Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH
Hening. Semua pasang mata otomatis tertuju pada beliau. Aku pun ikut menoleh, meski setengah hati.
“Di bus ini,” lanjut Pak Aris sambil melihat catatannya, “selain saya, akan ada Pak Bayu dari Prodi Pariwisata… dan satu lagi, pendamping lapangan yang akan mengawasi jalannya kegiatan—Pak Althaf.”
Deg.
Aku seketika kaku di kursiku. Nama itu, suara itu… bahkan hanya mendengarnya saja membuat jantungku berdegup terlalu kencang.
Mas Althaf? Pendamping study tour? Di bus ini?
Riuh rendah langsung pecah di dalam bus.
“Wah, serius? Pak Althaf ikut?”
“Gilaaa, makin semangat gue study tour ini!”
“Katanya beliau orangnya disiplin banget, jadi harus hati-hati nih.”
Aku menunduk cepat, kedua telapak tanganku meremas ransel di pangkuan. Nafasku terasa berat, seperti ada batu besar menghantam dadaku.
Dan benar saja—langkah sepatu itu akhirnya terdengar. Tegap, berwibawa, dan dingin. Althaf menaiki bus dengan ekspresi datarnya yang khas. Matanya menyapu satu per satu mahasiswa, tegas, membuat suasana yang tadinya riuh langsung mereda.
Sekilas tatapannya singgah padaku. Hanya sedetik. Tapi detik itu terasa lebih lama dari apa pun. Ada sesuatu yang menekan, membuatku ingin segera bersembunyi, padahal aku tidak bisa kemana-mana.
Aku buru-buru menoleh ke luar jendela, berpura-pura sibuk memperhatikan pepohonan di halaman kampus.
Kenapa harus begini? Kenapa harus satu bus dengan dia? Ya Tuhan, apa ini ujian-Mu?
Aku bisa merasakan tengkukku mulai hangat, seperti terbakar oleh tatapan yang meski singkat, tetap mampu membuatku gelisah. Tanganku tak berhenti meremas tali ransel di pangkuan. Padahal bus ini penuh, penuh dengan suara mahasiswa lain, tapi anehnya aku justru merasa terperangkap dalam ruang sempit yang hanya berisi aku dan dia.
“Pak Aris,” suara berat Althaf terdengar jelas, tenang namun berwibawa. “Apakah semua sudah siap?”
“Tinggal menunggu beberapa mahasiswa di bus tiga, setelah itu berangkat,” jawab Pak Aris.
Althaf mengangguk singkat, lalu berjalan menyusuri lorong sempit bus. Semua mata seakan otomatis mengikutinya. Ada yang berbisik kagum, ada yang saling senggol karena deg-degan, bahkan beberapa mahasiswi terlihat memperbaiki rambutnya diam-diam.
Aku justru semakin menunduk. Degup jantungku makin tak karuan.
Jangan berhenti di sini. Tolong, jangan sampai duduk di dekatku.
Rama di sampingku malah menyenggol pelan lenganku, berbisik dengan nada setengah bercanda.
“Eh, itu kan Pak Althaf ya? Gila, ganteng banget sih. Pantas ibu-ibu kantor suka bahas beliau.”
Aku mendesis pelan, malas menanggapi. Bukan hanya karena ucapannya, tapi karena tubuhku benar-benar tegang. Aku bisa merasakan langkah itu semakin dekat, suara sepatu kulit yang teratur, mantap, seperti menekan setiap detik kesadaranku.
Dan kemudian—dia berhenti.
Tepat dua baris di depanku. Althaf menaruh map dan ponselnya di bangku kosong dekat jendela, lalu duduk dengan sikap tenang, seolah kehadirannya otomatis menguasai atmosfer di sekitarnya. Dari sudut mataku, aku bisa melihat garis rahangnya yang tegas, bahunya yang tegap, dan tatapannya yang lurus ke depan.
Aku menelan ludah. Kenapa harus sedekat ini…
Suara obrolan mahasiswa kembali terdengar, tapi bagiku semua seakan meredup. Yang kudengar hanya degup jantungku sendiri dan hembusan napasnya yang entah bagaimana bisa sampai menembus jarak.
Aku menatap keluar jendela lebih keras lagi, nyaris menempelkan kening ke kaca. Seolah pemandangan parkiran kampus yang biasa saja bisa menyelamatkanku dari rasa gugup.
