NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala

Kutukan Jiwa Niskala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"

Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.

Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.

Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Pengorbanan Seol Ah si Kotoran

PLAK! 

Tangan Han Seol yang teraliri energi liar menampar pipi Do Hyun hingga pemuda itu terpental.

"Aduh! Sialan, tenaganya seperti kerbau!" Do Hyun mengaduh sambil memegangi pipinya yang merah padam. "Han Seol! Ini aku, Do Hyun! Ingat hutangmu padaku, jangan mati jadi pemberontak sekarang!"

Ji Hoon tidak mau kalah, ia mencoba menangkap pergelangan tangan Han Seol yang memegang pedang. "Han Seol, berhenti! Kau mau kita semua dihukum gantung satu asrama? Lepaskan pedang itu!"

BUGH! 

Sebuah pukulan telak dari siku Han Seol mendarat tepat di rahang Ji Hoon.

"Aduuuh! Gigiku hampir copot!" Ji Hoon jatuh terduduk, memegangi rahangnya yang membengkak. "Kau benar-benar tidak pandang bulu ya! Aku ini sahabatmu yang paling tampan, tega sekali kau memukul wajahku!"

"Dia tidak mendengar kalian!" teriak Jin Chae Rin dari arah belakang. Matanya menatap tajam ke arah aliran energi di pedang itu. "Pedang itu memakan kesadarannya! Ji Hoon, Do Hyun, tahan kakinya! Sekarang!"

Do Hyun dan Ji Hoon, meski kesakitan, kembali menerjang. Mereka berdua memeluk kaki Han Seol erat-erat, membiarkan tubuh mereka terseret di tanah saat Han Seol mencoba meronta.

"Seo Jun! Bantu kami!" teriak Do Hyun terengah-engah.

Seo Jun berdiri tepat di depan Han Seol, menatap mata sahabatnya yang kosong. "Han Seol, dengarkan aku! Jika kau tidak berhenti, kau tidak hanya akan kehilangan pedang ini, kau akan kehilangan Seol-Ah! Lihat dia! Kau melindunginya, jangan biarkan pedang ini menghancurkan niatmu!"

Han Seol sempat terpaku sejenak mendengar nama Seol-Ah. Celah itu dimanfaatkan oleh Jin Chae Rin. Ia melemparkan gelang sihirnya yang seketika berubah menjadi jalinan tali cahaya yang mengikat pergelangan tangan Han Seol.

"Sekarang, lepaskan!" seru Jin Chae Rin sambil menyentakkan tali itu.

Han Seol jatuh terduduk. Pedang biru itu terlepas dari genggamannya dan tertancap di tanah, cahayanya perlahan meredup. Han Seol tersengal-sengal, kesadarannya mulai kembali saat ia melihat keempat sahabatnya babak belur di sekelilingnya.

"Kalian..." gumam Han Seol lemah.

"Jangan 'kalian-kalian' dulu," gerutu Ji Hoon sambil mengusap rahangnya yang biru. "Kau berhutang penjelasan dan sepuluh botol arak setelah ini. Pipiku sakit sekali!"

Putra Mahkota, yang sejak tadi tertegun karena nyaris tertebas, kini melangkah maju dengan amarah yang mendidih. "Kalian berempat... bersatu hanya untuk melindungi pemberontak ini?"

Melihat situasi semakin berbahaya bagi keluarga mereka, Seol-Ah tiba-tiba berlutut di depan Putra Mahkota. Ia mengambil baskom logam berisi sisa air kotor tadi, mengangkatnya tinggi-tinggi. "Jika Yang Mulia masih murka, biarkan hamba meminum ini sebagai tebusan atas kelancangan hamba."

"Ampuni dia, Yang Mulia!" seru Seo Jun, hatinya mencelos melihat kenekatan Seol-Ah.

Keberanian gila pelayan itu rupanya memadamkan api kemarahan sang pangeran, berganti dengan rasa penasaran yang aneh. Ia menurunkan pedangnya, menatap lekat ke arah Seol-Ah yang masih mengangkat baskom kotoran itu.

"Cukup," ucap Putra Mahkota dingin. Ia menyarungkan pedangnya dan menyerahkannya pada pengawal, lalu melangkah maju hingga ujung sepatunya menyentuh baskom Seol-Ah. "Kau benar-benar akan meminumnya jika aku tidak berhenti? Kau seberani itu, atau kau hanya gila?"

