Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.
Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.
Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Shaka masih menatap dus di tangan Hanindya beberapa detik lamanya sebelum akhirnya perlahan menerima dus itu. Tangannya yang besar dan penuh bekas luka kasar menyentuh kardus coklat tersebut dengan hati-hati, seolah benda sederhana itu adalah sesuatu yang asing baginya. Shaka menelan ludahnya dengan pelan, sudah lama sekali tidak ada orang yang memberinya sesuatu dengan niat tulus seperti ini. Biasanya semua yang ia dapatkan selalu disertai syarat, bentakan, atau ancaman. Bahkan selama hidupnya di jalanan bersama Ozy dan lingkungan buruk yang menyeretnya ke dunia narkoba, orang-orang hanya datang kalau ada maunya saja. Namun keluarga Ustadz Haidar berbeda.
Mereka baru mengenalnya beberapa jam, tapi sudah memberinya tempat tinggal, makanan, bahkan pakaian. Shaka menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
“Terima kasih.” ucapnya dengan suaranya yang rendah dan terdengar sedikit canggung namun Hanindya bisa menangkap ketulusan di dalamnya.
“Tidak perlu sungkan,” jawab Hanindya lembut. “Abi dan ummi memang menyiapkannya untuk kak Shaka.”
Kata “kak” yang keluar dari bibir Hanindya entah kenapa membuat dada Shaka terasa aneh. Sudah lama sekali tidak ada yang memanggilnya dengan nada sehalus itu. Biasanya orang-orang memanggilnya dengan nada takut, sinis, atau kasar. Shaka akhirnya memeluk dus itu pelan di dadanya.
Untuk beberapa detik suasana kembali hening. Angin pagi berhembus lembut melewati lorong asrama. Dari kejauhan terdengar suara santri-santri yang mulai masuk kelas. Ada yang tertawa kecil dan ada yang saling memanggil temannya, namun di depan kamar kecil itu, Shaka justru merasa waktu seperti melambat. Hanindya sendiri masih berdiri di depan pintu, sementara Shaka malah mendadak bingung sendiri harus berkata apa lagi. Jujur saja, keberadaan perempuan itu di depannya membuat dirinya tidak tenang. Tatapan matanya diam-diam memperhatikan Hanindya. Gamis krem yang dikenakan perempuan itu tampak sederhana, tapi entah kenapa membuat penampilan perempuan itu terlihat sangat cantik. Wajahnya juga terlihat teduh, sangat berbeda dari perempuan-perempuan yang selama ini pernah ada di sekitar hidup Shaka.
Hanindya lalu perlahan mengangkat pandangannya sedikit. Tidak terlalu lama, hanya sekilas. Dan di situlah ia akhirnya benar-benar memperhatikan penampilan Shaka dari dekat. Rambut lelaki itu cukup panjang untuk ukuran santri laki-laki. Sedikit berantakan dan jatuh menutupi dahinya. Belum lagi tatapan mata tajamnya yang selalu terlihat dingin. Ditambah tubuh tinggi besar serta rahang kerasnya membuat Shaka terlihat seperti seseorang yang mudah terlibat masalah.
Hanindya terdiam sebentar dan Shaka yang sadar dirinya diperhatikan langsung sedikit salah tingkah.
“Ada apa?” tanyanya pelan dan membuat Hanindya tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata hati-hati,
“Boleh saya bicara sesuatu?”
Shaka mengernyit kecil namun mengangguk.
“Iya.”
Hanindya menarik napas kecil.
“Kak Shaka... mungkin sebaiknya rambutnya dipotong sedikit.”
Shaka langsung terdiam. Tangannya tanpa sadar menyentuh rambutnya sendiri, membuatnya Hanindya cepat-cepat melanjutkan perkataannya dengan nada hati-hati agar tidak terdengar menyinggung.
“Bukannya jelek...” kata Hanindya pelan. “Cuma... kalau di pesantren biasanya rambut santri tidak sepanjang itu.”
Shaka masih diam menatapnya dan anehnya ia sama sekali tidak marah. Padahal kalau orang lain yang mengomentari penampilannya seperti itu, mungkin sudah ia tatap dingin atau ia abaikan mentah-mentah.
Namun ini Hanindya dan entah kenapa ucapan perempuan itu justru terdengar bagus di telinganya. Hanindya lalu kembali berkata pelan,
“Dan mungkin... kak Shaka juga bisa sedikit memperbaiki penampilan.”
