Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan di Rumah Kayu
"Perkenalkan, Pak, saya Teguh. Anak kedua dari Bapak Sodikin," kata Teguh memecah keheningan, mengulurkan tangannya dengan sikap takzim.
Mendengar nama Sodikin disebut, sepasang mata Pak Tarmuji seketika bergetar.
"Sodikin..." gumam Pak Tarmuji, suaranya terdengar parau dan sedikit serak.
Ia menjabat tangan Teguh dengan genggaman yang gemetar.
"Apakah... apakah bapak dan ibumu di Bojonegoro sehat, Le?"
"Alhamdulillah, Bapak dan Ibu sehat walafiat, Paklek. Sebelum kami berangkat ke sini tadi pagi, Bapak dan Ibu titip salam untuk Paklek Tarmuji," jawab Teguh sopan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah..." Pak Tarmuji mengusap wajahnya yang tampak emosional, mencoba meredam gejolak batin yang mendadak menyerang pertahanan tuanya.
Sementara itu, Rana yang sedari tadi hanya bisa menundukkan kepala lekat-lekat ke arah meja bambu, perlahan-lahan mulai memberanikan diri untuk menegakkan pandangannya. Ketika kelopak matanya terangkat sempurna dan manik matanya bertemu langsung dengan manik mata Pak Tarmuji, sebuah sentakan tak kasat mata kembali menghantam dada mereka berdua. Ada ikatan batin yang begitu kuat, seolah darah yang mengalir di tubuh mereka saling mengenali pemiliknya.
Pak Tarmuji terpaku. Secara tidak sadar, tubuh kurusnya bergerak maju, agak condong mendekat ke arah kursi Rana. Jemari tangannya yang kasar dan dipenuhi guratan urat-urat tua terangkat, hendak mengulur ke wajah putrinya.
Namun, baru setengah jalan pergerakan itu tercipta, mata Pak Tarmuji melirik ke arah telapak tangannya sendiri yang tampak legam, kotor, dan berbau ayam potong dari pasar. Dengan senyuman getir yang sarat akan rasa rendah diri, ia buru-buru menarik kembali tangannya dan menyembunyikannya di bawah meja.
Teguh yang menangkap momen canggung penuh haru itu segera berdehem pelan, menjembatani kecanggukan.
"Paklek... ini Rana. Anak dari Bulek Retno."
Pak Tarmuji menganggukkan kepalanya perlahan, setitik air mata tampak mulai menggenang di sudut matanya yang keriput. Tanpa perlu diberi tahu pun, naluri kebapakannya sudah bisa menebak identitas gadis di depannya sejak detik pertama. Struktur wajah Rana adalah replika hidup dari bayangan Retno di masa muda dulu; saat hubungan mereka masih baik-baik ssaj.
"Rana..." sebut Pak Tarmuji lirih, seolah nama itu adalah berkah paling suci yang akhirnya bisa ia lafalkan kembali setelah belasan tahun terkubur.
Pria tua itu menghela napas panjang, mencoba menguasai suaranya yang kian bergetar.
"Untuk apa kalian berdua mencariku sampai ke tempat sejauh ini?"
"Sebaiknya pembicaraan ini dibawa ke rumah saja, Pakne. Tidak nyaman kalau bicara urusan keluarga di sini," sela istri baru Pak Tarmuji tiba-tiba.
Wanita itu melangkah mendekat dari balik etalase, menatap suaminya dan kedua tamu muda mereka dengan pandangan yang teramat bijak dan penuh pengertian.
Pak Tarmuji menoleh ke arah istrinya.
"Kamu benar, Bune. Tapi... apa kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal sendirian?"
"Tidak apa-apa, Pakne. Jangan khawatir. Lagipula sebentar lagi Fahri juga pasti sudah kembali dari pasar induk, nanti ada dia yang bisa bantu-bantu membakar ayam dan melayani pembeli. Wis, cepat bawa mereka pulang ke rumah, jangan lupa dibuatkan minum yang layak," sahut wanita itu ramah, bahkan memberikan senyuman tulus ke arah Rana, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa keberatan atau terancam dengan kehadiran anak dari masa lalu suaminya.
Pak Tarmuji mengangguk patuh.
"Ya sudah. Ayo, Teguh, Rana... kita bicara di rumah saja."
