Squel novel lanjutan dari BUDAK CINTA.
Bagi yang belum membaca di karya ku sebelumnya silahkan mampir dulu ya !!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MICHELLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Aku sudah tidak kuat lagi menopang kedua kaki ku untuk berdiri tegak di depan Irgy, semua perasaan bercampur aduk menjadi satu dalam otak ku. Aku tidak tau harus bagaimana mengekspresikannya, aku hanya ingin menangis. Aku ingin menangis.
Dengan terduduk di lantai, tangisku pecah tertahan. Aku meluapkan segala perasaan buruk ini dengan tangisan ku. Betapa aku merasa menjadi wanita yang sangat bodoh dengan mudahnya percaya bahwa dengan segala fasilitasnya yang mewah, dan juga segala kemegahan dari keluarga besarnya, dan semua. Semua yang ku dapatkan, yang ku lihat darinya selama ini. Bukan kah itu terlihat nyata bahwa sangat tidak mungkin jika dia hanya sebatas karyawan magang di suatu perusahaan.
Bahkan aku sudah terlalu sering mencelanya, meremehkan nya hanya karena dia masih lebih muda dariku. Oh Tuhan, aku malu. Bagaimana ini, bagaimana aku akan menatap wajahnya lagi. Ini keterlaluan, kenapa dia membohongiku selama ini?
" Fanny, Fanny, kenapa kau menangis? jangan begini, bangun lah. Kau membuatku takut, ada apa? kenapa kau menangis? ayo lah. " Irgy mulai panik dan kebingungan menyentuh kedua pundakku, dan menopang ku untuk berdiri menghadapnya.
" Kenapa Irgy, kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu posisimu yang sebenarnya? " Tanya ku dengan sesunggukan. Dia memeluk tubuhku dengan lembut kemudian, mengelus lembut kepala ku. Membelai manja rambut ku yang terurai panjang.
" Aku tidak membohongimu, aku sudah berapa kali memberitahumu bukan? tapi kau tidak mempercayaiku. " Jawab nya dengan lembut.
" Kau berbicara dengan menggodaku, ku pikir kau hanya bercanda. Kau keterlaluan Irgy, kau sengaja kan ingin membuatku malu? "
" Tidak, tidak sama sekali. Kenapa kau berpikir begitu hah? apa kau tidak menyukai aku berada di posisi itu disini? " tanya nya kemudian dengan melepas pelukannya pada ku, di sentuhnya pipi ku dengan kedua tangannya menengadah pada ku. Namun aku masih tidak berani menatapnya, sungguh aku sangat malu.
" Aku bukan nya tidak suka, hanya saja. Aku sungguh terkejut dan sangat ingin marah rasanya, tapi aku. . . tidak bisa, aku tidak tau lagi harus bagaimana di hadapan mu saat ini. "
" Baik lah, maafkan aku. Aku yang sengaja dari awal tidak ingin memberitahumu lebih dulu. Untuk apa juga? bukan kah itu terkesan aku menjual posisiku untuk disukai para wanita? tidak ada wanita diluar sana yang mengetahui posisiku ini Fanny, hanya kau. Kau orang pertama, karena kau sudah menjadi istri sah ku. "
Oh ya ampun Tuhan, aku sudah salah menilainya selama ini. Dia memang lelaki terbaik, dia selalu membiarkan ku meremehkannya dari awal karena sikap rendah hatinya.
Mendengar penjelasannya ini aku semakin menangis sesunggukan, layaknya anak kecil tanpa mengenal rasa malu. Biarlah kali ini dia akan melihat sisi burukku ini, aku tidak peduli.
