Ririn, seorang gadis sederhana yang tiba-tiba mendapat lamaran dari Devan yang merupakan direktur perusahaan tempat Ririn bekerja.
Devan, seorang direktur perusahaan sekaligus seorang suami dari wanita bernama Citra.
Citra, seorang istri yang baik tetapi malang nasibnya. Dokter telah memvonisnya mandul, tidak bisa mempunyai anak. Karena rasa sayang luar biasa pada suaminya, Citra menyuruh suaminya yaitu Devan untuk menikah lagi agar bisa mempunyai keturunan.
Bagaimana kelanjutan cerita Ririn, Devan dan Citra? Yuk baca novel ini sampai tamat😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Konsisten
"Aku pergi dulu Rin".
"Iya Mas, Assalaamualaikum", Ririn mencium tangan Devan sambil mengucap salam.
"Wa'alaikumsalaam", Devan mengecup dahi Ririn lalu masuk kedalam mobilnya. Ririn melambaikan tangannya.
Ririn masuk kedalam rumah, ia mengganti pakaiannya menjadi pakaian olahraga. Ia bertekad untuk konsisten mengisi hari-harinya dengan semua hal yang berguna.
Setelah pemanasan sebentar, ia pamitan dulu pada Bi Isah, "Bi saya mau jogging dulu sebentar, nanti tolong buatkan jus ... tanpa gula ya ... assalamualaaikum".
"Wa'alaikumsalaam... Bu... hati-hati ya".
Mumpung belum terlalu siang, Ririn akan jogging dulu didekat rumahnya.
...***...
"Bi, buat jus apa untuk saya?"
"Jus mangga kuweni Bu".
"Pantas saja... wanginya tercium sampai jauh". Ririn menyeruputnya, "Hmm, enak sekali Bi ... terima kasih".
"Ibu mau masak sama Bibi lagi hari ini?" tanya Bi Isah.
"Hari ini saya mau coba daftar kuliah Bi"
"Ibu mau kuliah lagi? buat apa? Ibu sudah kaya, punya suami baik... tinggal punya banyak anak saja"
"Aduh Bibi... saya itu tidak punya apa-apa, semua ini punya suami saya,... saya mau kuliah lagi untuk menambah bekal ilmu saya ... saya belajar masak sama Bibi, itu menambah bekal ilmu saya.... saya juga belajar nyetir sama Pak Memet itu juga untuk menambah bekal ilmu saya... Ilmu itu nggak akan berat dibawa-bawa... suatu saat ilmu-ilmu itulah yang membuat kita bertahan hidup... termasuk untuk mendidik dan membesarkan anak kita harus punya banyak ilmu supaya anak kita menjadi anak yang hebat"
"Apa Pak Memet sudah sarapan Bi?"
"Sudah... tadi waktu Ibu sedang olahraga".
"Saya mau mandi dulu Bi... tolong bilang Pak Memet sebentar lagi saya minta diantar ke Tubagus Ismail".
"Baik Bu".
...***...
Setelah mencari informasi tentang pendaftaran dari kampus yang dituju, ternyata pendaftaran dibuka mulai bulan Maret.
"Pak Memet, sekarang kita cari sekolah mengemudi?"
"Kenapa Ibu nggak mau belajar dengan saya lagi?"
Ririn tertawa.
"Saya masih mau belajar dengan Pak Memet, tapi Pak Devan menyuruh saya untuk ikut kursus, sebagai istri yang baik saya harus nurut dong".
"Saya tahu ada kursus mengemudi yang dekat sini"
Ririn langsung mendaftar setelah diberi tahu metode pembelajarannya. Dan ia mulai berlatih saat itu juga. "Jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada", pikirnya. Kata orang Sunda mah 'mangpang-meungpeung' tapi tentu saja untuk tujuan yang baik.
...***...
"Bi Isah masak apa hari ini?"
"Ayam bumbu pedas, lalapan, sayur sop... nggak nyambung ya Bu?!", katanya sambil tertawa.
"Bi, kalau saya sukanya ikan. Mau ikan mas, kembung , bandeng ... saya suka".
"Besok, Bibi masaknya ikan mas ya?!.. Ibu sukanya dibumbui bagaimana?"
"Dibumbu acar Bi. Tiap hari harus ada sayuran dan buah-buahan ya Bi... biar sehat", kata Ririn sambil tertawa.
"Bi saya mau makan sekarang... bisa tolong buatkan jus."
"Baik Bu"
...***...
Setelah makan, Ririn membawa jus strawberry buatan Bi Isah ke ruang keluarga. Ia menyalakan televisi.
"Apa yang harus aku kerjakan sebelum perkuliahan dimulai?"
"Permisi Bu... ada yang mengirim barang", Pak Memet menghampiri Ririn.
"Barang apa Pak?"
"Alat olahraga katanya... pesanan Pak Devan".
"Suruh masukkan kemari Pak!".
Dua orang laki-laki dengan membawa dus cukup besar masuk diiringi oleh Pak Memet.
"Apa itu isinya Pak?"
