Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Aira melangkah keluar dari kafe dengan wajah yang masih menyisakan kesal. Malam sudah turun, lampu-lampu jalan mulai menyala, dan udara terasa sedikit lebih dingin. Namun suasana itu sama sekali tidak membantu menenangkan pikirannya. Di belakangnya, Bima berjalan santai seolah tidak ada masalah apa pun.
“Aku pulang naik ojek saja,” ujar Aira tanpa menoleh.
Bima terkekeh pelan. “Tidak bisa.”
Aira berhenti dan menoleh tajam. “Tidak bisa bagaimana? Aku bisa pesan sendiri.”
“Aku sedang menculikmu,” jawab Bima ringan, seperti sedang membicarakan hal sepele. “Masa penculik mengizinkan korbannya pulang naik ojek?”
Aira menghela napas panjang, mencoba menahan emosi yang sudah di ujung. “Bima, ini tidak lucu.”
“Daripada diculik orang lain, lebih baik aku saja yang menculikmu,” lanjut Bima santai, bahkan menyempatkan diri memasukkan tangan ke saku celananya.
“Aku tidak mau ikut,” tegas Aira.
Ia berbalik hendak berjalan menjauh, tetapi langkahnya terhenti ketika Bima tiba-tiba berdiri di depannya. Dengan gerakan cepat, Bima mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah permen lolipop.
Aira mengernyit. “Serius?”
Bima tersenyum nakal, mengangkat permen itu seperti umpan. “Ayo ikut sama om.”
Aira memejamkan mata sesaat, seperti menghitung kesabarannya yang tinggal sedikit. “Cukup, Bima.”
Ia mencoba mendorong dada Bima agar minggir. Namun seperti biasa, usaha itu sia-sia. Bima dengan mudah menangkap pergelangan tangannya dan menariknya mendekat. Dalam satu gerakan halus, Aira sudah berada dalam pelukan Bima.
Tubuh Aira langsung kaku.
Ia tidak bergerak, tidak melawan, hanya diam. Dalam keheningan singkat itu, yang ia dengar hanyalah detak jantung Bima. Kuat. Teratur. Entah kenapa, suara itu terasa begitu familiar, seperti sesuatu yang pernah ia kenal sangat dekat.
Aira perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Bima dengan cepat memasukkan lolipop itu ke mulut Aira.
Aira terbelalak.
“Manis, kan?” ujar Bima santai.
“Bima!” protes Aira, suaranya sedikit teredam karena permen itu.
Tanpa memberi kesempatan, Bima menggandeng tangannya dan menariknya menuju mobil. Aira mencoba melepaskan diri, tetapi genggaman Bima terlalu kuat.
“Lepaskan aku!”
“Tenang saja,” jawab Bima. “Aku tidak akan menjualmu.”
Aira mendengus kesal, tetapi pada akhirnya ia tetap masuk ke dalam mobil. Pintu tertutup, dan suara dunia luar seakan langsung teredam.
Begitu duduk, Aira langsung menyandarkan punggungnya dengan kasar.
“Aku benar-benar tidak mengerti kamu,” katanya frustasi. “Kenapa kamu selalu memperlakukanku seperti anak kecil?”
Bima menyalakan mesin mobil, lalu meliriknya sekilas dengan senyum tipis. “Karena aku menikmatinya.”
Aira menoleh cepat. “Menikmati apa?”
“Semua ini,” jawab Bima ringan. “Sama seperti dulu.”
Kata-kata itu membuat Aira terdiam sejenak.
Ia menatap lurus ke depan, menggenggam ujung bajunya. “Itu menggangguku,” katanya pelan. “Aku tidak suka diperlakukan seperti itu lagi.”
Suasana di dalam mobil berubah. Tidak lagi penuh candaan.
Bima menghela napas pendek. “Aku belum menyerah.”
Aira menoleh perlahan. “Apa?”
“Aku belum menyerah tentang kamu,” lanjut Bima, kali ini suaranya lebih serius. “Dan aku akan melakukan hal-hal yang dulu membuatmu mendekat padaku.”
Aira menunduk. Kata-kata itu seperti menekan sesuatu dalam dadanya.
“Kamu tidak ingat?” lanjut Bima. “Kamu selalu marah, selalu kesal… tapi tetap saja kamu kembali.”
Aira menggigit bibirnya. “Itu dulu.”
“Perasaan tidak berubah secepat itu,” balas Bima.
Aira mengangkat wajahnya, menatap Bima dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kamu sakit hati, kan… waktu aku pergi?”
Bima tidak langsung menjawab.
Ia menatap jalan di depannya, lalu tersenyum tipis. “Bukankah kamu juga?”
Pertanyaan itu membuat Aira terdiam.
“Kalau tidak sakit,” lanjut Bima, “kamu tidak akan seperti ini sekarang.”
Aira memalingkan wajahnya. Air matanya mulai jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Bima…” suaranya bergetar. “Aku—”
“Kita sama-sama terluka,” potong Bima pelan. “Dan aku tidak ingin pura-pura tidak terjadi apa-apa.”