Seol-Ah tidak bergeming, matanya tetap menunduk. "Nyawa hamba tidak ada harganya dibanding kehormatan tuan hamba, Yang Mulia."

Putra Mahkota menyeringai, sebuah tawa pendek yang menghina namun terselip kekaguman keluar dari bibirnya. "Menarik. Pelayan yang lebih punya nyali daripada prajuritku sendiri. Aku akan memanggilmu Seol-Ah Kotoran mulai sekarang. Ingat itu baik-baik, karena aku tidak akan melupakan wajahmu."

Seol-Ah perlahan menurunkan baskom itu setelah merasa nyawanya aman. Dengan gerakan yang sangat sopan dan senyum manis yang dipaksakan, ia mengambil pedang Nara dan menyodorkannya kepada Putra Mahkota sambil membungkuk penuh hormat.

"Seol-Ah kotoran ini sangat berterima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia," ucapnya ceria, menanggapi julukan baru yang diberikan sang pangeran dengan nada yang seolah-olah itu adalah gelar kehormatan.

Putra Mahkota menerima pedang itu, lalu membungkuk sedikit untuk berbisik di telinga Seol-Ah. "Simpan senyum palsumu itu. Suatu saat nanti, aku ingin melihat wajah aslimu saat kau benar-benar ketakutan."

Setelah memberikan tatapan tajam terakhir pada Han Seol yang masih lemas, Putra Mahkota berbalik dan pergi bersama rombongannya.

Setelah rombongan istana pergi, halaman itu kembali sunyi. Hanya tersisa Seol-Ah dan Seo Jun di bawah bayang-bayang pohon besar. Angin sore meniup helai rambut Seol-Ah yang sedikit kusut.

Seo Jun mendekat, langkahnya berat. Ada badai kecemburuan dan kekhawatiran yang berkecamuk di dadanya. "Apa kau kehilangan akal sehatmu?" tanya Seo Jun, suaranya rendah namun penuh penekanan.

Seol-Ah menoleh, mencoba tetap tenang. "Hamba hanya melakukan apa yang perlu dilakukan, Tuan."

"Meminum air kotoran? Merendahkan dirimu sendiri di depan pria seperti dia?"

Seo Jun merogoh saku jubahnya, menyodorkan sapu tangan sutra putih dengan kaku. "Ini, lap tanganmu. Kau berlumuran bau busuk."

Seol-Ah menatap sapu tangan mewah itu. Sapu tangan yang terlalu bersih untuk tangannya yang kasar. "Terima kasih, Tuan Seo Jun. Tapi sapu tangan ini terlalu berharga. Saya bisa mencucinya di sumur nanti."

"Ambil saja, Seol-Ah!" Seo Jun sedikit meninggikan suara, membuat Seol-Ah tertegun.

"Kenapa kau selalu bersikap manis pada orang yang ingin membunuhmu, tapi bersikap begitu dingin padaku yang ingin melindungimu?"

Seol-Ah menatap mata Seo Jun dalam-dalam. Ada luka yang terlihat di sana. "Karena Tuan adalah orang baik," jawab Seol-Ah lirih. "Bersikap manis pada Putra Mahkota adalah cara bertahan hidup. Tapi bersikap manis pada Tuan... itu hanya akan memberi Tuan harapan yang tidak bisa saya penuhi. Saya tidak ingin Tuan terluka karena mengharapkan sesuatu dari seorang pelayan."

Seo Jun terdiam, tangannya yang memegang sapu tangan gemetar. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tamparan Han Seol tadi.

"Saya permisi," Seol-Ah membungkuk singkat, lalu berjalan masuk ke rumah tanpa menoleh lagi.

Seo Jun hanya bisa berdiri terpaku, meremas sapu tangan sutra di tangannya hingga kusut. Harum sutra itu kini tertutup oleh bau samar kotoran dan keputusasaan yang tertinggal di udara.

****

Perjamuan Para Penguasa di Cheon-gi Won

Di jantung Cheon-gi Won, cahaya lampu minyak yang berpijar redup menyelimuti ruangan yang dingin. Sebuah meja kayu panjang yang kokoh menjadi saksi pertemuan rahasia empat pilar kekuatan Niskala. Suasana sunyi, hanya menyisakan aroma dupa kuno yang memenuhi udara.

