NovelToon NovelToon
Kontrak Panas Tuan Muda

Kontrak Panas Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Enemy to Lovers
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: meongming

Nadine dijadikan jaminan oleh ayahnya kepada seorang mucikari…namun takdirnya ternyata jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Pria pertama yang datang bukan orang sembarangan.

Ia adalah pewaris TX internasional, tampan, kaya raya, dan berhati dingin. Dalam hitungan detik, Nadine terikat dalam sebuah kontrak sebagai istri bayaran.

Akankah ia melawan… atau tenggelam selamanya dalam jebakan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Kesepakatan Nenek

Leon membeku mendengar ucapan neneknya. Sementara Nadine menunduk, pikirannya kacau dan sulit berpikir jernih, beberapa detik berlalu sebelum Leon akhirnya tersenyum. Ia meletakkan pisau dan garpunya dengan tenang.

“Nenek ini bicara apa? Ucapan Nenek terdengar tidak masuk akal,” ucap Leon tersenyum.

Nenek tertawa kecil. Ia mengangkat gelas di hadapannya, minum perlahan, "Haha, Nenek hanya asal bicara.”

Nadine ikut tertawa, suaranya canggung. Ia menarik napas lega, meski Jantungnya masih berdetak tidak karuan.

Nenek lalu meletakkan kembali gelas itu. Tatapannya beralih ke Nadine, “Kalau begitu,” ucapnya pelan, “buktikan pada Nenek kalau dia benar istrimu.”

Ruangan mendadak hening.

“Nadine harus hamil.”

Deg.

Nadine tersedak, lalu menoleh ke arah Leon. Dia melihat suami palsunya itu hanya diam, menatap neneknya dengan tenang, dengan cepat, Nadine mencubit pinggang Leon, berharap dia akan menolak atau setidaknya bereaksi.

Leon tersenyum pada neneknya, “Kami akan punya anak secepatnya…”

Nadine menatapnya tajam, jari-jarinya mencubit pinggang Leon makin keras, Leon menurunkan tangannya dan menggenggam tangan Nadine.

Apa sih, kenapa malah pegang tanganku… pikir Nadine kesal

Tanpa berkata banyak, Leon menarik tangan Nadine dan mencium punggung tangannya.

“Aku akan memberikan cicit untuk Nenek”

Deg.

Mata Nadine membelalak terkejut, " Apa yang barusan yang dia bilang!? batinnya.

Nenek tersenyum, “Kamu memang cucu kesayangan ku, tidak pernah mengecewakan Nenek, hehe… Aku memang sudah tak sabar menimang cicit pertamaku.”

Leon tersenyum tipis, “Kalau begitu, kami pulang dulu. Nadine terlihat lelah, dan besok aku masih ada rapat penting. Terima kasih atas undangan makan malamnya.”

Leon berdiri dan menunduk sopan. Nadine ikut berdiri, menirukan gerakannya, tapi ekspresinya seperti orang yang hampir pingsan, Leon lalu menarik tangan Nadine untuk pergi.

“Mau kemana kalian?” ucap nenek.

“Tentu saja… pulang ke rumah kami,” jawab Leon sambil menoleh.

Nenek bangkit perlahan dan melangkah mendekat, “Kalian akan tinggal di sini. Selama Nadine belum hamil, kalian akan melewati masa bulan madu di rumah Nenek. Aku akan atur supaya Nadine cepat memberiku cicit.”

Deg.

Nenek terkekeh kecil, lalu beberapa asisten datang untuk menemaninya kembali ke kamar, “Ah… makan malam yang menyenangkan,” ucap nenek santai.

Leon masih terpaku di tempatnya. Nadine menatapnya cemas, tidak yakin apa yang ada di pikiran pria itu, Saat nenek sudah menjauh, Nadine melepaskan genggaman Leon.

“Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Sekarang jadi kacau kan?” Nadine panik, suaranya terdengar cepat.

Leon terdiam sejenak. Ia tahu neneknya seperti apa, sifatnya tidak jauh berbeda dengan dirinya sendiri, selalu ingin mendapatkan apa yang diinginkan.

“Kita turutin saja keinginan nenek,” ucapnya tenang.

Nadine menatap Leon dengan mata membulat, bibirnya sedikit gemetar, “K-kita… turutin nenek? Maksudmu benar-benar tinggal di sini sampai aku hamil?!” ujarnya setengah berbisik.

Leon tersenyum tipis, “Tidak perlu sampai betulan hamil… tapi kalau kamu mau, aku bisa pertimbangkan.”

Nadine mundur, tangan terangkat di depan dada, “Jaga ucapanmu, ya!” ujarnya panik.

Leon hanya tersenyum tipis lagi, “Aku hanya bercanda. Kamu selalu beraksi berlebihan.”

Nadine menghela napas panjang, menutup mata, lalu bergumam pelan.

“Astaga… aku bisa gila.”

Tiba-tiba Leon menarik tangan Nadine. Gadis itu terkejut, namun tubuhnya mengikuti langkah pria itu saat mereka meninggalkan rumah nenek.

Di perjalanan keluar, Nadine terdiam. Ia melihat punggung Leon dan merasakan genggaman tangannya terasa berbeda. Nadine membatin.

Tak pernah terpikirkan hidupku akan melangkah sejauh ini hanya demi uang… dan orang di depanku, makin lama, semakin menjadi seseorang yang tak asing lagi untukku.

...----------------...

Mobil hitam sudah memasuki gerbang rumah Leon. Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Mesin dimatikan, dan Leon membuka pintu mobil. Ia menoleh ke samping Nadine tertidur, entah sejak kapan dia terlelap.

