NovelToon NovelToon
SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

SUAMI SEWAANKU SANG MAFIA PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.

​Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.

​Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.

​"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kembalinya Sang Ratu Viora

Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra di kamar utama kediaman Leonidas, membiaskan cahaya keemasan ke atas lantai pualam. Alana mengerjapkan matanya perlahan. Ia merasakan pening ringan di kepalanya setelah rentetan kejadian gila yang mengubah hidupnya secara drastis dalam kurun waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Saat ia menoleh ke samping, ranjang tersebut sudah kosong, namun kehangatan tubuh Xander masih tersisa di balik selimut putih yang tebal.

​"Sudah bangun, Istriku?"

​Suara bariton yang berat dan maskulin itu membuat Alana tersentak pelan. Xander berdiri di ambang pintu walk-in closet, sudah mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan kemeja hitam tanpa cela. Di tangannya terdapat secangkir espresso yang mengepulkan asap tipis. Penampilannya benar-benar mencerminkan seorang triliuner penguasa dunia bawah—angkuh, dominan, dan sangat mematikan.

​Alana segera duduk, menarik selimut hingga menutupi dadanya. Pipinya memerah mengingat betapa posesifnya pria ini semalam. "Jam berapa ini? Aku harus bersiap ke kantor."

​Xander berjalan mendekat, meletakkan cangkirnya di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang. Matanya menatap lekat ke wajah Alana. "Kau adalah pemilik penuh perusahaan itu sekarang, Alana. Aku sudah membaliknamakan seluruh saham Viora Jewelry atas namamu tadi subuh. Kau tidak perlu bekerja jika kau tidak mau. Kau bisa menghabiskan waktumu di rumah kaca, berbelanja, atau apa pun yang kau inginkan."

​Alana menggeleng tegas. Matanya memancarkan tekad yang kuat. "Tidak, Xander. Aku mencintai pekerjaanku sebagai desainer perhiasan. Hanya karena sekarang aku berstatus istrimu, bukan berarti aku akan membuang mimpiku dan berdiam diri seperti pajangan di istana ini."

​Sebuah senyuman bangga terukir di bibir Xander. Ia menyukai sisi keras kepala dan kemandirian gadis ini. "Bagus. Aku suka wanita yang tahu apa yang dia inginkan. Kalau begitu, bersiaplah. Aku sendiri yang akan mengawalmu kembali ke wilayah kekuasaanmu pagi ini."

​Satu jam kemudian, Alana melangkah keluar dari kamar utama dengan penampilan yang membuat siapa pun akan menahan napas. Martha, kepala pelayan istana, telah menyiapkan sebuah setelan blazer dan celana kain high-waisted berwarna putih mutiara dari rumah mode kelas atas. Penampilannya tidak berlebihan, namun setiap jahitan di pakaiannya memancarkan aura old money yang sangat elegan.

​Perjalanan menuju Viora Jewelry dilakukan dengan formasi pengawalan penuh. Tiga SUV hitam antipeluru membelah jalanan ibu kota. Di dalam mobil utama, Xander terus menggenggam tangan Alana, memberikan ketenangan tanpa kata.

​Setibanya di depan gedung Viora Jewelry, pemandangan yang tersaji di lobi jauh lebih dramatis daripada saat inspeksi mendadak kemarin. Pak Hendra, sang direktur yang biasanya arogan, tampak pucat pasi seolah tidak tidur semalaman. Seluruh karyawan berbaris rapi membentuk lorong panjang di lobi utama. Area itu telah disterilkan sepenuhnya.

​Begitu pintu mobil terbuka dan sepatu hak tinggi Alana menyentuh lantai marmer gedung, suasana berubah menjadi hening mencekam. Xander keluar menyusul di belakangnya, melingkarkan lengannya dengan posesif di pinggang ramping sang istri.

​"Selamat pagi, Tuan Besar Rex! Selamat pagi, Nyonya Besar Alana!" seru Pak Hendra seraya membungkuk hingga 90 derajat, yang langsung diikuti oleh seluruh karyawan secara serempak. "Kehadiran Anda kembali menyinari gedung yang hina ini!"

​Alana sedikit meringis mendengar sanjungan yang terlalu berlebihan itu. Baru beberapa hari yang lalu, Pak Hendra membentaknya di depan umum karena datang terlambat lima menit. Kini, pria paruh baya itu gemetar ketakutan hanya karena melihat bayangannya.

​Xander menghentikan langkahnya tepat di depan Pak Hendra. "Aku membawa istriku kembali bekerja. Dengarkan baik-baik, Pak Hendra. Dia akan memegang kendali penuh atas kreativitas di tempat ini."

