NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Latihan Pagi

Sinar matahari pagi belum benar-benar terbit di ufuk timur, meninggalkan langit di atas kompleks Elegrand Royal Academy dalam gradasi warna biru gelap yang sangat pekat. Sisa-sisa kabut malam yang dingin masih menggantung rendah di antara barisan pilar menara marmer yang tinggi, menciptakan suasana yang sangat sunyi, terisolasi, dan bebas dari hiruk-pikuk manusia. Angin fajar yang berembus dari arah pegunungan wilayah tengah sesekali bertiup lambat, membawa kelembapan yang menusuk permukaan kulit. Namun, di tengah keheningan lapangan latihan belakang yang sepi dan jarang dilewati orang, deru langkah kaki yang ritmis dan berulang sudah terdengar memecah kesunyian sejak beberapa jam yang lalu.

Sander Duster melangkah mantap di atas permukaan marmer arena yang masih basah oleh sisa embun malam. Pemuda berusia empat belas tahun itu hanya mengenakan pakaian latihan kain kelabu sederhananya, membiarkan embusan angin fajar yang menusuk menerpa permukaan kulit wajahnya tanpa menunjukkan setitik pun rasa gentar atau dingin. Di kedua tangan kokohnya, ia menggenggam gagang pedang besi latihan yang tumpul dengan cengkeraman yang luar biasa stabil dan presisi, menunjukkan kondisi batin yang jauh berbeda dengan situasi tertekan yang ia alami setelah ujian pertama.

Sander menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara fajar yang murni mengisi rongga paru-parunya untuk mengunci fokus batinnya secara penuh. Di dalam pembuluh darahnya, sirkulasi internal yang diputar secara terbalik mengikuti instruksi dari Behemoth kini bergerak dengan jauh lebih lancar, mapan, dan tanpa hambatan rasa sakit. Denyut energi hukum hitam keperakan mengalir dengan teratur di sepanjang pusaran pusat tubuhnya, merembes menembus setiap struktur tulang tegap, memadatkan jaringan otot, dan memberikan lapisan kekuatan murni yang luar biasa tebal di sepanjang jalur fisiknya.

Ia mengangkat pedang besi besarnya tinggi-tinggi di atas kepala, mengambil posisi kuda-kuda dasar klan Duster yang kokoh, lalu mengayunkannya ke bawah dalam sebuah tebasan vertikal lurus yang sangat cepat dan bertenaga.

Suara dentuman angin yang murni dan sangat padat terdengar bergaung keras menembus keheningan lapangan belakang, menciptakan dorongan tekanan udara fisik yang sanggup menyapu bersih sisa tetesan embun di atas lantai marmer dalam radius dua meter dari posisi kakinya berpijak. Sander tidak menghentikan pergerakannya setelah satu tebasan selesai; ia segera memutar poros tubuhnya dengan luwes, melepaskan kombinasi tebasan horizontal, tangkisan atas, dan tusukan lurus secara beruntun tanpa jeda sedikit pun. Setiap pergerakan fisiknya kini dipenuhi dengan efisiensi yang mematikan khas prajurit perbatasan, tidak ada satu pun energi atau napas yang terbuang percuma.

Di atas sebuah kotak kayu besar di tepi lapangan latihan, Behemoth duduk diam dengan posisi melingkar sembari memperhatikan setiap ritme ayunan pedang dari partner manusianya. Sepasang mata emas kosmik milik sang penguasa kuno menyala redup dalam kegemangan fajar, menyimpan seulas kepuasan yang mendalam melihat bagaimana mentalitas dan tekad besi Sander telah pulih sepenuhnya setelah menerima pelajaran dan wejangan darinya semalaman di dalam kamar asrama. Behemoth menyadari bahwa anak manusia di hadapannya ini menolak untuk patah arah oleh cemoohan faksi lain.

Tepat saat Sander menyelesaikan putaran tebasan vertikal yang ketiga puluh, seulas suara langkah kaki yang sangat halus dan teratur terdengar mendekat dari arah koridor taman pelindung kuno. Sander menghentikan gerakan pedangnya secara refleks, membalikkan badannya ke arah sumber suara, dan mendapati Elena Aurelius sedang melangkah masuk ke area lapangan latihan dengan pembawaan yang anggun.

