NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia itu suamiku!

"Aku nda ada niat buruk, Wulan."

Suara Baskoro terdengar lebih pelan kali ini, seolah berusaha menjelaskan dirinya.

Wulan menghela napas pendek.

"Aku juga nda bilang kamu punya niat buruk." Jawabannya keluar cepat, namun tetap tegas.

"Tapi kita harus tahu batas."

Kalimat itu membuat Baskoro terdiam.

Angin sore berembus pelan melewati jalan desa yang mulai sepi. Daun-daun pohon di pinggir jalan bergoyang mengikuti arah angin, menciptakan suara gemerisik yang samar.

Wulan menggenggam ujung kerudungnya erat.

Dia sebenarnya tidak suka berbicara setajam ini kepada siapa pun. Namun keadaan memaksanya untuk bersikap tegas.

Jika dia terus membiarkan Baskoro berharap, maka semuanya hanya akan menjadi semakin rumit.

"Aku minta, lain kali jangan panggil aku lagi seperti tadi."

Baskoro mengangkat pandangannya.

Wulan melanjutkan.

"Aku juga nda mau orang lain salah paham melihat kita." Nada suaranya tidak lagi setinggi tadi, tetapi tetap penuh ketegasan.

Wulan hendak melangkah pergi. Dia sudah merasa percakapan itu cukup. Tidak ada lagi yang perlu dibahas. Semua telah berakhir sejak dirinya resmi menjadi istri Lindu.

Namun baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba sebuah tangan meraih pergelangan tangannya.

Refleks Wulan langsung berbalik.

"Apa yang kamu lakukan?" Bentaknya.

Matanya membulat penuh amarah dan keterkejutan.

Tanpa menunggu jawaban, Wulan segera menarik tangannya dari genggaman Baskoro.

"Sudah gila kamu?" Lanjutnya dengan nada tinggi.

Baskoro tampak gugup. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang sejak tadi berusaha dia sembunyikan.

"Aku cuma mau bicara." Katanya pelan.

"Bicara apa lagi?"

Wulan menatapnya tajam. Tidak ada lagi kelembutan yang dulu pernah dia tunjukkan kepada pria itu.

Baskoro mengepalkan kedua tangannya.

Raut wajahnya dipenuhi perasaan yang selama ini dia pendam. Kekecewaan, penyesalan, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu.

"Aku nda bisa menerima ini, Wulan."

Wulan mengernyit.

"Apa maksudmu?"

"Aku nda bisa menerima kamu menikah sama dia."

Suara Baskoro terdengar berat, seolah setiap kata yang keluar begitu sulit diucapkan.

"Aku masih nda rela."

Sejenak suasana menjadi sunyi.

Hanya suara angin sore yang berembus pelan melewati jalan desa yang menemani mereka.

Wulan menatap Baskoro tanpa ekspresi, beberapa saat kemudian dia menggeleng pelan.

"Suka atau nda suka, menerima atau nda menerima, itu bukan urusanku lagi."

Kalimat itu membuat Baskoro terdiam.

"Dan sejujurnya aku juga nda peduli."

Wajah Baskoro langsung menegang.

Dia tidak menyangka Wulan akan menjawab setegas itu.

"Sekarang aku sudah jadi istri orang."

Suara Wulan terdengar mantap dan tidak menyisakan keraguan sedikit pun.

"Dan kamu harus menghormati itu."

Baskoro menelan ludah.

Namun hatinya tetap menolak menerima kenyataan yang ada.

"Aku cuma...."

"Nda." Wulan langsung memotong ucapannya.

"Dengarkan aku baik-baik."

Tatapannya lurus menembus mata Baskoro.

"Aku sudah menikah."

Dia menarik napas sebelum melanjutkan.

"Dan suamiku adalah Lindu."

Nama itu meluncur tegas dari bibirnya.

Meski pernikahan itu terjadi dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan, statusnya kini tetap jelas.

Dia adalah istri Lindu.

"Jadi berhenti mengatakan hal-hal seperti itu kepadaku."

Baskoro menunduk sesaat, rahangnya mengeras.

Dari sorot matanya terlihat jelas bahwa dia masih sulit menerima kenyataan itu. Namun, Wulan sudah tidak ingin memperpanjang pembicaraan.

Rasa kesalnya semakin memuncak setelah Baskoro berani menyentuhnya.

"Jangan pernah menyentuh aku lagi."

Suara Wulan kini jauh lebih dingin.

"Kalau kamu masih punya rasa hormat padaku, jaga sikapmu."

Baskoro terdiam, tidak ada lagi kata-kata yang mampu keluar dari mulutnya.

Saat akan melangkah pergi, sebuah kalimat yang meluncur dari mulut Baskoro membuat langkah Wulan kembali terhenti.

Namun kali ini bukan karena marah, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa.

Tubuhnya membeku di tempat., wajahnya langsung pucat pasi.

