NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: CANGKIR COKLAT PANAS DAN PENGAKUAN

Hujan masih turun pelan di luar jendela. Suara rintiknya mengetuk kaca seperti lagu pengantar tidur yang tidak pernah selesai. Jam sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB

Rumah besar keluarga Harsono tampak sepi. Terlalu sepi. Sejak pulang dari kontrakan Tiara sore tadi, suasana rumah itu terasa berat. Seperti ada awan gelap yang menggantung di setiap sudut ruangan.

Kirana belum tidur. Dia duduk di balkon kamar lantai dua dengan selimut tipis melilit tubuhnya. Angin malam menerpa wajahnya yang pucat. Matanya masih merah. Wajah Sari yang menangis di pangkuan Tiara terus berputar di kepalanya.

"Bagaimana kalau Sari besar nanti dan bertanya kenapa ayahnya tidak ada?" batin Kirana. "Bagaimana kalau Tiara harus membesarkan Sari sendirian karena kesalahan kita?"

Kirana memeluk lututnya lebih erat. Dadanya terasa sesak. Dia tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis sejak sore tadi. Sekarang yang tersisa hanya rasa takut yang dingin.

Takut kalau orang bertato naga itu juga akan menyentuh Arga. Takut kalau orang dibalik semua ini akan melakukan hal yang sama ke orang terdekatnya. Entah kenapa sekarang dia juga takut kalau suatu hari nanti... dia benar-benar akan kehilangan Arga.

Saat ini Arga belum tidur. Dia berdiri di depan jendela ruang kerjanya dengan segelas air putih yang belum diminum. Pandangannya kosong menatap taman yang basah karena hujan.

"Aku sudah gagal melindungi satu nyawa," batin Arga. "Aku tidak boleh gagal lagi. Terutama melindungi Kirana."

Arga menutup mata. Bayangan wajah Kirana yang duduk diam di sofa sejak sore tadi membuat dadanya terasa sesak. Kirana tidak banyak bicara.

Arga meletakkan gelas itu di atas meja. Dia berjalan keluar kamar dengan langkah pelan. Tujuannya hanya satu. Dapur.

Arga membuka lemari dapur. Mencari bubuk coklat yang biasanya dibeli Bi Rani untuk Kirana. Dia menemukan satu kaleng kecil di sudut rak. Arga tersenyum tipis.

"Tadi Kirana belum makan malam," batin Arga. "Hemm.. dan juga malam ini terasa lebih dingin. Semoga Coklat panas bisa membuatnya sedikit hangat."

Arga menyalakan kompor. Air mendidih pelan. Aroma coklat mulai menyebar di dapur yang sepi. Arga menuangkan air panas ke dalam cangkir putih polos. Mengaduknya perlahan.

Arga menghela napas panjang. Dia membawa cangkir coklat panas itu berjalan menuju kamar Kirana. Langkahnya pelan. Seolah takut membangunkan ketenangan malam.

Arga berhenti di depan pintu kamar Kirana. Lampu masih menyala. Arga mengetuk pintu itu pelan tiga kali.

"Tok. Tok. Tok."

Tidak ada jawaban. Kemudian Arga membuka knop pintu. Arga melihat sekeliling. " Tidak ada.. dia kemana..? " Batin Arga. Di melirik kamar mandi "Kamar mandi juga kosong.. "

Disaat Arga mencari keberadaan Kirana. Arga melihat Kirana berdiri di ambang pintu balkon dengan selimut masih melilit tubuhnya. Rambutnya tergerai berantakan. Matanya merah dan sembab. Wajahnya pucat.

"Belum tidur?" tanya Arga pelan.

Kirana menggeleng. Dia tidak menjawab. Hanya menatap cangkir coklat panas di tangan Arga dengan tatapan bingung.

"Ini aku buatin coklat hangat Minumlah," ucap Arga sambil menyerahkan cangkir itu. "Malam ini cukup dingin."

Kirana menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Uap coklat hangat menyentuh wajahnya. Aroma manis itu membuat hidungnya sedikit perih.

"Terima kasih, Arga," ucap Kirana pelan.

