NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:432
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXXIII

"Tidak... tidak mungkin..." ucap Putri Yanxi tidak percaya, kakinya seketika lemas.

Di hadapan matanya, terbaring tubuh Zhang Jun yang penuh luka, wajahnya yang tadinya tampan kini penuh noda darah dan lebam.

"Tidak... ini tidak mungkin..." Putri Yanxi mencoba meraih tubuh itu, namun Pangeran Haoran menahannya.

"Kak, kau tidak boleh seperti ini..." ucap Haoran dengan suara bergetar, air matanya menetes.

Putri Yanxi melepaskan tangan Pangeran Haoran, lalu berlutut di samping tubuh kekasihnya itu. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh wajah Zhang Jun yang dingin dan penuh luka.

"Kenapa... kenapa dia terluka seperti ini?" tanyanya Putri Yanxi kepada pangeran Haoran, seolah tak percaya.

Pangeran Haoran hanya menunduk diam, tak sanggup menjawab.

Putri Yanxi kembali memegang wajah Zhang Jun, lalu memeluk tubuh itu erat-erat, dan menangis sejadi-jadinya. Suara tangisannya memecah keheningan di gerbang istana itu.

"Kau tidak boleh meninggalkanku! Kau berjanji akan menikahiku! Kau berjanji akan menjagaku!" teriaknya sambil mengguncang tubuh Zhang Jun. Ia meremas pakaian putih Zhang Jun yang kini penuh darah. "Siapa yang melakukan ini padamu? Apa salahmu? Kenapa mereka tega melakukan ini padamu? Kenapa?!"

Lili dan Luna yang melihat pemandangan itu ikut menangis, tidak bisa menahan kesedihan itu. Putra Mahkota Lin Hao Yu berdiri terpaku, ia berusaha mencerna kejadian itu. Para menteri dan pejabat yang mengejar dari belakang hanya diam terpaku, menundukkan kepala melihat kejadian itu.

Tak lama kemudian, Kaisar dan Permaisuri tiba. Semua orang memberi jalan. Kaisar melangkah mendekat, namun sebelum sempat Kaisar mendekat, Putri Yanxi mengangkat wajahnya. Tatapannya begitu tajam, dingin, dan penuh kebencian, menatap lurus ke arah ayahnya sendiri.

Putri Yanxi bangkit berdiri, menghapus kasar air matanya, lalu berjalan mendekati Kaisar. Suaranya bergetar namun penuh penekanan.

"Ayah... aku ingin bertanya satu hal padamu," ucap Putri Yanxi menahan tangis yang tersisa. "Apakah Ayah yang melakukan ini? Apakah Ayah yang menyuruh orang untuk membunuhnya?"

Kaisar hanya diam, wajahnya kaku, tak menjawab sepatah kata pun.

"Jawab aku!" teriak Putri Yanxi, suaranya menggema. "Kenapa Ayah tega melakukan hal keji ini?!"

Kaisar tetap bungkam, menatap putrinya tanpa ekspresi bersalah sedikit pun.

Putri Yanxi kembali menoleh ke tubuh Zhang Jun, lalu menatap lagi ayahnya dengan pandangan hancur.

"Ayah tahu? Aku pernah memimpikan sesuatu... Di dalam mimpiku itu aku sedang menghiasi rambutku dengan indah, mengenakan gaun pengantin yang begitu cantik. Lalu Jun datang, menggenggam tanganku, dan kami berjalan beriringan menuju altar. Kami bersujud memberi hormat kepada Ayah dan Ibu.. Aku juga membayangkan kami berdua akan membangun rumah tangga yang bahagia, serta memiliki dua anak yang lucu untuk menemani hari-hari kami nanti," ucap Putri Yanxi, tersenyum pilu seolah sedang melihat bayangan indah itu di hadapannya.

"Namun sekarang... semuanya hancur. Ayah telah menghancurkan segalanya, hanya demi ambisi dan kekuasaan Ayah sendiri!" lanjutnya, suaranya terdengar begitu pilu, seolah jiwanya telah ikut mati bersamaan dengan hancurnya mimpi itu.

Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang penuh kepahitan.

"Selama ini aku selalu menuruti semua keinginan Ayah. Aku selalu menjadi putri penurut yang Ayah inginkan. Aku tidak pernah membantah sedikit pun. Tapi kenapa Ayah melakukan ini padaku? Apakah aku benar-benar putri kandungmu? Apakah aku tidak berhak bahagia?"

Kaisar akhirnya menjawab dengan suara keras dan dingin, tak ada rasa penyesalan di sana.

