NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Konflik etika
Popularitas:67.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 28 WARNING! PERINGATAN KONTEN

*⚠️* PERINGATAN KONTEN

Bab ini mengandung materi fiksi yang menampilkan konflik emosional berat, perilaku manipulatif, serta situasi yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca.

Kisah ini ditulis untuk kebutuhan pengembangan karakter dan alur cerita, bukan untuk membenarkan atau mempromosikan perilaku yang ditampilkan di dalamnya.

Harap membaca dengan bijak dan sesuai dengan preferensi pribadi masing-masing.

———

Mendengar perintah mutlak tersebut, Hank menundukkan kepala tanpa suara, lalu melangkah keluar dan menutup pintu besar itu rapat-rapat.

Menyisakan keheningan yang mencekam di antara dua orang yang kini dilingkupi atmosfer berbahaya.

Sebelum Aurora sempat menyadari apa yang terjadi, Aragon bergerak cepat. Tanpa peringatan, pria itu merendahkan tubuhnya dan menyentak tubuh Aurora, memanggul gadis itu di atas bahu kokohnya seolah bobot tubuh Aurora tidak ada artinya.

“Akh!! Lepas… lepaskan saya!” pekik Aurora parau, memukul-mukul punggung keras Aragon dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Aragon mengabaikan rontaan itu sepenuhnya. Dengan langkah lebar dan tegas, ia membawa Aurora mendekati sofa kulit besar yang terletak di sudut ruangan.

Begitu sampai, Aragon menurunkan Aurora dan menjatuhkan tubuh gadis itu di atas sofa dengan paksa, namun entah bagaimana, tangan kekarnya berasa di kepala Aurora agar tetap memastikan kepala gadis itu tidak terbentur keras.

Belum sempat Aurora bangkit untuk melarikan diri, tubuh besar Aragon sudah merangkak naik, mengungkungnya di bawah bayang-bayang raga pria itu.

Kedua tangan kekar Aragon bertumpu kuat di sisi kanan dan kiri kepala Aurora, mengunci mati setiap celah untuk bergerak.

Aragon sengaja menurunkan wajahnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Embusan napasnya yang memburu dan terasa panas menyapu permukaan kulit wajah Aurora, mengirimkan sinyal bahaya yang teramat nyata.

Tatapan matanya yang segelap malam mengunci netra Aurora yang bergetar ketakutan.

“Kau pikir kau bisa lari dariku setelah masuk ke ruangan ini, Aurora?” bisik Aragon, suaranya kini melunak, namun justru kedengaran jauh lebih mengerikan dan mengintimidasi.

Perlahan, salah satu tangan Aragon terangkat dari sofa. Jemari panjangnya yang dingin mulai menelusuri garis rahang Aurora, turun perlahan melewati leher, hingga berhenti tepat di atas tulang selangka gadis itu.

Tekanan jarinya begitu lembut, namun penuh dengan ancaman terselubung yang membuat bulu kuduk Aurora meremang hebat.

Aurora menahan napasnya, tubuhnya menegang kaku bagai batu. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu gila-gilaan, berdentum di dalam dadanya karena ketakutan yang teramat sangat.

Intimidasi ini begitu intim, begitu dekat, seolah-olah Aragon bisa menguliti dan menghancurkan pertahanannya kapan saja pria itu mau.

“Satu kata ‘tidak’ lagi yang keluar dari bibirmu…”

Aragon menjeda kalimatnya, sengaja mendekatkan bibirnya ke ceruk leher Aurora, membiarkan bibirnya menyentuh kulit sensitif itu dengan sapuan yang sangat tipis, “…maka aku tidak menjamin pakaian yang kau kenakan masih utuh. Pahami itu, Gadis Naif.”

Ancaman itu begitu nyata. Aurora memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya menetes melewati pelipis, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat di bawah kuasa penuh sang predator.

Aragon tidak berhenti sampai di situ. Sementara Aurora masih gemetar dalam kukungannya, pria itu perlahan menyesap dan menelusuri ceruk leher Aurora, memberikan kecupan-kecupan lembut yang terasa teramat dingin dan menakutkan bagi gadis itu.

Di sela sentuhan intim yang menjerat tersebut, Aragon membisikkan ancaman yang seketika merenggut seluruh sisa harapan Aurora.

”Persetan.” Geram Aurora.

Aragon menyunggingkan senyuman tak percaya. Senyuman lebar yang lebih mirip joker.

“Jika kau menolak lagi, aku tidak akan segan-segan melenyapkan semua anak panti, termasuk para suster yang saat ini sedang tidur nyenyak di atas kasur empuk hotel mewah ini,” desis Aragon, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan kekejaman mutlak.

Embusan napas panas pria itu terasa kontras dengan kulit leher Aurora yang mendadak sedingin es.

