NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Pagi membentang pelan di balik tirai, menorehkan garis keemasan di seprai. Thalia membuka mata dengan kepala terasa ringan tetapi... tidak kosong. Ingatan semalam menyusup seperti film yang diputar diam-diam: foyer berkilau, Aiden berdiri di bawah chandelier, bibirnya, tangannya, suara tawa pelan yang tak semestinya muncul dari lelaki itu, dan dirinya-ya Tuhan-dirinya yang "nyosor" membabi buta seperti perempuan yang haus belaian.

Ia menutup wajah dengan bantal. "Apa yang kulakukan..." gumamnya, setengah putus asa setengah ingin menghilang dari permukaan bumi. Ia menendang selimut, bangkit, menapakkan kaki ke karpet. Kakinya masih sedikit goyah, tapi malu jauh lebih memabukkan daripada seteguk anggur tadi malam.

"Tarik napas, Thalia," katanya pada cermin kamar mandi. "Kau masih hidup. Kau... hanya melakukan hal bodoh." Wajahnya memerah hingga telinga ketika air dingin menyentuh pipi. Ia mandi lebih lama dari biasanya, membiarkan air mengguyur kepala seolah bisa mencuci adegan semalam sampai pudar.

Begitu selesai, ia memilih gaun rumah paling rapi yang tetap nyaman-pastel lembut dengan kardigan tipis. Rambutnya diikat rendah. "Kau bertemu Liam, bukan Aiden," ia menegaskan pada pantulan dirinya. "Fokus ke sarapan. Peluk Liam, tertawa, sibuk. Kalau perlu, pura-pura amnesia." Ia menepuk pipi sendiri. "bisa Thalia!"

Lorong lantai dua masih sepi. Aroma roti panggang dan sup kaldu menyusup dari bawah. Biasanya pada jam ini Aiden sudah berangkat kerja; ia akan lewat, butler akan sedikit menunduk, dan rumah kembali ke ritme yang biasa: Liam tertawa, Rina berkeliling, Thalia melanjutkan latihan atau kuliah. Tapi begitu menuruni beberapa anak tangga, suara bariton yang terlalu dikenalnya itu muncul dari ujung meja makan.

"Jangan potong roti terlalu tebal. Dia hanya sempat makan sedikit," ucap Aiden kepada chef, nada perintahnya datar namun tidak dingin.

Thalia refleks menahan langkah. Di meja makan, Liam sudah duduk dengan bibir belepotan selai stroberi, mengayun-ayun kaki. Aiden di ujung meja, kemeja putihnya digulung hingga siku; rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang memutuskan tidak jadi ke kantor tepat jam delapan. Mata Aiden bertemu mata Thalia. Senyum miring muncul-bukan tawa, bukan ejekan, sesuatu di antaranya. Dan tatapan itu... menusuk, seolah berkata: Aku ingat. Kau juga ingat.

Pura-pura amnesia terasa seperti kertas tipis yang terbakar hanya dengan tatapan itu.

"Celamat pagi, Mama!" Liam

menyelamatkannya. Bocah itu bangkit setengah berdiri di kursinya, kedua tangan terulur. "Mama cantik... kayak di TV! Mama juala!" Seruan polos itu memukul malu Thalia mundur beberapa langkah, diganti hangat yang selalu berhasil disulap Liam dari udara.

"Selamat pagi, pangeranku," Thalia mencium dahi Liam lama-lama, lalu duduk di sebelahnya. "Apa sarapan kita hari ini?"

"Loti, telul cetengah matang, cup kaldu!" Liam menunjuk mangkuk di depan Thalia dengan bangga. "Papa bilang ini baik buat pelut Mama."

Thalia menoleh. Aiden tidak memandangnya, tetapi gerak jarinya pada cangkir kopi melambat-gerak orang yang diam-diam memperhatikan reaksi lawan bicara.

"Terima kasih," kata Thalia pelan.

Aiden menautkan satu alis. "Untuk sup? Atau untuk tidak menyuruhku 'cut' lagi?"

Thalia hampir tersedak air liur sendiri. Chef menahan senyum dengan canggung, Rina pura-pura sibuk menuang jus. "Aku... tidak ingat," kata Thalia cepat, mengambil sendok. "Semalam aku langsung tidur."

"Begitu, ya." Aiden menyandarkan punggung santai. "Sutradaranya siapa?"

"Siapa?" Thalia memutuskan jalan amnesia harus ditempuh sampai akhir.

"Yang memerintah pangeran menggendong putri ke kamar," jawab Aiden tenang. Ujung bibirnya naik, tetapi matanya tak beranjak dari wajah Thalia. "Dialognya rapi."

