NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dosen / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:435.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Sejak keluar dari ruangan Amira, langkah Aksa terlihat biasa saja. Namun, matanya berbeda sesekali ia melirik ke arah Kinara. Seolah ingin bertanya seolah ingin memastikan sesuatu. Tapi gengsinya terlalu besar untuk memulai.

Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Mesin menyala, namun suasana masih dipenuhi keheningan yang tipis dan berat.

Aksa duduk di kursi pengemudi. Tangannya memegang setir, tapi pandangannya beberapa kali mencuri ke arah paper bag yang terletak di pangkuan Kinara.

Kinara menyadarinya. Ia terlalu mengenal anak itu untuk tidak mengerti arti tatapan tersebut.

“Aksa,” ucap Kinara lembut.

“Hm?”

“Kamu sudah mempersiapkan pernikahanmu sejauh mana?”

Aksa menghela napas kecil, kembali fokus ke jalan.

“Semua sudah beres, Mom.”

Suaranya datar, profesional.

“Kita akan mengadakannya di hotel di Bali. Semua tamu penting sudah diundang. Vendor juga sudah fix.” Ia menjelaskan tanpa banyak ekspresi.

Namun, saat hening kembali turun, akhirnya ia menoleh sekilas.

“Mom…”

Kinara menatapnya.

“Apa mama menitipkan sesuatu?”

Nada suaranya santai tapi jelas ada rasa penasaran yang ia tahan sejak tadi.

Kinara tersenyum kecil dan dia mengangguk.

“Ada.”

Aksa menatap lurus ke depan lagi.

“Dari siapa?”

Pertanyaan itu terdengar biasa tapi tangan yang menggenggam setir sedikit mengeras.

Kinara tidak langsung menjawab. Ia menyentuh paper bag itu perlahan.

“Dari mama Amira.”

Aksa terdiam.

Hanya sunyi yang mendadak terasa lebih padat.

“Apa itu?” tanyanya akhirnya.

“Jas.”

Kinara menoleh padanya.

“Dia ingin kamu memakainya di hari pernikahanmu.”

Mobil tetap melaju, namun suasana di dalamnya terasa seperti berhenti.

Mobil memasuki halaman rumah Pramudya dengan perlahan. Lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di kaca depan mobil.

Aksa mematikan mesin, suasana langsung hening. Tidak ada suara selain detak napas yang tertahan.

Tangannya masih berada di atas setir. Rahangnya mengeras, namun matanya mulai memerah. Ia menatap lurus ke depan, berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi bergejolak di dalam dadanya.

Selama ini Aksa tumbuh menjadi laki-laki yang kuat.

Ia jarang sekali memperlihatkan sisi rapuhnya dan terlebih di depan orang lain, yang selalu ia jaga agar tidak melihat luka-luka lamanya.

Kinara tidak berkata apa-apa. Ia hanya menoleh pelan. Melihat bahu anak itu yang naik turun, seolah menahan gelombang yang hampir pecah. Tanpa banyak kata, Kinara mengulurkan tangan.

“Aksa … sini.” panggilan itu lembut dan cukup untuk meruntuhkan pertahanan yang selama ini ia bangun.

Aksa menoleh, hanya sepersekian detik. Lalu tiba-tiba ia merunduk dan memeluk Kinara.

Bukan seperti pria dewasa yang memeluk ibunya sekadar basa-basi.

Tapi seperti anak kecil yang akhirnya lelah berpura-pura kuat.

“Aku nggak bisa benci dia, Mom…” suaranya serak.

Kinara memeluknya lebih erat. Mengusap lembut kepala Aksa seperti dulu, saat ia masih kecil dan sering terbangun karena mimpi buruk.

“Aku nggak bisa … meskipun luka yang dia tinggalin nggak pernah benar-benar sembuh.” Kalimat itu membuat hati Kinara ikut bergetar.

Ia tahu luka itu dan dia melihat sendiri bagaimana Aksa kecil bertanya kenapa ibunya tidak tinggal bersamanya. Ia melihat bagaimana anak itu belajar menutup diri pelan-pelan.

Kinara mengusap rambutnya lagi.

“Dia wanita yang pernah berjuang melahirkan kamu,” ucapnya pelan.

“Meskipun dia tidak berjuang membesarkan kamu … tapi cintanya tetap ada. Dan besarnya tidak kalah dengan cintanya Mommy ke kamu.”

Aksa terdiam.

Tangisnya mulai mereda, tapi napasnya masih berat.

“Aku tahu…” gumamnya.

“Cuma … rasanya aneh.”

Kinara tersenyum lembut, walau matanya ikut berkaca-kaca.

“Karena kamu manusia, Nak. Bukan batu.”

Aksa menarik napas panjang. Lalu ia berbisik pelan, hampir seperti pengakuan yang selama ini ia simpan sendiri.

“Kalian berdua … selalu ada buat aku.”

Kinara menahan haru.

“Dan akan selalu,” jawabnya tanpa ragu.

Aksa memejamkan mata sejenak dalam pelukan itu.

Anak yang dicintai oleh dua perempuan dengan cara yang berbeda, namun sama tulusnya. Beberapa menit kemudian, Aksa melepaskan pelukan itu. Ia mengusap wajahnya, kembali memasang ekspresi tegasnya. Namun kali ini, ada ketenangan baru di matanya.

“Ma…”

“Ya?”

“Besok … aku mau ke yayasan.”

Kinara mengangkat alis.

“Untuk apa?”

Aksa menatap lurus ke depan, tapi kali ini tanpa beban.

“Aku mau berbicara langsung.” Senyum Kinara melebar hangat.

“Baik.”

