Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Waktu terus berjalan dengan sangat cepat, seolah tidak terasa sudah sore. Matahari yang tadinya berada tepat di atas kepala kini mulai perlahan bergeser ke arah barat, warnanya berubah menjadi keemasan yang sangat indah dan memukau mata.
Cahaya matahari sore itu masuk melalui celah-celah jendela, menerangi ruangan dengan warna oranye keemasan yang hangat dan menenangkan hati.
Aira sudah merasa jauh lebih tenang sekarang. Rasa deg-degan yang tadi menggebu-gebu dan membuatnya panik setengah mati sudah mulai mereda perlahan, digantikan oleh rasa hangat yang nyaman dan rasa bahagia yang menetap lama di dalam dadanya.
Ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah lagi, menuju dapur untuk membantu bibi asih mempersiapkan segala sesuatu untuk makan malam nanti. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk suaminya, ingin menyambut kepulangan Elvano nanti dengan suasana yang paling nyaman dan penuh cinta.
“Non Aira mau bantu apa lagi nih?” tanya bibi Asih ramah dan senyum terus melihat non mudanya yang wajahnya selalu berseri-seri sejak tadi.
“Aira mau bantu tata meja makan dong bi. Tolong ambilin piring yang bagus-bagus ya bi. Yang ada ukirannya emas dikit gitu biar terlihat mewah dan cantik. Nanti kan mas Elvano pulang pasti capek banget mikirin kerjaan, harus disambut dengan suasana yang enak dan perut yang kenyang,” jawab Aira ceria dan penuh semangat.
“Wah sayang banget ya sama suaminya non, ampun deh,” goda bibi Asih sambil tertawa lebar. “Iya deh iya ayo, kita tata piring-piringnya yang paling bagus dan paling mahal biar tuan muda senang liatnya.”
Mereka berdua pun mulai sibuk menata meja makan panjang yang besar itu dengan sangat teliti dan rapi.
Aira menempatkan piring-piring keramik putih yang berhiaskan emas itu dengan posisi yang seimbang, meletakkan sendok garpu perak yang mengkilap, gelas-gelas kristal yang bening dan mahal, serta menaruh vas bunga mawar merah segar di tengah meja sebagai hias tambahan agar meja makan terlihat sangat menarik, sangat indah, dan sangat menyenangkan dipandang mata.
Sambil bekerja menata peralatan makan itu, Aira tidak bisa menahan senyum lebar yang terus mengembang di bibirnya yang merah muda dan tipis itu.
Rasanya hatinya berbunga-bunga sekali hari ini. Rasanya dunia terasa begitu indah dan berwarna-warni saja. Insiden kecil di dapur tadi seolah menjadi kunci ajaib yang membuka pintu hati mereka berdua, membuat jarak yang tadinya terasa jauh dan dingin, kini menjadi sangat dekat dan hangat seperti api unggun di tengah malam yang gelap.
"Bi…” panggil Aira pelan tanpa menoleh dari kegiatannya menyusun sendok.
“Iya non? Kenapa?” jawab bibi Asih sambil memotong-motong sayuran hijau untuk lalapan.
“Mas Elvano… orangnya baik banget ya bi?” tanya Aira polos dengan nada suara yang melayang-layang penuh suka cita.
Bibi Asih langsung tertawa renyah mendengar pertanyaan non mudanya itu. “Iya dong non pastinya. Tuan muda itu kan orangnya baik, cuma dulu emang pendiam dan kaku banget orangnya. Tapi sejak ada non Aira di sini, wah berubah banget non! Jadi sering senyum, sering ketawa, rumah jadi rame dan hangat banget. Itu semua karena berkah non Aira lho.”
Aira tersipu malu mendengarnya, pipinya kembali merona merah muda cantik. “Ah bibi bisa aja… Aira kan belum ngapa-ngapain juga.”
“Eh jangan ngomong gitu non. Kehadiran non aja udah cukup kok buat bikin tuan muda berubah jadi lebih baik. Bibi liat sendiri dari hari ke hari tuan muda makin sayang dan makin perhatian sama non Aira. Seneng deh bibi liatnya.”
Aira pun tersenyum bahagia. Rasa percaya dirinya makin bertambah banyak. Ia berjanji di dalam hati akan menjadi istri yang terbaik, yang paling sholehah, dan yang paling menyayangi suaminya selamanya.
Setelah selesai membantu di dapur dan memastikan semuanya sudah siap dengan sempurna, Aira berjalan santai menuju ruang baca atau perpustakaan pribadi milik Elvano yang terletak di sayap kanan rumah itu.
Ruangan ini sangat besar, tinggi, dan dipenuhi oleh rak-rak buku kayu jati yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit. Aroma kertas tua dan kayu yang wangi langsung menyambut hidung Aira begitu ia melangkah masuk. Suasana di sini sangat tenang, sepi, dan sangat damai, cocok sekali untuk bersantai atau membaca buku.
