Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Gion memang beneran marah terhadap Nayla, buktinya sudah hampir seminggu ini pria itu tidak mengirim pesan satu pun kepada dirinya. Padahal biasanya saat jam-jam kantor begini pria itu sibuk ngirim chat lewat WA. Sekedar menyapa guna memberi perhatian lebih kepada Nayla. Seperti halnya bertanya sudah sarapan belum? sudah makan siang belum? lagi ngapain? Lagi dimana sekarang? Dengan siapa?
Yang menurut Nayla bucin banget dan ia juga tidak pernah membalas pesan-pesan norak itu, kadang malah membuat Nayla sebel sendiri.
Tapi melihat Gion yang adem ayem begini membuat Nayla sangat kuatir, ia takut pria mesum itu nekat melakukan hal gila yang akan menyakiti Farel nantinya. Memikirkan itu semua membuat ia jadi gelisah.
[Kamu kenapa Nay? Aku datang kok dari tadi kamu nampak gelisah begitu?]~Farel
Tanya Farel lewat selembar kertas HVS yang dia serahkan ke pada Nayla.
[Gak ada apa-apa. Aku Cuma takut saja, bagaimana jika hubungan kita diketahui sama orang lain dan salah satu dari kita harus pindah kantor.]~Nayla
Nayla menulis pesannya pada kertas putih itu dan menyerahkannya ke Farel yang duduk di sebelah kirinya.
[Gak bakal ada yang tahu deh, kan kita nyimpen rahasianya rapat-rapat. Aku juga gak ngomong ke orang lain kalau kita jadian kok. Pokoknya kita backstreet selama magang ok.]~Farel
[Ok sih, tapi kalau anak-anak kampus ada yang lapor gimana?]~Nayla
[Tenang sayang, kalau memang itu sampai terjadi biar aku saja yang pindah kantor dan kamu tetep disini saja.]~Farel
[Tapi nanti nilai kamu jadi jelek dong, kalau kamu sampai terkena masalah disini.]~Nayla
[Gak mungkinlah. Aku akan bekerja kerasa biar dapat nilai yang bagus pas magang. Udah jangan cemas kan hal yang gak bakalan terjadi ☺]~Farel
Jawab Farel sambil menambahkan gambar senyum diakhir kalimatnya.
Nayla menatap cowok itu dan tersenyum senang.
Ok. Jawab Nayla lewat jari jempolnya yang ditautkan dengan jari telunjuk sehingga membentuk huruf O yang berarti ok.
Lalu Nayla menyobek-nyobek kertas itu dan meremasnya sebelum membuangnya ketempat sampah supaya tidak ada yang membaca tulisan mereka berdua.
Setelah tak ada lagi yang mau diobrolkan, kini keduanya tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Sebenarnya cuma Farel sih yang bekerja karena cowok itu diminta pak Yoga untuk membuat power points proposal yang sudah dibuat Farel kemarin, sedang Nayla sendiri malah sibuk menatap Farel yang tengah sibuk sambil cengar-cengir.
*
*
Jam istirahat telah tiba. Semua karyawan di kantor sudah meninggalkan pekerjaan mereka untuk makan siang.
Kini ruangan Devisi pengembangan juga sepi, setiap kursi sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.
Nayla dan Farel pergi ke kantin perusahaan seperti biasa, ia malas kalau harus pergi makan di luar. Di kantin saja sudah menyediakan menu yang komplit dan enak. Biasanya mereka memang makan disana bersama teman-teman magang yang lain, namun kali ini hanya mereka berdua. Berdasarkan info di GC tadi kalau Feby, Sarah dan Yoga pulang ke kost jadi tidak bisa makan siang bersama.
Ia dan Farel memilih kursi yang berada di dekat jendela, biar bisa memandang jalan yang tampak dari lantai atas. Tapi tak sengaja mata Nayla menangkap seseorang dari arah pintu masuk.
