Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bara di Balik Loker
Ponsel di atas meja kayu itu masih bergetar, seolah-olah benda mati itu ikut menggigil merasakan kepanikan yang baru saja meledak di ulu hati Kiandra. Cahaya dari layar ponsel yang terus berkedip menampilkan rentetan pesan WhatsApp dari Mei Ling terasa seperti kilatan petir yang menyambar kewarasan Kiandra di pagi buta ini.
Kiandra menjatuhkan ponselnya kembali ke atas meja dengan tangan yang gemetar hebat. Seluruh aliran darah di wajahnya seolah tersedot habis, meninggalkan rasa dingin yang menjalar hingga ke ujung kaki.
Dunianya baru saja runtuh. Benteng rahasia yang ia bangun dengan susah payah, yang ia jaga dengan segala kebohongan tentang 'sepupu jauh', hancur berkeping-keping hanya dalam satu malam.
"Enzo..." suara Kiandra tercekat, nyaris hilang di tenggorokan.
Ia menoleh ke arah dapur, menatap Enzo yang masih berdiri tenang di dekat konter. Enzo tampak begitu santai, begitu tak terganggu, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan sarapan biasa dan bukan baru saja menjadi pusat skandal satu angkatan.
"Kita... kita dalam masalah besar," ucap Kiandra lagi. Kali ini suaranya naik satu oktav, melengking panik.
Kiandra menyambar ponselnya, lalu berlari kecil menghampiri Enzo. Dengan napas yang memburu, ia menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah pria itu. Matanya membelalak lebar, menuntut pertanggungjawaban atas kekacauan yang terjadi.
Enzo melirik layar ponsel itu sekilas. Hazel matanya membaca pesan Mei Ling dengan kecepatan kilat. Alih-alih panik atau pucat, sudut bibir pria itu justru terangkat. Detik berikutnya, tawa rendah yang berat dan maskulin pecah, bergema di dapur komunal yang lembap oleh uap kopi.
"Kenapa kamu malah tertawa?!" desis Kiandra. Ia menghentakkan kakinya ke lantai kayu dengan kesal, giginya terkatup rapat menahan amarah yang mulai mendidih.
"Ini nggak lucu, Enzo! Nama baikku dipertaruhkan di sini!"
Enzo menyesap kopinya perlahan, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bersalah. Ia menyandarkan pinggulnya pada tepian meja marmer, menatap Kiandra dengan tatapan yang sangat provokatif.
"Jangan salahkan aku kalau kamu dimusuhi semua wanita di kampus, Piccola," ucap Enzo santai. Suaranya yang bariton terdengar begitu tenang, sangat kontras dengan badai yang sedang mengamuk di dalam dada Kiandra.
"Kamu penyebabnya, Enzo! Gara-gara kamu nekat menciumku semalam, sekarang semuanya jadi makin ribet!" cecar Kiandra.
Ia meremas ponselnya kuat-kuat, kepalanya mulai berdenyut nyeri membayangkan bagaimana ia harus menghadapi tatapan sinis mahasiswi lain di koridor kampus nanti.
Enzo meletakkan cangkir kopinya di meja marmer dengan bunyi klik yang mantap. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Kiandra terpaksa mendongak untuk menatap wajahnya. Enzo merundukkan tubuh tingginya, mendekatkan wajah tampannya ke wajah Kiandra.
Kiandra menahan napas seketika.
"Berarti kamu seharusnya merasa bangga, kan?" bisik Enzo. Matanya berkilat jahil, menatap lurus ke dalam mata cokelat gelap Kiandra yang sedang syok.
"Bayangkan, dosen paling tampan di kampus memilih bibirmu dari ratusan mahasiswi lainnya yang mengantre. Itu artinya kamu sangat spesial, Piccola," tambah Enzo, menyeringai tipis tepat di depan bibir Kiandra.
DEG!
Kiandra tertegun kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum akhirnya berdegup brutal, menghantam tulang rusuknya dengan kekuatan yang menakutkan. Wajahnya merona merah padam dalam sekejap, panasnya menjalar hingga ke leher dan tengkuk. Ia merasa seperti baru saja disiram bensin dan disulut api.
Enzo tertawa lagi, sebuah tawa puas yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Kiandra. Ia menegakkan tubuhnya kembali dengan gerakan yang sangat santai, seolah-olah ia baru saja memberikan pujian cuaca dan bukan sebuah pengakuan yang membuat ritme jantung mahasiswinya berpacu gila-gilaan.
"Sudah, sebaiknya kamu bersiap-siap sekarang," ucap Enzo, kembali membelakangi Kiandra untuk mencuci cangkirnya.
"Jangan lupa, kamu juga harus pikirkan alasan yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan teman-temanmu. Aku tidak akan membantumu di sana."
Kiandra tersadar dari pesonanya yang sesaat. Ia buru-buru membuang muka, merutuki dirinya sendiri yang sempat merasa berbunga-bunga hanya karena ucapan narsis pria itu.
"Bodoh! Kenapa aku sempat baper!" rutuk Kiandra dalam hati. Ia berbalik cepat dan berlari kecil menuju kamarnya, ingin segera mandi dan menenggelamkan wajahnya di bawah kucuran air dingin.
***
Pukul 08:15.
Langkah kaki Kiandra terasa seberat bongkahan timah saat ia melangkah menyusuri koridor Le Cordon Bleu. Ia merapatkan mantel wolnya, menundukkan kepala sedalam mungkin, berharap ia bisa menjadi transparan dan tidak terlihat oleh siapa pun. Namun, harapannya pupus seketika.