Leon tersenyum tipis, menatap wajahnya yang tenang, ia keluar lebih dulu dan membuka pintu mobil satunya dengan hati-hati, ia menggendong Nadine ke pelukannya, Leon melangkah pelan ke rumah, gendongan Nadine di pelukannya terasa ringan meski gadis itu masih tidur lelap. Sesampainya di depan pintu, ia membukanya dan masuk, menapaki tangga dengan hati-hati. Bibir Nadine sedikit mengerucut, dan terdengar gumaman pelan.

“Aku nggak mau…”

Leon terdiam, tidak membalas. Gadis itu pasti sedang bermimpi buruk tentang dirinya, memikirkan hal itu membuatnya tanpa sadar tersenyum tipis.

Setibanya di kamar, Leon menurunkan Nadine ke ranjang dengan lembut. Ia melepas sepatu Nadine, yang tetap tak terbangun sedikit pun, lalu menyelimuti tubuhnya. Ia terpaku sesaat, menatap Nadine yang tidur pulas.

Setelah itu, Leon melangkah menuju sofa kecil di kamar tempat tidur cadangan Nadine selama ini. Ia merebahkan tubuhnya, kakinya menjulur karena sofa itu terlihat terlalu pendek untuk tingginya.

Matanya melirik ke arah Nadine yang tidur membelakangi dirinya. Pikiran Leon melayang, memikirkan ide gila neneknya. Ia tahu neneknya pasti sudah memperhitungkan semuanya, tapi tetap saja, ia tidak menyangka orang tua itu akan melakukan hal seperti ini, Leon menarik napas pelan, memikirkan bagaimana ia bisa melibatkan Nadine lebih jauh.

Keesokan harinya, Nadine terbangun dengan segar bugar. Perlahan ia tersadar, bingung kenapa bisa berada di kamar? yang terakhir ia ingat, ia tidur di mobil.

Ia menoleh ke samping. Leon masih tertidur di sofanya, “Hah? Jangan-jangan dia yang…”

Nadine terdiam, menatap Leon. Lengan pria itu menutupi wajahnya, tapi jelas terlihat ia tak nyaman tidur di sofa kecil itu.

“Dia yang… gendong aku, ya? Kenapa dia taruh aku di kasur? Dia kelihatan tidak nyaman tidur di sofa kecil itu,” gumam Nadine pelan.

Nadine turun dari ranjang, berniat membangunkan Leon. Ia berjalan perlahan menuju sofa, lalu berjongkok di sampingnya. Dengan hati-hati, ia menarik lengan Leon yang menutupi wajahnya. Pria itu masih terlelap, wajahnya tenang.

Nadine menatapnya dari dekat, jantungnya berdebar, Ia terpaku sesaat, lalu perlahan mengangkat jarinya dan menyentuh wajah Leon. Mata pria itu perlahan terbuka dan menatap Nadine dalam jarak sedekat itu membuatnya terdiam sesaat.

“Kamu sudah bangun…” bisik Nadine.

Sebelum Nadine sempat menarik tangannya kembali, tiba-tiba Leon menggenggamnya lebih erat dan menariknya ke arah tubuhnya.

“Eh.. apa sih?! Lepasin!” Nadine berontak, tapi tubuhnya tak bisa menghindar.

Leon tidak menjawab. Ia memeluk Nadine lebih erat, dagunya menempel di kepala gadis itu.

“Sebentar saja…” bisiknya pelan.

Nadine terdiam, jantungnya berpacu saat wajahnya menempel ke dada Leon. Panik, canggung, tapi ada rasa hangat yang membuatnya tak ingin bergerak.

Nadine mengumpulkan keberanian. Dengan satu tarikan cepat, ia melepaskan diri dari pelukan Leon dan menatapnya dengan mata membara.

“Hei! Apa-apaan ini?!” teriaknya sambil memukul dada Leon sekali.

Leon terkekeh, masih tetap diam, seperti menahan senyum, Nadine tak menunggu lebih lama lagi. Ia berbalik dan berlari keluar kamar, langkahnya cepat, dengan perasaan kesal.

Leon tersadar, tersenyum tipis sambil menepuk dadanya sendiri.

“Dasar… gadis keras kepala,” gumamnya pelan.

1
Ajay
Teruslah menulis sampai kamu muak, kamu punya bakat hebat disini 😉
meongming: thanks you 😍
total 1 replies
Winanti Rahayu
Ethan pria yg bersama Clara?
meongming: Ethan, teman semasa SMA Nadine. yang sama Clara namanya Liam.
total 1 replies
Winanti Rahayu
jujur sajalah,kalau butuh uang buat biaya adiknya🥲
erma cahyani
ditunggu kelnjutannya
meongming: makasih sudah baca Sampai bab ini. tunggu update selanjutnya y
total 1 replies
Agunk Setyawan
Leon pengecut diancam menciut
Agunk Setyawan
peran cowoknya lemah banget sich diancam Clara takut bikin kesel aja
Agunk Setyawan
dari awal baca belum dapat feel nya thor ini cerita
Agunk Setyawan
peranya utama dua"nya lemah
Agunk Setyawan: buat peran utamanya tegas thor
total 2 replies
M ipan
halo,, semangat nulis nya
StellaY
apa leon dahh punya perasaan ke nadine? 😚
meongming: rahasia yah huehue tunggu update selanjutnya yah/Applaud/
total 1 replies
StellaY
baru bab awal udah menarik, plotnya bagus dan tulisannya rapi nyaman di baca tiap paragraf juga tesusun rapi betah bgt
StellaY
semangat author aku pengemar setiamu suka karyamu jangan berhenti nulis 👍👍
meongming: thanks you 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!