Rana dan Teguh ikut bangkit berdiri, berjalan melangkah mengekor di belakang punggung kurus Pak Tarmuji keluar dari area tenda hijau. Di pinggir jalan pasar, sebuah sepeda motor bebek tua milik Pak Tarmuji terparkir. Rana bisa melihat dengan jelas bahwa struktur motor tersebut telah dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak mengganggu atau menyulitkan kondisi kaki kanan Pak Tarmuji yang tampak timpang dan sulit ditekuk.
Mereka berkendara beriringan membelah jalanan Cepu selama kurang lebih sepuluh menit, masuk ke dalam sebuah kawasan pemukiman padat penduduk yang didominasi oleh deretan rumah-rumah kayu sederhana yang berdiri saling berhimpitan satu sama lain di dekat area rel kereta api tua.
Sesampainya di dalam rumah kayu sederhana namun tertata sangat rapi dan bersih tersebut, Pak Tarmuji mempersilakan Rana dan Teguh untuk duduk di atas kursi kayu kuno di ruang tamu. Dengan langkah pincangnya yang menimbulkan suara ketukan berirama di atas lantai ubin, pria tua itu pergi ke dapur dan tak lama kemudian kembali membawa senampan teh hangat yang aromanya mengepul wangi.
"Diminum dulu," kata Pak Tarmuji, meletakkan gelas-gelas itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Suasana sempat mendadak hening dan kaku selama beberapa saat. Hanya ada suara detak jarum jam dinding plastik murah yang menggantung di sekat ruangan.
"Paklek..." Teguh akhirnya membuka suara, mencoba memecah keheningan yang mencekam tersebut.
Namun, belum sempat ia merangkai kalimat lanjutannya, gerakan tangan kanan Pak Tarmuji yang terangkat di udara seketika menghentikan ucapan Teguh.
Sepasang mata tua Pak Tarmuji kini tertuju lurus pada Rana yang masih setia menatap jemarinya sendiri di atas pangkuan.
"Apa... apa kamu datang ke sini karena mau menikah, Nduk?" tanya Pak Tarmuji dengan nada suara yang teramat bergetar, sarat akan rasa takut sekaligus rendah diri yang teramat besar.
Rana bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana getaran minder dan rasa tidak berdaya terpancar dari sosok pria yang berstatus sebagai bapak kandungnya ini. Pak Tarmuji seolah berpikir bahwa kedatangan anaknya yang tiba-tiba setelah belasan tahun adalah untuk menuntut hak wali nikah, sebuah kewajiban normatif yang sering kali menjadi satu-satunya alasan anak broken-home mencari ayah biologis mereka.
Mendengar pertanyaan sensitif itu, tenggorokan Rana mendadak berdenyut menyakitkan. Ia tidak sanggup membuka bibirnya untuk menjawab. Rasa bersalah, sedih, dan haru berbaur menjadi satu, menyumbat saluran suaranya.
Beruntung, Teguh yang memiliki kepekaan emosional segera mengambil alih kendali pembicaraan.
"Untuk saat ini belum ada rencana ke arah sana, Paklek. Kedatangan kami ke sini murni karena Rana ingin tahu keberadaan dan bagaimana kondisi Paklek sekarang."
"Ingin tahu keberadaanku?" tanya Pak Tarmuji dengan raut wajah yang mendadak berubah bingung dan penuh tanda tanya besar.
Teguh dan Rana saling pandang sesaat, berkomunikasi lewat sandi mata.
"Iya, Paklek. Kami murni hanya ingin tahu bagaimana keadaan Paklek, karena... karena sejujurnya selama belasan tahun ini, kami di Bojonegoro sama sekali tidak pernah tahu atau mendengar kabar apa pun tentang Paklek," jawab Teguh sedikit melantur, mencoba menyembunyikan konflik internal Rana dan Bulek Retno.
Mendengar jawaban Teguh, dahi Pak Tarmuji berkerut semakin dalam. Kerutan di wajah tuanya tampak menegang, mengekspresikan rasa tidak percaya yang amat sangat.
"Maksudmu... bagaimana? Rana tidak tahu kalau aku ada di sini? Rana tidak tahu kalau aku ini bapaknya yang masih hidup?"
Teguh menarik napas dalam, lalu menganggukkan kepalanya pelan, mengonfirmasi fakta pahit tersebut.
"Bagaimana mungkin?!" suara Pak Tarmuji mendadak meninggi, bukan karena marah kepada Rana, melainkan karena rasa syok yang teramat besar.