Putri Pertama dari Kerajaan Elegrand itu tampak terkejut melihat Sander sudah berada di tempat itu dalam kondisi tubuh yang dipenuhi oleh keringat tipis dan uap hangat. Elena sendiri mengenakan pakaian praktis latihan berbahan wol tebal berwarna putih dengan sebilah rapier bertahtakan permata safir yang tergantung dengan rapi di pinggang kirinya. Melihat Sander menatapnya, sebuah senyuman hangat yang sangat ceria dan jujur langsung mengembang di wajah cantik sang putri matahari.

"Kau benar-benar seorang pekerja keras yang luar biasa dan tangguh, Sander," ucap Elena sembari berjalan mendekati meja batu di tepi lapangan latihan. "Aku mengira diriku adalah murid baru tahun pertama yang paling fajar bangun di asrama putri pagi ini, namun ternyata kau sudah melangkah jauh lebih dulu dan menaklukkan hawa dingin di tempat terpencil ini."

Sander menurunkan pedang besinya, membiarkan ujung logam tumpul itu menyentuh permukaan marmer, lalu menegakkan punggung tegapnya sembari memberikan sebuah anggukan kepala yang sopan kepada Elena. "Udara fajar di tempat ini sangat bagus untuk melatih sirkulasi fisik dan memadatkan fokus batin, Elena. Terima kasih karena sudah datang ke lapangan sepi ini."

"Aku datang ke sini karena aku tahu di dalam hati kecilku bahwa kau menolak untuk membiarkan dirimu dikurung oleh rasa frustrasi setelah kekalahan dari Damian kemarin siang," balas Elena dengan nada suara yang penuh dengan kejujuran tanpa ada kepalsuan bangsawan sedikit pun, langsung mengambil posisi berdiri di sisi arena sembari mencabut sebilah rapier miliknya dengan gerakan yang sangat halus dan anggun. "Bagaimana jika kita memanfaatkan waktu yang singkat sebelum jam kelas teori dimulai untuk bertukar beberapa teknik dasar senjata? Aku yakin latihan bersama ini akan jauh lebih efektif untuk menyelaraskan ritme pertahanan kita."

Sebelum Sander sempat memberikan jawaban verbal atas ajakan Elena, seulas langkah kaki yang ritmis, halus, dan sedikit tergesa-gesa kembali terdengar dari arah jalur setapak taman dalam. Sylvia Frost melangkah masuk ke dalam area lapangan latihan dengan napas yang sedikit memburu akibat berjalan cepat dari arah menara perak. Gadis berambut perak panjang itu tampak membawa sebuah handuk kering bersih dan sebotol air minum hangat di kedua tangannya, dan wajah cantiknya langsung memerah karena malu saat melihat Elena dan Sander sudah berdiri berdampingan di tengah arena marmer.

"Maaf... saya terlambat bergabung dengan latihan kalian berdua pagi ini," bisik Sylvia dengan nada suara yang sangat pelan, lembut, dan sedikit gugup khas pembawaannya. Ia berjalan mendekati meja batu kecil, meletakkan perlengkapan yang ia bawa dengan gerakan yang sangat telaten. "Saya sempat kembali ke dapur asrama untuk memastikan ramuan teh herbal penghangat tubuh khas klan Frost Utara ini siap digunakan setelah latihan fisik ekstrem kalian selesai."

Sander memberikan seulas senyuman tipis yang sangat hangat melihat kehadiran Sylvia, merasa sangat menghargai perhatian yang begitu tulus dari gadis bermata es tersebut. "Kau tidak terlambat sama sekali, Sylvia. Kami baru saja bersiap untuk memulai sesi pertukaran teknik dasar. Terima kasih banyak atas perlengkapan dan ramuan hangat yang kau bawa dari asrama."