Arga mengangguk. Dia tidak masuk. Hanya berdiri di depan pintu. "Kirana, Kamu duduk di balkon sendirian. Cuaca diluar lagi dingin. Jangan sampai kamu sakit ?" ucap Arga pelan seraya menatap mata Kirana dalam.

Kirana mengangguk pelan. "Aku... aku tidak bisa tidur, Arga."

Arga menatap mata Kirana. Mata yang biasanya tajam dan penuh semangat itu sekarang terlihat kosong dan lelah. Arga merasakan dadanya sesak.

"Kalau begitu aku temani," ucap Arga pelan.

Kirana terkejut. Dia mengangkat wajah menatap Arga. "Kamu tidak perlu, Arga. Kamu juga pasti lelah."

"Aku juga tidak bisa tidur," jawab Arga singkat.

Kirana tidak menolak lagi. Dia menyingkir sedikit memberi jalan. Arga keluar menuju balkon. Duduk di kursi Kirana juga ikut duduk di tangan nya masih memegang cangkir coklat panas.

Balkon kamar Kirana tidak terlalu besar. Hanya ada dua kursi kayu dan satu meja kecil di tengah. Hujan masih turun pelan. Angin malam menerpa kulit mereka.

Kirana memegang cangkir coklat panas itu dengan kedua tangan. Uapnya menghangatkan telapak tangannya yang dingin. Dia meneguk sedikit. Rasanya manis tapi tidak berlebihan. Pas.

"Enak," ucap Kirana pelan.

Arga tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya belakang ini. "Bi Rina yang beli bubuk coklatnya. Katanya itu merek favorit tamu."

Kirana tersenyum kecil mendengar itu. Tapi senyumnya tidak bertahan lama. Wajahnya kembali muram.

"Arga... aku takut," ucap Kirana tiba-tiba. Suaranya pelan dan bergetar.

Arga menoleh. "Takut apa, Kirana?"

"Takut kalau orang itu... juga nyentuh kita," jawab Kirana. Dia menatap cangkir di tangannya. "Takut kalau Aku juga akan seperti Tiara ....Aku takut kalau kamu juga akan jadi korban Arga. Aku..aku takut kehilangan kamu. " ucapnya lirih.

Arga membeku di tempat. Kalimat terakhir Kirana membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "Aku takut kehilangan kamu." Kalimat itu seperti anak panah yang menembus dadanya.

"Kamu tidak akan kehilangan aku, Kirana," ucap Arga pelan tapi tegas. Tangannya tanpa sadar meraih tangan Kirana. menggenggam nya erat.

Kirana mengangkat wajah. Matanya menatap Arga dengan tatapan penuh harap dan takut. " Aku..aku minta maaf. Selama ini aku selalu berfikiran buruk tentang kamu Arga. Dulu Aku dibutakan oleh rasa benciku ke kamu ..?"

Arga menggeleng. Dia menatap mata Kirana tanpa berkedip. "Kirana selama ini aku tak pernah sekalipun menganggap kamu membenciku. Aku bisa memahami perasaan mu dulu. Aku memaklumi itu. Aku yang salah. Aku hadir di kehidupanmu tanpa seijinmu, Kirana.Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu Kirana. Itu murni perasaan seorang anak." ucap Arga jujur.

Kirana terdiam. Entah kenapa kalimat yang diucapkan Arga justru membuat hati Kirana sakit. " kenapa Arga yang merasa bersalah..?" Kirana melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arga.

" Arga.. apa...apa kamu menyesal dulu menerima ajakan Papah untuk tinggal dirumah ini...? " Dada Kirana sedikit sesak menanyakan itu. Kirana menatap mata Arga dalam. Seakan mencari jawaban yang jujur.

Arga sedikit menunduk. "Aku... " kalimatnya menggantung.

" Aku tak pernah menyesal Kirana." akhirnya hanya itu yang bisa ia katakan.

"kenapa..?? " tanya Kirana sedikit penasaran.

Arga menoleh menatap Kirana " Karena aku mendapatkan kasih sayang yg tak pernah ku miliki, Kirana. "

Kirana terdiam sesaat. Dia tak tahu harus bicara apa. Bibirnya terasa kelu. Ada rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Dia tidak tahu kehidupan Arga di masa lalu seperti apa. Dia tidak tahu banyak tentang Arga. Padahal dia sekarang adalah Istrinya.

