Haii Readers...
Ini karya Ku yang ke empat semoga kalian suka...
"Dasar wanita ja**ng, aku menyesal menikahimu." Abbas menarik rambutku.
Ppllaakk.
Abbas menampar ku hingga bibir ku mengeluarkan darah segar.
"Mas, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku memegangi lutut suami ku.
"Cepat kamu ceraikan dia, Mommy ngga sudi mempunyai menantu miskin, ja**ng dan mandul seperti dia." Usir Mommy mertua ku.
Air mata ku mengalir deras, Daddy mertua ku hanya diam saja.
Bagaimana kelanjutannya kisahnya?
Kisah ini diambil dari seorang sahabat, bukan plagiat ini kisah nyata. Semoga kalian menyukainya...
Jangan lupa Vote, like dan komentarnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trianti Fersa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Overdosis
Eliana memasuki kamar, ia kaget melihat Abbas menutup mata sambil memeluk foto.
"Yank, bangun. Bangun, please jangan bikin aku khawatir." Eliana menggoyangkan tubuh Abbas, tapi Abbas tidak membuka matanya.
Eliana melihat ada botol kecil dan gelas di meja, lalu ia mengambil dan melihat detail obat apa itu.
"Obat penenang?apa Mas Abbas minum obat ini." Eliana membolak-balik botol obat.
"Ya Allah, ini dosisnya sangat tinggi. Mas... Mas... Please jangan nakuti aku." Eliana menaruh botol obat ke meja, lalu menggoyangkan tubuh Abbas.
"Kamu jangan mati dulu, aku kan belum mengahlikan harta kamu untuk ku." Kata Eliana dalam hati, ia terus menggoyangkan tubuhnya Abbas.
Eliana teriak memanggil Pak Tejo dan Mang Tata.
"Pak Tejo, Mang Tata. Tolong Abbas pingsan."
Pak Tejo dab Mang Tata mendengar Eliana teriak memanggil nama mereka, lalu berlari menuju kamar atas.
"Ya, non. Ada apa memanggil kita berdua?." Pak Tejo mengatur napas.
"Cepat kalian bawa Abbas kerumah sakit nanti saya akan menyusul." Perintah Eliana.
"Ya Allah Gusti, Aden Abbas kenapa non?." Mang Tata panik melihat Abbas pucat dan mulutnya keluar busa.
"Jangan banyak tanya, cepat kalian bawa Abbas kerumah sakit. Saya akan bawa perlengkapan lain dan akan menyusul kalian." Eliana mulai sewot.
"Gue mau rapi-rapi barang-barang Branded dan perhiasan Alsava dulu." Kata Eliana dalam hati, lalu ia berjalan ke lemari.
"Baik, non." Barengan. Pak Tejo dan Mang Tata mengangkat tubuh Abbas dan membawa kerumah sakit milik keluarga Ferdinand.
Tiba dirumah sakit, Abbas langsung di tangani.
"Kenapa Aden Abbas bisa seperti itu?." Pak Tejo mondar-mandir cemas.
"Aku harus pulang, kayanya wanita ular itu mau melakukan sesuatu." Pikir Mang Tata dalam hati.
"Iya, Pak. Saya lebih baik pulang dulu soalnya saya merasa tidak enak badan." Ijin Mang Tata.
"Ya udah, koe istirahat dulu. Nanti kalau sudah mendingan kesini lagi." Kata Pak Tejo.
"Terimakasih, Pak Tejo." Mang Tata bergegas menuju Mansion. Ia menggunakan motor pinjaman dari Satpam rumah sakit.
Eliana tengah asyik merapihkan barang-barang Alsava, ia tidak tau kalau sedang di pantau. Ya, Mang Tata tiba di Mansion langsung menuju kamar atas. Mang Tata merekam semua kegiatan Eliana.
"Hahahaha... Akhirnya aku bisa bawa barang-barang Branded dan perhiasan Alsava, dasar pria bodoh sekarang lemah lagi. Mau aja percaya sama gue, padahal ini bukanlah anaknya. Kasihan banget loe Abbas, saking ingin mempunyai anak tapi loe ngga periksa diri loe sendiri dan Alsava juga wanita bodoh kenapa dia yang ngaku kalau dia yang mandul, harusnya beritahu Abbas. Yang mandul Abbas, Ish!! kenapa pula gue mikirin mereka lebih baik gue segera rapikan. Sebelum mobil box pesanan gue datang." Eliana cepat-cepat mengepak barang-barang dan perhiasan Alsava.
