Ketika banyak wanita yang membuangku sistem Harem ku aktiv dan siap untuk membuat mereka yang membuangku menyesal.. !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karensi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Keesokan paginya, suasana di pusat kota Jakarta beneran terasa sangat cerah dan segar. Setelah mengantar Bella ke gedungnya untuk kelas pagi menggunakan hypercar Koenigsegg Jesko baru dari sistem, gue memutuskan untuk mampir ke kafe estetik yang terletak tepat di seberang kampus.
Gue memilih duduk di sudut dekat jendela, menikmati secangkir espresso dingin sambil bersantai. Tidak berselang lama, kursi di depan gue ditarik oleh seseorang.
Aroma parfum mawar yang sangat elegan dan beneran sangat gue kenali langsung menyeruak masuk ke indera penciuman gue. Gue mendongak dan mendapati Diana, dosen muda super cantik di kampus ini yang beneran sudah takluk menjadi kekasih di dalam sirkel harem gue, kini sudah duduk di sana.
Namun, penampilan Diana pagi ini beneran beda drastis dari biasanya. Alih-alih memakai setelan blazer formal khas dosen yang anggun, dia justru mengenakan kemeja flanel yang kedodoran, kacamata bulat besar yang buram, dan rambut panjangnya dikuncir asal-asalan layaknya mahasiswi cupu.
"Diana? Kenapa lu dandan jadi cupu begini?" tanya gue sambil menaikkan sebelah alis, menatap wajah cantiknya yang beneran tetap terlihat menawan meski sengaja ditutupi.
Diana langsung merona merah padam di kedua pipinya setelah mendengar suara bariton gue yang penuh dominasi. Efek Kharisma Raja Level Dua milik gue beneran selalu sukses membuat dosen tegas ini langsung lemas manja.
"Raka... kecilkan suaramu, ih," bisik Diana panik sambil menengok ke kanan dan kiri dengan waspada. Dia lalu mencondongkan tubuh indahnya ke arah gue. "Aku terpaksa harus menyamar seperti ini kalau lagi di luar area kelas. Ada hal penting yang beneran harus aku sembunyi..."
Brak!
Belum sempat Diana menyelesaikan kalimatnya, pintu kaca kafe mendadak didorong paksa hingga hampir terlepas dari engselnya. Keheningan pagi itu beneran langsung pecah total.
Tiga orang pria berbadan tegap dengan potongan rambut cepak militer dan mengenakan setelan jas hitam rapi melangkah masuk dengan tatapan mata yang sangat tajam. Aura yang memancar dari tubuh mereka beneran sangat berat, membuat pengunjung kafe lain langsung tertunduk ketakutan.
Pandangan ketiga pria itu menyapu seisi ruangan, hingga akhirnya tatapan mereka terkunci lurus ke arah meja kami. Lebih tepatnya, ke arah Diana.
Mereka berjalan tegap mendekat, lalu dengan kompak langsung berdiri tegap di samping meja kami. Tanpa diduga, ketiga pria berbadan kekar itu langsung membungkuk hormat sembilan puluh derajat di hadapan Diana yang kini wajahnya beneran sudah pucat pasi.
"Selamat pagi, Nona Muda Diana! Mohon maaf mengganggu waktu bersantai Anda!" seru pria yang berdiri di posisi paling depan dengan nada suara yang menggelegar tegas khas prajurit.
Diana beneran langsung panik setengah mati. Dia buru-buru memakai kacamata bulatnya lagi dan membuang muka. "K-kalian salah orang! Aku bukan Diana yang kalian maksud!"
Pria cepak itu tidak bergeming. "Mohon jangan bercanda, Nona Muda. Perintah ini datang langsung dari markas komando pusat. Jenderal Bintang Tiga Angkatan Darat, yang merupakan ayah kandung Anda, memerintahkan kami untuk menjemput Anda sekarang juga karena situasi keamanan negara sedang siaga satu!"
Bumrr!