"Wah, Sylvia! Kau benar-benar gadis yang sangat perhatian dan manis!" seru Elena dengan wajah gembira, langsung melambaikan tangan kirinya agar Sylvia ikut mendekat ke tepi pembatas arena. "Kemarilah, kau bisa membantu kami memberikan analisis jarak serangan dari arah luar arena, sementara aku dan Sander mencoba menyelaraskan ritme gerakan mata pedang dan pertahanan fisik murni."

"Kalian semua ternyata benar-benar memiliki kebiasaan pagi yang sangat aneh dan tidak masuk akal untuk ukuran murid baru dari keluarga bangsawan tinggi," sebuah suara tenang, halus, dan sarat akan nada jenaka mendadak memecah obrolan hangat mereka.

Gideon Valentine melangkah keluar dari balik bayangan pilar menara latihan yang gelap dengan kedua tangan yang dimasukkan santai ke dalam saku jubah abu-abu berkerah tingginya. Pemuda berambut perak itu berjalan mendekat dengan senyuman santainya yang biasa, sepasang mata hijau zamrudnya bergerak dengan sangat aktif menilai kerapatan fisik murni Sander yang tampak jauh lebih kokoh, seimbang, dan padat jika dibandingkan dengan kondisi pertandingan kemarin siang di arena luar.

"Aku baru saja berniat mencari udara segar di sekitar danau taman kompleks ketika mendengar deru angin pedang yang sangat padat dari arah lapangan sepi ini," ucap Gideon sembari mengambil posisi duduk dengan santai di atas bangku batu panjang. Ia menatap senjata besi besar milik Sander dengan tatapan mata yang penuh rasa menghargai dan dukungan persahabatan yang jujur. "Melihat semangat kalian berdua yang begitu membara sejak fajar belum terbit, rasanya sangat tidak adil jika faksi dataran barat hanya duduk diam menonton tanpa kontribusi. Aku akan bertindak sebagai pengawas waktu pertandingan dan pencatat celah teknik pertarungan kalian pagi ini."

Sander mengangguk pelan, merasakan kehangatan ikatan persahabatan yang semakin tebal dan nyata mengalir di dalam dadanya. Kehadiran Elena yang selalu ceria dan hangat, Sylvia yang pendiam namun luar biasa telaten, serta Gideon yang selalu cerdas dalam menganalisis keadaan memberikan sebuah atmosfer baru yang laksana sebuah rumah kedua bagi dirinya di tengah kerasnya lingkungan Elegrand Royal Academy. Rasa rendah diri yang sempat mengusik jiwanya kini telah musnah sepenuhnya.

"Baiklah, Elena. Mari kita mulai pertukaran teknik ini," ucap Sander sembari kembali mengangkat pedang besinya, mengambil posisi kuda-kuda bertarung yang kokoh dan menurunkan pusat gravitasinya di atas lantai marmer.

Elena tersenyum sangat lebar, langsung menurunkan posisi pusat tubuhnya dan mengarahkan ujung rapier safirnya tepat ke arah posisi dada Sander dengan tingkat konsentrasi yang jernih dan fokus penuh.

Dentingan logam yang beradu kembali memecah kesunyian fajar di lapangan belakang, jauh lebih nyaring, konstan, dan cepat daripada sesi latihan mandiri Sander sebelumnya. Elena Aurelius melesat maju dengan kelincahan fisik yang mengagumkan, ujung rapier safirnya menciptakan pendaran cahaya putih keemasan tipis saat ia mengincar pundak kanan Sander dengan tusukan beruntun yang cepat. Menghadapi tusukan yang datang laksana kilatan cahaya tersebut, Sander tidak memilih untuk melompat menghindar. Ia menggeser kaki kanannya setengah langkah ke belakang untuk mengunci pijakan, menggunakan bidang datar pedang besi besarnya untuk menangkis dan mengalihkan arah serangan tersebut dengan presisi yang sangat matang.

Benturan keras logam itu menciptakan riak dorongan angin murni yang menyapu permukaan lantai marmer di sekitar kaki mereka. Elena tersenyum kecil, merasakan resistensi fisik yang sangat keras dari balik pedang besi Sander. Struktur tubuh murni pemuda Duster itu terasa sekokoh dinding batu pertahanan Aethelgard, sama sekali tidak bergeming atau bergeser mundur oleh tekanan energi aura cahayanya.