Mobil berjalan lebih pelan sekarang.
“Aku ingin kita memperbaikinya,” lanjutnya. “Bukan menghindarinya.”
Aira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya semakin jelas terdengar.
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu…” katanya lirih. “Aku tidak pantas.”
Kalimat itu membuat Bima langsung menepi. Mobil berhenti di pinggir jalan yang sepi.
Ia mematikan mesin, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Aira.
“Aira.”
Tidak ada jawaban.
Bima mendekat, menarik tangan Aira perlahan dari wajahnya. Air mata masih mengalir di pipinya.
“Lihat aku,” ucap Bima lembut.
Aira menggeleng pelan.
Bima tidak memaksa, tetapi ia mengangkat dagu Aira dengan hati-hati hingga tatapan mereka bertemu.
“Apa maksudmu tidak pantas?” tanyanya.
Aira mengisak. “Aku yang memutuskan semuanya sepihak… aku yang pergi… aku yang menyakitimu…”
“Dan kamu pikir itu membuatmu tidak pantas bahagia?” potong Bima.
Aira tidak menjawab.
Bima menariknya ke dalam pelukan lagi, kali ini lebih erat, lebih hangat. Tangannya mengusap punggung Aira dengan perlahan.
“Kamu tidak boleh berpikir seperti itu,” bisiknya.
“Aku jahat…” suara Aira nyaris tidak terdengar.
“Kalau begitu aku juga jahat,” balas Bima tenang. “Aku juga pernah menyakitimu.”
Aira terdiam dalam pelukannya.
“Aku egois waktu itu,” lanjut Bima. “Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku tidak pernah benar-benar mencoba memahami kamu.”
Aira mencengkeram kemeja Bima, tangisnya semakin pecah.
“Aku minta maaf…” katanya terbata.
Bima menggeleng pelan. “Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”
Aira sedikit menjauh, menatapnya dengan mata merah. “Benarkah?”
“Iya,” jawab Bima tanpa ragu. “Dan sekarang aku hanya ingin satu hal.”
“Apa?”
“Aku ingin kamu bahagia,” katanya. “Dan kalau bisa… bersamaku.”
Aira terdiam lama.
Ia menatap Bima, mencoba mencari kebohongan dalam wajah itu. Namun yang ia temukan hanya ketulusan yang membuat dadanya semakin sesak.
“Aku tidak yakin…” katanya akhirnya. “Aku tidak tahu apakah aku bisa kembali seperti dulu.”
Bima tersenyum kecil. “Aku tidak minta kamu langsung kembali.”
Aira mengernyit. “Lalu?”
“Pikirkan saja,” jawab Bima. “Pelan-pelan.”
Aira menunduk lagi. “Aku takut… aku akan menyakitimu lagi.”
“Kalau itu terjadi,” kata Bima, “setidaknya kita sudah mencoba.”
Aira menggeleng. “Kamu seharusnya bersama orang yang lebih baik.”
Bima menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Aku tidak mencari yang lebih baik.”
Aira menatapnya bingung.
“Aku hanya mencari kamu,” lanjutnya.
Kalimat itu membuat Aira kembali terdiam.
“Dan aku akan menunggumu,” kata Bima. “Selama yang kamu butuhkan.”
Aira menelan ludah. “Bagaimana kalau aku tidak pernah kembali?”
Bima mengangkat bahu ringan. “Aku tetap menunggu.”
Aira memejamkan mata, mencoba menenangkan hatinya yang kacau.
“Aku akan mencoba menata hatiku,” katanya akhirnya.
Bima mengangguk. “Itu sudah cukup.”
Namun sebelum suasana menjadi terlalu serius, Bima tiba-tiba tersenyum nakal lagi.
“Walaupun begitu,” katanya, “aku tetap akan mengganggumu sampai kamu menyerah.”
Aira langsung menatapnya kesal. “Kamu benar-benar tidak berubah.”
“Itu kelebihanku.”
Aira langsung memukul lengan Bima. “Menyebalkan!”
Bima tertawa kecil, tidak menghindar.
“Setidaknya kamu sudah berhenti menangis,” katanya.
Aira mendengus, menghapus sisa air matanya. “Jangan merasa bangga.”
“Sudah, pakai sabuk pengaman,” ujar Bima sambil menyalakan mesin kembali.
Aira menurut, meskipun masih dengan ekspresi kesal.
Mobil kembali melaju, membelah jalan malam yang lengang.
Kali ini, suasana di dalam mobil terasa berbeda. Tidak lagi penuh ketegangan, tetapi juga belum sepenuhnya tenang.
Aira menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berpendar.
Di dalam hatinya, perasaan lama yang selama ini ia tekan mulai muncul kembali. Pelan-pelan, tetapi pasti.
Sementara itu, Bima meliriknya sekilas, lalu tersenyum tipis.
Ia tidak terburu-buru.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aira tidak lagi menjauh.