Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petik Apel
Udara akhir pekan terasa sejuk dan segar, bercampur aroma tanah serta daun kering. Satura dan Vandini sedang menuntun anak-anak masuk ke dalam mobil. Ide mengajak Connan dan Cia ke perkebunan apel di pinggiran kota ini, ide dari Sarura.
Satura yang menyetir, sesekali melirik ke arah Vandini di kursi penumpang. Wanita itu hanya diam menatap keluar jendela. Di bangku belakang, Connan dan Cia justru bersorak antusias membayangkan Apel mana yang akan mereka pilih.
"Aku bakal cari yang paling besar!" seru Connan.
Satura terkekeh pelan sambil mengikuti langkah anak itu, tangan besarnya menggenggam erat tangan mungil Cia. Vandini berjalan di samping mereka, memperhatikan Satura dengan hati-hati mengangkat Cia melewati genangan lumpur. Rasanya hampir seperti masa-masa dulu saat jalan-jalan keluarga masih terasa biasa dan mudah.
Saat berjalan menyusuri area perkebunan, tiba-tiba Cia berhenti dan menunjuk sebuah apel yang bentuknya agak aneh.
"Yang ini, Pa! Lucu banget!" seru si kecil sambil tertawa kecil.
Satura lalu berjongkok di sebelahnya, membantunya memeriksa apel itu, dan tawanya pun ikut bergema menyahut tawa putrinya. Vandini memandangi pemandangan itu, dadanya terasa hangat namun sekaligus sesak melihat kedekatan mereka.
Tak lama kemudian, Connan menarik tangan Vandini, mengajaknya melihat temuan lainnya.
"Ma, lihat! Ini gede banget! Boleh kita ambil nggak?"
Vandini tersenyum lalu ikut berjongkok. "Ukuran ini hampir sama kayak kamu, Connan! Kayaknya kita butuh mobil truk nih kalau mau bawa pulang."
Semua orang tertawa, termasuk Satura. Pria itu menatap Vandini dan membalas senyumnya dengan ragu, seakan merasa bersyukur karena untuk sesaat suasana di antara mereka terasa cair dan akrab.
Mereka berkeliling cukup lama membantu anak-anak memilih apel favorit masing-masing. Perlahan, rasa tegang di dada Vandini mulai mengendur terbawa suasana tenang hari itu.
Kemudian mereka duduk bersama di meja piknik, menikmati sari apel hangat dan donat kayu manis. Wajah anak-anak memerah karena udara dingin, mulut mereka berbekas gula saat lahap menyantap camilan.
Satura menyodorkan secangkir sari apel ke arah Vandini. Tatapannya hangat namun ragu, tangannya sempat terhenti sejenak sebelum gelas itu berpindah tangan.
"Makasih," gumam Vandini pelan. Jantungnya berdegup aneh hanya karena pertukaran sederhana ini.
Satura hanya mengangguk, wajahnya tampak berharap lebih, seakan ingin berkata banyak tapi menahannya sendiri.
Di tengah kebahagiaan anak-anak yang asyik dengan makanan mereka, Vandini merasakan perasaan campur aduk menyelimuti hatinya. Ia sadar, satu hari yang indah ini takkan bisa mengubah segalanya atau menghapus jarak yang terbentang di antara dirinya dan Satura.
Namun untuk saat ini, untuk detik yang berharga ini, ia membiarkan dirinya merasa menjadi bagian dari keluarga ini lagi. Ia membiarkan dirinya merasakan kebahagiaan dan kasih sayang yang terpancar dari kedua anak mereka.
Saat bersiap pulang, Satura dengan hati-hati mendudukkan Cia ke car seat dan mengikatkannya dengan sabar. Vandini memperhatikannya, merasa bersyukur melihat Satura begitu perhatian pada anak-anak, namun juga waspada karena perasaan lembut yang mulai muncul kembali.