“Wah… nyaman banget ya di sini,” gumam Aira pelan sambil berjalan pelan menyusuri lorong di antara rak-rak buku itu. Jari-jarinya yang lentik dan halus menyusuri punggung buku-buku yang berjajar rapi itu dengan penuh rasa ingin tahu.
Buku-buku di sini sangat banyak dan sangat beragam. Mulai dari buku-buku tebal tentang ekonomi, manajemen bisnis, hukum internasional, sampai novel-novel klasik, buku puisi, dan sejarah dunia semuanya ada lengkap di sini.
“Ternyata Mas Elvano orangnya suka membaca ya, dan wawasannya pasti luas banget,” pikir Aira takjub. “Pantesan dia kelihatan dewasa, bijaksana, dan tenang terus. Karena dia banyak mendapat ilmu dan banyak baca buku kali ya.”
Aira pun menarik sebuah buku bersampul kulit berwarna cokelat tua yang terlihat cukup tua dan antik dari rak. Ia membuka halaman pertamanya. Ternyata itu adalah buku kumpulan puisi lama yang tulisannya sangat indah dan bahasanya puitis sekali.
Aira pun duduk di sebuah sofa kecil yang empuk dan nyaman yang terletak di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Ia mulai membaca lembar demi lembar buku itu dengan tenang dan khusyuk.
Cahaya matahari sore yang keemasan masuk menerangi halaman buku di tangannya, membuat suasana terasa sangat romantis, sangat syahdu, dan sangat membangkitkan imajinasi.
Tiba-tiba…
Tap… Tap… Tap…
Terdengar suara langkah kaki yang berat, tegas, dan sangat dikenali itu berjalan mendekati ruang baca itu. Langkah kaki yang setiap kali terdengar, selalu membuat jantung Aira bergetar dengan hebat.
Elvano Praditya.
Pria itu ternyata baru pulang dari kantornya. Ia mencari aira kemana-mana dan akhirnya menemukan gadis itu sedang duduk manis membaca buku di perpustakaan dengan pemandangan yang sangat indah.
Elvano berhenti sejenak di ambang pintu, tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri diam memandangi sosok istrinya dari kejauhan dengan tatapan yang sangat lembut, sangat teduh, dan penuh dengan rasa sayang yang mulai menggunung di dalam dadanya.
Dari sini, Aira terlihat sangat cantik, sangat anggun, dan sangat damai. Cahaya matahari sore membuat kulitnya tampak bersinar, rambut panjangnya terurai indah membalik punggungnya, dan wajahnya yang teduh terlihat sangat sempurna bagaikan lukisan karya seniman terhebat di dunia.
“Cantik banget…” bisik Elvano pelan hanya untuk dirinya sendiri, suaranya penuh kekaguman.
Ia pun akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah pelan agar tidak mengagetkan istrinya yang sedang asyik membaca.
“Lagi baca apa Ra?”
atiba-tiba suara berat dan dalam itu terdengar tepat di sebelah telinga Aira, membuat gadis itu kaget setengah mati dan tersentak bangun dari lamunannya.
“Ya allah!! Mas Elvano!!” Aira langsung memegang dadanya sendiri yang berdegup kencang karena kaget. “Astaga mas ngagetin aja! Aira kira siapa, ternyata mas.”
Elvano tertawa kecil melihat reaksi istrinya yang polos dan menggemaskan itu. Ia pun berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping sofa tempat Aira duduk, membuat jarak mereka menjadi sangat dekat sekali.
“Kok kaget banget sih? akku kan cuma tanya biasa aja,” goda Elvano sambil menyandarkan pinggangnya ke meja kayu di depan mereka, menatap Aira dari posisi yang lebih tinggi. “Buku apa yang kamu baca, serius banget sampai gak denger aku masuk?”
“Oh ini mas…” Aira mengangkat buku itu sedikit memperlihatkan sampulnya. “Ini buku puisi lama mas. Tulisannya bagus banget dan bahasanya indah-indah banget. Aira baru nemu di rak situ tadi.”
“Oh buku itu…” Elvano mengangguk-angguk. “Itu buku kesukaan aku juga. Isinya emang bagus-bagus dan dalem banget maknanya. Boleh aku liat?”
“Boleh dong mas.”
Aira pun segera mengulurkan tangannya ke atas untuk menyerahkan buku itu kepada Elvano.
Posisi Elvano berdiri, sedangkan Aira duduk. Jadi saat Aira mengangkat tangan ke atas, dan Elvano menurunkan tangannya ke bawah untuk menerima buku itu…
Karena rak buku di situ cukup sempit dan posisi mereka yang berhadapan dekat sekali, tangan mereka bertabrakan dan…
Deg!
TERPEGANG!
Telapak tangan mereka saling bertemu dan saling menempel secara sempurna!
abuku itu sempat melayang sebentar, tapi karena kaget keduanya sama-sama memegang sisi buku itu, dan akhirnya tangan besar Elvano menutupi seluruh telapak tangan kecil Aira.