" Hey, kenapa kau semakin menangis? maafkan aku pliss maafkan aku, jangan begini. Kau, kau mau memukulku? kau mau marah atau kau mau memakiku? aku terima. Asal kau berhenti menangis, dan ku mohon jangan membeciku. "
" Kau, dasar bocah. Bagaimana mungkin aku akan membencimu setelah mendengar penjelasan mu yang begitu tulus, kau justru membuatku terharu. Kenapa kau begitu rendah hati dan tulus? "
Tangisan ku semakin pecah, dengan berlinangan airmata aku memeluk tubuh sosok lelaki di hadapan ku ini, yang selalu ku remehkan dan selalu ku panggil bocah. Mengingat kembali ucapannya yang saat itu dengan serius berkata, dia lebih memilih bekerja daripada melanjutkan study nya, bekerja keras dan berhasil hidup mandiri. Dan sepertinya, dia juga berhasil meraih posisi sebagai CEO diperusahaan ini.
Kemudian, dia tersenyum sangat lembut menatapku. Menyeka air mataku dengan kedua jari jempolnya yang sangat lembut menyentuh kulitku,
" Kau tau, meski pertokoan ini milik papa ku sendiri. Tapi aku tidak pernah menginginkan posisi ini secara instan, aku berusaha mati-matian menunjukkan pada papa jika aku layak mendapat posisi ini. Jadi ku harap kau tidak pernah berpikir, aku bocah manja yang hanya sebatas pekerja magang. Yang bisa kapan saja di pecat oleh perusahaan, hahaha. Mendengar ucapan mu begitu sebenarnya aku ingin menertawaimu, tapi aku menahannya. " Ucap nya kemudian dengan menertawaiku.
Oh, jadi kau sengaja ya. Dasar bocah, kali ini kau sungguh berhasil meluluh lantahkan hatiku. Kau sangat sukses dan paling jago dalam mengerjai dan menggodaku.
" Kau, menyebalkan. " Ku tepis kedua tanganya yang masih menyentuh pipi ku sedari tadi. Ku dorong tubuhnya menjauh dariku, dengan berpura-pura semakin marah aku hendak membalas mengerjainya dengan menuju pintu keluar.
Tapi, dengan sigap dia meraih tubuhku hingga terjatuh dalam dekapannya. Menjadi lebih dekat dengan wajah nya yang sangat tampan hari ini, di kecupnya keningku dengan sangat lembut dan mesra. Kemudian menurunkan kecupannya perlahan di hidungku, lalu terus turun hingga mendarat di bibirku.
Kyaaaaaa. . . sekujur tubuhku mulai gemetaran menahan dan menikmati setiap kecupan mesranya di wajahku ini. Hingga sampai di bibirku, nafasnya terdengar sangat lembut. Aroma nafasnya begitu sangat wangi menyeruak kedua lubang hidungku.
Dia mulai pintar mengambil alih saat ini, kami mulai berciuman bibir dengan mesra. Diruang kerjanya yang begitu tenang, hanya ada kami dan hanya terdengar suara kecapan demi kecapan dari bibir kami yang saling memberikan perlawanan.
Nafasku mulai tak terkontrol, namun dia masih dengan lembut nya memainkan bibirku. Kedua tangannya mulai menarik tubuhku untuk berada lebih dekat dengan tubunya. Ah, leher ku mulai pegal terus menengadah padanya yang lebih tinggi dariku. Tapi aku tidak ingin menghentikan ini semua begitu saja, ini terlalu manis untuk ku hentikan.
Tok tok tok. . .
Mataku terbelalak, terkejut seketika mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangan. Aku ingin menghentikan ciuman Irgy, ini tidak baik jika sampai terlihat oleh salah satu staff disini.
Namun Irgy semakin mempererat pelukannya padaku, seakan tak ingin melepas ciumannya sedikitpun kali ini. Aku semakin ketakutan dan panik. Sementara di balik pintu trus saja terdengar suara ketukan tanpa henti.
Ceklek !!!
Terdengar suara pintu yang terbuka. Matilah aku, aaaaarght, siapa? siapa yang berani menerobos masuk membuka pintu ini? bukan kah ini ruangan CEO yang tidak sembarangan orang boleh memasukinya tanpa seizin pemiliknya.