Tidak boleh terlihat lemah di depannya. Tidak boleh.
Tapi jauh di dalam hati, aku tahu… keberadaan Althaf di bus ini akan membuat perjalanan study tourku jauh dari kata tenang.
Namun tiba tiba-tiba Althaf bangkit membawa ikut serta mampu dan ponselnya. Ya Tuhan mau pergi kemana lagi dia?, Kurasakan langkahnya semakin dekat, membuat tubuhku makin menegang.
Dia berhenti. Tepat di barisan kursiku.
Aku spontan menahan napas. Dari sudut mataku, kulihat ia berdiri tegak, satu tangannya menyelipkan map di sisi tubuh, tatapannya lurus ke arah Rama yang duduk di sampingku.
“Rama.” Suaranya datar, tapi tegas.
Rama langsung menoleh, agak terkejut. “Iya, Pak?”
“Bisa tukar kursi dengan saya?” kata Althaf, nada bicaranya lebih seperti instruksi daripada permintaan. “Saya tidak bisa duduk di dekat jendela. Mabuk perjalanan.”
Deg.
Aku menoleh perlahan, menatapnya dengan mata melebar. Serius, Mas?
Rama tampak canggung, melirik ke arahku, lalu kembali ke Althaf. “Eee… oh, tentu Pak. Nggak masalah.”
Tanpa banyak bicara, Rama berdiri, mengambil ranselnya, lalu melangkah ke kursi kosong di sebelah lorong. Althaf bergerak masuk dengan tenang, duduk di sampingku—di kursi yang tadi ditempati Rama. Gerakannya santai, tapi aura yang dibawanya membuat udara sekitarku seolah menipis.
Tubuhku kaku, mataku terpaku pada jendela, pura-pura sibuk melihat langit sore. Padahal jantungku berdentam begitu kencang sampai rasanya bisa terdengar jelas.
“Terima kasih, Ram,” ucap Althaf singkat, sebelum akhirnya menyandarkan punggung ke kursi.
“Siap, Pak,” jawab Rama dari kursinya yang baru, meski jelas terlihat sedikit bingung.
Aku menggigit bibir bawah. Kenapa harus di sini? Kenapa harus duduk di sampingku? Dari semua kursi di bus ini, kenapa harus kursi ini?
Aku melirik sekilas—dan menyesalinya. Wajah Althaf hanya berjarak sejengkal. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke depan, dingin, seolah tak ada siapa pun di sampingnya. Tapi aku tahu… dia sadar benar siapa yang duduk di sebelahnya.
Udara di sekelilingku mendadak terasa lebih sesak.
Ya Tuhan, tiga hari ke depan… apa aku kuat?
Sejak mendengar nama Althaf diumumkan ikut study tour ini, aku sudah menegaskan satu hal pada diriku sendiri: aku harus menghindarinya.
Selama di perjalanan, di hotel, bahkan sampai kegiatan selesai, aku nggak mau ada urusan apa pun dengannya. Kalau bisa, aku akan pura-pura tidak melihat, tidak mendengar, seolah kami hanyalah dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Aku sudah cukup lelah dengan sikap dingin sekaligus penuh kontrolnya. Aku nggak mau lagi dibuat sesak hanya karena tatapannya yang menusuk, atau kalimat-kalimatnya yang lebih sering melukai daripada menenangkan. Jadi, aku akan menjaga jarak. Titik.
Tapi entah kenapa, ada bagian kecil dalam diriku yang merasa resah. Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa benar-benar menghindarinya? Bagaimana kalau ada momen di mana aku dan dia harus berinteraksi, terjebak dalam situasi yang tidak bisa aku kendalikan?
Aku menggertakkan gigi, menahan rasa kesal yang tiba-tiba menyeruak.
Astaga, kenapa aku harus dipertemukan lagi dengannya dalam perjalanan ini?
Aku hanya ingin menikmati study tour bersama teman-temanku, fokus pada tugas wawancara turis asing, bukan malah berhadapan dengan orang yang setiap kehadirannya saja sudah membuatku sulit bernapas.
Ya Tuhan… semoga aku bisa benar-benar menghindarinya. Karena kalau tidak, aku tahu… aku akan kesal setengah mati—terjebak lagi bersama laki-laki yang justru ingin aku lupakan.