NovelToon NovelToon
Apocalyps Girl

Apocalyps Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Zombie / Ruang Ajaib
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arju na

Sinopsis

Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.

Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.

Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.

Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 30 – KARIN DAN FLORA

Sudah dua hari berlalu sejak rombongan Lily menetap di markas baru mereka di Gunung Domo.

Selama dua hari itu, Lily memilih beristirahat sambil memulihkan seluruh tenaganya setelah perjalanan panjang dari Kota B. Namun, terlalu lama berada di dalam mansion mulai membuatnya merasa bosan.

Lily menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar.

"Huft..."

"Aku benar-benar bosan."

"Mungkin keluar sebentar bakal lebih enak."

Ia terus menimbang-nimbang keputusannya.

Di satu sisi, markas mereka sudah sangat aman.

Di sisi lain, masih banyak tempat di Kota A yang belum pernah ia jelajahi.

Setelah berpikir cukup lama, Lily akhirnya bangkit dari tempat tidurnya.

"Baiklah."

"Aku keluar sebentar."

Lily mengambil tas ranselnya, lalu berjalan keluar kamar.

Ia menuruni tangga menuju lantai satu.

Suasana di dalam mansion tampak cukup sepi.

Sebagian besar anggota keluarganya ternyata sedang berada di luar.

Begitu keluar dari mansion, Lily langsung melihat mereka berkumpul di gazebo.

Daddy Mike, Mommy Grace, Tante Mauren, Paman Damar, Lea, Alex, Aurora, Evan, Kayla, Mang Ujang, Mbok Surti, dan Sarah sedang mengobrol santai sambil menikmati udara pegunungan.

Tak jauh dari sana...

Kenzo dan Luna berlarian mengejar Tiger.

Harimau putih itu kini tumbuh jauh lebih besar.

Tubuhnya hampir sebesar anjing dewasa.

Meski begitu, sifat manjanya sama sekali tidak berubah.

Sesekali Tiger sengaja membiarkan dirinya tertangkap oleh Kenzo dan Luna sebelum kembali berlari mengelilingi halaman.

Melihat Lily membawa tas, Mommy Grace langsung memanggil putrinya.

"Lily, Sayang."

"Kamu mau ke mana?"

"Kenapa bawa tas segala?"

Lily menghampiri ibunya sambil tersenyum kecil.

"Mom..."

"Lily izin keluar sebentar, ya."

"Bosen terus di rumah."

"Pengen jalan-jalan lihat keadaan sekitar."

Mommy Grace menghela napas pelan.

Ia tahu...

Sekeras apa pun ia melarang, Lily pasti tetap akan pergi.

"Ya sudah."

"Tapi hati-hati."

"Kalau terjadi apa-apa, langsung pulang."

Lily langsung tersenyum lebar.

"Hehe..."

"Makasih, Mom."

Lily kemudian melambaikan tangan.

"Lily pergi dulu."

"Bye semuanya."

"Hati-hati!" balas mereka hampir bersamaan.

Begitu keluar melewati gerbang markas, Lily langsung menghentikan langkahnya.

Ia mengedarkan pandangan ke segala arah.

Hutan di sekitar Gunung Domo tampak sangat tenang.

Namun...

Bagi Lily yang pernah hidup delapan tahun di dunia kiamat, ketenangan seperti ini justru terasa berbahaya.

Tatapannya berhenti pada beberapa pohon besar yang memiliki batang berwarna kemerahan.

Daunnya terlihat jauh lebih lebar dibandingkan pohon biasa.

Di sekeliling akarnya tumbuh rumput liar dengan warna keunguan.

Lily menghela napas.

"Jadi sudah mulai, ya..."

Menurut ingatan kehidupan sebelumnya...

Beberapa bulan setelah hujan darah turun, tumbuhan akan mulai mengalami mutasi.

Mereka bukan lagi sekadar tanaman.

Melainkan monster pemangsa yang mampu menyerang manusia maupun hewan.

Bahkan...

Beberapa jenis tumbuhan mutan jauh lebih sulit dibunuh daripada zombie.

"Daripada nanti merepotkan..."

"Lebih baik dibereskan sekarang."

Sraaak!

Pedang Lily langsung menebas batang pohon pertama.

Buk!

Pohon itu tumbang disusul beberapa tanaman mutan lain yang langsung ia hancurkan tanpa ampun.

Tak butuh waktu lama...

