Betty Thompson, merupakan murid baru di Richlands High School. Ia pindah ke Virginia setelah sebelumnya tinggal di California. Betty terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal bersama ibunya.
Betty memiliki kepribadian tertutup, tidak banyak bicara dan menolak terlibat dengan banyak orang.
Di Virginia, Betty bertemu dengan orang-orang tak terduga yang perlahan memasuki hatinya.
Menceritakan romansa diantara Betty Thompson dan Daniel McKnight. Daniel merupakan cowok paling hot di sekolah. Entah sejak kapan ia mulai menyukai Betty , tetangga barunya.
Juga menceritakan lingkaran pertemanan baru Betty dengan Inez Robinson, Laura Roberts, Alicia Brook dan Jared James.
...
"Aku bisa mengurus diriku sendiri." —Betty Thompson.
".... Kau harus berhenti bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja, Beth ...." —Daniel McKnight.
Note: Semoga kalian semua suka dengan ceritanya 😊☺. Terima kasih semua yang sudah mau membaca cerita ini 😊😘
This story inspired from Betty by Taylor Swift.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31: Curhat
"Jadi, ceritakan segalanya! Aku sudah tidak sabar mendengar kisahmu," kata Inez saat mereka sudah selesai memesan, dan pelayan baru saja pergi.
"Aku juga," sahut Laura yang baru saja datang dari kamar mandi. Ia segera duduk di sebelah Inez.
"Dimana Alicia dan Jared?" tanya Betty berusaha mencari topik lain terlebih dahulu.
Laura mengeluarkan kaca bundar dan kotak pensil dari tasnya. Dia membuka kotak pensilnya, dan mengeluarkan lipstik, yang langsung ia oleskan di bibirnya. "JJ harus membantu di restoran milik orang tuanya. Sedangkan Al, seperti biasa ia sibuk dengan tugas-tugasnya." Laura mengerjap-ngerjapkan bibirnya untuk meratakan lipstik yang baru saja ia oleskan.
Betty menganggukkan kepalanya. Ia baru saja membuka mulutnya saat Inez berkata, "jadi, apa yang dikatakan Daniel?" Inez mencondongkan tubuhnya ke arah Betty.
Laura memukul belakang kepala Inez, "kau tidak sabaran sekali."
"Awww ...." Inez memegangi belakang kepalanya yang habis dipukul. Kepalanya menoleh, menatap jengkel ke arah Laura. "Sakit tau!" katanya sambil terus menggosok-gosok belakang kepalanya.
Betty menatap keduanya dalam diam. Apa ia sudah mengambil keputusan yang salah dengan memilih bercerita kepada Inez dan Laura?
Tak lama kemudian pelayan datang, membawakan pesanan mereka. Ia meletakkan dua milkshake rasa coklat dan satu milkshake rasa strawberry, serta satu porsi beefburger dengan kentang goreng.
Inez meletakkan milkshake rasa coklat di hadapan Betty dan Laura. Lalu ia mengambil milkshake rasa strawberry dan juga beefburger untuk dirinya sendiri.
Laura mengambil sepotong kentang dari piring Inez dan memasukkannya ke mulutnya.
"Kenapa kau selalu mencuri makananku, sih! Aku sudah menyuruhmu memesan sendiri tadi!" protes Inez yang tak terima kentang gorengnya dicomot Laura.
"Aku harus menjaga berat hadanku. Kau tidak pengertian sekali," balas Laura santai.
Laura lalu menatap ke arah Betty yang sedang menegak milkshake miliknya melalui sedotan. "Jadi , Beth. Ceritakan apa yang ingin kau ceritakan tadi," kata Laura sambil mengambil kentang milik Inez lagi.
"Kau harus menjaga berat badanmu!" komentar Inez saat melihat kentangnya kembali dicuri oleh Laura. Sementara yang disindir hanya acuh.
Betty menatap Inez dan Laura dari balik bulu matanya, tanpa melepaskan sedotan yang berada di kedua bibirnya.
Betty melepaskan sedotan dari bibirnya. "Jadi ...."
"Jadi?" sahut Inez dan Laura berbarengan.
Betty menundukkan kepalanya, menatap minumannya. Pipinya bersemu mengingat kejadian tadi, saat Daniel menyatakan perasaannya. Ia mengigit mulutnya untuk menahan agar senyum yang ia rasa konyol, tidak mengembang di wajahnya. "Daniel bilang—"
"Daniel bilang apa?" tanya Inez tak sabar.
"Biarkan Betty menyelesaikan kalimatnya, Nez! Kau tidak sabaran sekali sih dari tadi!" sahut Laura.
"D-dia bilang dia menyukaiku, dan dia tidak bercanda." Betty buru-buru meminum lagi milkshake-nya, tanpa menatap ke arah Inez dan Laura. Ia sebenarnya malu bercerita dengan mereka berdua. Tapi, mau bagaimana lagi, ia sedang merasa bingung, dan sangat butuh teman cerita.
Inez menggebrak meja. "Sudah kuduga! Sejak awal aku yakin sekali jika Daniel menyukai Betty," katanya bangga.
"Kau membuatku malu, Nez. Semua orang menatap kita!" bisik Laura ke telinga Inez, sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Menatap orang-orang yang atensinya sekarang sudah menuju ke arah meja yang mereka tempati.
Mereka bertiga pun tersenyum kaku, sebagai permintaan maaf ke pada orang-orang yang sedang menatap mereka.
"Maaf aku terlalu bersemangat." Inez meringis.
"Bagaimana denganmu?" tanya Laura sambil menatap ke arah Betty.
"Aku?" ulang Betty.