Mungkin mereka belum utuh, tapi setidaknya hari ini mereka berhasil menciptakan kenangan indah untuk Connan dan Cia.
Di perjalanan pulang, Vandini menyandarkan kepala di kaca jendela. Ia mendengar suara anak-anak dan membiarkan kehangatan hari itu menetap sedikit lebih lama. Setidaknya hari ini mereka berbagi sesuatu yang nyata, sebuah momen bahagia yang bisa ia simpan dalam hati walau hanya untuk sementara waktu.
... ***...
Sorenya, anak-anak akhirnya tertidur pulas. Rumah menjadi sunyi dan tenang.
Vandini sedang di dapur mencuci piring dengan pikiran melayang, saat Satura masuk. Pria itu tampak ragu, seakan tidak yakin apakah kehadirannya diinginkan.
"Vandini," panggilnya pelan, memecah keheningan.
Vandini mengangkat wajah, menyadari nada bicara Satura terdengar sangat serius. Ia segera mengelap tangan dan memusatkan perhatian padanya.
"Ada sesuatu yang mau aku minta sama kamu," lanjut Satura. Tatapannya tegas namun jelas menyiratkan kerentanan. "Kamu tahu kan aku lagi terapi? Dan itu... membantu. Berat sih, tapi emang beneran bagus."
Satura berhenti sejenak, seakan mencari kata yang tepat. Jantung Vandini mulai berdegup lebih kencang, ia tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Satura menarik napas panjang. "Aku pengen banget kamu ikut juga. Cuma... satu sesi aja. Kamu nggak perlu ngomong apa-apa kalau nggak mau, tapi aku rasa ini bisa bantu. Bukan cuma buat aku, tapi buat kita berdua, biar kita bisa benar-benar saling dengerin."
Denyut nadi Vandini seakan berpacu. Naluri pertamanya adalah menolak dan membentengi diri. Bayangan harus duduk satu ruangan dengan Satura, membuka hati di depan orang asing, membuatnya merasa rapuh, sesuatu yang belum siap ia hadapi.
Namun saat menatap Satura yang berdiri di sana dengan tekad yang bulat, Vandini melihat sesuatu yang tak terduga. Pria itu benar-benar berusaha memperbaiki segalanya. Ini bukan sekadar meminta maaf, tapi Satura mengajaknya terlibat dalam proses penyembuhan ini. Ia mengakui bahwa tidak bisa melakukannya sendirian.
Dan di saat itu juga, Vandini sadar bahwa mungkin, ini adalah jalan untuknya juga menemukan kepastian. Ini cara untuk meluapkan kekecewaan, amarah, dan juga rasa cinta yang masih tersimpan tanpa harus terhalang tembok tinggi yang selama ini mereka bangun.
Vandini menarik napas panjang. Dia benar-benar bimbang, belum siap menghadapi semua ini.
"Aku nggak tahu, Satura," ucapnya jujur. "Ini... semua ini masih terlalu sakit buat aku. Aku belum siap."
Satura mengangguk, menerima keraguannya tanpa memprotes sedikit pun. Dia mengerti bahwa ini bukan hal yang mudah.
"Aku paham kok. Aku tahu ini permintaan yang berat. Aku cuma mikir, mungkin ini cara terbaik buat kita ngobrol serius dengan bantuan profesional. Aku bisa nunggu sampai kamu beneran siap."
Kerentanan dan kejujuran pria itu menyentuh hati Vandini. Selama ini Satura selalu menghargai permintaannya untuk diberi waktu dan ruang sendiri. Mungkin inilah saatnya mulai melangkah maju, walau perlahan. Vandini pun menatap lurus ke mata pria itu dengan tatapan tegas namun waspada.
"Satu sesi aja," ucapnya pelan tapi mantap. "Aku bakal ikut kamu satu sesi."
Rasa lega langsung terpancar jelas di wajah Satura. Dia mengangguk, berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu heboh.
"Makasih banyak, Vandini."