Livia hidup dengan satu aturan: jangan pernah jatuh cinta.
Cinta itu rumit, menyakitkan, dan selalu berakhir dengan pengkhianatan — dia sudah belajar itu dengan cara paling pahit.
Malam-malamnya diisi dengan tawa, kebebasan, dan sedikit kekacauan.
Tidak ada aturan, tidak ada ikatan, tidak ada penyesalan.
Sampai seseorang datang dan mengacaukan segalanya — pria yang terlalu tenang, terlalu dewasa, dan terlalu berbahaya untuk didekati.
Dia, Narendra Himawan
Dan yang lebih parah… dia sudah beristri.
Tapi semakin Livia mencoba menjauh, semakin dalam dia terseret.
Dalam permainan rahasia, godaan, dan rasa bersalah yang membuatnya bertanya:
apakah kebebasan seindah itu jika akhirnya membuatnya terjebak dalam dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kehangatan di dalam kamar itu mendadak terusik oleh suara pintu depan yang terbuka. Suara dari kunci digital dan derit pintu yang terayun masuk terdengar jelas di sunyinya pagi.
Livia dan Narendra tersentak. Livia langsung mengenali langkah kaki itu.
“Reno,” bisik Livia. Ia segera bangkit dari pelukan Narendra, merapikan tank top dan rambutnya yang berantakan dengan gerakan cepat namun tenang.
Narendra ikut duduk, wajahnya mengeras. Ada kilat posesif yang muncul di matanya saat ia menyadari bahwa ada pria lain yang memiliki akses masuk ke tempat pribadi wanita yang ia anggap miliknya. Ia tidak bergerak untuk bersembunyi, egonya terlalu besar untuk itu.
Livia melangkah keluar kamar tepat saat Reno berdiri di tengah ruang tamu, tampak sedikit bingung sambil mencari kunci mobil dan dompetnya yang tertinggal di atas meja bar.
"Sorry, Liv, dompet gue ketinggal—" Kalimat Reno terhenti. Matanya beralih ke arah pintu kamar yang terbuka, di mana Narendra muncul di belakang Livia dengan bajunya yang sudah sedikit kusut.
Suasana seketika membeku. Udara di apartemen itu mendadak terasa berat dan penuh tekanan. Reno menatap Narendra dari atas ke bawah, rahangnya mengatup rapat. Sebagai pria yang sejak semalam berusaha melindungi Livia, melihat "penyebab kekacauan" itu ada di sana pada jam subuh membuat darahnya mendidih.
Narendra berdiri dengan postur tegak, tangan masuk ke saku celana, membalas tatapan Reno dengan sorot mata yang dingin dan penuh otoritas.
Namun, di tengah badai yang hampir meledak itu, Livia justru berjalan dengan langkah santai menuju dapur. Ia mengambil botol air mineral dari kulkas, lalu berbalik sambil tersenyum tipis, senyum yang sangat natural.
"Eh, Ren. Masuk aja," kata Livia tenang, suaranya tidak menunjukkan nada panik sedikit pun. Ia menoleh ke arah Narendra, lalu kembali ke Reno. "Mumpung lo balik lagi, gue kenalin. Ini Narendra."
Livia beralih menatap Narendra, tangannya memberi isyarat ke arah Reno. "Naren, ini Reno. Sahabat gue yang paling cerewet, yang semalam nemenin gue minum sampai pagi."
Reno terpaku. Ia tidak menyangka Livia akan seberani itu memperkenalkan mereka di situasi seperti ini. Ia mengharapkan kecemasan, tapi Livia justru bersikap seolah ini hanyalah pertemuan biasa di hari sepagi ini.
Narendra melangkah maju, mendekati Reno. Jarak mereka hanya satu meter. "Narendra," ucapnya singkat dengan suara berat, mengulurkan tangan.
Reno tidak langsung menyambutnya. Ia menatap tangan Narendra, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Gue Reno. Sahabat dekat Livia."
Kalimat sahabat dekat itu seolah peringatan yang nyata. Bahwa di belakang Livia masih ada dirinya yang siap melindungi.
Narendra tidak menarik tangannya. Ia tetap tenang. "Terima kasih sudah jaga Livia semalam. Sekarang saya sudah di sini."
Livia berjalan mendekat, berdiri di antara keduanya tanpa rasa canggung. Ia mengambil dompet Reno dari meja dan menyerahkannya kepada sahabatnya itu. "Nih dompet lo. Perasaan tadi lo nggak mabuk kan, kok bisa sampai ketinggalan begini?"
Reno menghela napas, mencoba meredam amarahnya demi menghargai ketenangan Livia. Ia menerima dompet itu, lalu menepuk bahu Livia pelan, matanya tetap melirik tajam ke arah Narendra.
"Gue balik sekarang," kata Reno. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Livia, berbisik namun cukup keras untuk didengar Narendra, "Ingat apa yang gue bilang semalam, Liv. Jangan kelewat batas."
Reno berbalik dan berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada Narendra. Suara pintu yang tertutup di belakang Reno meninggalkan keheningan yang berbeda di dalam ruangan.
Narendra menoleh ke arah Livia, matanya menyipit. "Dia punya password apartemen kamu?"
Livia meneguk airnya, lalu menatap Narendra dengan santai. "Dia, Daffa, dan kamu. Kalian adalah orang-orang yang aku percaya. Ada masalah?"
Narendra terdiam. Ia baru menyadari bahwa dalam dunia Livia, ia tidak memiliki status istimewa yang lebih tinggi daripada sahabat-sahabatnya. Dan kenyataan itu, lebih menyakitkan daripada kehadiran Reno tadi.