“Kau tahu kekuasaanku, Aurora. Hanya dengan satu perintah dariku, dalam sekejap mata, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang mengingat bahwa anak-anak panti dan para suster itu pernah bernapas di bumi ini. Mereka akan hilang tanpa jejak.”

Mendengar itu, seluruh pertahanan Aurora runtuh berkeping-keping. Jantungnya mencelos bebas. Ia menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong, sementara air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung, membasahi pelipis dan sofa tempatnya terbaring.

Di dalam benaknya, Aurora didera kenyataan pahit yang mengerikan. Pria di atasnya ini bukan lagi sekadar manusia; dia adalah iblis yang sesungguhnya. Kekejaman Aragon jauh melampaui Bulldog, melampaui siapa pun yang pernah Aurora takuti seumur hidupnya.

Aurora tahu betul, melapor ke polisi atau mencari bantuan hukum pun hanya akan menjadi tindakan sia-sia. Di hadapan pria berkuasa seperti Aragon, hukum tidak lebih dari selembar kertas tanpa arti.

Dengan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat, Aurora akhirnya memejamkan mata. Dari sela bibirnya yang pucat, sebuah kalimat pasrah akhirnya lolos bersama isak tangis yang tertahan.

“Baiklah. Iya… saya… saya setuju,” bisik Aurora parau, menyerahkan seluruh kebebasan dan masa depannya ke dalam cengkeraman sang monster.

Mendengar jawaban itu, Aragon menghentikan ciumannya di ceruk leher Aurora. Sebuah senyuman puas, dingin, dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah tampannya yang maut.

Mendengar kepasrahan itu, Aragon perlahan menjauhkan tubuhnya, melepaskan kungkungannya yang sempat mengunci mati pergerakan Aurora.

Pria itu berdiri tegak, membenahi letak kemejanya yang sedikit kusut tanpa sepatah kata pun. Ia melangkah menuju meja kerja, meraih ponsel pintarnya, lalu mengirimkan satu pesan singkat kepada Hank.

Sementara itu, Aurora berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya yang telah terkuras habis. Dengan tubuh yang masih bergetar hebat, ia bangkit secara perlahan untuk membenarkan posisi duduknya di atas sofa. Jemari kecilnya yang gemetar mencoba merapikan helaian rambut yang berantakan serta pakaiannya yang sedikit kusut akibat pergulatan tadi.

Dari kejauhan, sepasang mata elang Aragon memperhatikan setiap gerak-gerik panik dan rapuh dari gadis itu. Sesaat, kilat asing melintas di netra gelapnya sebelum akhirnya ia membuang muka dengan dingin.

Aragon tahu, intimidasi fisik dan mental yang baru saja ia lakukan adalah satu-satunya cara instan untuk mematahkan kebebalan Aurora, memaksanya tunduk di bawah selembar kertas kontrak.

Tak butuh waktu lama, ketukan di pintu terdengar. Hank melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa di dalam ruangan itu sebelumnya.

Di kedua tangannya, ia membawa map dokumen tebal dan sebuah pena mahal, lalu meletakkannya di atas meja kaca di hadapan Aurora.

“Silakan ditandatangani, Nona Aurora,” ucap Hank formal.

Aragon berjalan mendekat, lalu berdiri menjulang di dekat sofa, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, ia mengamati dalam diam saat jemari kecil Aurora meraih pena tersebut.

Gerakan tangan gadis itu tampak sangat kentara bergetar hebat. Di dalam kepala Aurora saat ini, hanya ada bayangan wajah anak-anak panti yang polos dan para suster yang merawatnya.

Sialnya, kemewahan hotel tempat mereka menginap saat ini ternyata bukanlah bentuk kebaikan, melainkan sangkar emas yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi tempat pembantaian jika ia salah mengambil keputusan.

Bersambung

1
Luna.aluna
ARAGON AKU SUDAH MEMBERIMU HATI SEBANYAK MUNGKIN TOLONG JANGAN KECEWAKAN AKU😂😍
Luna.aluna
Iya mas zaya tahu saya tahu
Luna.aluna
Tukeran dah Aurora aku jadi kamu ☺️☺️☺️
Rainn G.
Kenapa ga dari tadi kata si hank 😭
Lanjut kak jangan di gantung
Rainn G.
Habis bulldog terbitlah aragon 😭 tapi ya mending aragon sih kemana-mana 😂
Rainn G.
😭🤣
Rainn G.
Rese emang kaya tuannya 11 12🗿🏃‍♀️‍➡️
Rainn G.
Omagatttt
Arumi Hanza
Aragon kayak lagi di wawancara 😄
Arumi Hanza
Cepat thor bikin aurora setuju
bvdy13
upp
bvdy13
next
pasya2007
lnjut
ifran 024
next yg banyak thoorr
ifran 024
seruuu
Aswatadhi
lnjut
Aswatadhi
cm aurora yg brani mendellik
luthz700
ditunggu kelanjutan bab baru
luthz700
lanjut update lagi
sugi ajah
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!