Ferdi dan Diya sepasang kekasih dari waktu SMA, Diya lebih muda dua tahun dari Ferdi. Pertemuan mereka pun tidak di sengaja. Dimana Ferdi tidak sengaja menabrak Diya dan membuat Diya terluka. Di situ lah Ferdi bertanggung jawab atas luka yang di alami Diya dan selalu antar jemput Diya ke sekolah.
Dari situ lah cinta mereka bermula, kisah cinta yang mereka jalani penuh dengan warna warni. Namun, pada akhirnya Ferdi menghilang entah kemana karena hubungan cinta mereka tidak di restui oleh kedua orang tua Ferdi. Apakah mereka akan bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mpit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari tahu
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Gak...Aneh aja melihat sikap dan wajah kak Ferdi berubah begitu. Seperti ada masalah"
"Maksud mu wajahku berubah menjadi monyet ya" Canda Ferdi mencairkan suasana.
"Ya...Gak lah" Jawab Diya manja.
"Sepertinya ada sesuatu yang kak Ferdi sembunyikan dari ku"
"Sesuatu?" Ulang Ferdi mengerutkan keningnya. Diya mengangguk.
"Apa itu?" Kini balik Ferdi yang bertanya membuat Diya jadi gemes dan kesal.
"Kak Ferdi gitu sih" Gadis itu mencubit mesra pinggang Ferdi membuat pemuda itu meringis kesakitan. Tapi ia senang...
"Suer deh...Gak ada apa-apa" Jawabnya mengalah.
"Aku cuma tak habis pikir siapa yang membuat tuduhan ini ke ibumu? Hingga membuat kamu dan ibumu menderita seperti ini"
"Mungkin ini kesalahanku kak" Jawab Diya sedih.
"Apa maksud mu berkata seperti itu?"
"Mungkin ada orang yang sakit hati kepadaku. Tidak bisa cara lain, maka dengan cara ini dia bisa membalas sakit hatinya kepadaku"
"Apa kamu mencurigai seseorang?" Tanya Ferdi.
Diya menggeleng. Seperti nya Diya menyembunyikan sesuatu tapi Diya enggan untuk menyampaikannya kepada Ferdi karena belum ada bukti yang kuat. Lagian Diya tidak mau sembarangan menuduh. Itu fitnah namanya dosa hukumnya. Itu yang di sampaikan bu Mirna menasehati anaknya.
"Kamu tenang saja Diya. Aku akan mencari tahu siapa dalang dari semua ini"
"Benar kak?" Ujar Diya senang.
Ferdi mengangguk meyakinkan sambil tersenyum.
"Terima kasih kak....Aku gak tahu harus dengan apa membalas semua kebaikan kakak" Ferdi menggenggam kedua bahu gadis itu agar berhadapan dekat dengannya.
"Aku gak butuh apa-apa. Cukup dengan kesetiaan mu, kasih sayang mu, dan cintamu itu sudah cukup bagi ku"
Diya terharu, lalu menjatuhkan kepalanya ke dada bidang pemuda itu.
"aku berjanji akan selalu mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Dan akan setia selalu" Ferdi tersenyum dengan penuh rasa cinta di jiwa. Ia pun membalas pelukan itu dengan mesranya.
*****
"Ferdi gue turut sedih atas kejadian yang menimpa pada Diya" Ujar Taufik waktu mereka kumpul bareng dikantin.
"Gue harap, Diya bisa tabah dan sabar menerima semua cobaan dan tuduhan yang di tujukan kepada ibunya. Gue gak nyangka, ada juga orang yang dengki dan sakit hati sama mereka. Gue rasa keluarga Diya orang baik-baik gak mungkin mereka melakukan hal seperti itu"
"Gue juga berfikir begitu" Timpal Randi menyedot teh esnya.
"Kalau gue tahu siapa orangnya, gue jitak abis kepalanya biar tahu rasanya gimana sakit nya hati orang yang disakitinya" Ujar Ferdi.
"Gue juga mau" Taufik menyela.
"Kok tega menyakiti orang baik-baik begitu", Ujarnya lagi.
"Yang penting sekarang, gue harus cari tahu siapa dalang dari semua ini. Gue akan kasih pelajaran ke dia biar dia kapok. Biar dia gak akan pernah lagi menyakiti orang baik-baik seperti mereka" Timpal Ferdi lagi.
"Gue setuju" Seru mereka serentak. Hanya Tio yang sedari tadi diam tidak menanggapi percakapan ketiga rekannya.
"Lo ngapain Yo? bengong begitu" Kejut Randi yang sedikit usil.
"Seperti ada problem saja" Katanya lagi.
"Gak, Gak ada apa-apa kok" Jawab Tio kaget dan salah tingkah karena kedapatan dirinya lagi memikirkan sesuatu.
"Gue...Gue hanya pusing sedikit" Tambahnya menenangkan diri.
"Pusing ya...Hmmm gue tau pasti tadi malam lo bergadang ya sama Kethrine" Tebak Randi yang memang suka godain orang itu.
"Apa?" Ferdi sedikit kaget.
jgn sampai Ivan selingkuh ma Virda ya
ceritax di panjangin dong.
makin penasaran.....
Dyah mikirx terlalu jauh.....
isix sesingkat itu.
sampai lupa bacax