"Sejak perceraian belasan tahun lalu, bapak tidak pernah sekalipun absen mengirimkan surat beserta uang wesel pos ke alamat rumah Bojonegoro untuk memenuhi seluruh kebutuhanmu."
DEG!
Bagai disambar petir di siang yang tenang, tubuh Rana dan Teguh seketika membeku di atas kursi mereka masing-masing. Mereka berdua sama-sama tercengang, saling pandang dengan mata yang terbelalak lebar mendengar penuturan jujur yang keluar dari lisan Pak Tarmuji.
Surat? Uang wesel pos bulanan? Apa selama belasan tahun ini bapak kandungnya selalu konsisten memberikan nafkah untuknya?
Otak Rana berputar cepat, mencoba memproses informasi masif ini. Tapi... kenapa ibunya, tidak pernah mengatakan apa pun kepadanya? Jangankan memperlihatkan surat-surat itu, membahas nama atau eksistensi bapaknya saja adalah hal yang teramat tabu dan dilarang keras di dalam rumah.
Setiap kali Rana kecil maupun remaja mencoba bertanya tentang di mana ayahnya berada, pertanyaan itu hanya akan mengundang ledakan amarah yang luar biasa hebat dari Bu Retno, diikuti dengan cacian bahwa ayahnya adalah pria tidak bertanggung jawab yang telah membuang mereka.
"Aku mengira selama ini Bapak memang sengaja membuangku dan tidak pernah menginginkan kehadiranku di dunia ini..." kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Rana, diiringi oleh isak tangis yang akhirnya pecah tanpa bisa ditahan-tahan lagi.
Dada Pak Tarmuji serasa dihantam godam besar mendengar kalimat pilu yang keluar dari mulut putrinya sendiri. Hatinya hancur berkeping-keping menyadari kesalahpahaman yang telah meracuni mental anaknya selama belasan tahun.
"Bukan, Nduk... Demi Allah, bukan begitu kenyataannya!" kata Pak Tarmuji dengan suara baritonenya yang pecah.
Tanpa memedulikan rasa sakit di kaki kanannya yang timpang, pria tua itu langsung merosot turun dari kursi, duduk bersimpuh di atas lantai ubin, tepat di depan lutut Rana.
"Bapak sangat menyayangimu, Nduk. Bapak tidak pernah sekalipun melupakanmu atau berniat membuangmu. Kamu adalah satu-satunya alasan dan semangat bapak untuk tetap bertahan hidup, bekerja memeras keringat sampai sekarang, Nduk!"
Teguh dengan sigap langsung ikut turun ke lantai, menarik dengan lembut tubuh kurus Pak Tarmuji dan mendudukkannya kembali ke atas kursi. Pemuda itu merasa tidak nyaman dan tidak sopan membiarkan seorang pria yang berstatus sebagai orang tua sekaligus pakleknya berada dalam posisi yang lebih rendah dari mereka yang muda.
Sementara itu, air mata Rana sudah menganak sungai, membasahi seluruh permukaan pipinya. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Pak Tarmuji terdengar begitu tulus, bergetar oleh rasa bersalah dan kasih sayang murni yang tidak dibuat-buat. Baru kali ini, selama sembilan belas tahun napasnya berembus di bumi, Rana merasa dirinya dianggap sebagai sesosok manusia yang teramat penting dan berharga di mata seseorang.
Rana menyeka air matanya dengan tangannya, mencoba menenangkan isakannya.
"Kalau memang Bapak selalu mengirimkan uang dan surat setiap bulan, kenapa selama belasan tahun ini Bapak tidak pernah sekalipun datang untuk menjenguk atau menemuiku?"
Pak Tarmuji menatap Rana dengan tatapan mata yang sarat akan rasa tak berdaya.
"Ibumu... tidak pernah sekalipun mengizinkan bapak untuk menginjakkan kaki di pekarangan rumah itu lagi, Nduk," jawab Pak Tarmuji pelan, kepalanya tertunduk dalam.
"Dulu, saat kamu masih belajar jalan, bapak pernah mencoba nekat datang untuk melihatmu dari jauh. Tapi ibumu marah dan mengancam akan membawamu pergi jauh, di mama bapak tidak akan bisa menemuimu lagi seumur hidup. Bapak takut, Nduk. Jadi... bapak memilih mengalah. Bapak pikir, dengan tetap konsisten menanyakan kabarmu lewat surat dan mengirimkan uang nafkah, itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa bapak masih ada untukmu. Dan bapak tahu kamu masih bisa bapak jangkau. Tapi, sudah sekitar setengah tahun belakangan ini, ibumu tidak lagi membalas surat yang bapak kirim."
