NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Kepulangan Tikus yang Melarat

Matahari siang menyengat pelataran beton di depan gedung pusat Adhitama Group tanpa ampun. Kilau pantulan cahaya dari dinding kaca menara pencakar langit itu tampak menyilaukan, menciptakan distorsi udara yang panas di atas aspal.

Di dalam lobi utama yang sejuk oleh pendingin ruangan, Alana melangkah dengan baki dokumen di pelukannya. Tugas barunya sebagai asisten pribadi yang ditempatkan langsung di dalam ruangan Devano menuntut mobilitas yang tinggi. Ia baru saja turun dari lantai lima puluh untuk mengambil berkas fisik hasil audit internal yang dikirimkan oleh tim legal.

Langkah kaki Alana mendadak terhenti tepat beberapa meter sebelum ia mencapai pintu putar otomatis yang menghubungkan lobi dengan area drop-off luar.

Suara keributan yang melengking dari arah halaman depan menembus lapisan kaca tebal gedung. Beberapa petugas keamanan berseragam lengkap tampak berlari keluar, berusaha menahan kepungan kerumunan karyawan dan pejalan kaki yang mendadak berkumpul membentuk lingkaran.

"Aku tidak akan pergi! Biarkan aku bertemu dengan adikku! Alana! Keluar kau, Alana!"

Suara jeritan itu parau, pecah oleh keputusasaan, namun Alana mengenali polanya seketika. Saraf di punggung Alana menegang hebat. Baki dokumen di pelukannya terasa mendadak mendingin.

Melalui dinding kaca bening, Alana menyaksikan sebuah pemandangan yang menguras emosi. Di atas aspal yang panas, seorang wanita terduduk bersimpuh dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Itu Siska Wijaya. Namun, tidak ada lagi jejak keangkuhan dari seorang putri sulung keluarga Wijaya yang biasanya mengenakan pakaian desainer bernilai puluhan juta.

Pakaian yang dikenakan Siska saat ini adalah gaun usang yang robek di bagian kelimannya, kotor oleh debu jalanan. Rambutnya yang dahulu selalu tertata rapi kini kusut masai, menyelimuti wajahnya yang pucat, tirus, dan dipenuhi noda hitam. Air matanya mengalir deras, menghapus sisa-sisa riasan murah yang luntur di pipinya.

"Alana! Kau merebut calon suamiku, kau mengambil seluruh harta keluargaku, dan sekarang kau membiarkan kakak kandungmu kelaparan di jalanan!" teriak Siska histeris saat seorang petugas keamanan mencoba menarik lengannya agar berdiri.

Siska sengaja melempar tubuhnya kembali ke tanah, menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukul aspal. Taktik manipulasi yang baru. Ia tahu betul bahwa di depan kamera ponsel para karyawan yang kini mulai merekam kejadian tersebut, dirinya akan terlihat sebagai korban tirani yang teraniaya.

Bisik-bisik mulai menjalar di antara orang-orang di dalam lobi. Pandangan mata yang semula penuh hormat kepada Alana kini berubah menjadi sorot penuh selidik, curiga, dan penghakiman instan.

Alana mengepalkan tangannya kuat-kuat, meremas tepi baki kayu di pelukannya hingga buku jarinya memutih. Monolog batinnya bergejolak hebat. Siska tidak berubah. Setelah semua kejahatan dan pemerasan yang dia lakukan, dia kembali hanya untuk menyeret namaku ke dalam lumpur kebohongan yang baru.

"Buka pintunya."

Sebuah perintah bergetar rendah dari arah belakang memecah kepungan bisik-bisik di dalam lobi.

Devano Adhitama telah berada di sana. Pria itu duduk di atas kursi roda elektriknya dengan setelan jas abu-abu arang yang memancarkan kuasa tanpa batas. Wajahnya lurus, matanya setajam mata pisau yang baru diasah, dingin dan tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk membaca pikirannya.

