NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:786
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.

Vince pun memilih untuk mengirimkan pesan pada Daniel.

Vince ["Niel, lo balik ke kamar Maura buat ambil kunci!"]

Daniel ["Loh, memangnya kenapa? Apa lo gak ikut pulang? Atau terjadi sesuatu di dalam ruangan inap Maura?"]

Saat membaca balasan dari Daniel, Vince benar benar di buat bingung. Daniel adalah tipe orang yang berisik dan kepo. Malam malam seperti ini menceritakan kisah hidup Maura, juga akan menimbulkan banyak pertanyaan dari Daniel. Karena pastinya, ia tidak akan bisa menceritakan kehidupan Maura itu sampai selesai.

Vince ["Gak udah banyak tanya! Mendingan sekarang lo itu buruan kemari."]

Daniel [Ok.]

Tiba tiba rasa takut menghampiri Vince, ia takut kalau di jalan Daniel sampai berpapasan dengan ke dua orang tua Maura. Yaitu Stela dan juga Lian.

"Astaga gimana ini? Semoga aja Daniel gak berpapasan dengan ke dua orang tua Maura," gumam Vince dengan suara pelan.

Melihat punggung Lian dan Stela benar benar menghilang dari koridor rumah sakit.

Vince berjalan dengan langkah kaki begitu pelan ke arah ruangan inap Maura, ia nampak melihat ke arah kesana kemari. Mengetahui jika koridor rumah sakit sekarang benar benar sepi.

Rasa kasihan tiba tiba muncul dan menghampiri benak Vince, kala mengingat hidup Maura ternyata menyedihkan.

Ceklek

Vince perlahan membuka pintu ruangan Maura, namun yang menyambutnya hanyalah suara isakan tangis yang mengiris hati.

Dari jarak yang tak jauh, ia melihat Maura sedang duduk di pinggir ranjang, menangis tersedu-sedu.

"Hiks... Hiks... Kenapa Mamah dan Ayah begitu tega? Meninggalkan aku di sini sendirian!" keluh Maura dengan suara penuh kesedihan, tanpa menyadari keberadaan Vince di ruangannya.

Tatapan Vince semakin dalam melihat kesedihan muridnya yang tiada tara. Ia melangkah perlahan mendekati Maura, sebelum akhirnya menaruh tangan di bahu sebelah kiri gadis itu.

"Bukankah ada aku di sini untuk mendampingimu, Maura?" pikir Vince dalam hati, namun ia enggan mengatakannya langsung.

Deg! Jantung Maura seperti berhenti berdetak seketika, tubuhnya meremang tiba-tiba.

"Ha... Hantu..." teriaknya dengan suara ketakutan. Air mata yang telah jatuh dari kedua pelupuk matanya seakan tiba-tiba mengering.

"Pergi... Pergi... Hantu jahat, jangan ganggu aku!" teriak Maura sembari mengayun-ayunkan kedua tangannya tak beraturan, dan memejamkan matanya.

Vince yang melihat reaksi Maura itu, seketika tersenyum, kala melihat ekspresi lucu yang di tunjukkan oleh Maura.

Maura memang sangat takut dengan hantu, padahal jika di lihat dari silsilah keluarganya. Maura nantinya akan menjadi sosok ratu vampire yang akan memimpin kaum yang berhubungan dengan para iblis, siluman dan para hantu tingkat tinggi.

Kedua tangan Vince memegang kedua tangan Maura dengan lembut.

"Maura, ini aku, Vince, gurumu," ujar Vince dengan suara yang penuh perasaan.

Maura hanya bisa memasang wajah malu, semburat merah jelas terlihat di kedua pipinya. "Astaga, apa dia akan berpikir kalau aku terlihat bodoh atau penakut?" batin Maura cemas. Ia tentu saja tidak mau jika di pandang rendah oleh gurunya itu.

Dengan segera, Maura memalingkan pandangannya ke arah lain, seolah-olah tidak berani menatap wajah gurunya akibat rasa malu yang menderanya.

Sementara itu, tanpa sadar, Maura membalas genggaman tangan Vince, saling berpegangan erat satu sama lain, yang hanya menambah rasa canggung dalam hati keduanya.

Maura merasa begitu malu, karena dia tadi sempat ketakutan dan salah paham, mengira bahwa guru yang mencoba menenangkannya adalah hantu yang menakutkannya.

Di dalam hatinya, pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, "Kenapa aku bisa begitu takut? Apakah ini akan membuat Vince memandangku rendah?"