"Surat dan wesel? Kenapa kuno sekali, Paklek? Kenapa tidak lewat telepon atau pesan singkat saja yang lebih cepat?" celetuk Teguh heran, menelisik sistem komunikasi era modern yang diabaikan.
Pak Tarmuji tersenyum getir, melirik ke arah ponsel jadul tipe monokrom miliknya yang tergeletak di atas meja.
"Hanya itu yang bisa kulakukan, Le. Karena setiap kali mencoba menelepon ke nomor Retno, dia selalu menjawabnya dengan ketus dan memaki, lalu langsung memblokir nomor bapak. Bapak berpikir... surat itu setidaknya akan sampai ke rumah."
"Sayang sekali, Paklek... kenyataannya Rana tidak pernah tahu sedikit pun kalau Paklek melakukan semua pengorbanan itu selama ini," kata Teguh dengan nada suara yang kian meninggi karena gemas dan emosional.
"Apa... apa maksudmu, Le?" Pak Tarmuji menegakkan tubuh kurusnya, menatap keponakannya itu meminta kejelasan mendalam.
"Jika Rana hari ini tidak memiliki keberanian untuk nekat datang kemari, mungkin... sampai akhir hayat pun Paklek Tarmuji tidak akan pernah bisa melihat wajah anak kandungmu ini lagi, karena Bulek Retno benar-benar menutup rapat semua akses informasi tentang Paklek! Bahkan, seluruh keluarga besar, termasuk bapak dan ibuku, dipaksa mengikat janji untuk tutup mulut dan tidak boleh menceritakan sedikit pun tentang keberadaan Paklek kepada Rana!"
Pak Tarmuji tersentak, dadanya naik turun dengan ritme cepat.
"Apa maksudmu? Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan anakku?!"
Teguh akhirnya tidak bisa lagi menahan seluruh kebenaran yang diketahuinya. Dengan mengabaikan isakan tangis Rana yang kian sesenggukan di sampingnya, pemuda itu mulai menceritakan secara detail rentetan kisah hidup Rana selama ini.
Dimulai dari bagaimana Rana diperlakukan seperti anak yang tidak diharapkan, kemudian dijadikan pembantu di rumah, sampai menjadi mesin pencari uang alias sapi perah finansial oleh Bu Retno. Bagaimana seluruh uang gajinya dikuras habis untuk membiayai Rani, adik kandung berbeda ayah. Hingga puncaknya tentang perjodohan sepihak dengan Putra Nugroho yang memicu aksi kekerasan fisik berupa tamparan di pipi Rana.
Mendengar bait demi bait cerita kekejaman mantan istrinya yang dipaparkan oleh Teguh, pertahanan tegar Pak Tarmuji sebagai seorang laki-laki akhirnya runtuh total. Pria paruh baya yang biasanya dikenal kuat menghadapi kerasnya hidup itu kini menitikkan air matanya dengan sangat deras. Matanya menatap nanar ke arah pipi kiri putri sulungnya.
Pak Tarmuji meraih jemari tangan Rana, kali ini ia tidak peduli lagi apakah tangannya kotor atau bersih. Ia menggenggam erat jemari kurus anaknya, mendekatkannya ke dahi tuanya sembari menangis tersedu-sedu.
"Maafkan bapak, Nduk... Maafkan kelalaian bapak yang bodoh ini," isak Pak Tarmuji, bahunya berguncang hebat oleh rasa penyesalan yang teramat menghunjam dalam.
"Bapak benar-benar tidak tahu... bapak tidak tahu kalau selama ini kamu hidup menderita dan ditekan sedemikian rupa oleh ibumu. Bapak kira kamu hidup berkecukupan dan bahagia di sana... Maafkan bapak, Nduk..."
Rana yang melihat ketulusan dan hancurnya perasaan sang bapak, langsung membalas genggaman tangan tersebut dengan tak kalah erat. Di dalam rumah kayu yang sederhana itu, di sela-sela deru suara kereta api yang melintas, air mata dari dua darah daging yang lama terpisah itu menyatu, membasuh habis seluruh kesalahpahaman masa lalu dan menyisakan sebuah tekad baru untuk saling melindungi.