Mang Tata mendengar itu, lalu turun kebawah dan mengajak Bi Siti, Bi Ijah, Pak Karyo dan Mang Ujang mencegah mobil box masuk ke Mansion.
Ketika mobil box ingin masuk kedalam Mansion, Mang Ujang dan yang lain sudah mencegat.
"Kalian mau apa?kenapa kalian menghalangi kami masuk kedalam, apa kalian tidak takut dengan nyonya kalian." Kata Supri selaku supir mobil box.
Tanpa bicara Mang Tata dan yang lainnya langsung bertindak.
"Hei! Apa-apa kalian." Supri dan temannya berontak.
"Udah diam, kalian itu udah berbuat jahat sama keluarga Ferdinand dan kalian pantas di penjara." Kata Mang Ujang.
"Jangan, kami hanya di suruh. Kami ngga tau apa-apa." Berontak Supri.
"Kami di suruh wanita iblis Eliana membawa barang-barang." Kata temannya Supri.
"Kalian bisa di jelaskan di kantor polisi." Kata Mang Tata.
Mang Tata dan Mang Ujang membawa Supri dan temanya kekantor polisi. Sedangkan Pak Karyo menyamar sebagai Supri.
Tin
Tin
Tin
Pak Karyo menekan klakson mobil.
"Akh! Udah datang aja, Supri loe cepat juga." Eliana langsung kebawah mendengar bunyi klakson mobil.
"Supri loe cepat masukkan semua barang-barang yang ada di kamar atas. Pastikan semua masuk kedalam mobil, gue mau kerumah sakit dulu. Nih bagian loe." Perintah Eliana dan memberikan sebuah amplop coklat yang agak tebal.
"Baik, non." Pak Karyo masuk kedalam Mansion, sedangkan Eliana pergi menuju rumah sakit.
Eliana sudah tidak terlihat. Pak Karyo, Bi Siti dan Bi Ijah merapihkan barang-barang dan Perhiasan Alsava di sembunyikan ke kamar belakang. Kamar yang biasa di gunakan Alsava, bila merasa sedih.
Pak Karyo, Bi Siti dan Bi Ijah udah menganggap Alsava seperti anaknya sendiri. Jadi mereka tidak mau ada yang berbuat jahat sama Alsava.
Eliana sampai di rumah sakit dan bertemu dengan Pak Tejo berdiri di ruang ICU.
"Pak, gimana kondisi Abbas Pak Tejo?." Eliana lembut.
"Sedang di tangani sama dokter." Kata Pak Tejo tanpa menoleh ke Eliana.
Kemudian, Dokter Erik keluar ruangan. Dokter Erik adalah salah satu sahabat Abbas, rumah sakit di handle sama Dokter Erik. Eliana tidak mengetahui Dokter Erik itu siapa sebenarnya.
"Dok, gimana keadaan Abbas?." Eliana pura-pura cemas.
"Beliau terlalu banyak komsumsi obat penenang, maaf nyonya ini siapa?." Dokter Erik dingin.
"Saya istrinya, istri yang berhasil mengandung anaknya." Kata Eliana bangga.
"Ck, pelakor aja bangga. Emang gue ngga tau apa siapa loe sebenarnya." Kata Dokter Erik dalam hati.
"Baiklah, saat ini suami ibu terlalu banyak komsumsi obat penenang atau di sebut overdosis dan beliau sudah bisa kami atasi. Untuk itu kami sebagai dokter jangan buat tuan Abbas terlalu berpikir keras atau membuat jiwanya terganggu." Celetuk Dokter Erik.
"Lah! kok ini dokter malah seakan nyalahin gue, padahal Abbas sendiri seperti itu. Lagi pula gue mana tau kalau dia suka minum seperti itu." Batin Eliana, ia tampak kesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...Segini dulu ya.... Jgn lupa Vote, like dan Komentarnya... see you 😘😘😘😘...