NovelToon NovelToon
Penyihir X Regresi

Penyihir X Regresi

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Dunia Lain / Sihir
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: A Giraldin

Namanya Takeuchi Hideki. Dia hanyalah seorang pekerja kantoran biasa yang sudah bosan hidup.

Saking bosannya, apapun yang bakalan terjadi padanya takkan ia pedulikan. Hingga suatu hari, Hideki menemukan sebuah portal menuju dunia lain.

Yang dimasukinya adalah negara Inggris dan dirinya berada di dalam tubuh seorang bayi bernama James Darren.

Seorang anak terkutuk dan pria pekerja kantoran, benar-benar perpaduan yang sangat sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3.10: Kencan!?

[Berarti mereka adalah orang-orang yang baik bukan!]

“Nggak. Tujuan mereka iya, namun cara mereka salah.”

[Begitu rupanya. Aku sendiri tidak terlalu mengerti, tapi... Kalau boleh tahu, apa yang ayahmu perbuat sampai terjadi seperti sekarang?]

“Papa adalah orang yang sangat jenius. Dia berbakat dalam segala bidang walau dirinya seorang ‘Clort’.”

[Itu sangat menakjubkan. Ayahmu keren sekali ya!]

“Ahaha, bisa dibilang seperti itu.”

Ia membalikkan tubuhnya dan sekarang terbaring. Embusan napas pelan membuat sekujur tubuhnya tergelitik sesuatu.

Seperti ada hewan yang masuk ke dalam tubuhnya. Rasa setrum terasa dan itu cukup unik.

“Hehehe. Papa adalah orang yang sangat hebat. Siapapun lawannya, aku tidak peduli. Dia pasti bisa mengalahkannya.”

James Darren. Laki-laki yang sangat menarik sampai membuatku ingin bekerja keras.

Saling melunasi hutang kayaknya bagus juga ya! Hahaha, walau sepertinya takkan terwujud sampai kapanpun.

Apakah mungkin jika kematian terus terjadi, kami takkan pernah sampai ke sesuatu yang namanya takdir baik?

Takdir mati adalah buruk bukan? Berarti... Sebaliknya harusnya bisa. Hanya saja... Buruk selalu muncul di saat-saat penting.

Pengakuan siapa sebenarnya Ryugami Yamada, membuatku harus mati. Dengan otak jenius ini, bisa ku bilang bahwa...

Semua ini sudah direncanakan.

[Apa yang akan kau katakan jika ku bilang ada orang yang merencanakan agar kita berdua terus mengalami kematian berulang kali ketika hampir mengetahui sesuatu yang akan membuat masalah kita selesai?]

“Wow! Apa-apaan itu? Mana mungkin hal seperti itu terjadi kan!”

[Sepertinya di kematian yang ini, kita berdua mengalami hal yang berbeda. Kalau begitu... Mau coba dari awal lahir? Awal lahir, kejadian apa yang menimpamu?]

“Tidak ada kejadian apapun yang menimpaku lho! Hehehe, keren sekali bukan! Aku hidup dengan layak dari bayi.”

“Walau dianggap terkutuk, asal masih bisa hidup, menurutku adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan sang pencipta padaku.”

[Sang pencipta? Maksudmu tuhan?]

“Ya, kau benar sekali Takeuchi Hideki.”

Tuhan terkadang adil juga terkadang tidak adil. Entah perkataanku ini relate dengan duniaku atau dunianya maupun dunia siapapun benar atau tidak, pastinya memang demikian.

Aku sendiri... Masih mempertanyakan tuhan itu ada atau tidak. Hal tersebut sangatlah normal bagiku.

Hahaha. Hidup itu sangatlah aneh. “Lalu... Kau mau bertanya sesuatu tentang ‘Bapak Agung’ bukan?”

[Ya. Dia membunuh keluargaku di dunia ini termasuk aku. Aterrapa Yukigo, apakah kau mengenalinya?]

“Siapa itu Aterrapa Yukigo? Aku tidak mengenalinya. Lalu... Benar-benar kejam dirinya ya! Untungnya dia masih menjilat orang-orang atas. Jadinya... Kami semua sekeluarga masih bisa hidup hingga detik ini.”

[Tentu saja kejam. Lalu... Kenapa aku tidak mati?]

“Apanya yang tidak mati, Takeuchi Hideki?”

[Akan ku katakan semua hipotesisku, James Darren!]

“Y-ya... Si-silakan.”

Suara yang ku hasilkan terdengar serius dan memang demikian. [Kau akan mati kalau hampir mengetahui sebuah rahasia.]

“Berarti yang tidak termasuk rahasia? Kalau memang benar, apakah mungkin tidak semua rahasia bisa membuatku atau dirimu mati?”

[Sepertinya memang seperti itu. Atau mungkin... Hanya di waktu-waktu tertentu kematian akan terjadi pada kita berdua di dunia yang berbeda?]

“Mungkin saja. Aku sendiri tidak terlalu mengerti tentang apa yag terjadi padaku juga padamu.”