Beberapa detik berlalu sebelum Aksa berbicara.

“Dia tidak memberikannya langsung?”

“Kenapa?”

Kinara tersenyum tipis.

“Karena dia takut kamu menolak.”

Kalimat itu sederhana. Namun, cukup untuk membuat rahang Aksa mengeras.

Ia terdiam cukup lama.

“Dia tidak perlu takut,” ucapnya akhirnya, pelan.

“Lalu?” tanya Kinara lembut.

Aksa menelan ludah.

“Aku tidak pernah bilang aku akan menolak.”

Kinara memandang putranya dengan mata yang penuh pengertian.

“Dia hanya tidak ingin memaksakan tempatnya di hidupmu,” ucap Kinara.

Aksa tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.

“Tempatnya tidak pernah hilang.”

Kinara terdiam. Itu pertama kalinya Aksa mengatakan sesuatu seperti itu.

Ia menghela napas pelan.

“Kalau begitu, nanti malam kamu coba jasnya.”

Aksa tidak langsung menjawab. Namun kali ini, ia tidak lagi menghindari pandangan ke arah paper bag itu.

“Mom.”

“Ya?”

“Pastikan dia tah u… aku akan memakainya.”

Kinara tersenyum hangat.

“Dia akan tahu.”

Sementara itu, mobil yang dikendarai Kaisar akhirnya berhenti di halaman rumah. Lampu teras menyala hangat, menyambut mereka dalam keheningan malam yang jauh lebih tenang dibanding sore tadi.

Begitu mesin dimatikan, Kaisar menghembuskan napas panjang. Seolah seluruh beban hari itu akhirnya jatuh dari pundaknya.

“Selesai juga…” gumamnya pelan.

Shelina menoleh dan tersenyum kecil. “Untuk sementara.”

Kaisar keluar lebih dulu, lalu berjalan memutar membuka pintu untuknya. Kebiasaan kecil yang tak pernah ia lewatkan.

Begitu masuk ke dalam rumah, suasana terasa jauh lebih damai. Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada tekanan aturan.

Kaisar meletakkan kunci mobil di meja, lalu berbalik menatap istrinya.

“Shel.”

Shelina yang sedang melepas sepatu berhenti.

“Kamu benar-benar baik-baik saja?”

Pertanyaan itu bukan sekadar formalitas. Matanya mencari kejujuran.

Shelina mendekat beberapa langkah.

“Aku sudah memikirkan keputusan itu sebelum mengatakannya,” jawabnya tenang.

“Tapi itu mimpimu,” Kaisar bersikeras pelan. “Aku nggak mau kamu merasa terpaksa.”

Shelina tersenyum, kali ini lebih hangat.

“Aku tidak merasa kehilangan.”

Kaisar terdiam.

Shelina mengangkat tangannya, menyentuh pipi suaminya dengan lembut.

“Aku akan baik-baik saja … selama kehidupan yang aku jalani bersama kamu.” Kalimat itu sederhana namun bagi Kaisar, itu lebih dari cukup. Ia memegang tangan Shelina yang menyentuh pipinya.

“Aku janji,” ucapnya serius, “ini cuma sementara. Setelah aku lulus, kamu kembali mengajar. Aku akan berdiri paling depan kalau ada yang berani komentar.”

Shelina tertawa kecil. “Jangan galak-galak dulu.”

“Kamu tahu aku bisa.”

“Aku tahu,” jawabnya lembut.

Kaisar menariknya ke dalam pelukan. Pelukan yang kali ini bukan karena takut kehilangan.

Hari itu penuh ketegangan, rahasia keluarga, air mata, dan keputusan besar.

1
Syalari sholeh
mksdnya apa ni? anak dari suaminya,anaknya dari suaminya
nayoon
ayah yg egois ,anak pertama enak bisa jadi CEO anak lain gak d d perhatiin , apalagi kaisar selalu dapat sindiran
ayu cantik
bagus
Ima Kristina
Daddy Arman kok gak minta maaf sama Kai .....
Ima Kristina
Next
Ima Kristina
Tapi kan setelah Kai lahir keadaan Kinara baik' saja kenapa masih menyalahkan Kai... lagian bukan salah Bayi Kai juga
Ima Kristina
ooo ternyata itu masalahnya kenapa Daddy Arman dan Aksa terlalu meremehkan Kai ....tapi apa hubungannya dengan triples apa coba .... Arman gimana sih
Ima Kristina
Aksa kok gitu sih merasa bersalah pada Kai tapi semua anggota keluarga ikut imbasnya
Ima Kristina
Semuga Kai tidak labil lagi ....udah mau jadi papa harus lebih bijak
Ima Kristina
Kenapa gak buka bengkel mobil sendiri meski dengan pinjam modal keluarga dulu
Ima Kristina
Mau berdiri sendiri dengan usaha sendiri itu bagus Kai....tapi kalau belum bisa ya jangan dipaksa
Ima Kristina
Hayo Kai semangat dong demi rumahtangga kecilmu
Ima Kristina
Bagus Kai mending kerja di tempat lain yang bikin nyaman
Ima Kristina
Punya keluarga kaya raya ....kenapa juga bingung biarpun koneksi yang penting kamu kerja yang profesional
Ima Kristina
Siap tidak siap harus siap karena anak adalah titipan ALLOH
Ima Kristina
Shelin harus jujur nanti Kai marah loh
Ima Kristina
Aku sudah gak respek sama Aksa ....
Ima Kristina
Aksa terlalu keras memperlakukan Kai kenapa harus menamparnya sudah tahu watak adiknya mudah emosi
Ima Kristina
Semangat Kai...
Ima Kristina
Mungkinkah Shelin lagi hamil ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!