Seluruh tanaman yang berpotensi berubah menjadi monster telah musnah.

Lily menyimpan kembali pedangnya.

"Hutan ini memang sepi."

"Zombie juga sedikit."

"Jangan-jangan mereka malas naik gunung."

Ia terkekeh pelan dengan pikirannya sendiri.

Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali serius.

"Ah, sudahlah."

"Yang penting keluargaku aman."

"Itu sudah lebih dari cukup."

Saat hendak melanjutkan perjalanan...

Lily tiba-tiba teringat sesuatu.

"Sistem."

"Bukannya kemarin kamu bilang aku mendapat resep pembasmi virus zombie?"

"Boleh aku lihat sekarang?"

DING!!

(Perintah diterima.)

(Sistem akan mengirimkan resep kepada Tuan Rumah.)

Sesaat kemudian...

Wusss...

Selembar gulungan kertas tua muncul di tangan Lily.

Lily langsung memasang wajah datar.

"..."

"Ih."

"Apa enggak ada kertas yang lebih bagus?"

"Kok lusuh begini?"

"Jelek banget."

Sistem langsung menjawab tanpa nada emosi.

(Diharapkan Tuan Rumah tidak mengeluh mengenai kualitas kertas.)

Lily mendecakkan lidahnya.

"Huh."

"Pelit."

Ia pun mulai membuka gulungan kertas itu.

Matanya perlahan membaca daftar bahan yang tertulis.

"Kristal Zombie Level 5..."

"Masih masuk akal."

"Sisik Naga..."

"..."

Lily langsung membeku.

"Hah?"

Ia mengucek kedua matanya sebelum membaca ulang.

"Sisik naga?"

"Apa-apaan ini?"

"Di mana aku harus mencari naga?"

"Memangnya dunia ini ada naga?!"

Semakin lama membaca resep itu, ekspresi Lily semakin kacau.

Hampir seluruh bahan yang tertulis terdengar mustahil ditemukan.

"Sistem!"

"Ini resep serius?"

(Sistem hanya memberikan resep sesuai data yang dimiliki.)

Jawaban datar itu membuat Lily hanya bisa memijat pelipisnya.

"Haaah..."

"Sudahlah."

"Nanti saja dipikirkan."

"Sekarang lebih baik aku lanjut jalan-jalan dulu."

Sambil memasukkan kembali gulungan resep ke dalam tasnya, Lily kembali melangkah menuruni Gunung Domo menuju Kota A.

Setelah menuruni lereng Gunung Domo, Lily akhirnya tiba di kawasan Kota A.

Berbeda dengan daerah pegunungan yang tenang, kota itu dipenuhi bangunan tinggi yang telah rusak akibat kiamat. Banyak kendaraan berserakan di jalan, kaca-kaca gedung pecah, dan bekas pertempuran terlihat hampir di setiap sudut.

Sesekali terdengar jeritan minta tolong dari kejauhan.

"Aaa... tolong!"

"Tolong kami!"

Lily hanya melirik sekilas ke arah suara itu sebelum kembali berjalan.

Matanya yang mampu melihat aura segera menangkap warna merah tua bercampur hitam pekat dari arah jeritan tersebut.

"Itu..."

"Aura penuh keserakahan."

"Dan niat jahat."

Lily menggeleng pelan.

"Aku memang suka menolong."

"Tapi bukan orang seperti mereka."

Tanpa menghentikan langkah, ia melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan kota.

Sekitar tiga puluh menit kemudian...

Pandangan Lily tertuju pada sebuah bangunan besar yang masih berdiri kokoh.

Gedung itu memiliki desain modern dengan dinding kaca yang sebagian telah pecah.

Di bagian depan masih terpampang sebuah papan nama yang mulai pudar.

Laboratorium Penelitian Bioteknologi Kota A

Lily mengangkat alisnya.

"Hm?"

"Bangunan apa ini?"

Dalam hati ia langsung memanggil sistem.

"Sistem."

"Kenapa gedung ini besar sekali?"

DING!!

(Bangunan tersebut merupakan laboratorium penelitian yang digunakan sebelum dunia mengalami kehancuran.)

(Laboratorium ini berfungsi untuk penelitian biologi, obat-obatan, dan rekayasa genetika.)

Lily mengangguk pelan.

"Pantas saja..."

"Rasanya enggak asing."

"Laboratorium yang ada di markasku ternyata mirip tempat ini."

Rasa penasaran mulai muncul.