Shaka mengangkat alisnya dengan samar.
“Penampilan?”
Hanindya mengangguk kecil.
“Iya.” Perempuan itu tampak sedikit gugup sekarang. “Maaf kalau saya lancang.”
“Enggak,” potong Shaka cepat cepat.
Hanindya menatap lantai sebentar sebelum akhirnya berkata jujur,
“Kak Shaka kelihatannya menyeramkan.”
Shaka langsung membeku. “Maksud saya bukan menyeramkan yang jahat.” Shaka hampir ingin tertawa mendengar penjelasan gugup itu. “Tapi wajah kakak itu terlihat galak sekali,” lanjut Hanindya pelan. “Tadi beberapa santri bahkan takut untuk mendekat.” Shaka terdiam sementara Hanindya menggenggam ujung lengan gamisnya dengan pelan. “Mungkin kalau kakak lebih sering tersenyum, mungkin orang-orang tidak akan terlalu takut.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening. Shaka benar-benar tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Hanindya cukup lama sampai perempuan itu mulai merasa salah bicara, namun sebenarnya bukan itu. Shaka diam karena hatinya mendadak terasa hangat oleh sesuatu yang asing dan Hanindya memperhatikannya. Hanindya peduli bagaimana orang lain melihat dirinya dan lebih parahnya lagi, Shaka justru senang mendengarnya. Sangat senang sampai-sampai dadanya terasa aneh.
Beberapa detik kemudian Shaka akhirnya berdeham pelan.
“Memangnya saya terlihat segalak itu, ya?”
Hanindya tanpa sadar tersenyum kecil.
“Iya.”
Jawaban jujur itu membuat Shaka terkesiap kecil dalam hati.
"Astaga, perempuan ini benar-benar polos sekali." Gumam Shaka di dalam hatinya.
Shaka mengusap tengkuknya pelan sambil menahan senyum tipis yang hampir muncul di bibirnya.
“Pantes aja dari tadi banyak yang ngeliatin saya.” ujar Shaka yang membuat Hanindya ikut tersenyum samar.
“Nanti santri-santri pasti akan terbiasa.”
Shaka menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kalau saya potong rambut... terus coba lebih sering senyum...” Ia menggantung kalimatnya sebentar. “Apa saya bakal kelihatan lebih baik?”
Hanindya mengangguk kecil tanpa ragu.
“Iya.”
Jawaban sederhana itu entah kenapa langsung menghantam sesuatu di dalam dada Shaka. Sudah lama sekali tidak ada orang yang percaya dirinya bisa menjadi lebih baik. Selama ini semua orang selalu memandangnya sebagai anak rusak, preman, sampah jalanan, pecandu dan pengedar. Namun pagi ini seorang perempuan bernama Hanindya malah berkata kalau dirinya bisa terlihat lebih baik. Dan bodohnya, Shaka ingin mempercayai itu. Hanindya lalu mundur selangkah kecil.
“Kalau begitu saya pergi dulu.” ujar Hanindya yang membuat Shaka langsung merasa sedikit kecewa namun ia cepat-cepat menutupinya.
“Iya.”
Hanindya kembali menunduk sopan.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Perempuan itu lalu berbalik pergi menyusuri lorong asrama sementara Shaka masih berdiri di depan pintu sambil menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Sampai akhirnya Hanindya benar-benar menghilang di ujung lorong. Dan baru setelah itu Shaka sadar kalau dirinya sedang tersenyum kecil. Menyadari hal itu, lelaki itu langsung terdiam.
Tangannya tanpa sadar menyentuh sudut bibirnya sendiri.
“Astaghfirullahaladzhim...” gumamnya pelan.
Sudah berapa lama ia tidak tersenyum seperti ini? Shaka lalu masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu perlahan. Ia menaruh dus itu di atas kasur lalu membukanya pelan. Di dalamnya terdapat beberapa baju koko yang masih sangat bagus. Ada sarung yang dilipat rapi. Bahkan ada peci hitam sederhana. Shaka menatap semua itu cukup lama dan membuat dadanya mendadak terasa sesak.
Entah kenapa ia jadi teringat masa kecilnya.
Dulu, sebelum hidupnya hancur seperti sekarang, ibunya pernah membelikannya baju koko murah untuk dipakai shalat Jumat. Namun setelah ibunya meninggal, semua berubah berantakan. Shaka menghembuskan napasnya dengan kasar lalu mengusap wajahnya dengan cepat.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.