"Pertahanan fisik yang luar biasa, Sander!" puji Elena sembari menarik kembali senjatanya secara luwes, melompat mundur beberapa langkah dengan anggun untuk menstabilkan posisinya kembali di atas area tanding. "Kerapatan fisikmu pagi ini terasa jauh lebih padat dan stabil dibanding kemarin siang saat di arena luar. Rasanya seperti memukul sebongkah baja abadi langsung dari pegunungan Utara."

Sander menurunkan pedang besinya sejenak, membiarkan ujung logam tumpul itu menyentuh marmer yang dingin. Di dalam pembuluh darahnya, sirkulasi internal yang berputar secara terbalik terus mengalirkan denyut energi hukum hitam keperakan milik Behemoth, dengan cepat menyerap dan menetralisir rasa perih akibat sisa getaran Life Energy elemental yang merambat lewat senjata Elena.

"Itu karena kau tidak menggunakan kapasitas penuh atau melepaskan ledakan dari elemen cahayamu, Elena," jawab Sander dengan nada suara baritonnya yang datar, tenang, namun sarat akan penghargaan terhadap kemampuan sang putri. "Jika kau melepaskan seluruh aliran kekuatan Bronze Rank milikmu dalam pertarungan hidup mati, zirah fisik murniku yang baru bangkit di tingkat awal ini pasti akan kembali terkelupas oleh riak sihir cahayamu."

Gideon Valentine yang mengawasi jalannya pertukaran teknik dari bangku batu di tepi lapangan tampak melipat kedua tangannya di depan dada, sepasang mata hijau zamrudnya menyipit tajam penuh analisis strategi. Ia membetulkan posisi jubah abu-abunya sebelum mengeluarkan suara yang sarat akan nada evaluasi yang sangat jernih.

"Elena benar mengenai analisanya, Sander. Ada perubahan yang sangat drastis dan signifikan pada struktur pergerakan serta keseimbangan tubuhmu pagi ini," ucap Gideon sembari menunjuk ke arah jejak kaki Sander di atas lantai marmer. "Kemarin, saat menghadapi hantaman api kegelapan Damian, pusat gravitasimu sempat goyah dan tidak seimbang karena tubuhmu terlalu kaku dalam menahan dampak langsung dari elemen magis tersebut. Namun saat ini, setiap kali ujung rapier Elena mengenai senjatamu, tubuhmu seolah-olah mampu membagi dan mengalirkan beban benturan tersebut langsung menuju ke permukaan tanah di bawah kakimu. Itu adalah metode adaptasi fisik murni yang sangat langka dan luar biasa hebat."

Sylvia Frost melangkah mendekati meja batu dengan gerakan yang halus, menuangkan kembali secangkir teh herbal hangat dari teko porselen yang ia bawa. Wajah cantiknya yang semula dipenuhi rona merah karena malu kini perlahan mulai melembut, memancarkan kecerdasan yang tenang khas klan perbatasan Utara yang terbiasa hidup di lingkungan militer.

"Teh herbal ini akan membantu menjaga suhu sirkulasi internalmu agar tidak merosot setelah melakukan gerakan ekstrem, Sander," ucap Sylvia dengan nada suara yang sangat pelan, lembut, dan sarat akan perhatian sembari menyodorkan cangkir porselen tersebut ke tangan Sander. "Ayah saya selalu mengatakan kepada para prajurit perbatasan bahwa ksatria yang melatih kekuatan fisik secara ekstrem di waktu fajar membutuhkan asupan kehangatan yang konstan agar pembuluh darah mereka tidak membeku atau kaku saat badai musim dingin datang menghantam."

Sander menerima cangkir porselen tersebut, merasakan kehangatan cairan menjalar ke telapak tangan kanannya, lalu memberikan seulas anggukan kepala yang hangat kepada Sylvia. "Terima kasih banyak, Sylvia. Perhatian dan teh hangat buatanmu selalu datang di waktu yang paling tepat."