"Ya! Aku yang menyuruh orang itu membunuhnya! Bagaimana mungkin seorang tabib miskin dan rendahan seperti dia pantas bersanding dengan seorang Putri? Untuk makan saja dia susah, bagaimana dia bisa menghidupimu? Aku melakukan ini demi kebaikanmu! Demi masa depanmu! Kau adalah putriku, aku menginginkan yang terbaik untukmu!" ucap Kaisar tegas, lalu mencoba mengulurkan tangan hendak menyentuh putrinya itu.

Putri Yanxi menepis tangan itu dengan kasar, lalu tertawa kecil yang terdengar menyedihkan dan penuh kebencian.

"Putrimu? Demi kebaikanku? Lebih baik aku tidak pernah menjadi putrimu!"

Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, Putri Yanxi menyambar pedang yang terselip di pinggang salah satu pengawal yang berdiri di dekat Kaisar. Dengan satu tebasan cepat, ia merobek lengan dan bagian depan gaun kerajaannya, seolah membuang segala atribut kebangsawanannya.

"Mulai hari ini, aku bukan lagi Putrimu! Aku tidak punya ayah, aku tidak punya ibu! dan Aku juga tidak punya keluarga!" ucapnya dengan suara bergetar namun tegas.

"Berani sekali kau bicara seperti ini hanya demi pria miskin itu!" bentak Kaisar, tangannya bergerak cepat menampar pipi putrinya itu dengan keras.

Permaisuri segera berlari memeluk lengan suaminya. "Cukup! Jangan sakiti dia lagi!"

Putri Yanxi tidak menangis karena tamparan itu. Ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan dingin dan kosong. Ia berbalik dan kembali mendekati tubuh Zhang Jun, duduk di sampingnya, dan membersihkan sisa darah di wajah kekasihnya itu dengan tangannya. Kali ini air matanya sudah kering, yang tersisa hanyalah kesedihan yang mendalam.

Ia menoleh ke arah Pangeran Haoran, Luna, Lili, dan Dafi, lalu memberi senyum tipis, senyum yang terasa begitu menyakitkan.

"Maafkan aku..." ucapnya lirih.

Tiba-tiba, tangan kanannya bergerak cepat mengeluarkan belati yang terselip di saku pakaiannya. Sebelum siapapun sempat bereaksi atau mencegahnya, Putri Yanxi menggoreskan belati itu dengan kuat ke lehernya sendiri.

"Kakak!" teriak Pangeran Haoran dan Dafi yang sempat hendak melompat maju, namun terlambat.

Darah segar keluar. Tubuh Putri Yanxi terjatuh perlahan, lalu ia memeluk tubuh Zhang Jun, menyatukan dirinya dengan pria yang dicintainya itu. Napasnya tertahan, lalu hilang selamanya. Ia lebih memilih mati bersama kekasihnya itu, agar tidak dapat terpisah lagi.

"Yanxi! Putriku!" jerit Permaisuri histeris, ia berlari dan jatuh berlutut di samping dua mayat itu, memeluk tubuh putrinya yang sudah tak bernyawa lagi. Tangisannya memecah keheningan yang mengerikan itu.

Kaisar berdiri kaku di tempatnya, Ia menatap dua tubuh yang terbaring itu dengan wajah yang pucat. Amarahnya seketika lenyap, digantikan oleh rasa penyesalan yang menghancurkan hatinya hingga ia sulit bernapas. Di depan gerbang istana itu, di bawah langit yang mulai terlihat mendung, kebahagiaan dua jiwa yang saling mencintai telah musnah, hancur oleh ambisi dan keangkuhan hati seorang ayah.

Pangeran Haoran segera menghampiri ibunya dan memeluknya dengan erat, berusaha menenangkan ibunya yang hancur. Setelah lama menangis dalam pelukan putranya itu, Permaisuri melepaskan pelukan itu, lalu berjalan terhuyung-huyung menghadap Kaisar. Tatapannya kini penuh amarah dan kekecewaan yang mendalam.

"Apakah sekarang kau puas?!" jerit Permaisuri dengan suara serak, memecah keheningan. "Apakah ini yang kau inginkan? Kau sudah membunuh putri kandungmu sendiri!"

Kaisar hanya diam membisu, menundukkan wajahnya tanpa berani menatap istrinya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, seolah ia tak mampu membela diri atas perbuatannya yang keji itu.

Melihat sikap suaminya yang diam saja, hati Permaisuri semakin teriris. Ia menarik napas panjang, lalu mengucapkan kata-kata yang memutuskan segalanya dengan tegas.