Jefri segera memberi isyarat kepada petugas lobi untuk membuka pintu akses khusus. Kursi roda Devano bergerak maju perlahan, membelah kerumunan. Alana terpaksa melangkah di sisi pria itu, merasakan beban puluhan pasang mata yang menguliti setiap gerakannya.

Begitu pintu terbuka, hawa panas siang hari menyergap mereka. Siska yang melihat kedatangan Devano langsung merangkak di atas lututnya, mendekati kaki kursi roda pria itu dengan tangan yang menjulur ke depan, memelas.

"Tuan Devano... tolong aku... Alana telah membohongimu!" ratap Siska, suaranya bergetar penuh sandiwara melodrama. "Dia yang menjebakku agar aku pergi dari pernikahan itu! Dia ingin menguasai investasimu untuk dirinya sendiri! Lihat aku sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi!"

Devano menghentikan gerakan kursi rodanya tepat satu jengkal sebelum jemari kotor Siska menyentuh ujung sepatu kulit mengkilapnya. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan santai, menatap mahluk yang bersujud di bawahnya seolah-olah Siska hanyalah gundukan tanah yang mengotori jalurnya.

"Kau memiliki nyali yang luar biasa, Siska," ucap Devano. Suaranya tidak keras, namun keheningan yang mendadak tercipta di pelataran itu membuat setiap suku katanya terdengar begitu mengintimidasi.

"Kau melanggar pencekalan wilayahku, kembali ke kota ini dengan kostum pengemis, lalu menggunakan karyawan-karyawanku sebagai penonton teater murahmu?" lanjut Devano dengan senyuman asimetris yang sangat tipis, sarat akan penghinaan yang mematikan.

Siska tersedak oleh air matanya sendiri. Keangkuhan lamanya mencoba bangkit di balik keputusasaannya. "Aku punya bukti! Publik akan tahu seberapa kejamnya Adhitama Group jika video rekaman ini dikirim ke serikat pekerja!" Siska mengangkat sebuah diska lepas (flashdisk) kecil dengan tangan yang gemetar.

Alana menahan napasnya. Itu adalah kartu as terakhir yang selalu digunakan Siska untuk mengancamnya.

Namun, Devano bahkan tidak berkedip. Pria itu hanya mengangkat dua jarinya ke udara. Jefri yang berdiri di belakangnya langsung mengeluarkan sebuah dokumen keputusan pengadilan yang telah dilegalisir.

"Siska Wijaya, atas tuduhan pencemaran nama baik, rekayasa dokumen finansial, dan pelanggaran hukum komersial, seluruh hak bicaramu di depan hukum telah dicabut sejak putusan pengadilan kemarin sore," ujar Jefri dengan nada suara formal yang datar namun meremukkan. "Petugas dari kepolisian pusat sudah berada di jalur belakang gedung ini untuk menjemput Anda."

Mendengar kalimat itu, sisa-sisa binar manipulatif di mata Siska padam seketika. Tubuhnya melorot jatuh ke atas aspal panas, menyadari bahwa skenario teatrikalnya tidak lebih dari sekadar umpan yang justru mempercepat penangkapannya sendiri. Dua petugas berpakaian sipil segera maju, memegang lengan Siska dan menyeretnya pergi dari area drop-off tanpa memedulikan jeritan histeris wanita itu yang kian menjauh.

"Masuk ke dalam mobil pribadi," perintah Devano dingin kepada Alana, mengabaikan kasak-kusuk karyawan yang mulai dibubarkan oleh tim pengamanan.

Alana tidak membantah. Ia mengikuti langkah Jefri menuju kendaraan utilitas sport (SUV) antipeluru hitam yang terparkir di sudut VIP, terpisah dari Rolls-Royce yang biasa mereka gunakan. Skenario perpindahan tempat ini sengaja dilakukan untuk menghindari kejaran wartawan jalanan.