[Bahkan aku yang ingat beberapa hal saja cuman bisa sampai sini kemampuan tebakanku. Yahh... Agak memalukan, tapi mau bagaimana lagi kan?]

“Ya, mau bagaimana lagi. Apa yang sudah terjadi, perubahan ingatan atau mungkin hilang ingatan... Sungguh aneh dunia kita berdua itu.”

[Pencipta dari portal itu siapa ya? Aku kayaknya bakal sangat membencinya.]

“Hahaha, alasan yang normal sekali. Itu berarti Takeuchi Hideki adalah seorang manusia sejati.”

[Oi oi! Apa maksudmu manusia sejati? Aku ini dari lama adalah seorang manusia. Pikirmu diriku robot gitu?]

“Ya, mungkin. Baiklah, waktunya tidur lagi dan kau bebas mau bicara apapun itu semaumu.”

[Aku bakal diam saja dan selamat tidur kembali, James Darren!]

“Ya.”

James Darren menutup kedua matanya dengan sangat cepat. Sekarang, daripada mengganggu tidurnya, lebih baik aku ikut tiduran aja deh, hehehe.

Pukul 11.00...

James Darren membuka matanya perlahan dan begitu terbangun, ia beranjak dari kasurnya.

Berjalan perlahan menuju pintu keluar, membukanya, dan mulai menuruni tangga.

Ia terus berjalan lagi hingga akhirnya sampai di luar rumah. Pemandangannya sangat indah. Banyak sekali perumahan biasa di sini. Namanya... Rumah kontrakan kalau nggak salah.

Keluarganya sepertinya sudah membayarnya sampai lunas atau mungkin masih dicicil. Yahh... Wajar saja dan harga mengontrak di sini sepertinya relatif mahal atau murah kayak di duniaku.

Kenapa aku malah mengatakan hal yang sudah jelas? Soalnya, bisa jadi lebih mahal daripada dugaanku.

Atau lebih murah. Mata uang di sini kayaknya beda dengan duniaku. Haruskah ku tanyakan? Belum terlalu penting, jadi nanti saja kalau ingat.

[Ayo ke Akademi Sihir Legnald!]

“Boleh. Benar juga! Ada tempat yang ingin ku tunjukkan padamu di sana, Takeuchi Hideki. Pernah bermain teka-teki?”

[Pernah. Aku jago sekali, apalagi jika itu puzzle.]

“Wow! Baguslah. Soalnya ini berhubungan dengn puzzle sih, hehehe.”

[Wohoho! Sarapan siangku akan benar-benar kenyang ini, hehehe. Langsung saja ke sana, James Darren!]

“Baik, Takeuchi Hideki. Perpustakaan Hollcray nanti aja ya! Kalau tiba-tiba mati lagi, tidak lucu bukan?”

[Ka-kau benar sekali. Tapi yang mati pastinya adalah dirimu, James Darren.]

“Aku mengerti, aku mengerti.”

Perjalanan menuju teka-teki berupa puzzle... Dimulai.

Banyak sekali burung beterbangan di mana-mana dan beberapa orang yang menaiki sapu.

Dunia ini benar-benar dunia sihir. Aku sepertinya akan betah jika bisa tinggal di dunia ini selamanya.

Itupun kalau kematian tidak mengejarku. Kapan kira-kira hal tersebut akan berhasil diwujudkan?

Kalau bisa diwujudkan secepat mungkin, aku pasti akan sangat bahagia. Jadinya... Kematianku harusnya lebih lama dan takkan terjadi ulang-mengulang lagi, hahaha.

Semua pepohonan di sini rindang. Buah-buah yang dihasilkan bentuknya aneh-aneh. Kayak sosok tanduk iblis, hati dari game, QR code, dan lain sebagainya.

[Perjalanan menuju Akademi Sihir Legnald masih lama kah, James Darren!]

“Bersabarlah Takeuchi Hideki. Perjalanannya nggak sepanjang itu kok. Bentar lagi juga nyampe, hahaha.”

[Ya, ya, ya, terserahmu saja.]

30 menit kemudian...

[Masih belum sampai?]

“Sebentar lagi.”

1 jam kemudian...

[Sudah berapa lama kita berjalan?]

“Nggak lama-lama amat. Baru saja 10 menit berlalu.”

Apanya yang 10 menit? Hampir dua jam kau berjalan lho! Haruskah ku katakan itu padanya? Biarkan saja deh. Aku nggak jalan, jadi cukup tanya-tanya aja, hahaha.

2 jam kemudian...

“Kita akan duduk dulu di sini.”

[Woii!!! 3 jam lebih kita nggak sampai-sampai lho!]

“Hahaha, baru aja 15 menit. Sabar saja! Yang jalan aku, bukan kau.”

[Ng-nggak salah sih, ta-tapi... A-aku pengen cepat-cepat memainkan teka-teki puzzle. Masih lama kah perjalanan kita ini?]

“Bentar lagi sampai. Tenang saja. Nikmati saja sejuknya Pohon Trektori di atasmu ini.”