Dulu dia tanpa alasan yang jelas begitu membenci Arga. Dia merasa telah menuduh Arga merebut kasih sayang orang tuanya. Tapi kenyataannya dia tak pernah berfikiran seperti itu. Orang tuanya tak pernah menduakanya. mereka tetap menyanginya.

Suasana menjadi hening sesaat. Hanya suara hujan yang masih turun pelan.

"Arga... maafin aku." ucap Kirana dalam hati.

"Kirana, Aku minta maaf. Kalau dulu kamu merasa aku telah merebut kasih sayang orang tuamu. Aku sama sekali tidak ada maksud seperti itu. " ucap Arga merasa bersalah.

"Aku tahu, Arga. Aku tahu kamu bukan orang seperti itu. Bahkan saat pertama kali Aku melihatmu. Saat Papa membawamu pulang malam itu. Aku bisa melihat nya Arga. Tapi aku diam." ucapnya lirih kepalanya sedikit menunduk.

"Arga, Kenapa kamu tak pernah sekalipun membenciku..?" ucap kirana lirih.

Arga sedikit kaget dia tidak menyangka Kirana akan berbicara seperti itu. Dia tau, dulu Kirana bahkan tak pernah mau melihatnya. Apalagi sampai memperhatikannya. Kirana selalu menghindari nya, di rumah ataupun di sekolah. Sekalipun mereka bersama Kirana selalu menindas nya. Tapi dia tak pernah mempermasalahkan semua itu.

"Karena, aku menganggapmu sama seperti adik adiku di panti. Aku tak bisa membenci orang yang aku sayangi Kirana."

" Adik adik nya di panti..? Apa dia menganggapku seperti Adiknya." ulang Kirana dalam hati. entah kenapa mendengar Arga menganggap nya seperti adiknya. Hatinya merasa tak suka.

"Apa.. Nina juga kamu anggap adikmu..? " Akhirnya pertanyaan itu keluar. Entah kenapa Kirana penasaran. Dia ingin tau apakah Arga menganggap Nina seperti adik atau ada hal lain yang tidak Kirana ketahui.

Arga diam sesaat memang dulu dia pernah dekat saat masih di panti. dia juga sudah menganggap Nina seperti yang lain. Tidak ada perasaan khusus padanya.

"Nina, aku sudah pernah bilang bukan. Kalau aku menganggap Nina seperti anak anak panti yang lain. Aku tak pernah membeda bedakan kasih sayang ke adik adiku. Kirana. " Arga sedikit mengingatkan Kirana soal ucapannya waktu dia memberi tahu soal Nina.

"Jadi kamu juga menganggap ku Adik..??" tanya Kirana lagi.

"Itu... " Arga sedikit ragu. lalu dia melanjutkan.

" Kalau aku menganggap kamu adiku. Tak mungkin kita bisa menikah Kirana. "

Kirana terdiam membeku. Bibirnya terasa kelu. Hatinya berdebar " Apa itu artinya Arga menganggapku sebagai seorang wanita dan bukan seorang adik." Bibirnya sedikit tersenyum.

"Jadi.. kamu menganggapku apa? " Tanya Kirana memastikan.

"Kirana, aku tau aku tak cukup pantas untuk mu. Masih belum cukup buat bikin kamu bahagia Kirana. Tapi... Kalau diijinkan, Aku ingin lebih dekat denganmu Kirana. Aku ingin berada disisi mu, menjagamu dari dekat. Aku ingin Hubungan kita tidak ada kebohongan Kirana..."

Kirana kembali membeku. Dia menoleh, menatap Arga. Detak jantungnya berdetak lebih cepat. Pipinya terasa panas. Lidah nya terasa kelu.

"Arga.. " gumamnya pelan. Dia tak tahu harus bicara apa. Otaknya yang cerdas dalam menangani pekerjaan kantor sekarang terasa blank. Dia Tak mampu berfikir.

[ BERSAMBUNG.. ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!