Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Liciknya Karen
Begitu matahari terbit dan meninggi, Sheza merasa ada yang menganggu tidurnya. Semalam, dia tidak tahu tidur jam berapa. Seluruh tubuhnya remuk, pegal-pegal. Dan begitu dia membuka mata. Yang pertama kali dia lihat adalah Jendra.
Pria itu mengusap memainkan jarinya di bibir Sheza.
"Selamat pagi" sapanya begitu Sheza membuka mata.
"Selamat pagi..."
Sheza baru mau bangkit dari tempat tidur, tapi Jendra melarangnya.
"Kamu pasti lelah, aku akan ambil air dan menyeka tubuhmu!"
Sheza baru mau membuka mulutnya, hal seperti itu sebenarnya tidak perlu. Tapi, Jendra malah sudah lebih dulu pergi ke kamar mandi.
Sheza mencoba untuk bangun, ternyata dia kesulitan. Mungkin kalau dia benar-benar turun dari tempat tidur, saat ini dia juga belum bisa melakukannya.
Begitu dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Sheza nyaris menjatuhkan rahangnya. Seluruh tubuhnya dari dada sampai paha, semuanya penuh dengan tanda yang ditinggalkan oleh Jendra.
'Pria ini, dia mengerikan...'
"Sayang, setelah aku basuh wajah dan tubuhmu. Aku akan siapkan sarapan, baru setelah itu aku siapkan air hangat untuk kamu mandi"
Dan tak hanya sekadar bicara, Jendra sungguh melakukan semua itu. Mengusap wajah Sheza dengan air, dengan sangat perlahan dan begitu hati-hati.
Bahkan meraih tangan perlahan, lalu menyekanya dengan sangat lembut. Seperti Sheza itu sebuah kaca kristal tipis, yang kalau tidak hati-hati sedikit saja, bisa terluka atau pecah.
Ada perasaan haru dalam hati Sheza. Selama ini dia memang mengalami krisis kasih sayang. Bahkan dari ayah dan ibunya sendiri. Tapi, sebagai gantinya. Dia mendapatkan kasih sayang yang melimpah ruah dari suaminya.
"Sudah selesai, aku akan ambilkan pakaian ganti!"
Bahkan dengan perlahan dan penuh perhatian, Jendra membantu Sheza berpakaian.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Jendra mengecup pipi Sheza.
"Apapun yang kamu siapkan" kata Sheza yang tidak mau meminta sesuatu yang lebih dari perhatian Jendra yang dia rasa sudah sangat besar dan berharga itu.
"Baiklah, aku akan buatkan sarapan lengkap untukmu. Supaya nanti siang kamu kuat, saat aku memintanya lagi"
Blush
Wajah Sheza segera memerah. Bisa-bisanya Jendra mengatakan hal itu.
**
Sementara itu di tempat berbeda, Nella dan Pras sedang bicara di depan teras.
Pras yang akan berangkat bekerja, melihat istrinya sudah rapi.
"Kamu..."
"Mas, aku mau mengantarkan Karen bertemu dengan Sheza. Semalam, aku bicara banyak dengan Karen. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Leli itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Karen kan? anak itu masih kecil, dia tidak mungkin mengetahui kalau ibunya punya niat jahat seperti itu pada Sheza!"
Pras diam, sejak awal dia memang tidak pernah punya niat menyalahkan Karen.
"Lagipula selama ini yang menganggap Sheza bersalah juga kan kita, bukan Karen" kata Nella yang matanya kembali berkaca-kaca.
Mengingat dia kerap menyalahkan anaknya sendiri. Rasanya dia benar-benar merasa sedih.
"Atur saja bagaimana baiknya. Alex juga hanya mau bertunangan dengan Sheza. Tapi perbuatannya dengan Karen juga tidak benar. Lebih baik kalau kamu bisa membujuk Sheza. Perusahaan kita bergantung pada kerja sama ini!"
Nella mengangguk. Dia memang berniat untuk membujuk Sheza untuk pulang. Dan akan lebih baik lagi. Kalau Sheza mau kembali bertunangan dengan Alex.
"Aku pergi dulu!" kata Pras.
Nella kembali mengangguk. Tak lama setelah itu, Karen keluar dengan pakaian yang sangat sederhana dan tas tidak bermerek. Biasanya dia akan selalu keluar dengan pakaian bagus dan bermerek. Tapi kali ini, dia sengaja melakukan semua itu untuk menarik simpati Nella.
Dan melihat pakaian Karen yang sangat biasa. Nella merasa sedikit heran.
"Karen... bajumu?"