Di salah satu sisi meja, Penyihir Jin (Jin Hwa-Young) duduk dengan raut wajah yang membeku. Matanya yang tajam seakan mampu menembus tembok batu ruangan itu.

Di sebelahnya, sang adik, Jin Wu, duduk dengan tenang, namun senyum tipis di sudut bibirnya menyimpan kelicikan yang tak terukur. 

Berhadapan dengan mereka, Penyihir Do dan Master Baek duduk berdampingan. Keduanya memancarkan kewaspadaan yang tinggi. 

"Aku memanggil kalian ke sini bukan untuk basa-basi," suara Penyihir Jin memecah keheningan, suaranya rendah namun bergetar karena amarah yang dipendam. "Roh anjing pelindung Jinyowon telah dicuri. Seseorang telah membobol segel suci keluarga kami." 

Master Baek sedikit condong ke depan, alisnya bertaut. "Dicuri? Bukankah Jinyowon memiliki sistem pertahanan paling kuat di negeri ini? Bagaimana mungkin seseorang bisa masuk ke jantung rahasia kalian tanpa memicu alarm tunggal pun?" 

"Itulah masalahnya," sambung Jin Wu, suaranya tenang seolah sedang membicarakan cuaca. Ia mengetuk jemarinya di atas meja kayu. "Pintu rahasia Jinyowon tidak akan terbuka hanya dengan kunci fisik. Dibutuhkan aliran energi yang sangat besar atau teknik sihir yang sangat spesifik untuk membungkam para penjaga."

Jin Wu menoleh ke arah kakaknya, lalu beralih menatap Penyihir Do dengan pandangan menyelidik. "Hanya seorang penyihir hebat—mungkin di tingkat Chisu ke atas—yang mampu melakukan perbuatan bersih seperti itu. Ini bukan sekadar pencurian; ini adalah penghinaan terhadap empat keluarga penyihir besar." 

Penyihir Do menyipitkan mata. "Apakah kau sedang menuduh salah satu dari kami, Jin Wu? Jangan lupa, Myeong-gyeong Gak juga memiliki akses ke banyak teknik kuno yang tidak kami ketahui." 

"Aku tidak menuduh," jawab Jin Wu, senyumnya semakin melebar. "Aku hanya meyakini bahwa musuh kita adalah seseorang yang sangat memahami struktur kekuatan di Cheon-gi Won. Seseorang yang tahu kapan penjagaan kita paling lemah." 

1
Protocetus
Mukbang 👍
Soobin Chan: Ayamnya ada yang punya🤣
total 1 replies
Schauven
Jadi keinget aos. Seru ini
Soobin Chan: 👍 jangan lupa subscribe biar gak ketinggalan cerita barunya
total 1 replies
Schauven
demen nih gua sama genre begini
Soobin Chan: makasih😄
total 1 replies
Protocetus
udah kontrak belum min?
Soobin Chan: sudah
total 1 replies
Soobin Chan
Terima Kasih kak, karena udah mau baca novel saya 👍
Protocetus
Cie cie 💪
Soobin Chan
mampir juga di cerita baru aku kak. 'The Emerald and Her Four Mates'
Protocetus
Beludru itu apa thor?
Soobin Chan: beludru itu sejenis bahan kain halus dan lembut gitu. jadi ibaratnya suaranya itu kaya beludru, lembut dan halus.🤭
total 1 replies
Protocetus
Ini bacanya Cheongi apa Cheon Gi min?
Soobin Chan: Cheon-gi 🤣
total 1 replies
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Soobin Chan: oke kak😄
total 1 replies
Blueria
Latar Korea ya
Soobin Chan: iya kak😄
total 1 replies
T28J
wah wah wah
Soobin Chan: 🤣terima kasih udah mau komen
total 1 replies
T28J
woww.. secantik apakah dia /Slight/
Soobin Chan: bayangin ajah wajah song he kyo. begitulah kira kira.😄
total 1 replies
T28J
mantap kak 👍
Soobin Chan: terima kasih🤭
total 1 replies
Soobin Chan
komen dong guys. biar aku semangat nulusnya😍🤭
Soobin Chan: iya, saking sepinya/Scowl/
total 3 replies
Soobin Chan
ceritanya bagus guys, ayo merapat! di jamin kalian bakalan suka/Drool/
Soobin Chan: ramein dong guys...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!