Thalia memandangi supnya seolah di dalam sana ada petunjuk cara keluar dari ruangan.

"Pangeran tampan... tokoh fiksi. Tentu."

"Tokoh fiksi yang disuruh mencium tanpa cut," Aiden menambahkan ringan.

Liam menyela, menyodorkan roti pada Thalia.

"Mama, makan! Nanti Mama ke cekolah? Liam mau lihat video Mama lagi."

Thalia mengelus rambut Liam, lalu memutuskan menunduk dan makan. Hangat kaldu merilekskan perutnya, dan sedikit-sangat sedikit-menenangkan malu. Aiden menatap piringnya sendiri, tetapi setiap beberapa detik Thalia bisa merasakan tatapan itu kembali. Bukan tatapan yang membuatnya ingin lari; anehnya, tatapan itu membuatnya ingin... bertahan. Hentikan. Makan.

Ponsel Thalia bergetar di meja. Notifikasi bergulir seperti hujan meteor: followers +10.000, +15.000... Ia melirik sekilas dan membeku. Angka yang semalam berhenti di 1,8 juta kini menanjak mendekati dua juta. Tagar namanya masih bertengger di tiga besar. Ada video kompilasi buatan fans yang menyandingkan fotonya saat tersenyum dengan cuplikan nada tinggi di panggung; ada potret bidik kamera gelap yang memuat wajahnya dari samping; ada yang menulis esai panjang tentang "ketulusan vokal Thalia".

"Naik?" Aiden bertanya tanpa menoleh.

"Bertambah," jawab Thalia, suara setengah tak percaya.

Selesai makan, Aiden berdiri. "Aku ke kantor." Ia menatap Thalia sepersekian detik lebih lama dari yang pantas, seakan ingin mengatakan sesuatu-maaf, terima kasih, atau hanya "aku ingat"-lalu pergi. Thalia menatap punggungnya, merasakan sesuatu menegang dan melunak sekaligus di dada.

Liam melambai-lambai sampai pintu tertutup.

Di tempat lain di kota, suasana pagi justru tenggelam oleh badai. Rumah besar keluarga Anderson diselimuti ringkik marah yang ditahan-tahan. Yoshi berada di ruang kerja, menatap layar komputer yang menampilkan berita-berita hiburan: "Bintang Baru WTBS: Thalia Melonjak", "Followers Hampir 2 Juta, Siapa Sebenarnya Thalia?", "Senyum yang Mengunci Rating." Ia mengusap dagu, pikiran menari antara bangga yang malu-malu dan perhitungan dingin.

"Jika media tahu dia anakku... akan baik untuk nama Anderson," gumamnya, setengah kepada diri sendiri. "Investor melihat keluarga yang memiliki bintang-nilai immaterial yang besar."

Pintu terbuka tanpa suara. Marrie masuk dengan gaun rumahan sutra, membawa kopi dan senyum yang siap dipakai. "Kau terlihat lebih hidup hari ini," katanya. "Ada kabar baik?"

"Coba tebak." Yoshi menunjuk layar. "Anak itu."

"Anak itu," Marrie mengulang pelan, seolah kata itu pahit di ujung lidahnya. "Bagus untuk mereka yang menyukai lampu kamera. Untuk kita?" Ia menaruh kopi, duduk santai. "Kabar dari Abraham? Kita butuh kepastian dana. Perusahaan tidak bisa makan pujian." Senyumnya tipis.

"Abraham menunggu kabar." Yoshi menatap layar, mata berkilat. "Kalau aku umumkan bahwa Thalia adalah anakku, kita dapat simpati publik. Saat menyerahkannya pada Abraham, semua akan bilang itu pernikahan strategis."

Marrie menatapnya, mata cokelatnya datar. "Kau ingin berpegangan pada nama anak perempuanmu untuk menyelamatkan kapal tenggelam? Baik. Tapi hati-hati-publik mencintai, publik juga menghukum. Dalam sehari, mereka bisa menobatkan, lalu merobohkan."

"Aku tidak punya waktu untuk kepura-puraan moral," balas Yoshi, mendadak tajam. "Aku butuh dana."

Marrie menyilangkan kaki. "Kalau begitu, sederhana saja. Kita mengundangnya makan malam keluarga. Foto-foto manis. Berita 'rekonsiliasi'. Sementara itu, aku bicara pada sekretaris Abraham untuk menyiapkan pertemuan tertutup. Lakukan cepat sebelum hype-nya turun."

"Dia akan menolak," kata Yoshi, masih memandangi layar. "Seperti kemarin-kemarin."