Begitu pintu kabin mobil yang kedap suara itu tertutup rapat, suasana seketika berubah menjadi medan perang psikologis yang baru.

Devano tidak menduduki kursi rodanya di dalam mobil ini; ia duduk langsung di atas jok kulit hitam yang luas. Tubuh tingginya yang kekar tampak begitu mendominasi ruang kabin yang terbatas. Pria itu melepaskan kancing jasnya, melemparkannya ke sisi lain kursi dengan gerakan yang tenang namun memancarkan aura bahaya yang pekat.

Alana mencoba mengambil jarak paling jauh di sudut kiri jok. Namun, Devano tidak mengizinkan adanya ruang pelarian.

Sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Alana, tidak dengan kekerasan yang menyakitkan, melainkan dengan tekanan dominan yang mengunci seluruh pergerakannya. Devano menarik tubuh Alana dengan satu sentakan terukur hingga punggung wanita itu membentur sandaran jok kulit, tepat di bawah bayang-bayang tubuh kekar Devano yang kini mencondongkan badannya ke depan.

Tidak ada ciuman yang mengunci bibir Alana kali ini.

Devano menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram kedua tangan Alana di atas pangkuannya, sementara tangan kanannya bergerak lambat, menyusup ke balik rambut panjang Alana di area tengkuk. Ibu jari Devano yang sedikit kasar menekan dengan lembut namun tegas pada otot leher Alana yang menegang akibat kepanikan. Sentuhan kekuasaan (power-play touch) itu mengirimkan gelombang getaran yang aneh, memaksa Alana menarik napas pendek berulang kali.

"Kau gemetar lagi, Alana," bisik Devano. Wajah tampannya berada begitu dekat, hingga Alana bisa melihat kilat obsesi yang gelap di dalam manik mata obsidian suaminya. "Apakah kau masih meratapi nasib kakak tirimu yang malang itu?"

Alana mendongak, menatap langsung ke dalam netra pekat sang tirani, mencoba mencari sisa logikanya yang mulai tumpul akibat keintiman yang menyesakkan ini. "Saya tidak meratapinya, Tuan Devano. Saya hanya... saya lelah dengan semua intrik ini. Kapan semua ini akan benar-benar berakhir?"

Devano menyeringai tipis, seutas senyuman yang terlihat begitu seksi namun berbahaya di dalam remangnya kabin mobil. Jemarinya yang berada di tengkuk Alana mengerat, menarik wajah cantik wanita itu hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan, membiarkan kehangatan napas mereka saling bertukar di udara.

"Ini tidak akan pernah berakhir, Istriku," desis Devano dengan nada suara yang rendah dan penuh klaim kepemilikan yang mutlak. "Setiap kali ada orang dari masa lalumu yang mencoba menyeretmu keluar dari sangkar emas ini, aku akan mematahkan sayap mereka di depan matamu. Kau telah memilih untuk tinggal di duniaku, dan di duniaku... kau hanya boleh tunduk pada perintahku."

Alana memejamkan matanya, meremas kemeja abu-abu Devano dengan jemari tangannya yang bebas, pasrah di bawah kendali ruang gerak yang dikunci sepenuhnya oleh sang penguasa. Pria ini memutus semua jembatan pelariannya, menjadikannya tawanan abadi yang tak lagi memiliki jalan untuk mundur.

Namun, di tengah keheningan intim yang membakar kesadaran mereka, mobil tiba-tiba melakukan pengereman mendadak yang cukup keras hingga tubuh mereka sedikit terguncang.

Ciiit!

"Tuan Devano! Maaf!" Suara Jefri dari balik sekat kemudi terdengar panik. "Gerbang depan kediaman kita diblokade oleh iring-iringan kendaraan dinas militer. Jenderal Wijaya... ayah kandung Siska yang asli, baru saja mendarat dengan pasukan pengawal pribadi!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!