Setiap kali ia melewati sekelompok mahasiswa, bisikan-bisikan tajam langsung terdengar. Tatapan mata yang menghakimi, sinis, dan penuh rasa ingin tahu menghujam punggungnya seperti ribuan jarum.
Kiandra mendorong pintu ruang loker mahasiswi dengan tangan yang dingin. Begitu pintu terbuka, aroma detergen yang tajam dan uap lembap menyambutnya. Namun, yang lebih menyesakkan adalah keheningan mendadak yang menyergap ruangan itu.
Puluhan pasang mata mahasiswi senior dan junior yang sedang bersiap-siap langsung tertuju padanya. Suasana yang tadinya bising oleh suara loker yang dibuka-tutup kini berubah menjadi sunyi yang mencekam.
"Kiandra! Jelaskan sekarang!"
Mei Ling dan Diya Kapoor langsung menghambur, mengurung Kiandra tepat di depan lokernya. Mei Ling menatapnya dengan mata membelalak heboh, sementara Diya melipat tangan di depan dada, mengamati wajah Kiandra dengan tatapan menilai yang sangat tajam.
"Gosip tentang kamu dicium Chef Romano di L'Arpège semalam benar-benar jadi pembicaraan utama di grup angkatan, Ki!" Mei Ling menuntut jawaban dengan suara yang cukup keras hingga membuat mahasiswi lain semakin mendekat.
"Itu tidak benar! Semalam hanya salah paham!" sangkal Kiandra cepat. Tangannya gemetar hebat saat mencoba memasukkan kode lokernya.
"Chef Romano... dia hanya mencoba menolongku menyingkirkan Blake yang terlalu agresif, sungguh! Itu cuma akting!"
Diya Kapoor melangkah maju satu tapak, merundukkan wajahnya yang glamor untuk mengamati wajah Kiandra lebih dekat. Ia tidak tampak puas dengan jawaban itu.
"Akting?" Diya bertanya dengan nada dingin yang meragukan. "Pertanyaanku cuma satu, Kiandra. Kenapa kamu bisa bersama Chef Romano di restoran semewah itu, di saat kamu seharusnya sedang berkencan dengan Blake?"
Kiandra terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Kepalanya berputar cepat mencari kebohongan baru yang masuk akal, namun otaknya seolah macet total di bawah tekanan tatapan Diya yang mencekik udara.
Tepat saat suasana semakin mendesak, bel masuk berbunyi nyaring, bergema di seluruh koridor kampus. Bunyi itu terasa seperti malaikat penyelamat bagi Kiandra.
"Aku harus ke kelas! Nanti kita bicara lagi!" ucap Kiandra buru-buru, menyambar tas pisaunya dan lari keluar dari ruang loker tanpa menoleh lagi.
Mei Ling berteriak dari belakang, "Kamu harus menjelaskan semuanya ke kami nanti siang, Ki! Jangan harap bisa kabur!"
***
Pukul 09:00.
Ruang Teater Kelas terasa sangat dingin dan kaku, seolah-olah AC di ruangan itu sengaja diputar ke suhu paling rendah. Kiandra duduk di barisan depan, menatap buku catatannya dengan pandangan kosong. Ia bisa merasakan tatapan menusuk dari teman-teman sekelasnya yang duduk di belakang.
Ceklek.
Enzo Romano melangkah masuk. Seragam Chef putihnya tampak sangat bersih dan kaku, memberikan kesan otoritas yang tak tersentuh. Wajahnya sedingin es kutub, rahangnya mengeras, dan tidak ada sedikit pun sisa-sisa pria jahil yang tadi pagi menggodanya di dapur apartemen.
Enzo membuka buku absen tanpa melirik ke arah Kiandra sedikit pun. Ia memulai pelajaran teori tentang teknik pengolahan unggas dengan suara bariton yang datar dan profesional. Selama dua jam penuh, Enzo bersikap sangat berjarak, seolah-olah Kiandra hanyalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa asing yang tidak ia kenal namanya.
Sikap acuh Enzo yang ekstrem itu justru membuat dada Kiandra terasa sesak oleh kebingungan yang menyakitkan.
"Kenapa dia bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Apa ciuman semalam benar-benar nggak berarti apa-apa buat dia?" batin Kiandra merana.
Ada rasa kecewa yang aneh yang mulai merayap di hatinya, sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan.
Kelas berakhir. Para mahasiswa mulai berkemas dan melangkah keluar ruangan satu per satu sambil terus berbisik-bisik. Kiandra sengaja memperlambat gerakannya, merapikan buku catatannya dengan jemari yang terasa kaku dan lemas.
Enzo berjalan menuruni podium, melangkah mantap menuju pintu keluar. Saat ia melewati meja barisan depan tempat Kiandra duduk, langkahnya tidak berhenti. Ia tidak menoleh, tidak memberikan isyarat mata, bahkan tidak menyapa.
Namun, tepat saat ia melintas di samping meja Kiandra, tangan Enzo bergerak dengan sangat cepat dan halus. Ia menjatuhkan selembar kertas kecil yang terlipat rapi di atas meja Kiandra sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kayu besar.
Kiandra tersentak. Jantungnya kembali berdegup brutal. Dengan tangan gemetar, ia membuka lipatan kertas itu perlahan.
"Dapur praktik, sepuluh menit lagi."