Jari-jari mereka yang panjang dan lentik itu pun ikut saling bersentuhan, saling bersilang, dan seakan-akan secara ajaib saling mengunci satu sama lain!
Waktu seakan berhenti berputar total pada detik itu juga!
Suara apapun di sekitar mereka lenyap seketika. Suara burung, suara angin, suara ac, semuanya hilang tak terdengar sama sekali.
Yang ada hanyalah mereka berdua, dan sentuhan ajaib itu.
“Aaaahhh!!”
Aira menjerit kecil pelan karena kaget bukan main. Natanya terbelalak menatap lurus ke arah tangan mereka yang saling bersentuhan dan saling menggenggam itu di udara.
Dalam sepersekian detik, wajah cantik Aira langsung berubah warna menjadi merah seketika!
Panasnya luar biasa! Mulai dari pipi, telinga, leher, sampai ke dada terasa panas membara seperti terbakar api cinta!
“Ma… maaf mas! Aira tidak sengaja!” Aira panik dan ingin segera menarik tangannya pergi menjauh secepat kilat.
Tapi entah kenapa, atau mungkin karena efek kaget juga, tangan Elvano justru sedikit mengencang dan menahan tangan itu agar tidak ditarik pergi. Ia justru membiarkan tangan mereka saling menempel lebih lama.
“D… diam dulu sebentar…” suara Elvano terdengar berat, serak, dan sangat dalam. Suaranya bergetar sedikit.
Elvano menatap lekat-lekat ke arah tangan mereka yang bersatu itu.
Tangan Aira terlihat sangat kecil, sangat putih, sangat halus, dan sangat lembut terbungkus sempurna di dalam genggaman tangannya yang besar, hangat, kokoh, dan berotot. Perbandingan ukuran tangan mereka terlihat sangat jelas dan sangat manis.
Rasa hangat itu menjalar dengan sangat luar biasa cepatnya. Ada aliran listrik statis yang menyengat manis mengalir deras dari titik sentuhan telapak tangan itu, menyusuri seluruh pembuluh darah mereka berdua, naik ke lengan, masuk ke dada, dan sampai ke kepala.
DUG! DUG! DUG! DUG! DUG!
Jantung Aira berdegup begitu kencang, begitu keras, sampai-sampai ia yakin suaminya pasti bisa mendengarnya dengan jelas dari jarak sedekat ini. Rasanya kepalanya pusing, kakinya terasa lemas tak bertulang, dan dunia seakan berputar pelan karena sensasi yang luar biasa nikmat dan menakjubkan ini.
“Tangan kamu…” bisik Elvano pelan sekali, suaranya terdengar sangat dekat dan sangat hangat di telinga aira. “Halus banget… kulitnya lembut banget kayak sutra… dan hangat.”
“Ma… mas…” Aira menunduk dalam-dalam, mukanya hampir tertutup oleh rambut panjangnya karena malu setengah mati. “Le… lepaskan dulu dong mas… Aira deg-degan nih, parah banget…”
“Deg-degan?” Elvano akhirnya perlahan melepaskan buku itu, tapi ia tidak langsung melepaskan tangan Aira. Ia justru membiarkan jari-jarinya menyapu pelan permukaan kulit tangan halus itu. “Kenapa deg-degan Ra? Aku kan cuma pegang tangan istri sendiri.”
“Ka… kan kita kan masih baru… terus mas kan suami Aira… jadi wajar dong kalau Aira deg-degan dan grogi…” jawab Aira polos dan terbata-bata, suaranya halus sekali hampir tak terdengar.
Elvano menelan ludahnya kasar melihat pemandangan di hadapannya ini. Aira saat ini terlihat sangat menggemaskan, sangat polos, sangat manis, dan sangat cantik melebihi siapapun yang pernah ia temui di dunia ini.
Di dalam hati Elvano, ada sesuatu yang meledak hebat. Rasa sayang, rasa memiliki, dan rasa protektif itu tiba-tiba memuncak begitu besar dan kuat. Ia ingin sekali saat itu juga menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya yang erat, memeluknya lama, dan tidak mau melepaskannya lagi selamanya.
“Ra…” panggil Elvano lagi, suaranya lembut sekali, membuai.
“I… iya mas?” Aira memberanikan diri menatap mata Elvano sedikit demi sedikit.
“Kalau aku bilang… jantung aku juga berdegup kencang banget setiap kali dekat sama kamu, setiap kali kulit kita bersentuhan kayak gini… kamu percaya nggak?”
Kalimat itu bagaikan mantra ajaib yang membuat dunia Aira seakan berhenti berputar dan melayang ke angkasa.
“A… apa? Mas juga?” tanya Aira tak percaya, matanya yang bulat dan hitam legam itu menatap lekat-lekat ke manik mata Elvano mencari kepastian.