"Masuk sebentar, ah."

"Siapa tahu ada sesuatu yang berguna."

Lily pun melangkah melewati pintu utama.

Begitu memasuki gedung, suasana langsung berubah sunyi.

Koridor panjang dipenuhi meja laboratorium yang berantakan.

Tabung-tabung kaca berserakan di lantai.

Beberapa komputer tampak mati sejak lama.

"Besarnya..."

gumam Lily pelan.

"Masih lebih besar laboratorium di markasku sih."

Saat sedang melihat-lihat keadaan sekitar...

Langkah Lily tiba-tiba terhenti.

"Hm?"

Ia menutup kedua matanya sejenak.

Kemampuan pendeteksi auranya langsung menyebar ke seluruh gedung.

Beberapa detik kemudian...

Matanya terbuka perlahan.

"Ada orang."

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga..."

"Empat..."

"Lima..."

"Enam."

Lily sedikit mengernyit.

"Enam aura kehidupan."

"Lima orang dewasa."

"Dan..."

"Satu anak kecil."

Ia langsung mengikuti arah datangnya aura tersebut.

Koridor demi koridor dilewatinya hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besi.

Di atas pintu itu tertulis jelas.

KHUSUS STAF – DILARANG MASUK

Lily mencoba memutar gagang pintu.

Klik...

"Tidak dikunci?"

Ia pun membuka pintu perlahan.

"Ckreeek..."

Ruangan itu cukup luas.

Di dalamnya terdapat beberapa ranjang darurat, meja penelitian, serta lemari penyimpanan.

Namun yang paling menarik perhatian Lily adalah enam orang yang terbaring di lantai.

"Halo?"

"Ada orang?"

Suara Lily menggema pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia mendekati mereka satu per satu.

Dengan kemampuan melihat aura, Lily segera mengetahui keadaan mereka.

"Dua orang masih sadar..."

"Auranya hijau."

"Yang empat lainnya..."

"Oranye."

"Berarti hanya pingsan."

Lily berlutut di depan seorang wanita muda berambut hitam panjang.

Perlahan ia menepuk pipi wanita itu.

"Hei..."

"Bangun."

"Hei."

"Bangun."

"Egh..."

Wanita itu akhirnya mengerang pelan.

Kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit.

Begitu melihat sosok asing berada tepat di depannya, tubuhnya langsung menegang.

"K-kamu..."

"Siapa?"

Suara wanita itu bergetar penuh kewaspadaan.

Belum sempat Lily menjawab...

Seorang gadis lain yang tampak seumuran dengan Lily ikut membuka matanya.

"Kak..."

"Ada apa?"

Namun saat pandangannya bertemu dengan Lily...

Ia langsung bangkit setengah duduk.

"Hei!"

"Kamu siapa?"

Lily segera mengangkat kedua tangannya sebagai tanda bahwa ia tidak berniat menyerang.

"Tenang."

"Aku enggak punya niat buruk."

"Namaku Lily."

"Aku cuma kebetulan menemukan tempat ini."

Suasana kembali hening beberapa detik.

Gadis itu terus menatap Lily tanpa berkedip.

Kemudian...

Ekspresinya perlahan berubah menjadi lega.

Ia bahkan tersenyum kecil.

"Kak."

"Aku rasa dia bukan orang jahat."

Wanita yang lebih tua menoleh heran.

"Kamu yakin?"

Gadis itu mengangguk mantap.

"Iya."

"Aku bisa melihat auranya."

"Warnanya hijau."

"Orang dengan aura seperti itu enggak mungkin datang untuk mencelakai kita."

Lily langsung membelalakkan mata.

"Eh?"

"Kamu..."

"Bisa melihat aura?"

Gadis itu mengangguk.

"Iya."

"Aku juga enggak tahu kenapa."

"Setelah dunia berubah..."

"Tiba-tiba aku bisa melihat warna aura setiap orang."

Kemudian ia tersenyum ramah.

"Namaku Karin."

"Dan ini kakakku."

"Flora."

Lily ikut tersenyum sambil menganggukkan kepala.

"Senang bertemu dengan kalian."

Lily menatap Karin dengan saksama.

Semakin lama ia memperhatikan gadis itu, semakin yakin pula dirinya terhadap sebuah dugaan.

"Kemampuan ini..."

"Tidak mungkin salah."

Lily tanpa sadar bergumam pelan.

"...Kemampuan Penilaian."