Ceklek. Pintu ruangan inap Maura terbuka lebar. Daniel pun memasuki ruangan inap. "Astaga! Apakah kalian berdua pacaran?" tanya Daniel dengan suara terkejut.

Rasa malu Maura semakin menjadi-jadi, dia merasa terjebak dalam situasi yang sulit dijelaskan. Reflek Maura pun menjauhkan tangannya dari tangan Daniel dengan kasar.

Hal itu sungguh membuat Vince maupun Maura tersentak kaget.

"Astaga! Apa yang aku lakukan tadi? Gimana kau pak Daniel berpikiran buruk tentangku," pikir Maura khawatir, tak tahu harus berbuat apa.

***

****

Setelah penjelasan singkat dari Vince untuk menyakinkan Daniel, akhirnya Daniel yang sudah mengantuk pun tidak banyak mengajukan pertanyaan.

Ia yang sudah lelah memilih untuk segera pulang dan kembali menuju ke apartemen milik Vince.

Lega, rasa lega sekarang ini di tunjukkan oleh Vince. Setelah menutup pintu, ia berjalan ke arah brangkar Maura.

Maura sendiri merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi miring.

"Pak Pin, saya kok merasa kedinginan!" ujar Maura sehingga membuat Vince khawatir.

"Sebentar Maura! Biar aku panggilkan perawat."

Dengan wajah menahan malu, Maura menarik tangan Vince seraya menggelengkan kepalanya.

"Jangan tinggalkan aku Pak Pin, aku takut sendirian!" Maura terlihat mencegah gurunya yang akan keluar dari pintu ruang inapnya.

"Tapi, kamu harus mendapatkan perawatan atau observasi dari suster atau pun dokter jaga."

"Hiks, aku tidak mau kalau sendirian di ruang inap ini!" Maura menangis, wajahnya sekarang ini juga terlihat ketakutan.

Maura terbayang oleh bayangan menyeramkan film horor yang baru-baru ini ia tonton, yang berlatar rumah sakit seperti tempatnya saat ini. Pikirannya tertuju pada adegan mengerikan yang sempat ia lihat dalam film tersebut.

"Aku takut sekali sendirian, tidak ingin ditinggal di sini!" Mendengar tangisan Maura yang pecah, Vince merasa iba dan tidak tega untuk membiarkannya sendiri dalam keadaan ketakutan seperti itu. Ia mencoba untuk mencari solusi.

"Tidak apa-apa, aku akan mencoba menghubungi dokter atau perawat lewat telepon yang tersedia di sini." Tidak menunggu jawaban Maura, Vince segera mengambil telepon yang ada di atas meja samping tempat tidur Maura dan mulai menghubungi layanan bantuan rumah sakit.

Vince tadi terlihat menekan angka yang tertulis di samping telepon. Tak berselang lama telepon pun tersambung.

"Apa? Semua dokter dan perawat sedang sibuk karena ada kecelakaan yang melibatkan satu bis, dan seluruh korban kecelakaan itu dibawa ke rumah sakit ini?!" Terdengar suara Vince yang terkejut dari balik telepon.

Maura, yang masih menangis, mencoba mendengarkan apa yang gurunya katakan melalui telepon. Dalam hatinya ia merasa sedih dan takut.

"Semoga saja Pak Pin tidak meninggalkan aku sendirian di ruangan ini. Aku tidak sanggup sendirian di sini, terbayang-bayang oleh hantu dari film horor yang ku tonton beberapa hari lalu," gumamnya dalam hati.

Setelah menjelaskan masalah demam Maura lewat telepon, Vince pun menutup teleponnya perawat menyuruhya untuk mengompres seluruh tubuh Maura dengan air hangat terlebih dahulu.

Karena para perawat atau dokter bisa datang ke ruang inap Maura sekitar 1-2 jam lagi.

"Demam mu sepertinya bertambah Maura," kata Vince setelah memegang dahi Maura dengan telapak tangannya.

"Ya udah, Pak Pin kompres saja tubuh ku! Kan beres," ujar Maura dengan suara mengigil. Bahkan sesekali ia terlihat mengusap ke dua air matanya.

***

Vince keluar dari dalam kamar mandi, dengan air panas yang terisi di baskom.

"Maura, kata perawat seluruh tubuh! Soalnya ini kan demam akibat infeksi!"

"Ya udah, aku buka! Tapi bagian depan saja, bagian yang terluka jangan."

"Iya bapak tahu," sahut Vince sembari menahan ludahnya yang kelu. Kala melihat Maura membuka kancing bajunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!