kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Kata itu muter-muter di kepala Sitoh seperti paku karatan.....Anaknya sendiri, adiknya atau keponakannya, Dia melirik ke belakang toko, ke kamar tempat anak bungsunya masih tidur mengorok. Tangannya yang memegang lap kaca tiba-tiba dingin.
Di rumah Kadir, suara ketokan palu dan alat truk dari proyek itu terdengar jelas. Setiap hentakan besi ke tanah seperti mengingatkan kalau waktu tidak akan berhenti.
Kadir yang baru selesai baca wirid habis subuh mengangkat kepala. Ia tidak bicara apa-apa. Cuma melihat ke Ayu yang lagi menyapu halaman, punggungnya bungkuk kecil, rambutnya ketutup kerudung kusut.
Ayu tidak menoleh, Tapi sapu lidi di tangannya pelan-pelan berhenti, Dia merasa ada yang aneh hari ini. Udara pagi yang biasanya segar, sekarang berat. seperti ada yang mengawasi dari balik tembok tetangga.
Dari kejauhan, suara truk mundur terdengar lagi. _Tiit... tiit... tiit..._
Dan bersamaan dengan itu, seekor ayam di kandang tetangga tiba-tiba berkokok panjang di luar waktu. Kadir berdiri, Golok kecil yang semalam ditaruh di pangkuan sekarang sudah pindah ke balik pintu.
“Wati,” katanya singkat“.Jaga adikmu dan Jangan biarkan dia keluar pagar hari ini.” Wati tertegun mendengar ucapan ayahnya dan tangan yang memegang gelas kopi hampir tumpah.
Kadir berdiri dan Golok kecil yang semalam ditaruh di pangkuan sekarang sudah pindah ke balik pintu. Matanya yang tajam tidak mengarah ke ayam itu tapi matanya lurus ke tembok semen yang jadi batas sama rumah Sitoh.
“Wati....! Suruh adekmu masuk kerumah,” suaranya rendah, karena mendengar suara diluar, anak-anak kadir yang sedang memasak di dapur langsung keluar dan saat itu mereka melihat kakaknya Wati menarik tangan ayu untuk cepat-cepat masuk kedalam rumah
"ada apa".tanya Siska anak Pak kadir yang paling bungsu.
"diluar seperti ada yang mengawasi rumah ini".kata Wati
"astaghfirullah, apa lagi ini ya Allah dan apakah kakak tau siapa orangnya". tanya anak Pak kadir yang nomor dua dan Wati hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena ia tidak tahu siapa yang sudah mengawasi rumahnya.
Kadir tidak menjawab dan ia jalan dua langkah ke depan, menginjak tanah halaman yang masih basah embun lalu berhenti saat bayangannya pas nempel di garis tembok.
dari balik sana, tidak ada suara. Tapi Kadir tau, yang menunggu bukan orang, jika dia orang kalau mengintip bakal geser....ini tidak? Ini seperti menahan napas, menunggu dia lengah.
Dia tidak mengambil goloknya, Kalau yang di balik tembok itu makhluk yang mengerti bahasa manusia, senjata cuma bikin dia tertawa. Kadir malah melangkah maju dan setengah langkah lagi, suaranya datar tapi jelas.
“Kalau kau tamu, sebut namamu dan Kalau kau bukan, pulanglah dan jangan menganggu anakku, jika kau lapar makanlah orang yang telah mengirimkan kau kesini".
Kadir tidak menjawab dan ia jalan dua langkah ke depan, menginjak tanah halaman yang masih basah embun lalu berhenti saat bayangannya pas nempel di garis tembok.
Dari balik sana, tidak ada suara. Tapi Kadir tau, yang menunggu bukan orang. Kalau dia orang, kalau mengintip bakal geser....ini tidak? Ini seperti menahan napas, menunggu dia lengah.
Kata-kata itu jatuh di telinga anaknya Pak kadir seperti batu yang di lempar ke air.
tidak ada riak dan tidak ada gema. Tapi tembok itu… bergetar pelan.
Getarannya tidak kelihatan, Cuma bisa dirasa di telapak kaki. seperti ada sesuatu besar yang menarik napas dalam-dalam dari sisi lain.
anak kadir yang berdiri di pintu langsung mundur sampai punggungnya nempel kusen. Wati otomatis menutup mulut Ayu pakai tangan, takut adiknya keburu menyahut sesuatu yang tidak perlu dijawab.
lalu suara itu datang...tidak jelas dengan kata-kata dan bahasa Geraman seperti orang menahan amarah. Kadir tidak bergeming, ia malah sedikit menunduk, telapak tangan kanannya ia buka di depan dada.
“Pergi,” katanya sekali lagi dan Kali tidak ada tambahan, hanya satu kata.
Angin yang tadi mati tiba-tiba berhembus. Dingin dan bersamaan dengan itu, bau besi tua dan kemenyan setengah bakar itu hilang. Diganti bau tanah basah. Di balik tembok, suara napas serak itu mundur. "Sret… sret" pelan dan menjauh, seperti ada sesuatu yang menyeret perutnya di tanah untuk kabur.
Kadir tetap berdiri di tempatnya sampai suara itu benar-benar hilang.....Baru dia balik badan. Mukanya datar, tapi di pelipisnya ada satu urat yang nahan.“sudah pergi,” katanya pendek ke Wati dan anaknya yang lain,
“Tapi dia bakal balik, Bawa yang lebih lapar dan Wati jaga ayu, untuk yang lain jaga cucu-cucuku dan jangan lepas dari pengawasan.”
Ayu yang dari tadi diam tiba-tiba berbisik,
“Bapak… kalau yang mengirim, orangnya tidak mau mundur juga gimana?”
Kadir melihat ke arah toko Sitoh yang atap sengnya sudah keliatan dari balik pohon jambu, Dia tidak menjawab langsung. Cuma bilang, “Kalau begitu, benteng ini harus lebih tinggi dari tembok.”
Dan seketika udara di dalam rumah kadir hanya di hiasi dengan keheningan dan malam ini adalah malam ke tiga tahlilan Midah dan sore nanti menantu kadir baru pulang dari kerja.