"Ini treadmill... Saya disuruh untuk memasangnya dan memberi tahu Ibu bagaimana cara menggunakannya.
"Mau ditempatkan dimana Bu?" kata salah seorang lelaki itu.
"Disudut saja Pak", jawabku.
Mereka berdua memasangnya, setelah terpasang salah seorang dari mereka, memberi tahu Ririn cara memakainya.
"Sudah beres Bu... saya permisi dahulu".
"Terima kasih ya".
Pak Memet juga melangkah keluar ruangan. "Tunggu sebentar Pak Memet... Apa Pak Devan suka bertanya pada Pak Memet tentang kegiatan saya sehari-hari?" tanya Ririn menyelidik.
"Iya Bu", jawab Pak Memet pendek.
Ririn lalu mencari Bi Isah, "Bi, kalau Pak Devan suka bertanya pada Bibi tentang kegiatan saya sehari-hari di rumah ini?"
"Iya Bu", Bi Isah menunduk.
"Oh berarti semua kegiatanku diawasi Mas Devan" Ririn bergumam sendiri.
"Tapi setidaknya Mas Devan perhatian, mungkin dia tahu aku sedang rajin jogging, jadi dia membelikanku treadmill ini".
...***...
"Sudah sore hari, sudah waktunya bersiap untuk menyambut Mas Devan".
Ririn mandi, berdandan, dan berpakaian bagus tak lupa menyemprotkan minyak wangi.
Ririn pergi ke ruang makan, "Bi sedang menyiapkan makan malam?"
"Iya Bu".
"Assalaamualaikum".
"Wa'alaikumsalaam... wah sekarang bisa pulang cepat", Ririn terlihat senang sekali melihat Devan sudah pulang. Ia meraih tangan suaminya dan menciumnya.
"Iya, pekerjaannya tidak sebanyak kemarin" Devan melangkah menuju kamar tidur melewati tangga. Ririn mengikutinya dari belakang.
"Tolong siapkan baju ganti, aku mandi dulu ya"
Ririn memilih baju untuk ganti dari dalam lemari. Ririn duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tak lama Devan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk dipinggangnya. Dan dengan santainya dia berganti baju didekat Ririn. Ririn pura-pura fokus nonton televisi.
"Ayo kita makan dulu Mas"
"Ayo, aku juga sudah lapar".
...***...
Setelah makan malam, Ririn dan Devan duduk di sofa sambil menonton TV.
"Bagaimana kegiatanmu hari ini Rin?"
"Aku tadi ke kampus, tapi katanya pendaftaran baru dibuka dibulan Maret, jadi masih harus menunggu nih... terus aku daftar kursus mengemudi didekat sini juga, langsung belajar hari ini...
Mas, kalau yang ngajar privat buat aku gimana? sudah ada orangnya? Aku mau gurunya perempuan biar nggak kagok...
Waktunya bagus, sebelum mulai perkuliahan",
Ririn begitu semangat menceritakan kegiatannya, Devan tersenyum melihatnya.
"Iya, segera aku carikan... tapi Rin, apa kamu tidak akan terlalu capek?
"Tidak Mas, aku ingin melakukan semua hal-hal yang baru untukku dan aku sangat bersemangat"
"Tapi kamu harus ingat tujuan kita menikah... untuk segera mempunyai anak", Devan menggenggam tangan Ririn.
"Ya, aku ingat Mas... Bukankah kita sedang berusaha?... Dan kalau aku tiba-tiba hamil, aku akan menghentikan semua kegiatan yang melelahkan" Ririn menggelayutkan tangannya ke tangan Devan, disandarkannya kepalanya dibahu Devan.
"Itu treadmill yang kau pesan, apa itu untukku?" Ririn menunjuk ke sudut ruangan.
"Iya biar kamu nggak usah jogging keluar rumah, aku khawatir", Devan mencium kening Ririn.
Ririn memejamkan matanya, ia menikmati kebersamaannya dengan suaminya Devan, entah sampai kapan ia bisa merasakan kehangatan suaminya, sampai sekarang ia merasa seperti akan tiba-tiba ditinggalkan bila waktunya telah tiba, Ririn merasa kalau Devan tidak akan tinggal untuk waktu yang lama dengan dirinya. Parahnya, Ririn merasa Devan seperti hanya dipinjamkan kepadanya, yang suatu hari nanti akan diambil kembali oleh pemilik aslinya.
*********************************************
terima kasih sudah membaca novel ini, mohon beri dukungan author dengan vote, comment n like ya 😘😘😘
*********************************************
ceritanya kyk keseharian bagus 👍
mampir juga di karya ku ya Tangis Gadis Tegar dan Dikhianati tapi Dicintai karya Fiwanaka
terimakasih
yg maksa minta devan nikah lagi sopo,,, devan jelas² saranin adopsi, citra ngeyelll !!!
akh sumpah kasian aku mah sama Ririn, sekolah yg tinggi Rin, trus berkarier, buka usaha ato apa,,, hempaskan lah Devan n Citra,,, seumur hidup makan ati klu kayak gitu ceritanya,,,