Mendengar ucapan lantang dari prajurit elit itu, seisi kafe beneran langsung geger gila. Beberapa mahasiswa yang ada di sana langsung melongo tidak percaya. Dosen muda berprestasi yang selama ini dikenal sebagai gadis mandiri dari keluarga biasa, ternyata adalah putri tunggal dari pemegang kekuatan militer tertinggi di negeri ini!
Diana menghela napas pasrah yang sangat panjang. Dia akhirnya melepaskan kacamata bulat besarnya, lalu menatap gue dengan pandangan yang beneran penuh rasa bersalah sekaligus pasrah.
"Raka... maafkan aku," bisik Diana dengan nada dewasa yang beneran sangat tulus, menggenggam tangan tegap gue dengan erat. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan identitas asliku darimu. Statusku sebagai putri Jenderal beneran terlalu berbahaya, banyak musuh politik ayahku yang mengincarku untuk dijadikan sandera."
Gue cuma tersenyum tipis, membalas genggaman tangan halusnya dengan sangat kuat dan penuh dominasi mutlak.
Tinggg!
"Plot Twist Rahasia Harem Terbongkar Massal! Identitas Tersembunyi Diana Resmi Teridentifikasi: Permaisuri Militer Utama. Karena Tuan Rumah berhasil mengunci hati putri dari penguasa komando militer tertinggi, Sistem memberikan Hadiah Legendaris: Poin Sistem bertambah Satu Ribu Poin, dan Membuka Fitur Otomatis: Koneksi Hukum & Jaringan Militer Mutlak!"
Gue berdiri dari kursi, menatap ketiga prajurit elite itu dengan wibawa dewa yang membuat mereka beneran langsung merinding ketakutan secara instan.
"Putri Jenderal, ya? Menarik," ucap gue tenang sambil merangkul pinggang ramping Diana, menarik tubuh indahnya menempel erat di tubuh tegap gue. "Kalian mau menjemput wanita gue? Kalau begitu, biar gue yang mengantarnya langsung ke markas kalian."
Diana beneran langsung lemas manja di dalam dekapan gue, merasa sangat aman dan bangga karena memiliki pria setingkat dewa seperti gue di hadapan para pasukan ayahnya.
Konvoi tiga mobil SUV lapis baja berwarna hitam legam dengan sirene senyap beneran sudah berbaris rapi di depan lobi kafe. Beberapa prajurit bersenjata laras panjang berjaga di sekitar trotoar, membuat para mahasiswa yang melintas beneran tidak berani menoleh dua kali. Aura militer yang sangat pekat ini membuat jalanan kampus yang tadinya bising mendadak mencekam.
Gue melangkah keluar dari kafe sambil tetap merangkul pinggang ramping Diana secara posesif. Di sebelah gue, Diana berjalan dengan kepala tegak, memancarkan wibawa seorang putri petinggi militer yang beneran berbeda jauh dari citra dosen lembut yang biasa mahasiswa lihat di ruang kelas. Langkah kakinya yang anggun namun tegas berirama sempurna dengan langkah tegap fisik dewa gue.
Pimpinan prajurit yang tadi menegur kami buru-buru membukakan pintu baris tengah untuk kami berdua dengan sikap yang sangat takzim. "Silakan naik, Nona Muda, Tuan Raka. Jenderal Besar beneran sudah menunggu kehadiran Anda berdua di markas komando utama," ucapnya dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penghormatan mutlak.
Begitu pintu tebal antipeluru itu tertutup rapat, kabin mobil langsung terasa sangat senyap dan sejuk. Diana menyandarkan punggungnya ke jok kulit mewah, lalu menoleh ke arah gue dengan sepasang mata yang berkaca-kaca karena rasa bersalah yang teramat dalam. Tangan mungilnya yang halus beneran langsung mencengkeram erat kemeja flanel yang gue kenakan.
"Raka, tolong jangan marah sama aku ya," bisik Diana dengan nada suara yang sangat lirih dan manja, beneran hilang sudah ketegasan seorang dosen hukum di hadapan pria yang dicintainya. "Aku beneran terpaksa merahasiakan ini semua. Sejak kecil, hidupku beneran tidak pernah tenang karena status ayahku. Aku selalu dikawal, selalu diincar, dan tidak pernah bisa merasakan jadi wanita biasa yang bebas mencintai siapapun."
