"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 32 : Kekuatan Asli
"Beraninya kau!"
Mata Theo menjadi putih bersinar, tubuhnya melayang di udara.
"Lihat! Dia... Dia pasti seorang dewa!" Orang yang melihat kejadian itu segera menyimpulkan bahwa Theo adalah seorang dewa, atau setidaknya seorang yang diutus dewa.
Glek
Pria bergigi hitam itu berkeringat dingin. Rasanya seperti dirinya sudah mulai mencium aroma ketakutan.
"Ampun tuan! Ampun!" Pria itu memohon kepada Theo. Namun Theo tidak mendengarkannya, "Ampun? Huh, tadi aku minta kamu membebaskan dia. Kamu dengerin nggak? Ha! Dasar bajingan sialan!"
Tangan Theo menengadah ke langit, dia mulai menggerakkan sesuatu.
Drap
Semua orang seketika jatuh, gravitasi menjadi semakin berat bahkan menekan semua orang yang ada di situ.
"Apa? Dia! Dia pasti iblis! Pergi kau dasar iblis!"
Beberapa orang mulai meneriaki Theo, tapi tidak diindahkannya.
Di pikirannya, hanya ada satu hal yang ia sebutkan.
'Lucy, Lucy, Lucy.'
Tangan Theo berkumpul, dan mengarah pada pria bergigi emas.
Kratak
Kaki pria itu patah, sangat rapi bagaikan kaki yang dipotong.
"Argh! Ampuni aku Tuan!" Pria bergigi emas itu berteriak kesakitan sambil memohon ampun kepada Theo.
Salah satu jari Theo bergerak, mendistorsi ruang dan waktu.
"Argh, Tuan ampuni aku! Kumohon Tuan!" Pria itu kembali memohon. Tangannya telah lepas dari tubuhnya, meninggalkan seonggok badan yang masih menempel di kepala.
"Aku tidak peduli," ucap Theo dingin.
Theo mulai memutar jarinya berbalik arah jarum jam.
Ajaib, pria bergigi emas itu segera kembali kepada kondisinya semula.
Namun, bukannya senang pria itu segera berteriak, "Bunuh aku! Tolong bunuh aku Tuan! Tolong!"
"Bunuh? Ha, kematian terlalu mudah bagimu!"
Theo mengangkat tangannya, mencekik leher orang itu dari kejauhan.
"Atas nama koeksistensi ruang dan waktu, hukum formalitas Dewata. Aku, Theo akan menjadi awal dan akhir dari hidupmu. Akulah sang dewa kematian, dan Dewi kehidupan. Kau, aku sudah mengunci jiwamu, di gerbang neraka."
Sebuah belenggu melekat di leher pria itu, membuat dirinya menjadi seorang budak.
"Patuhilah aku, atau..."
Theo menjentikkan jarinya.
Tik!
Crasss
Tiba-tiba, tikus di depan pria itu hancur kepalanya.
Theo mendatangi pria itu, lalu memasukkannya ke ruang jiwa.
"Lucy!" Ia membuka pakaiannya, menyisakan celana pendek yang sudah dibasahi keringat.
"Maaf, aku nggak punya baju kain selain baju basah ini." Theo memberikan Lucy baju yang lebih mirip jubah itu, lalu ia menggendong Lucy.
"Oiya, sebentar." Theo mendudukkan Lucy, lalu ia melepas ikatnya.
"Theo... Hiks... Aku... Aku kotor—" belum selesai, Theo segera memotong omongan Lucy.
Hup
Theo memeluk Lucy dan menenangkan Lucy yang menangis.
"Ya, kau kotor. Itu kalo kamu nggak mau bertobat. Bahkan, sekarang kamu udah sadar kan kalo itu masa lalumu. Udah nggak usah dipeduliin, malah... Cintailah dirimu Lucy... Sayang." Theo mengusap punggung Lucy, dan entah kenapa dirinya merasakan tubuhnya memanas.
"Theo... Tapi—" Lucy dengan rasa rendah dirinya masih menyangkal Theo.
"Nggak ada tapi-tapi. Udah ku bilang kan, cintai dirimu sayang. Anggaplah, masa lalumu itu udah nyelamatin aku. Inget kan? Yang kamu ngasih aku obat tidur pertama kali? Itu kan karena kamu dulunya suka begitu kan? Nggak papa sayang, yang penting kan kamu sekarang."
"Hiks... Makasih, sayang."
Theo kembali ke kamarnya dengan tenang.
Kriiet!
Terlihat Xiangran sedang membakar semua jarum peraknya, sedangkan Linlin sudah tertidur.
Xiangran mendekati Theo, lalu ia menepuk pundaknya.