Pohon Trektori. Nama yang sangat aneh dan pohonnya lebat sekali. Aku hampir tak bisa melihat ranting.

Ditutupi oleh pohon berwarna hijau ke kuningan. Di beberapa titik, ada sarang burung bertengger.

Harusnya di situ adalah ranting yang masih menyatu dengan pohon ini. Kalau tidak, aneh sekali sih.

Sekitar sini, ada banyak sekali patung sesembahan. Cukup banyak makanan enak disimpan di depan setiap patung.

Terdapat sekitar 30 patung sesembahan di sekitaran sini yang tersebar secara zig-zag.

Ada yang posisinya di depanku dan paling parah yang sedang ia duduki saat ini. [Patung sesembahan ini nggak akan marah padamu kah, James Darren?]

“Apanya yang patung sesembahan? Semua patung di sini dikasih makan bukan berarti di dalamnya merupakan sosok kuat yang harus disembah. Alasan utamanya adalah... Agar semua patung di sini bisa terus menjaga alam tetap asri dari serangan serangga ataupun lainnya yang bersifat menghancurkan.”

[Aku baru tahu. Ku kira untuk sesembahan, ternyata tidak sama sekali. Maaf sudah ngomong tanpa mengetahui faktanya lebih dulu, James Darren!]

“Hahaha, tenang saja. Dan... Mari kita lanjutkan perjalanannya.”

[Oke.]

“Sebentar lagi juga pastinya sampai, hahaha.”

10 jam kemudian...

[Sekarang sudah hari esok lho! Ayahmu tak mencarimu kah?]

“Biasanya setiap aku keluar rumah, pulangnya pasti lama dan baru aja 30 menit berlalu lho, Takeuchi Hideki!”

[Apanya yang 30 menit!!!??? Sudah 13 jam lebih 30 menit lho! Kita berangkat kisaran pukul sebelas siang dan sekarang pukul setengah satu dini hari.]

“Ternyata waktu berjalan sangat cepat. Ku kira baru sebentar, hahaha. Ini sudah menjadi kebiasaanku dan papa selalu memarahiku karena hal ini.”

[Kau juga tadi tidak izin pada ayahmu dulu. Pulang-pulang baik-baik aja atau dihukum? Bagaimana dengan ibumu?]

“Ha-harusnya aman. Te-tenang saja, Takeuchi Hideki. Lalu... Kita sudah sampai di lokasi kok.”

Ada sumur tua di depanku. Banyak sekali coretan cat warna-warni yang merusak pemandangan.

[Alamnya tak terjaga lho!]

“Sumur bukan termasuk alam, melainkan benda mati.”

[Begitu rupanya.]

Ember untuk menimba air terdengar suara-suara yang membuat telingaku berdenging kencang.

Suaranya mengganggu sekali dan membuatku agak takut. Tali untuk ke bawah juga kembali ke atas saat menimba kayak mau patah.

Sumur ini sudah tak bisa dipakai lagi sepertinya. Kenapa dia membawaku ke sini? Puzzlenya di mana?

“Baiklah. Sekarang, kita akan melihat seberapa dalam sumur ini. Jangan kaget ya, Takeuchi Hideki!”

[O-oke.]

Ia berjalan mendekati sumur tersebut dan... Gelap sekali. Tak ada sedikitpun cahaya terlihat dan dasarnya kayaknya jauh banget.

[Tinggi sumur ini berapa meter?]

“100 meter.”

[100 meter!!??]

“Ya, 100 meter. Tenang saja, kalau kita punya sapu terbang, pastinya bisa masuk ke dalam sana.”

[Memangnya kau bisa sihir? Aku aja tidak, apalagi dirimu. Yahh... Sama saja lebih tepatnya antara Takeuchi Hideki dan James Darren itu.]

“K-kau benar juga. Aku baru kepikiran hal tersebut. Baiklah! Waktunya menunjukkan apa yang ku bisa.”

[Apa itu?]

Dirinya mundur ke belakang secara perlahan. Di sebelah kiri dan kanan aku baru menyadari sesuatu.

Ada dua tanda panah yang bertuliskan ‘Jangan lompat ke dasar!!!’. Hahaha, tentu saja jangan.

Orang bodoh mana yang akan lompat ke dasar? Pastinya dia bodoh sekali atau pengen bundir.

Bunuh diri maksudku. Walau di dasarnya ada air, jika jumlahnya sedikit, kepala kita akan terbentur dan... Mati.

“Hahaha!”

Tu-tunggu!? Kenapa... [KENAPA KAU MALAH LOMPATTTT!!!!???]

“HAHAHAHA!! PETUALANGAN MENUNGGU KITA BERDUA, TAKEUCHI HIDEKIII!!!”

[TIDAKKKK!!! SE-SELAMATKAN AKUUU!!!]

Ki-kira-kira... Aku masih hidup atau tidak?

Bersambung...

1
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




Saling support sabi kali ya😉
Ankani: 👍. Makasih udah mampir kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!