Kematian kakaknya membuat Ayu memiliki hubungan percintaan dengan Angga, polisi tampan yang bertugas mengungkap kasus kematian tersebut, Herman sahabat sekaligus teman kuliah yang telah lama mencintai Ayu ternyata adalah anak dari suami almarhum kakak, apa yang terjadi selanjutnya dengan hubungan Ayu dan Herman, mungkinkah hubungan persahabatan mereka tetap terjalin baik setelah mereka tahu latar belakang masing masing, bisakah Angga mengungkap pembunuh kakak Ayu yang sesungguhnya ikuti kisah Ayu, Herman dan Angga dalam kisah mawar kali ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Robbiyana Widiyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aku mau
Angga berjalan menuju parkiran, dan Ayu tampak sedang berdiri menunggu di samping mobil sambil bermain dengan gadgetnya. Sesekali nampak senyumnya sambil tangannya mengetik membalas pesan di hp miliknya itu. Setelah membuka kunci mobil, Angga masuk ke dalam mobil dan disusul dengan ayu yang masih sibuk melihat ke arah gadget itu. Angga menjalankan mobilnya sambil sesekali melirik ke arah Ayu,namun Ayu sepertinya tidak menyadarinya.
" hmm...hmmm..hemm Yu..."
Angga berusaha menarik perhatian ayu.
" Iya mas." jawab ayu sambil menoleh sebentar dan kembali sibuk dengan hpnya.
" Sibuk amat sih...lagi chatting sama siapa sih, sampai aku di cuekin gini." kata Angga pura pura merajuk, Ayu tertawa mendengar Angga merajuk, tapi dia akhirnya mengakhiri chattingannya dan memasukkan hpnya kedalam tas yang dibawanya
"Nggak pantes tau Mas...pura pura ngambek gitu." cibir Ayu sambil memperhatikan Angga sambil senyum.
" Terus mas mesti gimana biar nggak di cuekin kamu?"
" Ish..Ayu nggak cuekin ya, ini lo cuma jawab chattingannya Dewi."
" Beneran sama Dewi? kok senyam senyum gitu kaya yang seneng banget gitu."
" Ya seneng lah..Dewi itu dari dulu anaknya lucu, rame, asik kalau main sama dia, lagipula aku sudah lama gak ketemu, baru tadi ketemu di bandara nggak sengaja."
" Berarti kamu beruntung dong gara gara jemput mas kamu ketemu teman lama."
" Iya, sangat beruntung."
" Yu..."
" Hmmm"
" Kok hmm doang?"
" Iya mas, gimana?" jawab Ayu gemes menanggapi candaan Angga. Angga tersenyum lebar melihat Ayu yang nampak kesal gara gara dia.
" Mas serius lo tadi yang pas makan."
" Yang mana?"
" Yang soal pernikahan." kata Angga, Ayu terdiam mendengar perkataan Angga yang lagi serius mode on gini.
" Kamu nggak punya pacar kan? aku juga nggak ada pacar, artinya nggak ada masalah kalau kita menikah."
"Tapi kan..."
" Kamu lebih seneng diajak pacaran atau langsung diajak nikah, pacarannya setelah menikah."
" Ya seneng langsung diajak nikahlah mas, pacaran juga ujung ujungnya nikah kok." jawab Ayu pelan
" Nah..itu pinter gitu, gimana? mau nggak?"
" Mau apaan Mas?"
" Nikah sama aku."
" Mas.. dimana mana kan orang ngelamar itu mesti romantis, serius nggak bercandaan kaya gini." jawab Ayu cemberut
" Bercanda gimana sih? ini aku serius Ayu, mau romantis yang seperti apa? nanti kita buat suasana romantis setelah menikah, kamu bebas buat menangis haru di sini" jawab Angga sambil menepuk dada bidangnya, Ayu tersenyum melihat gaya Angga.
" Gimana Yu...kamu belum jawab lo."
" Jawab apaan?"
" Yu..ini kamu lo yang ngajak bercanda terus, aku sudah sangat serius dari tadi." kata Angga tanpa senyuman sambil memandang wajah Ayu yang malu malu.
" Ya...Ayu nggak ngerti mau jawab apa Mas."
" Tinggal dijawab aja, mau nggak nikah sama mas." kata Angga
" Masa mas mesti ngomong lagi, nanya lagi, ayolah..kamu tinggal jawab aja..
" Iya.. iya.. Ayu mau." kata ayu cepat sambil menunduk, sebelum Angga menyelesaikan omongannya. Angga terkejut, lalu segera menepikan mobil yang di kendarainya dengan cepat.
" Apa? ulangi Yu.. mas mau dengar sekali lagi."
" Iya..Ayu mau nikah sama mas Angga." kata Ayu malu malu, jangan di tanya wajah Ayu sudah merona seperti tomat, sedangkan Angga langsung tertawa bahagia dan memeluk tubuh Ayu spontan, membuat Ayu yang duduk di sebelah Angga tersentak kaget, namun perlahan lahan Ayupun membalas pelukan Angga. Mereka berpelukan beberapa saat untuk meluapkan kegembiraannya.Sampai pada akhirnya pelukan Itu terlepas dan ayu semakin tertunduk malu menghindari pandangan mata Angga yang memabukkan.
" Cieee...malu? ngapain? biasa aja kaliii..." goda Angga
" Mas anggaaaa..." Ayu memukul pelan lengan Angga manja.
" Kenapa?"
" Mas... tapi aku masih pingin punya karir."
" Apa hubungannya karir sama menikah?"
" Ya ada dong, kalau sudah menikah punya anak pasti karirnya akan terganggu bahkan terhenti."
" Berarti kamu nggak bisa bagi waktu, semua tergantung kamu sendiri mau seperti apa nantinya antara karir dan rumah tanggamu, kan kamu yang menentukan."
" Beneran mas nggak keberatan?"
" Sama sekali nggak, yang penting kamu nggak lupa ngurus aku dan nggak lupa kalau kamu sudah punya suami yang harus di urus."
"Tapi aku belum mengenal keluargamu mas."
" Kan memang belum aku kenalkan, gimana sih ..? " kata Angga gemas sambil menoleh hidung mancung Ayu.
" Mas yakin mereka mau terima Ayu yang sebatang kara ini ?"
" Yakinlah...memangnya kenapa kalau kamu sebatang kara ada yang salah?"
" Ayu takut mereka nggak bisa terima Ayu."
" Kamu nanti lihat, kalau orang tua mas Itu orangtua yangsangat baik. " jawab Angga sambil mengelus rambut hitam sebahu punya Ayu.
konflik antara Anya - Wira - William yg asli dan bener tuh gimana. Trs Wira bilang "Anya itu perempuan ular" , itu jg ga dijelasin lebih detail ularnya dimana.
trs Wira bilang "kalau ttd berkas, jgn pas terburu-buru. Jgn mudah percaya sama siapapun meski asisten pribadimu sendiri" itu jg ga dijelasin gimananya :(
Trs Wira kok tiba2 meninggal tuh gimana
huhh masih ganjel bgtt :(