Di atas kotak kayu besar di tepi lapangan latihan, Behemoth perlahan membuka seperseribu senti dari sepasang mata emas kosmiknya yang menyala redup. Kucing hitam itu melirik malas ke arah tiga remaja fana yang kini mulai duduk berkumpul dalam kebersamaan yang hangat di sekeliling partner manusianya. Melalui ikatan batin Resonansi Jiwa yang terjalin erat di antara mereka, seulas keluhan batin yang penuh dengan keangkuhan alaminya kembali menggema konstan di dalam kepala Sander.

(Manusia-manusia kecil di tempat ini benar-benar tidak bisa berhenti mengeluarkan analisis sok tahu mengenai struktur fisikmu, Sander. Mereka berbicara dengan nada kagum seolah-olah mereka memahami esensi sejati dari kepadatan sel dan evolusi tulang murni yang kusaring sepanjang malam menggunakan sisa energi hukumku. Terutama manusia berambut perak dari faksi Barat itu, sepasang mata hijaunya yang selalu mengintai dan menilai benar-benar membuatku merasa ingin melompat dan mencakar wajah cerdasnya itu sampai dia tahu cara merangkak yang benar.)

Sander meminum teh herbal khas klan Frost tersebut hingga tandas, merasakan sisa rasa hangatnya memulihkan sirkulasi internalnya, lalu memberikan tanggapan batin yang sangat tenang untuk menenangkan ego sang mantan penguasa kosmik di bahunya.

(Tahan dirimu, Behemoth. Gideon hanya mencoba membantu menganalisis celah gerakanku agar pertandingan besok tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan pujian serta pengamatan mereka adalah bukti nyata bahwa metode sirkulasi terbalik yang kau ajarkan semalaman di kamar asrama memang membuahkan hasil perkembangan yang sangat besar bagi tubuh fisik murniku.)

Behemoth mendengus pendek di dalam kepala Sander, memalingkan wajah kecil berbulu hitamnya dengan keangkuhan yang khas, lalu kembali melipat sepasang kaki depannya dan berpura-pura tidur, meskipun sepasang telinga kecilnya tetap berdiri tegak demi mendeteksi setiap fluktuasi energi terkecil yang ada di sekitar area lapangan latihan belakang mereka.

Matahari musim semi akhirnya benar-benar terbit seutuhnya di ufuk timur, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang terang dan hangat, menyapu bersih sisa kabut malam serta embun yang menggantung di kompleks Elegrand Royal Academy. Suara lonceng raksasa dari menara pusat kompleks akademi kembali berdentang beberapa kali dengan irama yang konstan, suaranya bergema samar membelah udara pagi untuk menandakan bahwa waktu latihan fajar telah usai dan seluruh murid diwajibkan bersiap menuju ke gedung teori utama untuk memulai jadwal kelas formal semester pertama.

Sander Duster bangkit berdiri dari posisinya, berjalan mendekati rak senjata kayu di tepi lapangan, lalu mengembalikan pedang besi latihannya ke tempat semula dengan gerakan yang sangat rapi dan disiplin. Ia membalikkan badannya, menoleh ke arah Elena, Sylvia, dan Gideon yang kini juga mulai merapikan barang bawaan dan perlengkapan asrama mereka masing-masing dengan wajah yang dipenuhi oleh semangat baru.

Meskipun status ranah kekuatannya di dalam catatan publik akademi saat ini tetap berada di titik kosong dan dicap sebagai anak Grand Duke yang gagal menggunakan Life Energy tradisional oleh faksi Damian von Drake, kehadiran tiga orang sahabat yang selalu tulus mendukung, menghargai, dan berdiri tegak di sisinya memberikan sebuah zirah mental yang jauh lebih kokoh, kuat, dan tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh cemoohan zirah besi mana pun di bawah langit benua Asteria. Dengan punggung yang tetap tegak lurus, pembawaan yang tenang, dan sepasang mata hitam yang memancarkan kilatan tekad jernih, Sander Duster bersiap melangkah bersama kelompok kecilnya membelah koridor marmer, siap untuk menghadapi setiap tantangan ujian baru serta badai konspirasi dunia yang telah menanti kedatangan mereka di masa depan.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!