Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Unggun dan Pengakuan Kecil
Malam di pinggiran Alpen setelah keluar dari Hutan Terlarang terasa jauh lebih tenang, namun udara dinginnya masih menusuk hingga ke tulang. Karena helikopter penjemput baru bisa melakukan evakuasi total saat fajar menyingsing demi keamanan navigasi, Aiden memutuskan agar tim mereka berkemah di sebuah lembah terbuka yang terlindung oleh dinding batu alam.
Marco dan para pengawal lainnya berjaga di radius luar, memberikan ruang privasi yang sangat langka bagi sang Raja Mafia dan asistennya. Di tengah lingkaran batu, sebuah api unggun berkobar, melahap ranting-ranting kering dan menciptakan tarian cahaya oranye di wajah Aiden dan Ziva.
Ziva duduk bersila di atas selembar selimut tebal, tangannya sibuk menusukkan beberapa potong roti keras sisa perbekalan ke ranting pohon untuk dipanggang. Di sampingnya, ulekan batu legendaris itu tergeletak tenang, seolah sedang beristirahat setelah seharian menjadi pahlawan.
"Bang Don, sini duduk. Jangan berdiri terus kayak manekin toko jas, pegel gue lihatnya," panggil Ziva sambil menepuk sisi selimut di sebelahnya.
Aiden, yang tadinya sedang menatap kegelapan hutan dengan waspada, akhirnya melunakkan bahunya. Ia melepas jaket taktisnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan tato naga yang tampak hidup tertimpa cahaya api. Ia duduk di samping Ziva, kakinya yang panjang ditekuk dengan santai.
"Nih, makan. Agak gosong dikit sih, tapi anggep aja ini smoked bread ala-ala restoran bintang lima lu," Ziva menyodorkan roti panggangnya.
Aiden menerima roti itu, menatap permukaannya yang menghitam. Jika itu terjadi di mansion, koki pribadinya mungkin sudah dipecat. Tapi di sini, di bawah langit Alpen yang luas, roti gosong itu terasa seperti kemewahan. Ia menggigitnya pelan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Ziva penuh harap.
"Rasanya... seperti perjuangan," jawab Aiden pendek, namun ada binar jenaka di matanya.
Ziva tertawa kecil. "Ya iyalah! Perjuangan nahan laper sama nahan dingin. Bang, lu tahu nggak? Gue tadi pas di hutan beneran mikir kalau kita bakal mati di sana, gue nyesel banget belum sempet bilang makasih sama lu."
Aiden berhenti mengunyah. Ia menatap api yang berderak. "Terima kasih untuk apa, Ziva? Aku menyeretmu ke dalam bahaya, membuatmu hampir terbunuh berkali-kali, dan menghancurkan kehidupan tenangmu di Jakarta."
"Makasih karena lu udah bikin gue ngerasa... penting," suara Ziva mendadak pelan. "Dulu di Jakarta, gue cuma butiran debu, Bang. Kurir paket yang kalau lewat nggak ada yang liat. Tapi di sini, meski hidup gue kayak di film Mission Impossible, lu selalu liat gue. Lu dengerin omongan sampah gue, lu jagain gue sampai taruhan nyawa. Nggak pernah ada orang yang segininya sama gue."
Aiden terdiam cukup lama. Suara kayu terbakar menjadi satu-satunya musik di antara mereka. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya sebelum menoleh menatap Ziva.
"Ziva, ada sesuatu yang belum pernah kukatakan padamu," ucap Aiden. Suaranya rendah, masuk ke dalam frekuensi yang membuat jantung Ziva berdegup dua kali lebih cepat.
"Apaan Bang? Jangan bilang lu sebenernya agen rahasia yang lagi nyamar jadi mafia? Wah, plot twist banget itu!" Ziva mencoba bercanda untuk menutupi kegugupannya.
"Bukan," Aiden tidak tersenyum. Tatapannya sangat serius. "Waktu pertama kali aku membawamu ke Milan, aku melakukannya karena kebutuhan. Kau adalah saksi, kau adalah variabel yang harus kukendalikan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa akulah yang dikendalikan olehmu."
Ziva mengerutkan kening. "Hah? Dikendalikan gimana? Gue kan nggak punya remote kontrol buat gerakin lu, Bang."
"Kau mengendalikan kewarasanku," lanjut Aiden. "Dunia tempatku tinggal adalah dunia yang gelap. Setiap hari aku harus berpikir siapa yang akan mengkhianatiku, siapa yang harus kubunuh, dan berapa banyak darah yang akan tumpah. Hatiku sudah membeku sejak lama, Ziva. Sampai kau datang dengan bau terasimu, dengan bando kucingmu, dan dengan keberanianmu yang konyol itu."