" Brengsek kalian !!! "
Degh,
Makian itu terdengar begitu lantang di telinga kami. Irgy menghentikan ciumannya perlahan, sementara aku terus menunduk tidak berani menatap wajah siapa yang telah memaki apa yang kami lakukan ini.
" Eh, mas Khery. Maaf mas, kami tidak mendengar suara ketukan pintu dari luar. " Ucap Irgy dengan santai, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
So what? Khery? Oh ya ampun, jadi yang memaki tadi adalah Khery? Kemudian aku menolehnya dengan tatapan tajam.
" Kalian sungguh memalukan dan terlalu berani di ruangan ini. " Ucapnya lagi dengan tatapan tajam mengarah padaku.
" Memangnya kenapa Mas Khery? Ini ruangan pribadiku bukan? lagi pula tidak akan ada yang berani memasuki ruangan ku tanpa izin sepertimu. " Jawab Irgy dengan menyeringai. Keduanya terlihat saling memberikan tatapan sengit, aku yang menyaksikan ini sedikit kikuk.
" Khery, maafkan aku. Aku tau ini ruangan kerja peribadi Irgy, tadi. . . Aku yang memulainya lebih dulu, eh maksud ku. Kami baru saja menikah, jadi kami masih hangat-hangatnya bermesraan sampai lupa tempat. "
" Kau sengaja melakukannya bukan? Irgy bukan lah type lelaki yang gampang melakukan hal memalukan seperti tadi. Jangan sekali-kali kau merubahnya untuk terlihat murahan. "
" Mas Khery, kau sudah keterlaluan mas. Ada apa dengan mu dan apa masalahmu? kenapa kau begitu marah melihat kami berciuman seperti tadi? Jangan bilang jika kau cemburu mas, "
" Jaga bicaramu Irgy, sekarang kau sudah berani mengataiku seperti itu? Untuk apa aku cemburu melihat kalian bercumbu hah? " Jawab Khery dengan suara lantang dengan setengah berteriak. Dia terlihat sangat marah kali ini.
" Jika begitu, lalu kenapa kau terlihat kacau begitu mas? "
Lagi-lagi Khery terdiam dengan ekspresi kebingungan seolah sedang berusaha mencari-cari alasan untuk menjawabnya lagi.
" Katakan saja jika ada hal penting yang ingin kalian bahas soal pekerjaan, aku akan menunggu mu diluar Irgy. " Aku berusaha memecahkan ketegangan ini. Aku sedikit merasa kasihan pada Khery, meski kenyataan hatiku berkata tidak. Aku bahagia melihatnya kacau demikian di depan ku, apakah saat ini aku menjadi wanita yang pendendam dan jahat?
" Tidak Fanny, kau istriku. Tetaplah disini, " Ucap Khery menghentikan ku.
" Tidak jadi. Aku saja yang akan keluar, lanjutkan saja apa yang akan kalian lakukan sepuasnya sebagai suami istri. " Ucap Khery kemudian dengan membalikkan badan melangkah keluar dengan membanting pintu begitu keras.
Aku terkejut melihat sikapnya, semakin terkejut saat mendengarnya teriak seolah sangat marah diluar sana. Antara ingin tertawa, atau merasa bersalah. Irgy melirikku saat aku tertegun menatap pintu yang di bantingnya tadi. Dia terdengar menarik nafasnya begitu dalam, aku berusaha tersenyum padanya.
🌹Halo semua, ayo terus berikan like dan vote kalian yang banyak untuk ku. Author akan memberikan up setiap harinya setiap saat, ok 🌹
Tapi aku salut dengan cinta kalian yang abadi meski hingga akhir tetap tak bisa bersatu.
Aku rindu dengan cerita ini, aku datang lagi.
Masih, sama, aku selalu terbawa suasana.
Sedih, Kevin, Irgi, Amar, aku merindukan kalian.