Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Aku berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan aku juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naluri Seorang Ibu Tidak Pernah Salah
PRAAANKK!
BRUAAAKK!
"GAK MAUU!! PERGI SANAA.. AKU MAU AKSAA!!
Pagi hari yang cerah bukannya menyambut indahnya sinar sang mentari. Dikediaman mewah itu justru terjadi kegaduhan.
Aida mengamuk pagi ini karena baru saja bangun dari tidurnya Aida tidak melihat pria yang telah menolongnya kemarin.
Aida menolak untuk dimandikan, Tidak mau sarapan pagi sampai pelayan yang biasa melayani wanita paruh baya itu kelabakan dan bingung tak tahu harus bagaimana.
"Nyonya.. Saya mohon jangan seperti ini..
"GAK MAU! AKU MAU AKSAA.. AKSAA! AKU MAU PUTRAKU..
Mendengar kegaduhan yang terjadi Tama dan Steve segera berlari ke kamar. Sepasang ayah dan anak itu ingin tahu apa yang terjadi.
"Sayang....
Tama langsung memeluk sang istri. Padahal tadi pagi ketika pria itu terbangun dan meninggalkan sang istri. Aida masih tidur dengan nyenyak.
Tama hanya meninggalkan Aida keruang kerjanya saja, Tak lama wanita itu sudah terbangun dan mengamuk serta menangis.
"Sayang, Ada apa? Kenapa sepagi ini kamu berontak.." Aida terdiam setelah dipeluk nyaman oleh Tama..
"Aksaa.." Hanya nama itu yang disebut oleh Aida bukan yang lainnya.
"Tuan, Sejak tadi Nyonya memanggil nama Tuan Aksa.. Saya sudah mencoba menenangkannya tapi Nyonya tetap saja berontak dan mengamuk.." Kata seorang pelayan yang biasa merawat Aida. Tidak biasanya wanita itu seperti ini. Biasanya, Aida akan tenang setelah diberikan boneka yang selalu dibawanya tapi pagi ini, Aida tak mau lagi dengan wanita itu.
"Aksa! Aku mau aksa Mas.. Kemarin saat aku bangun tidur dia ada disampingku.." Racau Aida lagi. Yang dia mau adalah Aksa, Pria yang telah menolongnya kemarin. Ya, Tidak salah lagi, Pria yang kemarin menolongnya itu adalah Aksa putranya.
Meski Aida masih terlihat seperti orang gila. Namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam ada perasaan aneh saat berdekatan dengan Kaivan. Apalagi setelah melihat tanda hitam di pundak pria itu.. Tanda itu sama persis dengan tanda yang dimiliki oleh putranya yang hilang.
Aida merasa yakin kalau Kaivan itu adalah putranya. Nalurinya sebagai seorang ibu tak dapat dibohongi.
"Sayang.. Aksa udah gak ada.. Kamu harus belajar ikhlas ya.." Aida menggelengkan kepalanya cepat. Wanita itu menatap sang suami dengan yang memerah.
"Enggak! Aksa masih hidup.. Dia tampan.. Dia kemarin yang..
"Sayang, Pria kemarin itu bukan Aksa..
"DIA AKSA MAS!! Aku lihat tanda hitam di pundaknya.. Dia aksa.. Aku mau ketemu aksa.." Tama menatap sang putra bungsu. Steve mengangguk..
"Iya.. Kita akan ketemu dia, Tapi kamu sarapan dulu ya.. Setelah itu mandi.." Aida mengangguk senang. Tama menarik nafas panjang..
"Tapi mandinya sama Mas ya.." Tama mengangguk. Pria itu memberi kode pada pelayan dan Steve agar keluar dari kamarnya.
Sesuatu yang aneh juga Tama rasakan. Istrinya kembali memanggilnya dengan sebutan 'Mas' Setelah sekian lama baru hari ini Aida memanggilnya dengan sebutan tersebut.
"Sekarang sarapan dulu ya..
"Iya...
Tanpa mengatakan apapun, Steve dan pelayan itu pun keluar dari kamarnya. Meninggalkan kedua orang tuanya didalam sana.
Steve terdiam dibalik pintu itu. Sejak tadi Mamanya selalu menyebut pria yang telah menolongnya kemarin adalah Aksa kakaknya yang hilang puluhan tahun lalu itu.
" Apa benar pria yang kemarin itu adalah kakakku? Sepertinya aku harus cari tahu siapa pria itu.. Mama sangat yakin kalau pria itu adalah Kak Aksa.. " Steve meraih benda pipihnya dan menghubungi seseorang.
"Halo Tuan muda?
"Aku ingin kau mencari tahu tentang seseorang...
...****************...
Didalam kamar itu, Tama menyuapi sang istri dengan telaten. Satu hal yang membuat Tama heran sejak tadi, Istrinya seolah kembali seperti dulu. Dia melihat Aida dimasa lalu dan itu membuat Tama bahagia. Biasanya wanita itu tak pernah lepas dari boneka yang biasa dibawanya. Tapi kali ini, Boneka itu tergeletak begitu saja dan tak dipedulikan.
Saat sarapan pun Nyonya Aida tidak banyak drama seperti hari-hari biasanya. Wanita paruh baya itu memakan sarapannya dengan tenang.