​"Tentu, Tuan Besar! Tentu saja!" Pak Hendra menyeka keringat di dahinya dengan saputangan. "Kami sudah merenovasi ruangan VVIP di lantai teratas khusus untuk Nyonya Besar semalaman suntuk. Ruangan itu dilengkapi asisten pribadi, pelayan khusus, dan keamanan berlapis."

​"Tidak perlu," potong Alana cepat. Suaranya yang jernih menggema di lobi yang sunyi. "Aku akan tetap berada di mejaku yang lama, di area divisi desain. Aku tidak butuh perlakuan khusus. Aku ingin bekerja seperti biasa bersama timku."

​Pak Hendra memucat, nyaris terkena serangan jantung. Ia menatap Xander dengan panik untuk meminta persetujuan, takut disalahkan jika menuruti permintaan aneh ini.

​"Kau dengar apa kata istriku?" desis Xander dingin, suaranya membuat suhu ruangan seolah turun drastis. "Biarkan dia melakukan apa pun yang dia inginkan di gedung ini. Tapi ingat satu hal..."

​Xander memutar pandangannya, menyapu seluruh karyawan dengan tatapan predator yang mematikan. "Jika ada satu goresan sekecil debu di kulit istriku, atau jika aku mendengar ada yang berani membuatnya stres dengan membebani pekerjaannya... aku tidak hanya akan memecat kalian. Aku akan memastikan kalian tidak akan pernah bisa mencari makan di kota ini lagi. Mengerti?"

​"Me-mengerti, Tuan Besar!" seru seluruh staf serempak dengan suara bergetar hebat.

​Puas dengan ancaman itu, Xander menundukkan wajahnya dan mengecup kening Alana dengan lembut di depan puluhan pasang mata yang membelalak. Sebuah deklarasi kepemilikan mutlak dari sang raja.

​"Bersenang-senanglah dengan desainmu, Sayang," bisik Xander di telinga Alana. "Aku akan kembali menjemputmu saat makan siang."

​Setelah Xander beserta para pengawalnya pergi, lobi perlahan mulai bernapas lega. Alana berjalan menuju kubikel lamanya di divisi desain. Sarah, rekan kerja sekaligus sahabatnya, berdiri mematung di dekat mesin fotokopi sambil memeluk erat tabletnya. Tubuh Sarah bergetar kaku.

​"Sarah..." panggil Alana dengan senyum hangat.

​"Nyo-Nyonya Besar..." Sarah membungkuk sangat kaku, matanya menatap lantai. "A-apa saya harus membawakan kopi untuk Anda? Atau memijat bahu Anda?"

​Alana tertawa kecil, melangkah maju dan meraih tangan sahabatnya. "Astaga, Sarah! Berhenti memanggilku seperti itu! Ini aku, Alana. Gadis yang biasa membagi roti lapis telur denganmu setiap pagi. Jangan bersikap aneh, kumohon."

​Sarah mendongak perlahan, menatap mata Alana mencari kebohongan. Saat ia melihat Alana tidak berubah sama sekali, bahu Sarah merosot lega. "Ya Tuhan, Alana! Kau hampir membuat jantungku copot! Kemarin suamimu mematahkan pergelangan tangan Nyonya Bahar seperti mematahkan ranting kering! Aku pikir kau akan memecat kami semua hari ini!"

​"Tentu saja tidak," ucap Alana geli seraya duduk di kursi kerjanya yang kini terasa jauh lebih nyaman karena dilapisi bantal mahal secara misterius oleh Pak Hendra. "Ayo kita bekerja. Kita punya tenggat waktu koleksi musim semi, kan?"

​Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alana merasakan kekuasaan yang sesungguhnya. Bukan kekuasaan untuk menindas orang lain seperti yang selalu dilakukan Melinda kepadanya, melainkan kekuatan untuk melindungi mimpi-mimpinya dan orang-orang yang peduli padanya.

​Namun, di sudut gelap dekat tangga darurat, sepasang mata menatap pemandangan itu dengan penuh rasa iri dan dengki yang membara. Siska, desainer senior yang selama ini selalu mencuri draf desain Alana untuk diakui sebagai miliknya, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Siska tahu masa kejayaannya akan berakhir dengan kehadiran Alana sebagai Nyonya Besar. Namun rasa bencinya telah mengalahkan akal sehatnya, memercikkan sebuah rencana jahat yang sangat berisiko.

​(Bersambung...)

1
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Orang_Cuman_Cerita: Lagi Proses Kak 👍
total 1 replies
Anonim
Lanjutkan 👍
Orang_Cuman_Cerita
Sukakan?💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!