Karin yang berdiri tepat di depannya langsung memiringkan kepala.

"Hm?"

"Apa?"

"Aku enggak dengar."

Lily tersadar dari lamunannya lalu tersenyum tipis.

"Bukan apa-apa."

"Aku cuma baru sadar kalau kemampuanmu termasuk kemampuan yang sangat langka."

Karin dan Flora saling berpandangan.

"Langka?"

tanya Flora penasaran.

Lily mengangguk pelan.

"Iya."

"Kemampuan yang kamu miliki disebut Kemampuan Penilaian."

"Kemampuan ini memungkinkan pemiliknya melihat aura seseorang."

"Bukan hanya itu..."

"Semakin kuat kemampuanmu berkembang, semakin banyak informasi yang bisa kamu lihat."

Karin mendengarkan dengan serius.

"Informasi?"

"Seperti apa?"

"Misalnya..."

"Lambat laun kamu mungkin bisa mengetahui apakah seseorang memiliki niat baik atau jahat, kondisi tubuhnya, bahkan kemampuan yang dimilikinya."

Mata Karin langsung membulat.

"Jadi..."

"Aku benar-benar punya kemampuan seperti itu?"

"Iya."

Lily menganggukkan kepala.

"Kemampuanmu baru saja bangkit."

"Makanya sekarang kamu baru bisa melihat warna aura."

"Kalau terus dilatih, kemampuan itu akan menjadi sangat berguna."

Karin menatap kedua tangannya sendiri.

Ia masih sulit mempercayai kenyataan bahwa dirinya telah memperoleh kemampuan istimewa.

"Pantas saja..."

"Sejak beberapa hari terakhir aku bisa melihat warna-warna aneh di sekitar orang."

"Aku kira aku sedang sakit."

Flora menghela napas lega.

"Syukurlah..."

"Berarti Karin baik-baik saja."

Lily tersenyum kecil.

"Tentu."

"Justru kemampuan seperti ini sangat berharga di dunia sekarang."

"Kamu bisa mengetahui siapa yang layak dipercaya."

Mendengar itu, Karin kembali menatap Lily.

"Aura Kak Lily juga hijau."

"Bahkan..."

"Warnanya jauh lebih terang dibandingkan orang lain."

"Itu sebabnya aku langsung percaya kalau Kak Lily bukan orang jahat."

Lily hanya tersenyum tipis.

"Terima kasih."

"Tapi tetap saja..."

"Jangan mudah percaya kepada orang lain."

"Walaupun auranya terlihat baik."

Karin mengangguk mengerti.

"Aku akan ingat."

Setelah suasana menjadi lebih tenang, Lily mengalihkan pandangannya kepada empat orang yang masih terbaring di lantai.

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Flora menghela napas panjang sebelum mulai bercerita.

"Dua hari yang lalu..."

"Laboratorium ini diserang zombie."

"Kami berhasil menutup semua pintu."

"Tapi persediaan makanan dan air hampir habis."

"Kami juga kelelahan karena terus berjaga."

"Itulah sebabnya mereka pingsan."

Lily memeriksa keadaan keempat orang tersebut menggunakan kemampuan pendeteksi auranya.

"Hmm..."

"Mereka memang hanya pingsan."

"Tidak ada yang terinfeksi virus zombie."

Mendengar ucapan itu, Flora akhirnya bisa bernapas lega.

"Syukurlah..."

"Kami benar-benar takut mereka berubah menjadi zombie."

Lily kemudian membuka tasnya.

Dari dalam Ruang Dimensi, ia mengeluarkan beberapa botol air mineral, roti, biskuit, susu, dan makanan instan.

Melihat makanan sebanyak itu, Karin dan Flora langsung terpaku.

"Kak..."

"Itu semua dari mana?"

tanya Karin dengan wajah penuh kebingungan.

Lily hanya tersenyum.

"Anggap saja salah satu kemampuanku."

"Yang penting sekarang kalian makan dulu."

"Kalau tidak, nanti malah ikut pingsan."

Flora menerima sebotol air dengan kedua tangan.

"Terima kasih..."

"Sudah menolong kami."

"Iya, Kak."

"Terima kasih banyak."

ucap Karin sambil tersenyum tulus.

Lily menggeleng pelan.

"Belum perlu berterima kasih."

"Yang penting sekarang pulihkan tenaga kalian dulu."

Karin dan Flora pun mulai makan perlahan.