"Hm-mm," gumam Laura sambil mengunyah kentang goreng. Inez tak protes lagi prihal kentang gorengnya yang sejak tadi dimakan oleh Laura. Cerita Betty sekarang lebih menarik daripada makanannya.
"Aku tidak tau apakah aku menyukainya juga atau tidak," gumam Betty jujur.
"Kurasa kau juga menyukai Daniel," putus Inez.
"Kenapa kau yang memutuskan sih, Nez?!" komentar Laura.
Inez mengangkat bahunya. "Feeling-ku tidak pernah meleset."
"Memangnya kau peramal!" balas Laura.
"Haruskah aku bekerja sebagai peramal?" tanya Inez.
Laura mengabaikan pertanyaan Inez. "Apa jantungmu sering berdebar saat bersama Daniel?" tanya Laura kepada Betty.
Betty berpikir sejenak. Ia lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa kau merasa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutmu ketika kau bersamanya?" sekarang gantian Inez yang bertanya.
Betty berpikir sejenak lagi. Ia berusaha mengingat-ngingat perasaannya saat bersama Daniel. Lalu, Betty menganggukkan kepalanya lagi.
"Bahasamu berlebihan sekali," komentar Laura.
"Terserahku. Tapi, memang begitu rasanya ketika kau jatuh cinta," balas Inez tak mau kalah.
"Memangnya kau pernah jatuh cinta?" tanya Laura kepada Inez.
"Tentu saja!" jawab Inez yakin.
Laura menepuk tangannya antusias. "Wow. Ini berita besar! Jadi, siapa laki-laki tidak beruntung itu?"
"Kenapa jadi membicarakanku, sih!" protes Inez. Ia lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Betty yang sekarang sedang sibuk dengan minumannya. "Apa kau setiap hari selalu berharap bertemu dengannya?" tanyanya kepada Betty.
Betty menatap bergantian Inez dan Laura. Lalu, ia menganggukkan kepalanya malu-malu. Rasanya aneh, membicarakan kepada orang lain apa yang ia rasakan.
"Aku menyimpulkan bahwa kau juga menyukainya," putus Laura yakin. "Apa yang dikatakan Daniel setelah dia menyatakan perasaannya kepadamu? Dan apa yang kau katakan kepadanya setelah ia menyatakan perasaannya?"
"Emm ... awalnya aku hanya diam. Karena jantungku yang tidak mau berhenti berdetak dengan kencang. Lalu, Daniel bilang, kalau aku tak harus menjawabnya sekarang. Tapi, dia berharap akan mendapatkan kabar baik setelah pertandingannya dua minggu lagi," jelas Betty.
"Itu artinya dia ingin kau menjawab perasaanya setelah pertandingannya dua minggu lagi," komentar Laura yakin.
"Wah ... kau berpengalaman sekali ya," komentar Inez kepada Laura.
Laura membusungkan dadanya. "Tentu saja! Aku sudah berpengalaman dalam bidang ini," katanya sambil tertawa.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Betty.
"Tentu saja, kau harus mengatakan padanya kalau kau juga menyukainya," sahut Laura.
"Ya! Benar kata Laura! Kau akan menonton pertandingannya, bukan? Jangan bilang tidak! Karena kau sudah berjanji padanya kemarin, untuk pergi ke pertandingannya. Aku akan memastikan kau hadir," kata Inez panjang lebar.
"Apa begitu menurut kalian?" tanya Betty ragu. "Bagaimana jika sebenarnya dia tidak menyukaiku?"
"Dia jelas-jelas mengatakan bahwa ia menyukaimu. Apa lagi yang kau ragukan, Beth?" tanya Inez.
"Hanya saja, aku berpikir mungkin saja dia tidak benar-benar menyukaiku, atau dia hanya sedang merasa bingung terhadap perasaanya." Betty mengaduk-ngaduk milkshake-nya.
Laura melambaikan tangannya di depan wajahnya. "Kau terlalu banyak berpikir, Beth. Gunakan saja hatimu."
Inez mengangguk setuju sambil mengigit besar burgernya.
"Ah .... Ya! Kau harus menerapkan aturan tiga kali kencan, sebelum ia menciummu," kata Laura.
"Apa gunanya aturan tiga kali berkencan? Kau saja sering putus setiap kali berpacaran." Inez mengigit lagi burgernya.
"Kau tidak akan tau, karena kau belum pernah berkencan," balas Laura.
Sementara Betty hanya mengangguk polos, ia bahkan tidak memikirkan tentang ciuman sebelum Laura mengatakannya.
"Jadi, Beth. Apa kau sudah mengerti apa yang seniormu ini katakan?" tanya Laura.
Betty tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya, kurasa aku sudah paham."
"Bagus!" Laura mengalihkan pandangannya ke arah Inez. "Jadi, Nez. Apakah kau akan menceritakan kepada kami tentang laki-laki 'tidak beruntung' yang kau sukai itu?"
"Uhuk ... uhuk," Inez tersedak burgernya. Ia buru-buru menegak minumannya langsung dari gelasnya. Hingga menimbulkan jejak minuman di atas bibirnya.
Inez mengelap bibirnya dengan tisu. "Apa yang kau bicarakan?" tanyanya pura-pura tak mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Laura.
"Apa cowok 'tidak beruntung' yang kau sukai itu adalah Justin Gray?" tanya Laura langsung.
"Tentu saja tidak!" jawab Inez cepat dan yakin. Sementara pipinya bersemu merah. "Kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan Tony?"
Laura melambaikan tangannya di depan wajah. "Dia brengsek. Kami sudah putus. Ada cowok lain sekarang yang sedang dekat denganku."
"Secepat itu?" tanya Inez dan Betty bersamaan sambil menggelengkan kepala.
Laura terkekeh dan hanya menganggukkan kepalanya sambil menyesap minumannya.