Gue cuma tersenyum tipis, lalu menarik tubuh indahnya agar bersandar nyaman di dada bidang gue. "Gue tidak pernah marah sama wanita gue sendiri, Diana. Justru dengan terbongkarnya status lu sekarang, gue beneran makin tertantang untuk memperlihatkan pada dunia, bahwa tidak ada satu pun kekuatan di negeri ini yang bisa merebut lu dari tangan gue," ucap gue dengan nada bariton yang sangat tenang namun penuh dengan dominasi mutlak seorang raja.
Mendengar penuturan gue yang beneran sangat jantan dan penuh perlindungan, pertahanan mental Diana beneran langsung runtuh total. Dia memejamkan matanya, menikmati kehangatan energi dari Fisik Level Tiga gue yang mengalir menenangkan seluruh kecemasannya sejak tadi pagi. Sambil merona merah padam, dia mengecup rahang tegas gue dengan penuh rasa cinta mati yang semakin mengunci kesetiaannya.
Hanya butuh waktu dua puluh menit perjalanan di bawah pengawalan ketat, konvoi mobil kami beneran sudah memasuki kompleks markas komando militer pusat yang dikelilingi pagar kawat berduri dan penjagaan berlapis. Puluhan tank baja dan helikopter tempur berjejer rapi di lapangan utama, menciptakan pemandangan yang beneran sangat mengerikan bagi orang awam.
Mobil berhenti tepat di depan gedung utama yang memiliki arsitektur megah dan kaku. Begitu pintu dibuka, gue dan Diana disambut oleh jajaran perwira tinggi yang langsung berdiri tegap memberikan hormat senjata. Gue melangkah turun dengan santai, memperlihatkan aura Kharisma Raja Level Dua yang beneran tidak bergeser sedikit pun meski dikepung oleh ratusan moncong senjata terlatih.
Kami berjalan melewati lorong panjang yang dihiasi foto-foto pahlawan bangsa, menuju sebuah pintu jati raksasa bersimbol bintang tiga emas. Pimpinan prajurit mengetuk pintu itu dengan sopan sebelum membukanya lebar-lebar.
Di dalam ruangan kantor yang sangat luas dan beraroma cerutu mahal itu, seorang pria paruh baya bertubuh kekar dengan seragam militer lengkap sedang berdiri membelakangi kami, menatap peta taktis di dinding. Aura kepemimpinan yang terpancar dari tubuh tua itu beneran sangat kuat, hasil dari puluhan tahun memimpin pertempuran nyata di garis depan.
"Kau akhirnya pulang, Diana," ucap pria paruh baya itu dengan suara berat yang menggelegar, perlahan membalikkan tubuhnya. Sepasang matanya yang tajam seperti elang beneran langsung mengunci lurus ke arah gue, mencoba mengintimidasi mental gue dengan tekanan mental seorang jenderal perang.
Namun, di hadapan seorang pria yang memiliki sistem dewa seperti gue, tekanan aura sekecil itu beneran tidak lebih dari embusan angin sepoi-sepoi. Gue tetap berdiri tegak dengan senyuman santai, bahkan sengaja melepaskan sedikit gelombang energi tak kasat mata dari tubuh gue yang membuat seisi ruangan mewah itu mendadak terasa bergetar tipis.
Sang Jenderal Bintang Tiga beneran langsung tertegun gila di tempatnya berdiri. Sepasang mata tuanya melotot tidak percaya melihat seorang pemuda usia kuliahan yang beneran tidak bergeming sama sekali di bawah tatapan mematikannya, bahkan justru mampu membalikkan tekanan auranya hingga membuat sang jenderal sendiri sempat merasa sesak napas selama satu detik.
"Menarik... beneran sangat menarik," gumam sang Jenderal sambil menyunggingkan senyuman lebar yang penuh kepuasan, menyadari bahwa pemuda di depannya ini beneran bukan manusia biasa melainkan naga sejati yang sedang menyamar di dunia fana.
biar yg baca ada patokannya