumah mereka, keduanya sangat menyukai pribadi Jihan yang lembut dan sederhana. Sejak saat itu juga Mardi dan Sofia sangat menyayangi Jihan, lebih-lebih dari rasa sayangnya kepada Arick dan Arend.
Saat Arend meninggal, Mardi dan Sofia pun takut jika Jihan akan meninggalkan mereka juga. Karena itulah keduanya mendesak Arick untuk menikahi Jihan. Untunglah, sang cucu Zayn seperti mendukung keinginan Opa dan Omanya. Ketika menangis, Zayn hanya akan tenang jika dalam dekapan Arick.
"Tidak Rick, jangan beritahu Jihan." Final Mardi.