Dan beberapa karyawan yang melihat pria itu datang langsung menunduk hormat saat sang presdir melewati mejanya atau tanpa sengaja berpapasan dengan mereka.
"Ck, sejak kapan tuh orang makan siang disini?" ujar Nayla pelan, mirip berbicara pada diri sendiri, namun dapat didengar oleh Farel yang duduk di depannya.
"Siapa Nay?" Tanya pacarnya kepo dengan maksud dari perkataan Nayla barusan.
"Buka siapa-siapa," Jawab Nayla, sambil mengarahkan pandangannya ketempat lain, lantaran ia tidak mau beradu pandangan dengan mata Gion yang akan membuat pria itu mendekati dirinya saat di kantor.
Nayla memang merahasiakan hubungan perbudakan yang ia jalani dengan sang presdir saat di tempat kerja. Bukan hanya di kantor, tapi Nayla juga merahasiakan perjanjian terkutuk itu dari semua orang termasuk kesayangannya.
Karena ia tidak ingin ada gosip yang akan membuat namanya menjadi buruk saat sedang magang. Meski Gion sendiri tidak setuju dengan pendapatnya, tapi Nayla tidak perduli. Nayla menganggap Gion orang asing saat mereka sudah berada di kantor.
Bahkan Nayla sengaja tidak menyapa atau pura-pura tidak melihat, jika mereka secara kebetulan berpapasan di kantor ataupun loby. Menurut dirinya, inilah saat ia bisa bebas dari pria itu dan bertingkah seperti yang ia inginkan. Karena Nayla tahu, Gion tidak akan berani macam-macam saat sedang di kantor. Kan dia mesti jaga image, juga gengsinya yang setinggi langit.
Selain alasan tentang gosip, hal lain yang membuat Nayla bertingkah cuek dengan sang Presdir, karena ia sudah memiliki Farel di sisinya.
Mungkin terdengar jahat dan serakah, tapi Nayla memang tidak ingin Farel pergi dari hidupnya. Ia tidak siap jika Farel cemburu, yang berujung marah, lalu meminta putus.
"Boleh duduk disini?" Tanya seseorang yang membuat lamunan Nayla buyar seketika, secepatnya ia menatap pemilik suara itu dan beralih menatap Farel minta persetujuan.
"Silahkan pak?" ujar Farel sambil berdiri, mempersilahkan Gion untuk duduk di sebelah Nayla, sedang Wulan sang sekertaris duduk di sebelah Farel yang memang masih kosong.
"Semua tempat sudah penuh dan hanya ini yang kosong," Gion memberi alasan.
Nayla mendengus kesal, Yang benar saja, kursi kosong masih sebanyak itu juga, batinnya sambil mengamati sekeliling kantin yang memang sudah mulai penuh, tinggal beberapa kursi yang masih kosong dan itu juga hanya untuk satu orang tidak ada yang bisa dipakai untuk berdua.
Membuat Nayla heran. Sejak kapan semua karyawan perusahaan makan siang di kantin, biasanya tempat ini lumayan longgar bahkan saat jam makan siang sekalipun.
"Mungkin bapak bisa menambah beberapa set kursi disini, biar tidak penuh saat jam istirahat," Ujar Nayla memberi usulan pada sang presdir.
"Mungkin iya, tahun depan saya akan memberikan lebih banyak kursi disini," Jawab Gion sambil menatap kearah Nyala. "Trimakasih atas sarannya," Lanjut Gion bijaksana.
Wah, Ini bos memang punya kepribadian ganda deh. Lihat, di depan banyak orang dia pasti akan bersifat anggun nan lembut begitu.
"Makan yang banyak ya!" ujar Gion sambil memasukkan beberapa potong daging dari piringnya ke piring Nayla yang membuat kedua orang di depannya menatap heran kearah Gion.