Aiden mengulurkan tangan, menyentuh pipi Ziva yang terasa hangat karena suhu api unggun. "Kau adalah pengakuan kecilku pada dunia. Bahwa seorang monster seperti Aiden Volkov ternyata masih bisa merasakan takut—bukan takut mati, tapi takut kehilangan cahaya sekecil dirimu."
Ziva terpaku. Ia bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari mata abu-abu Aiden. Tidak ada intimidasi di sana, yang ada hanya kerapuhan seorang pria yang selama ini harus memakai topeng baja.
"Bang Don... lu jangan ngomong gitu. Gue jadi mau nangis kan," bisik Ziva, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku serius, Ziva. Aku sering bertanya-tanya, kenapa Tuhan mengirimkan gadis sepertimu ke jalur hidupku? Mungkin untuk mengingatkanku bahwa hidup bukan hanya tentang perang dan kekuasaan. Tapi tentang hal-hal bodoh seperti berdebat soal level pedas sambal atau mencari satu sandal jepit yang hilang."
Aiden menarik tangannya kembali, lalu menunduk. "Kadang aku merasa egois. Aku ingin kau tetap di sisiku, tapi aku tahu itu artinya kau akan selalu dalam bahaya. Semalam, saat aku melihatmu ketakutan di hutan, aku hampir memutuskan untuk benar-benar mengirimmu pulang dan menghapus seluruh ingatanku tentangmu."
"Jangan!" Ziva refleks memegang lengan Aiden. "Jangan pernah hapus gue dari otak lu, Bang. Gue lebih milih lari-larian dikejar pembunuh bayaran bareng lu, daripada balik ke Jakarta tapi hati gue hampa karena lu nggak ada."
Aiden menatap tangan Ziva yang melingkar di lengannya. Ia membalikkan telapak tangannya, menggenggam jemari Ziva yang mungil dengan erat. "Kau yakin? Jalan di depanku tidak akan semakin mudah, Ziva. Crimson Fang hanyalah awal. Musuhku ada di setiap sudut."
"Gue yakin sejuta persen, Bang! Lagian lu lupa ya? Gue punya senjata rahasia," Ziva menunjuk ulekan batunya dengan dagunya. "Selama gue punya ulekan ini dan selama lu punya gue, kita nggak bakal terkalahkan. Kita itu kayak... seblak sama kerupuknya. Nggak lengkap kalau nggak bareng."
Aiden tertawa pelan, tawa yang kali ini terdengar sangat lepas. Ia menarik Ziva ke dalam dekapannya, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya yang bidang. Ziva bisa mendengar detak jantung Aiden yang stabil dan kuat.
"Baiklah, Bunga Matahariku. Kita akan menghadapi mereka semua bersama. Tapi kau harus janji satu hal," bisik Aiden.
"Apa Bang?"
"Belajarlah menembak dengan benar. Aku tidak mau jantungku copot lagi melihatmu melemparkan ulekan batu ke arah pria bersenjata otomatis."
Ziva nyengir di dalam pelukan Aiden. "Iya, iya. Nanti gue latihan pakai pistol bunga matahari itu lagi. Tapi jangan marah ya kalau gue nggak sengaja nembak botol parfum mahal lu lagi."
Aiden hanya bisa menghela napas pasrah. Ia mencium puncak kepala Ziva dengan lembut. Di tengah lembah Alpen yang sunyi, di samping api unggun yang mulai meredup, sebuah pengakuan kecil telah mengubah segalanya. Aiden Volkov bukan lagi naga yang kesepian, dan Ziva bukan lagi asisten yang terpaksa. Mereka adalah dua jiwa yang menemukan rumah di tempat yang paling tidak mungkin.
"Bang," panggil Ziva lagi saat ia mulai merasa mengantuk.
"Apa lagi?"
"Kalau kita balik ke Milan nanti, boleh nggak gue pelihara kucing? Biar mansion lu nggak terlalu sepi kalau lu lagi kerja."
Aiden menatap langit malam yang bertabur bintang, membayangkan mansionnya yang dingin akan dipenuhi suara kucing dan tawa Ziva. "Boleh, Ziva. Asal kucingnya tidak kau kasih makan terasi juga."
"Hehe, nggak janji ya, Bang!"
Api unggun itu perlahan mengecil, meninggalkan bara merah yang hangat. Di bawah pengawasan bintang-bintang Alpen, Sang Naga dan Bunga Mataharinya tertidur dalam pelukan satu sama lain, siap menyambut fajar dan segala peperangan yang menanti mereka di masa depan dengan hati yang kini jauh lebih berani.