"Kau ayahnya," Marrie mendekat, suaranya menurun setengah oktaf, menenangkan seperti racun yang enak. "Kau bisa membuatnya datang."

Di lantai atas, kamar Nadine berubah menjadi medan perang kosmetik. Lipstik-lipstik beterbangan ke karpet seperti peluru merah muda, palet eyeshadow retak di tengah, botol foundation menggelinding dari meja rias ke lantai. Gadis itu berdiri di depan cermin, napasnya cepat, mata berkaca marah. Ponselnya menampilkan angka-angka yang menyakitkan: Thalia 1.986.000 pengikut, Nadine 11.002-angka dua di akhir itu tampak mengejek lebih dari satu juta pertama.

"Memangnya apa bagusnya si jalang itu?!"

Nadine menggeram, menekan layar sampai jarinya memutih. "Suara? Hah! Hanya karena dia sekarang dia bisa bernyanyi." Ia melempar brush ke cermin.

"Kenapa dia selalu mencurinya dariku?!"

Komisi komentar di beranda membuatnya makin gelap. "Thalia humble banget dibanding influencer lain." "Thalia secantik peri. aku jatuh cinta padanya." "Mulai hari ini aku menobatkan diri sebagai fans Princess Thalia."

"Princess Thalia?" Nadine tertawa pendek, jijik.

"Kalian pikir aku akan diam?" Ia meraih ponsel, jempolnya bergerak cepat membuka grup chat rahasia yang berisi dua "teman" setianya.

Nadine: Kumpulkan semua rumour soal Thalia. Yang paling kotor. Aku mau trending.

Teman 1: Otw. Ada gosip lama waktu dia kerja paruh waktu, mau kuangkat lagi.

Teman 2: Ada foto blur di taman sama anak kecil. Bisa kita bumbui.

"Aku tidak butuh gosip," Nadine mendesis, melempar maskara ke dinding. "Aku butuh dia hancur." Ia teringat suara Marrie di ruang kerja-serahkan Thalia pada Abraham. Giginya mengerat.

"Bagus. Kita percepat." Ia mengetik lagi.

Nadine: Mama, Papa-kita jadwalkan makan malam. Aku akan telepon Thalia. Aku punya caraku sendiri.

Tangannya bergetar bukan karena takut, melainkan karena nafsu untuk menginjak. Di cermin, wajahnya yang selalu dipoles terlihat tanpa filter-cantik, ya; tetapi mata itu kosong seperti kaca. "Kau pikir kau bisa jadi selebritis, dapat pujian, dan dunia akan berlutut, Thalia?" gumamnya pada pantulan yang ia benci. "Mari kita lihat. Kita pastikan kau menjadi istri ketiga si tua Abraham. Biar habis kau. Biar habis!"

Di mansion Maverick, Thalia duduk di sofa ruang keluarga sambil menemani Liam. Rina membawa teh hangat dengan madu. "Ini, Nyonya. Untuk perut."

"Terima kasih, Rina." Thalia menatap tablet Liam yang masih memutar siaran ulang. "Boleh Mama lihat sebentar?" Ia menggulung timeline komentar. Ada yang menulis ucapan terima kasih, ada yang bilang suaranya "menyejukkan kepala yang padat", ada yang setengah bercanda menyuruhnya "jangan lupa makan".

Di antara ratusan komentar, satu akun anonim menyelipkan racun-fitnah lama dengan kemasan baru.

Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Rina menatapnya bertanya, Thalia mengangguk. "Halo?"

"Ini Nadine." Suara di seberang garis terdengar rapi-rapi yang terbuat dari niat buruk. "Papa ingin makan malam bersama malam ini. Katanya ingin bicara baik-baik."

Thalia diam. Hening di antara mereka seperti tali yang ditarik dari dua ujung. "Aku tidak bisa."

"Jangan keras kepala," nada Nadine menusuk. "Kau itu anak Papa. Tak pantas menolak berkali-kali."

"Sampaikan pada Papa aku sibuk. Mungkin lain kali." jawab Thalia dingin

"Kau pikir dunia ini milikmu?" Nadine tertawa pendek, tiga ketukan yang terdengar seperti cakar kucing di kaca. "Baik. Kalau begitu, dunia akan diajak melihatmu dari dekat."

Telepon terputus. Thalia memandangi layar ponsel sejenak, lalu meletakkannya menghadap ke bawah. Liam menepuk pahanya. "Mama, huruf L cucah."

"Susah jadi gampang kalau kita sabar," jawab Thalia, menekuk badan untuk mengajari.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!