Mungkinkah jatuh cinta pada pandangan pertama? Itulah yang terjadi pada Violita seorang gadis manis mahasiswi semester akhir sebuah perguruan tinggi. Ia sedang magang bersama sahabatnya di perkebunan milik Om sahabatnya. Om Aldrick adalah seorang pria misterius yang irit bicara dan anti pada perempuan.
Laki-laki itu pernah mengalami hal pahit yang membuatnya menarik diri dari semua hal yang berkaitan dengan perempuan.
Meski menyeramkan nyatanya Violita tidak bisa menahan hatinya untuk tidak terpesona pada Aldrick. Rasa penasarannya membuat Violita berusaha masuk ke dalam kehidupan laki-laki itu.
Mungkinkah Violita mampu memberikan cahaya pada hidup Aldrick yang kelam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Satu
1 Bulan sudah berlalu, banyak hari yang sudah Violita lewati. Sikap Aldrick meski masih terlihat datar dan dingin namun sewaktu-waktu bisa berubah sangat manis.
Perlakuan Aldrick yang selalu menarik ulur hatinya justru membuat Violita semakin jatuh pada sosoknya.
Seminggu lagi magangnya bersama Amira akan usai, Tidak seperti hubungannya dengan Aldrick yang tanpa kejelasan, Amira dan Raka sudah selangkah di depan mereka. 2 Minggu yang lalu Amira menerima Raka setelah melihat ketulusan dan kegigihan pria itu dalam memperjuangkannya.
"Ra sebenarnya om Aldrick ada niat nggak sich serius sama aku"
Amira mengalihkan tatapannya ke arah Violita.
"Emangnya kenapa?"
"Ra minggu depan magang kita uda selesai. Om Aldrick belum kasih kejelasan tentang hubungan kami"
Violita tampak menerawang.
"Menurut aku om Aldrick serius kok sama kamu, mungkin sekarang karena lagi sibuk jadi belum sepat ngurusin perasaannya"
"Berarti aku bukan prioritasnya dong"
Ucap Violita lesu
"Jangan kasih kesempatan syetan bisikin yang enggak-enggak Leta. Positif thingking aja."
"Selama lima tahun ini om Aldrick nggak pernah dekat sama siapapun. Tapi sama kamu Om Aldrick bahkan mau buka hati Nggak mungkin kalau dia nggak serius"
Tambah Amira lagi, hati Violita membenarkan namun ia juga butuh kepastian.
Violita merebahkan kepalanya di meja. Aldrick memang tengah sibuk akhir-akhir ini, Violita mencoba memahaminya. Tapi ia jadi berfikir keberadaannya masih belum terlalu penting bagi Aldrick.
*****
"Mas capek ya?"
Violita menghampiri Aldrick yang sedang santai di teras. Ia membawakan secangkir kopi untuk lelaki itu.
"Lumayan, Kerjaan lagi banyak-banyaknya"
Aldrick menyesap kopi yang Violita hidangkan.
"Makasih kopinya ya"
Aldrick mengusap rambut Violita sambil tersenyum. Gundah yang mendera langsung hilang tiap kali Aldrick bersikap manis seperti ini. Kalimat yang sudah tersusun rapi di otaknya untuk mempertanyakan kejelasan hubungan mereka buyar sudah hanya karena senyuman Aldrick.
'Bucin beg*'
Violita memaki dirinya sendiri. Hatinya bisa selemah ini di hadapan Aldrick.
"Mas istirahat aja, besok masih sibuk kan?"
Aldrick memang tengah disibukkan dengan urusan pembukaan lahan baru. Aldrick bolak balik mengawasi lahan baru yang cukup jauh dari perkebunan tempat Violita magang.
"Iya, masih banyak yang belum beres. Ada beberapa pekerja yang mengundurkan diri. lagi diselidiki siapa provokatornya. Mereka menginginkan upah yang lebih tinggi, padahal upah yang ditetapkan sudah melebihi pasaran"
Aldrick tampak stres, Violita semakin tidak tega menambahi beban Aldrick dengan masalah hubungan mereka yang mungkin belum terlalu penting bagi Aldrick.
"Semoga cepat beres ya mas, Aku kangen nggak ada mas di perkebunan"
Aldrick terkekeh ia meraih Violita untuk merapatkan tubuh padanya. Ia merangkul pundak gadis itu dan mencium keningnya.
"Kita jadi jarang ngobrol ya akhir-akhir ini"
"Iya, Jangankan ngobrol ketemu aja jadi jarang"
Violita mencebik sedih. Aldrick biasanya pulang lebih malam jadi jarang sekali mereka bisa makan bersama.
"Maaf ya"
Ucap Aldrick masih terkekeh melihat wajah cemberut Violita.
"Seminggu lagi juga magangnya selesai mas"
Lirih Violita, Aldrick sedikit tersentak. kesibukannya membuat ia melupakan bahwa Violita akan segera pergi.