Matanya membulat lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Apa kau dan suami itu sudah melewati malam pertama? Apa dia tahu kau sudah nda perawan lagi?"

Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Baskoro tanpa ragu.

Tanpa mempertimbangkan betapa tajam dan menyakitkannya kata-kata tersebut.

Wulan langsung menoleh, lalu membalikkan badan sepenuhnya.

Tatapannya tajam menusuk ke arah Baskoro.

"Kau...!"

Suara Wulan bergetar.

Dadanya naik turun menahan emosi yang mendadak membuncah.

Untuk sesaat dia bahkan kesulitan menemukan kata-kata.

"Apa yang kau inginkan sebenarnya, Baskoro?"

Suasana di jalan desa itu mendadak terasa begitu tegang.

Langit senja perlahan berubah jingga kemerahan.

Namun tak satu pun dari keindahan sore itu mampu meredakan panas yang muncul di antara mereka.

Baskoro menatap Wulan tanpa mengalihkan pandangan.

Rahangnya mengeras.

Seolah selama ini ada sesuatu yang terus dipendamnya dan kini tidak mampu lagi dia tahan.

Beberapa saat dia terdiam, kemudian ia menarik napas panjang.

"Aku cuma menginginkan kamu, Wulan." Kalimat itu membuat Wulan membeku.

Dia tidak menyangka setelah semua yang terjadi, Baskoro masih akan mengucapkan hal semacam itu.

Baskoro melangkah satu langkah mendekat.

"Aku nda pernah menginginkan yang lain."

Sorot matanya dipenuhi penyesalan, kecemburuan, dan kekecewaan yang selama ini dia simpan.

"Aku nda rela melihatmu jadi istri orang lain."

Wulan mengepalkan kedua tangannya erat.

Kemarahan di dalam dirinya semakin sulit dibendung.

"Baskoro..."

"Aku serius." Pria itu memotong ucapannya.

"Sejak dulu yang aku inginkan cuma kamu."

Suara Baskoro terdengar lirih. Namun, justru karena itulah kata-katanya terasa semakin berat.

Wulan menggeleng pelan.

Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.

"Aku sudah menikah."

Setiap kata yang keluar dari bibir Wulan terdengar tegas dan jelas.

Namun Baskoro masih belum menyerah.

"Tapi aku masih mencintaimu."

Kalimat itu membuat Wulan menutup matanya sesaat.

"Kalau memang masih ada sedikit rasa hormat padaku, berhentilah mengatakan semua ini."

"Wulan..."

"Aku istri orang, Baskoro."

Suara Wulan terdengar mantap.

Tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

"Dan aku nda akan mengkhianati suamiku, itu terjadi sebelum aku menikah!" Kata Wulan.

"Aku yakin Mas Lindu pasti akan menerimaku!" Ujar Wulan geram.

Matanya berkaca-kaca menahan emosi.

Dia marah karena Baskoro telah membawa-bawa sesuatu yang sangat pribadi dan menyakitkan.

"Kalaupun suatu hari Mas Lindu tahu, aku yakin dia akan menerimaku."

Suara Wulan terdengar tegas tanpa keraguan sedikit pun.

"Karena Mas Lindu bukan orang yang akan menilai perempuan hanya dari masa lalunya."

Baskoro mengepalkan rahangnya.

Sementara Wulan melanjutkan,

"Dan yang paling penting, itu urusan aku dan suamiku."

"Bukan urusanmu." Kata Wulan.

"Aku sudah cukup mendengar omong kosongmu hari ini."

"Wulan..."

"Nda."

Wulan menggeleng tegas.

"Aku harap kamu melupakan aku."

Baskoro langsung terdiam.

"Dan semua yang pernah terjadi di antara kita."

Suara Wulan terdengar mantap. Tidak ada keraguan sedikit pun.

Karena baginya, masa lalu itu memang harus berakhir.

"Aku sudah punya kehidupan sendiri sekarang."

"Dan kamu juga harus menjalani hidupmu sendiri."

Mata Baskoro tampak memerah.

Namun Wulan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menjawab.

Wulan berbalik lalu melangkah pergi.

Meninggalkan Baskoro yang masih berdiri melihat kekasih yang dulu pernah begitu dia cintai menjauh.

1
Yulia Lia
akhirnya Sekar di temukan ,tapi sudah menjadi mayat😭😭😭
Mega Arum
typo Thor... kalimat Nda...sebaiknya tidak, msl tdk mungkin...
Nurr Tika
itu arwah sekar
Mega Arum
menarik
Rini Yunita
q curiga kl wulan adalah pelakunya
Nurr Tika
sedihnya smpe sini
Siti Yatmi
duh ..Thor .betapa hancur hati seorang ibu .tiap hari berharap anaknya pulang, tapi malah mayat yg ditemukan, ga sanggup deh, bayangin nya ..
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!