"Aku tidak mungkin lagi bisa hidup bersama dengan seorang pembunuh sepertimu... apalagi pembunuh anak kandungnya sendiri. Aku tidak sanggup," ucapnya dengan suara bergetar. Ia menunjuk lurus ke arah Kaisar dengan tatapan penuh kebencian. "Aku ingin bercerai darimu. Mulai hari ini, aku tidak ingin lagi tinggal bersama iblis berhati dingin sepertimu!"

"Ibu, jangan bicara seperti itu... Tenangkan diri Ibu dulu," bujuk Pangeran Haoran sambil kembali memeluk ibunya, berusaha meredakan kemarahan dan kesedihannya itu.

"Haoran... Tolong bawa Ibu pergi dari sini. Ibu tidak mau tinggal di istana ini lagi. Ibu tidak mau melihat wajah ayahmu itu lagi," isaknya.

Sementara itu, di sudut lain, Putra Mahkota Hao Yu hanya berdiri diam. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata yang sangat dingin dan tajam. Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang anak kepada ayahnya, melainkan tatapan penuh penghakiman. Dalam keheningan itu, tatapan Hao Yu seolah bertanya, Apakah benar semua kejahatan ini perbuatan Ayah sendiri? Bagaimana Ayah bisa melakukan hal sekejam ini?

Kaisar yang merasakan tatapan tajam putra sulungnya itu perlahan mendongak, namun saat mata mereka bertemu, ia justru memalingkan wajah karena tak kuasa menahan rasa bersalah yang kini mulai membakar hatinya.

Pangeran Haoran segera menenangkan ibunya. "Ibu, cobalah tenangkan diri ibu sebentar," bujuknya lembut namun tegas, meski suaranya pun terdengar bergetar menahan duka. "Sekarang bukan waktunya untuk marah. Ini saatnya kita melakukan hal terakhir untuk Kak Yanxi dan Zhang Jun. Kita harus mengantar mereka dengan penuh penghormatan dan kedamaian, agar jiwa mereka bisa beristirahat dengan tenang di alam sana."

Permaisuri terisak, namun perlahan ia mulai mengangguk, menyadari bahwa kemarahan tidak akan bisa mengembalikan nyawa putrinya. "Benar... Kau benar, Haoran. Kita harus mempersiapkan segalanya agar mereka beristirahat dengan tenang," ucapnya lirih.

Akhirnya, dengan hati yang hancur dan duka yang mendalam, mereka pun mempersiapkan upacara pemakaman itu. Jenazah Putri Yanxi dan Zhang Jun dibaringkan berdampingan, mengenakan pakaian serba putih.

Upacara itu dilaksanakan dengan penuh hormat. Seluruh anggota keluarga kerajaan, para menteri, dan rakyat yang mendengar berita tragis itu turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir mereka. Suasana pun dipenuhi isak tangis, mengiringi kepergian sepasang kekasih itu.

Di samping peti jenazah yang menyatu itu, Pangeran Haoran berdiri dengan wajah pucat dan mata bengkak. Ia menatap wajah kakaknya yang tampak damai seolah sedang tertidur.

"Selamat jalan, Kak," bisik Haoran pelan, air matanya kembali menetes. "Kau akhirnya bersatu selamanya dengan orang yang kau cintai. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan kalian sekarang."

Luna yang berdiri di sampingnya mengusap bahu suaminya, berusaha menguatkan sekaligus menguatkan dirinya sendiri. "Mereka sudah tenang sekarang, Haoran. Biarkan mereka pergi dengan damai."

Dafi dan Lili pun berdiri di sisi lain, menundukkan kepala penuh penghormatan. "Zhang Jun... Terima kasih pernah menyelamatkan nyawaku. Maaf aku tidak bisa menyelamatkan nyawamu kali ini," gumam Dafi dengan suara tertahan.

Permaisuri berdiri di kepala peti, tangannya gemetar menyentuh wajah putrinya untuk terakhir kalinya. "Anakku... Maafkan Ibu tidak bisa melindungimu. Beristirahatlah dengan tenang, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu," isaknya pilu.

Sementara itu, Kaisar berdiri agak terpisah dari yang lain. Wajahnya pucat, tatapannya kosong dan kaku. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun raut wajahnya memperlihatkan kepedihan dan penyesalan yang mendalam, penyesalan yang datang terlalu terlambat, di saat segalanya sudah hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi. Putra Mahkota Lin Hao Yu berdiri di samping ayahnya, namun tatapannya tetap dingin, seolah ayahnya hanyalah orang asing yang tidak ia kenal lagi.

Setelah seluruh rangkaian upacara selesai, peti jenazah itu perlahan ditutup dan diturunkan berdampingan untuk selamanya. Diiringi doa dan isak tangis, mereka mengantar kepergian Putri Yanxi dan Zhang Jun ke peristirahatan terakhir mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!