"Mas.." Pergerakan Tuan Tama berhenti. Pria itu menatap sang istri dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.
Kata 'Mas' itu sudah dua kali Aida sebutkan. Padahal biasanya Aida selalu menyebut orang yang berhadapan dengannya 'Kamu'
"Mas, Aku mau ketemu Aksa.. Pria yang datang kesini buat nganterin aku itu Aksa anak kita.. Dia punya tanda hitam di bahunya Mas.. Tanda itu sama persis seperti punya kamu.." Tama tertegun. Ia terdiam beberapa saat menatap sang istri dengan sangat lekat.
Istrinya tiba-tiba bisa bicara dengan nada yang normal. Tidak seperti orang gila yang orang lain katakan. Bahkan tatapan matanya sungguh sangat berbeda. Tak ada tatapan mata sedih disana, Tatapan mata itu adalah tatapan keyakinan.
"Sayang.. Kamu tahu darimana dia punya tanda dibahunya?" Ya, Darimana istrinya itu tahu kalau pria yang kemarin datang itu punya tanda lahir yang begitu mirip dengan putranya. Tama bahkan masih ingat dengan tanda itu, Karena Tama pun punya tanda itu namun bukan dibahu melainkan di lengan kirinya.
"Dia sempat gak pakai baju.. Makanya aku tahu kalau dia punya tanda.." Ucap Aida mengingat kejadian pagi kemarin.
"Mas.. Kita kerumahnya yuk.. Aku tahu rumahnya.." Tama masih diam, Otaknya masih belum bisa mencerna. Istrinya telah kembali sekarang..
"Mas!!
"Sayang, Kamu sembuh??" Tama langsung memeluk istrinya itu. Sesuatu perkembangan yang baru saja terjadi pada Aida selama puluhan tahun lamanya. Akhirnya wanitanya kembali seperti dulu. Istrinya sembuh dan dia sangat bahagia..
"Ya, Kita akan pergi kesana. Kita akan menemui putra kita.." Tama langsung menyanggupi permintaan istrinya. Tapi sebelum itu Tama akan memanggil dokter lebih dulu untuk memastikan kondisi istrinya ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana dok?" Tanya Tama pada dokter yang biasa memeriksa Aida. Pria itu sudah tak sabar ingin tahu apa keterangan dokter.
"Tuan Tama.. Ini, Sungguh perkembangan yang luar biasa. Perkembangan yang tak bisa saya bayangkan sama sekali. Padahal satu minggu yang lalu saya periksa Nyonya masih seperti sebelum-sebelumnya. Tapi hari ini, Nyonya.. Ah saya tidak bisa berkata-kata apapun. Nyonya kembali normal." Ucap dokter yang tak menyangka sama sekali bahwa pasiennya yang ini sungguh langsung mengalami perubahan. Meski masih ada sikap Aida yang seperti awal-awal seperti orang gangguan jiwa namun sungguh wanita itu membuat Tama dan Steve bahagia. Padahal tadi sat baru bangun tidur Aida mengamuk.
"Begini Dokter.. Kemarin istri saya hilang. Dia di tolong oleh seorang pria tampan.. Dan dia menganggap pria itu adalah putra kami yang hilang itu.."
"Tuan.. Bisa jadi pria yang menolong Nyonya benar-benar putra anda yang hilang.. Karena Nyonya adalah seorang ibu Tuan. Firasat dan naluri seorang pria tidak bisa salah dan tidak bisa dibohongi begitu saja.." Tama terdiam, Ya.. Pria itu, Tama memang merasa tidak asing. Tapi jika memang pria itu adalah putranya yang hilang itu, Sungguh Tama akan sangat bahagia. Andai bukan, Tama akan menjadikan Kaivan putranya karena berkat pria itulah Istrinya sembuh.
"Pa..
"Kita akan kerumah pria yang kemarin itu. Eum, Siapa namanya?
"Kai.. Kai ah Steve juga lupa pa..
"Ah, Kamu ini.. Masih muda sudah lupa gimana sih??
"Tapi gimana caranya kita kesana Pa? Kita bahkan tidak tahu dimana rumahnya.." Tama menjitak kening putranya itu.
"Aawwss.. Sakit Pa..
"Mama bilang tadi dia tahu rumah pria itu.. Bagaimana kalau kita datang kesana untuk memastikan apakah pria itu adalah kakakmu atau bukan?" Steve mengangguk setuju sekali. Untuk kali ini dia tidak akan mundur. Mamanya sembuh setelah bertemu dengan pria itu, Dan itu artinya pasti ada sesuatu.
"Okey Pa.. kita kesana sekarang.." Tama mendekat pada Aida yang masih terdiam.
"Sayang..
"Ya..
"Katanya kita mau pergi kerumah pria yang kemarin itu? Gimana? Kita jadi pergi?" Aida mengangguk antusias sekali.
"Ayo.. Dia Aksa Mas.. Aku udah gak sabar ingin ketemu sama dia..
"Ya kita kesana sekarang.." Aida terlihat bahagia sekali. Apapun akan pria itu lakukan demi wanita yang ia cintai ini. Baik sejak dulu hingga sekarang bahkan nanti...
•
•
•
TBC