"Masa sich? Kayaknya belum lama kalian di sini"
Aldrick menatap Violita untuk meyakinkan bahwa gadis itu tidak sedang menggodanya.
"Udah hampir 3 bulan mas, dasar om-om tua pikun" Gerutu Violita membuat Aldrick tergelak.
"Tua-tua gini tapi kamu suka kan?"
Aldrick menaik turunkan alisnya menggoda Violita.
"Iya suka banget, sampe nggak dikasih kejelasan aja aku tetap aja setia sama perasaan aku"
Raut wajah Aldrick berubah serius.
"Jadi kamu ngerasa seperti itu? Maafin aku Vio, aku terlalu sibuk. Sama sekali nggak ada maksud untuk mengabaikan kamu dan menggantung hubungan kita"
Violita memaksakan untuk tersenyum
"Nggak apa-apa mas, aku ngerti kok sekarang banyak yang harus kamu urus. aku masih bisa nunggu kok"
"Makasih sudah mau mengerti aku Vio"
Aldrick kembali mengusap rambut Violita dan mengecup kening gadis itu.
"Sekarang istirahat yuk"
Aldrick meraih tangan Violita dan menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Selamat malam mas, selamat istirahat"
Ucap Violita saat langkah mereka terhenti di depan kamar Violita dan Amira.
"Nggak mau tidur di kamar aku aja?"
Wajah Violita merona merah
"Mas apaan sich, halalin dulu baru ngajak bobok bareng"
Violita memanyunkan bibirnya, Aldrick tergelak dan kemudian dengan cepat meraih tengkuk gadis itu dan melahap bibirnya dengan rakus.
Ia menyadari dirinya merindukan gadis ini.
"Makasih ciumannya"
Aldrick tersenyum kemudian meninggalkan Violita yang masih terpaku.
****
"Aku tuch uda kelewat bucin sama om Aldrick Ra"
Gerutu Violita.
"Ada apalagi Ta?"
Amira masih sibuk menyisir rambutnya.
"Belum dikasih kejelasan apa-apa mau aja dicium-cium. Jangan-jangan om Aldrick mikirnya aku cewek gampangan ya Ra, yang selalu ngarep sentuhan nya dia, walaupun sebenarnya emang iya"
Amira yang sebelumnya sedikit prihatin pada sahabatnya tak bisa menahan tawa mendengar kalimat terakhir yang gadis itu ucapkan.
"Tu otak kapan bener nya Ta, ngaco aja terus kalo ngomong"
"Ngomong-ngomong cantik banget hari ini"
Goda Violita.
"Iya dong, mau ketemu pacar masa kucel. Bentar lagi kan mau LDR jadi selama di sini harus benar-benar memanfaatkan waktu membahagiakan pacar aku"
Ucap Amira sedikit menyombongkan diri. Violita mencebik sinis.
"Kerenan juga om Aldrick dari pada pacar kamu, Kak Raka itu uda om-om duda lagi!"
"Eh apa kabar sama om Aldrick? Emang gebetan kamu itu perjaka ting-ting? malah lebih om-om dari kak Raka"
Ucap Amira tak terima.
"Oh iya ya"
Violita tergelak.
"Dasar bucin beg*"
Amira mengikuti ucapan Violita yang menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Bucin bego.
"Udah ah, berangkat yuk"
Violita meraih tas di nakas dan memeriksa isi tasnya. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan ia berjalan keluar kamar.
"Tapi aku dijemput kak Raka. Kamu jalan sendiri nggak apa-apa kan?"
Violita menatap tajam pada Amira.
"Ra kak Raka tu bawa mobil bukan motor, bisa kali akunya nebeng. Jahat banget masa tante disuruh jalan sendiri"
"Mulai kan kalo ada maunya nyebut tante"
Amira memang sengaja ingin membuat Violita kesal dan mengeluarkan ocehan khasnya.
"Mana Kak Raka nya?kok belum nongol?"
Tanya Violita saat belum mendapati mobil Raka di depan rumah.
"Sabar tante, kak Raka masih di jalan"
Amira melirik ponselnya, mengirimkan pesan pada Raka.
"Om Aldrick uda berangkat ya Ta?"
Amira melihat ke arah garasi dan mobil Aldrick sudah tidak ada.
"Iya, tadi pagi-pagi banget berangkatnya. Untung aku sempat bikinin sarapan buat dia. masih dapat morning kiss juga sebelum dia berangkat"
Violita senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam dan tadi pagi.
pria2nya sama menikah 2x🤭 tpi karakter aldrik ini emank jujur bangetz. siapa yg gak trauma kehilangan anak dgn cara tragis n kejam.💜
oh ya mampir dong kak di karya pertamaku "aku cuma punya hati" beri saran dong kak, aku mohon