"Wah... Kak Theo hebat. Kak Theo mau punya bayi ya? Sama kak Lucy? Tenang aja kak, aku bisa bantu kalian melahirkan bayi."
Muka Theo yang awalnya biasa, segera berubah merah padam. Begitupun Lucy yang masih lemas.
"Apa maksudmu?" Theo agak penasaran dengan perkataan Xiangran.
"Mmm, soalnya dulu waktu pertama kali mama hamil Linlin. Papa mama keluar dari kamar kaya kak Theo sama Lucy sekarang. Persis kak, papa yang menggendong telanjang dada, sama mama yang lemas dan terengah-engah."
Plush
Muka Theo dan Lucy semakin memerah, mereka saling menatap dengan senyum yang hangat.
Theo segera menaruh Lucy di kasur, membiarkan wanita itu tertidur pulas.
"Hei, Xiangran. Kayanya... Aku butuh bantuan mu deh."
"Kenapa kak?"
Theo kemudian menjelaskan bagaimana dia, Lucy dan Silas bisa berpisah. Dia juga menjelaskan bagaimana Lucy bisa diculik sampai akhirnya tertidur di kasur.
"Ooh, jadi... Kakak nggak bakal punya bayi? Yaah..." Xiangran terlihat agak kecewa, tapi dirinya langsung fokus saat Theo meminta dirinya mengajari Theo.
"Ajari aku... Mmm, gerakan apapun yang kamu pake itu."
"Hah? Maksud kakak ini?"
Wut, Duak
Xiangran melakukan berbagai macam rangkaian gerak. Menciptakan bunyi ledakan dari udara yang terpecah, serta menggetarkan seluruh ruangan.
"Ya, itu. Oiya, itu namanya apa ya?"
"Ini? Ini nggak ada namanya sih. Aku cuma taunya ini tuh meniru hewan doang."
"Hah?" Theo menatap anak itu dalam.
"Ya, sesimpel kakak ngeliat hewan dan coba niru semua gerakannya. Kaya... Ah, itu kak."
Theo melihat arah jari telunjuk Xiangran.
"White?"
"Kakak White bisa bantu apa?" White agak terbangun dengan suara Theo.
"Oh nggak papa White, tidur lagi aja."
"Hei, apa maksudmu aku meniru White?" bisik Theo kepada Xiangran.
"Hadeh, kakak tau kan? ular itu ada dua."
"Bentar, biar nggak buang-buang waktu."
Whuuush
Theo menjentikkan jarinya, dan seketika mereka ada di dalam ruang jiwa.
"Waaah, keren banget kak! Ehm... Jadi ular itu ada dua kan? Satu yang melilit kaya gini."
Xiangran berlari ke arah Theo, lalu ia menggeliat dan melilit Theo persis seperti seekor ular.
"Atau yang begini."
Akhirnya Xiangran melepaskan diri, lalu ia berdiri dengan kuda-kuda khusus.
Duk duk
Tangan Xiangran membentuk siluet mirip ular, lalu siluet itu bergerak mirip ular dan menyambar seperti ular.
"Hebat! Kamu hebat banget ya!"
"Hehe, nggak juga kak. Oiya, lihat itu lebah kan?" Xiangran menunjuk ke arah koloni Cutie.
"Kalo lebah, itu kan nyerangnya banyak. Jadi kita bisa niru kaya gini nih kak."
Tap tap tap
Xiangran berlari dengan kencang, menciptakan ilusi bahwa dirinya ada di mana-mana.
"Wah, terus habis lari?"
"Gini kak."
Syut
Tiba-tiba sebuah tangan masuk seakan membelah ruang. Anehnya, tidak hanya satu tangan, tapi banyak tangan.
"Wah, gila. Sungguh gila. Kayanya kamu orang paling hebat deh."
"Nggak kak, aku yakin pasti ada yang lebih hebat dari aku."
"Masa?" Theo agak skeptis dengan perkataan Xiangran, tapi pertanyaannya dibalas dengan anggukan kepala dari Xiangran.
"Papa dulu ahli beladiri dari klan Xiang. Bahkan, dia adalah pewaris asli patriark klan."
"Loh, terus kok kalian pergi ke barat?" tanya Theo mengangkat alisnya penasaran.
"Ummm... Kalo nggak salah, dari ceritanya papa sih. Papa ketemu mama yang seorang pewaris klan Hana."
"Terus?" Bahu Theo terangkat, masih penasaran dengan kelanjutan cerita.
"Mama sama papa..."
...****************...
End Ch. 32 : Kekuatan Asli
Makasih semuanya udah baca karyaku. Jangan lupa like, comment dan favorit.