Narendra masih berdiri di tempat yang sama, matanya tertuju pada pintu yang baru saja tertutup di belakang Reno. Rahangnya mengeras, ada urat yang menonjol di pelipisnya. Pria dengan otoritas tinggi seperti dirinya tidak terbiasa berbagi, apalagi berbagi akses ke ruang paling pribadi milik wanita yang ia cintai.
"Aku nggak suka, Sayang." ujar Narendra, suaranya rendah dan sarat akan ketidaksenangan. "Pria lain punya akses masuk ke sini kapan pun mereka mau. Itu bahaya. Dan itu membuatku merasa... tidak ada bedanya dengan mereka."
Livia meletakkan botol air mineralnya di atas meja bar. Ia tidak membalas dengan kemarahan. Sebaliknya, ia menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja, melipat tangan di dada, dan menatap Narendra dengan ekspresi yang sangat datar, ekspresi seseorang yang sudah selesai dengan masa lalunya.
"Kamu mau tahu kenapa mereka punya password itu ?" tanya Livia, suaranya tenang, seolah sedang membahas cuaca pagi ini.
Narendra menoleh, dan menunggu.
"Dulu, waktu aku masih sama Dimas," Livia memulai, matanya menatap kosong ke arah jendela yang mulai terang oleh cahaya pagi. "Ada satu malam di mana dia datang ke sini dengan kondisi mabuk dan kalap. Kamu tahu saat bersamanya, Dimas nggak suka kalau aku tidak menurut apa katanya."
Narendra terdiam. Ia tahu sedikit tentang masa lalu kelam Livia, tapi ia selalu ragu untuk menggali lebih dalam.
"Dia menghajar aku habis-habisan di balik pintu yang terkunci itu," lanjut Livia tanpa getaran di suaranya. "Dia nggak cuma pakai tangan. Dia pakai apa pun yang ada di dekatnya. Sampai akhirnya aku pingsan di lantai ruang tamu ini. Darah aku ada di mana-mana."
Narendra merasakan dadanya berdenyut nyeri. Ia ingin mendekat, tapi bahasa tubuh Livia yang santai seolah menahannya.
"Reno dan Daffa ada di depan pintu. Mereka dengar aku teriak, mereka dengar suara barang pecah, tapi mereka nggak bisa masuk. Mereka nggak tahu password-nya. Mereka teriak-teriak di lorong, mencoba mendobrak pintu baja ini sampai tangan mereka luka, tapi gagal. Mereka harus nunggu petugas apartemen datang bawa kunci cadangan selama hampir dua puluh menit."
Livia terkekeh kecil, sebuah tawa getir yang tidak sampai ke mata. "Dua puluh menit itu terasa kayak setahun buat mereka. Pas pintu terbuka, mereka nemuin aku udah nggak sadar, dan Dimas cuma duduk di sofa sambil merokok, seolah nggak terjadi apa-apa."
Livia menatap Narendra kembali, kali ini dengan sorot mata yang tajam. "Sejak hari itu, setelah aku keluar dari rumah sakit, aku sendiri yang masukin sidik jari mereka dan kasih tahu password-nya. Aku bilang sama mereka kalau aku nggak mau mati sendirian di dalam sini cuma karena pintu ini terkunci. Jadi, kalau Reno bisa masuk subuh-subuh begini, itu karena dia masih punya trauma kalau-kalau aku pingsan lagi di dalam."
Narendra merasa lidahnya kelu. Rasa cemburu dan ego laki-lakinya yang tadi meluap-luap seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit paru-paru. Ia menatap Livia, wanita yang berdiri di depannya dengan wajah polos, bercerita tentang nyawanya yang hampir hilang seolah-olah itu hanya dongeng sebelum tidur.
"Livia... Maaf aku nggak tahu kalau sedalam itu," gumam Narendra, langkahnya akhirnya bergerak mendekat.
"Nggak perlu merasa kasihan, Naren," potong Livia cepat, ia tersenyum santai sambil mengangkat bahu. "Luka batin atau luka tubuh itu... ya udah, udah lewat. Dimas udah nggak ada, dan aku masih di sini. Minum beer, ngeracik shisha, dan sekarang mungkin ada kamu juga."
Livia berjalan mendekati Narendra, lalu dengan santai merapikan kerah kemeja pria itu yang sedikit berantakan. "Jadi, jangan cemburu sama Reno atau Daffa. Mereka itu bukan cuma sahabat. Mereka itu asuransi nyawa aku."
Narendra meraih kedua tangan Livia, membawanya ke depan dadanya, lalu mengecup jari-jari Livia dengan sangat lama. Ia tidak sanggup membayangkan Livia yang rapuh dan berdarah di lantai yang sekarang ia pijak.
"Maafin aku," bisik Narendra di atas jemari Livia. "Aku nggak akan pernah biarin siapa pun, termasuk diriku sendiri, nyakitin kamu lagi."
Livia hanya tersenyum tipis. Ia menikmati kehangatan itu, meski di sudut hatinya ia tahu, Narendra adalah jenis laki-laki yang berbeda dari Dimas, tapi tetap saja, pria ini adalah risiko terbesar yang ia ambil dalam hidupnya.
"Matahari udah naik," ucap Livia pelan, mengalihkan suasana. "Kamu nggak mau pulang? Nanti istri kamu nyariin."
Kata-kata Livia barusan itu seketika menarik Narendra kembali ke realita yang dingin.
...🥂...
...🥂...
...🥂...
...Bersambung......
lanjut dong🙏🙏🙏