Kebiasaan Gion kalau sedang makan bersama dengan Nayla memang begitu, dia akan mengambilkan banyak lauk ke piring Nayla. Alasannya, agar Nayla cepet gemuk. Itu jawaban ketika ia bertanya tentang kebiasaan buruk Gion saat makan bersama. Karena bagi Gion, saat ini Nayla masih dalam proses pertumbuhan, makanya harus makan yang banyak biar tidak kurus dan pendek begitu. Mungkin Gion lupa jika saat ini mereka tidak sedang berduaan tapi berempat.
"Pak!" tegur Wulan, dia memandang Gion dengan tatapan tidak suka.
"Jangan menatap saya seperti itu Wulan, saya hanya tidak mau anak magang di kantor ini sakit karena kurang makan."
"Saya tidak kurang makan pak, saya bahkan sudah mengambil menu makan siang terlalu banyak," protes Nayla terhadap aksi Gion yang ingin menyudutkannya.
"Ok, baik lah, saya memang lagi mengurangi makan daging," Jujur Gion memberi alasan atas perbuatanya barusan.
"Bapak bisa menaruhnya ke piring saya, kalau tidak suka, atau paling tidak memesan menu lain," Wulan memberi usulan.
"Iya, lain kali saya akan menaruhnya ke piring kamu," kata Gion tanpa rasa menyesal sedikit pun.
"Jika kamu tidak suka, taruh saja ke piring ku Nay!" perintah Farel sambil menyentuh tangan Nayla yang berada di atas meja.
Nayla menatap Farel yang juga menatapnya, cowok itu tersenyum kepada Nayla, senyum lembut yang menenangkan seperti biasanya.
"Tidak Farel, aku suka kok," Jawab Nayla. Ia tidak mau Farel salah paham terhadap dirinya dan Gion.
"Kalau begitu, buruan makan! Jangan cuma di aduk-aduk sambil cemberut begitu!" Perintah Farel.
Nayla menanggapi dengan senyuman.
"Apa perlu aku suapin?" Tanya Farel lagi.
Yang membuat Nayla mengeleng dengan cepat, "Tidak usah, aku bisa makan sendiri kok," Tolaknya. Sambil mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Bapak tidak makan?" Tanya Wulan yang melihat Gion hanya mematung memperhatikan Nayla.
"Tidak, saya sudah kenyang," Jawab Gion sambil meletakan sendok nya kembali.
"Kalau sudah kenyang kenapa pilih menu?" Tanya Farel acuh, baung-buang makanan saja. Rupanya cowok itu juga tidak suka dengan aksi Gion terhadap Nayla.
"Selera makan saya langsung hilang karena melihat adegan india yang ditunjukkan seseorang di depan saya," Jawab Gion sambil menatap Farel tajam.
Farel yang disindir seperti itu tersenyum cuek, dengan santainya melanjutkan makan. Membuat Gion tambah kesal pada cowok itu.
"Apa kalian berdua tidak tahu, jika ada peraturan dilarang pacaran di kantor. Bisa-bisanya kalian malah menunjukkan kemesraan di depan saya?" ujar Gion datar.
"Kami tidak pacaran kok pak," Jawab Nayla takut. Karena ia tahu Gion sedang marah.
"Bukan tidak, tapi belum. Karena peraturan perusahaan yang tidak masuk akal ini, makanya saya menunda untuk pacaran dengan Nayla. Mungkin saya akan langsung menikahi dia bulan depan. Karena kedua orang tua kami juga sudah setuju dengan kedekatan kita berdua. Jadi, tidak masalah kita mau pacaran atau langsung menikah saja," Ujar Farel menjelaskan yang sebenarnya.
"Iya kan Nay?" Tanya Farel meminta persetujuan Nayla yang membuat ia jadi salah tingkah. Sambil menggenggam tangan kiri Nayla yang nganggur di atas meja.