"Bibi, aku tidak mau membuat Sheza marah. Selama ini pakaian ku dan dia sama bagusnya. Tapi, setelah mengetahui ternyata ibuku lah yang bersalah. Aku jadi merasa sangat tidak pantas. Aku benar-benar akan memperbaiki hubungan ku dengan Sheza, bibi" Karen bicara dengan nada memelas.
Seperti seseorang yang benar-benar merasa sangat bersalah dan akan menunjukkan ketulusannya dengan sangat sangat tulus.
Nella menghela nafas panjang. Bahkan dia mengusap kepala Karen dengan begitu lembut.
"Kamu memang anak yang baik" katanya dengan begitu lembut.
Karen tersenyum, keduanya masuk ke dalam mobil. Mereka akan pergi ke rumah Sheza. Tanpa Nella tahu, senyuman Karen itu sebenarnya senyuman yang menyiratkan banyak sekali makan yang begitu rahasia.
Bahkan sejak semalam, dia sudah mengantisipasinya. Kalau-kalau tempatnya benar-benar akan digantikan oleh Sheza.
Jadi, sudah sejak semalam dia mengatur sesuatu yang akan membuat Nella kecewa, alih-alih merasa kalau dia bisa berbaikan dengan Sheza.
"Bibi, ini rumah Sheza?" tanya Karen, ketika Nella mengajak Karen menghentikan mobil dan mengajak Nella turun.
Nella mengangguk.
"Iya, dia bekerja paruh waktu untuk membeli rumah ini!" kata Nella dengan mata berkaca-kaca.
Karen mendengus pelan. Sebenarnya dia menggerutu kesal dalam hatinya. Tapi lagi-lagi di depan Nella, dia memasang wajah memelas.
"Bibi, maafkan aku. Kalau ibuku tidak membuat paman dan bibi salah paham. Pasti Sheza tidak perlu bekerja paruh waktu dan memilih tinggal di sini sendiri. Entah kesulitan apa saja yang dia alami selama tinggal di rumah ini!"
Nella menghela nafas berat. Dan mengajak Karen menuju ke pintu utama rumah itu.
Tok tok tok
"Sheza!"
Tok tok tok
"Seperti tidak ada orang bibi..."
"Permisi! kalian cari Sheza?"
Tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang berjalan ke arah mereka.
"Iya betul, nyonya ini..."
"Saya tetangganya, saya tinggal disana!" tunjuk ibu itu pada salah satu rumah.
"Sepertinya tidak ada orang ya, apa Sheza keluar?" tanya Karen.
"Oh, Sheza mah memang jarang pulang. Kalau pulang juga pasti dalam keadaan mabuuuk. Yang nganterin juga ganti-ganti lakinya. Gak tahu deh dia kerja dimana!"
Nella terkejut, dan cenderung sangat tidak senang.
"Jangan sembarangan bicara, nyonya! anak saya tidak seperti itu!"
"Hahh, anak? Bukannya kata Sheza ibunya sudah mati!" kata wanita paruh baya itu.
Nella memegang dadanya. Dia shock mendengar itu.
"Bibi..."
Bahkan Nella nyaris terhuyung, untung saja Karen cepat menopangnya.
"Ibu jangan bicara sembarangan, Sheza sepupuku itu orang baik, dia bahkan bekerja paruh waktu untuk membeli rumah ini!"
"Hehhh, kata siapa? rumah ini punya bos Wirya. Itu yang punya pabrik plastik. Sheza itu simpanannya, makanya bisa tinggal di rumah ini gratis!"
"Hahhh" Nella shock, dia benar-benar shock, "tidak mungkin, tidak mungkin Sheza seperti itu!"
"Tidak percaya ya sudah, kalau gak percaya tanya saja sama tetangga yang lain. Nah itu ada ibu Mona. Bu... Ibu Mona!" wanita itu memanggil seseorang yang kebetulan lewat membawa kantong belanjaan.
Dan saat ditanya, wanita bernama Mona itu memberikan keterangan yang sama dengan wanita paruh baya di depan Nella.
"Tidak mungkin..."
"Kasihan orang tuanya, kalau masih hidup tapi di bilang sudah mati!" kata Bu Mona.
"Sheza, kenapa kamu jadi begini!" lirih Nella yang sudah berlinang air mata.
Karen tampak puas. Dia tersenyum menyeringai pada kedua wanita itu. Ya, kedua wanita itu, adalah orang-orang yang dia bayar, untuk menjelek-jelekkan Sheza di mata ibunya sendiri. Supaya apa? supaya posisi Karen, tetap lebih baik di hati Nella daripada Sheza.
***
Bersambung...