Wajah mereka yang semula pucat sedikit demi sedikit mulai kembali berwarna.

Sementara itu, Lily berdiri di dekat jendela laboratorium sambil memandang ke luar.

Di luar...

Langit Kota A mulai berubah jingga.

Matahari perlahan bergerak menuju ufuk barat.

"Itu berarti..."

"Sebentar lagi malam."

Lily bergumam pelan.

Ia tahu...

Malam hari adalah waktu paling berbahaya di dunia yang telah dipenuhi zombie.

Ia kemudian menoleh ke arah Karin dan Flora.

"Kalian..."

"Mau tetap bertahan di laboratorium ini?"

Atau...

"Ikut denganku ke tempat yang lebih aman?"

Mendengar pertanyaan itu, Karin dan Flora saling berpandangan.

Mereka belum mengenal Lily lebih dari beberapa menit.

Namun...

Tatapan mata gadis itu begitu tenang.

Dan aura hijau terang yang dilihat Karin membuatnya merasa aman.

Flora menarik napas pelan.

"Lily..."

"Boleh beri kami sedikit waktu untuk berdiskusi?"

Lily mengangguk pelan.

"Tentu."

"Aku akan menunggu."

Di dalam hati Lily, ia berharap keduanya menerima ajakannya.

Ia memiliki firasat...

Bahwa Karin, dengan Kemampuan Penilaiannya, dan Flora, dengan ketenangannya, akan menjadi rekan yang sangat berharga bagi kelompoknya di masa depan.

Maaf ya kalo masih banyak yang kurang aku juga masih belajar jadi sorry kalo jelek alurnya, aku buat novel ini juga sesuai yang ada di kepala ku kalo gak sesuai ekspektasi kalian maaf ya,aku buat keluarga Lily gak kuat bukan karna mereka beban tapi karna mau kasih panggung ke Lily

N besok malam lagi update nya

see you next chapter guysss ☺️☺️

1
Dhewa Shaied
boleh tuh kasih lah thor
Ponny Sagita
keluarganya jadi beban doang lama lama
Ponny Sagita
kekuatan lili buat apa sih gak kepake banget.
Ponny Sagita
bukannya lili punya kekuatan juga? kok dibilang manusia biasa? gak singkron sama awal cerita.
bulan sabit: kan aku bilang "KEMAMPUAN ORANG BIASA SAMA YANG TERBANGKITKAN BERBEDA"ini mejelaskan kalo pukulan orang yang punya kemampuan yang terbangkitkan berbeda sama manusia biasa bukan berarti Lily gak punya kekuatan baca yang bener mangkanya kak 🙏🙏
total 1 replies
Wahyuningsih
dtnggu upnya kmbli thor yg buanyk n hrs tiap hri jgn lma2 semedi thor tk inak menunggu... sehat sellu jga keshtn tetp 💪💪💪 dlm upnya n makacih tuk upnya
bulan sabit: kalo tiap hari gak bisa kan aku sekolah kalo 2 hari sekali mah bisa di usahakan🙏🙏 mungkin nanti malam up lg di tunggu ya
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap hadiah dri sistem q jga mau dong thor 🤣🤣🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kasih pasangan yang kuat dan bisa melindungi Lily dan keluarga besar nya...
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
semoga ngga berhenti di tengah hutan ya🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: aduhhhh.... masih belajar kak aku juga🤣
total 2 replies
Wahyuningsih
mudah2an operasinya lancar gk ada halangan apapun amin2 ya robal alamin 💪💪💪💪 thor dlm up
Wahyuningsih
moga cpt sembuh thor
Wahyuningsih
thor buat lily badaz abiz biar makin seru
Wahyuningsih
mampir q thor
Dhewa Shaied
terima kasih kak.. gmn kondisi ibunya semoga cpt sehat 🙏🙏
bulan sabit: sudah selesai oprasi nya cuma nunggu pulih aja dulu🙏🙏
total 1 replies
Dhewa Shaied
syafakillah untuk ibunda
Nanik Jariyanti
cepat sembuh kak ibu nya sehat selalu
Eva Akmal
smg sehat slalu n semangat
Cristina Billi
lanjut thor /Determined//Determined//Determined//Determined/
Eva Akmal
smg ibunya lekas sembuh n kita semua sehat aamiin..🤲🏻
Eva Akmal
seru
Cristina Billi
/Determined//Determined//Determined//Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!