Nayla menjawab dengan senyuman, kemudian menoleh kearah Gion yang menatap tajam kearahnya, ekspresi membunuh. Melihat Gion marah Nayla jadi takut, sehingga ia menarik tangannya dari genggaman Farel.
Duh, si Farel kenapa ngomong kayak gitu sih, bikin gue jadi tambah pusing saja nih, Batin Nayla mengutuki kata-kata Farel. Mesti sebenarnya ia seneng banget karena Farel bilang bakal ngajakin dirinya nikah hehehehe.
"Lagipula, di kantor ini tidak ada larangan kalau sesama karyawan tidak boleh menikah, bukan?"
"Itu masih lama, masih bulan depan. Mengingat sekarang saja baru tanggal lima, berarti masih ada tiga Minggu lagi. Jadi kamu tidak usah berbunga-bunga dulu. Karena kamu tidak akan tahu, jika besok pagi ternyata Nayla mutusin kamu dan menikah dengan saya, bukan sama kamu," Jawab Gion cuek namun cukup mengena di hati Farel.
Farel mengangkat bahunya tidak cuek, "Kalau begitu, saya menunggu kalian cerai. Atau kalau perlu saya akan mengencani Nayla diam-diam. Biar bapak tahu kejamnya tikungan tajam," Ujar Farel sambil menatap Nayla lembut. Nayla seneng banget mendengarnya. Duh Nay tidak tepat banget sih, mesti jatuh cinta sama Farel saat sedang perang gini.
"Coba saja kalau memang bisa!" tantang Gion sambil melihat kedua mahasiswa yang sedang kasmaran dan membuat Gion cemburu setengah mati. Meski dia tidak menunjukkan hal itu didepan karyawannya. Karena dia tidak mau menjatuhkan harga dirinya. Gion hanya mencoba mencari cara bagaimana agar Nayla terpisah dari cowok gosong itu.
Gion beneran tidak makan siang. Pria itu memilih berain Handphone dari pada memegang sendok. Kini dia malah tersibuk dengan HP yang ada di genggamannya.
Nayla tahu itu karena ia sempat melirik pria yang duduk di sampingnya sekilah. Tapaknya Gion sedang mengirim pesan untuk seseorang. Entah siapa itu, Nayla juga tidak perduli, apalagi kepo atau ingin tahu. Karena baginya malah bagus kalau Gion punya pacar. Jadi Nayla bisa bebas dari perbudakan yang tidak masuk akal ini, pikirnya.
Tak seberapa lama setelah itu, 'Thing' Hp Nayla yang ada di atas meja berbunyi, tanda ada pesan masuk.
Nayla menghentikan makannya sebentar, kemudian mengambil benda pipih yang kini berada didekat tangan kirinya, lalu membaca pesan singkat yang masuk dari aplikasi chat warna hijau.
Pak Gion:
Apa kamu belum putus juga sama cowok gosong itu, hem?
Pak Gion:
Aku tidak suka melihat kamu pacaran dengan cowok gosong itu sayang, cepat putuskan dia, kalau kamu tidak mau dia pindah ke perusahaan lain.
Pak Gion:
Ingat kamu adalah wanita ku dan aku tidak mau di duakan dengan siapa pun apalagi kalau harus saingan dengan cowok gosok itu.
Pak Gion:
Dan juga, aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu mu terlalu lama."
Ancam sang pengirim pesan yang tidak lain adalah makhluk yang sedang duduk di sebelahnya.
Nayla menghembuskan nafas berlahan, mencoba sabar menghadapi tingkah ke kanak-kanakan Gion.
"Ada apa Nay?" Tanya Farel kepo.
"Tidak apa-apa kok, Cuma pesan tidak penting. Mungkin orang salah kirim," Jawab Nayla sambil tersenyum manis kearah Farel.
*
*
*
*
*
Hancur hati Gion dibilang tidak penting oleh Nayla.
Sabar Gion. Tunjukkan perjuangan mu.
Jangan lupa Like, komen dan 🌷