Di sebuah kota kecil ada seorang anak gadis cantik yang masih berusia 18 tahun di paksa untuk menerima perjodohan dini ini.
nama nya adalah Meli, gadis cantik yang baru saja lulus, tekat nya yang ingin melanjutkan perguruan tinggi nya terhalang karena permintaan ibu tirinya yang memaksa nya untuk menikah muda dengan seorang pria dewasa.
bagaimana kelanjutan nya yuk mampir di karya author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deby cahya Karmila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepergian sang ayah.
1 bulan pun berlalu, dan selama itu, Kevin terus menjaga meli.
Tak pernah sedikit pun pria itu meninggal meli.
Bahkan dia memilih untuk tidak masuk ke kantor dari pada harus meninggalkan meli.
"Aku sudah lebih baik, kamu ke kantor saja,"ucap meli.
"Aku akan tetap di sini, kamu istirahat lah,"ucap Kevin lagi.
"Sudah sebulan ini aku terkurung di dalam kamar ini, aku sudah sembuh, aku ingin keluar,"ucap meli lagi.
"Kamu mau ke mana? Biar aku yang bawa, apa kamu mau jalan jalan,"ucap Kevin.
Meli menghela nafas nya panjang, sungguh Kevin benar benar membuat nya jengkel.
"Sudah sebulan ini aku tak menjenguk ayahku, aku rindu pada nya,"lirih meli.
"Aku akan membawa mu untuk menjenguk ayah, tunggu sebentar yah, aku akan bersiap siap,"ucap Kevin.
Meli pun hanya mengangguk saja, setidaknya dia bisa bertemu dengan ayah nya.
setengah jam pun berlalu dan kini Kevin sudah siap, pria itu terlihat sangat tanpa dengan pakaian santai nya.
"Apa aku sangat tampan, sehingga kau terus menatap ku seperti itu,"Ucap Kevin.
Meli yang salah tingkah hanya membuang muka saja, dia benar benar malu karena telah ketahuan memperhatikan Kevin.
"Ayo kita berangkat,"ucap Kevin.
Meli mengangguk, dia juga sudah selesai mengganti pakaian nya.
Sebelum pergi dia berpamitan pada ayah, dan ibu mertua nya.
"Apa kamu yakin nak? Kamu udah baikan,"ucap nyonya Winda khawatir.
"Ibu, 1 bulan itu sudah sangat cukup untuk aku beristirahat, lagian aku sudah sehat beberapa Minggu yang lalu, hanya saja tuan Kevin terus saja meminta ku beristirahat, aku juga sudah lelah berdiam diri di kamar terus,"ucap meli.
"Hmm baik lah, kamu hati hati yah,"ucap nyonya Winda.
drrtttt
Drrtttt
Telepon tuan Gunawan berdering, membuat semua nya terdiam.
"Dari rumah sakit,"ucap tuan Gunawan.
"Halo, ada apa,"ucap tuan Gunawan.
"Maaf mengganggu tuan Gunawan, kami hanya ingin menyampaikan berita buruk ini pada anda,"ucap sang dokter.
"Apa maksud mu, "ucap tuan Gunawan lagi.
"tuan Ramli telah meninggal dunia,"ucap sang dokter.
"Yah, ada apa,"ucap nyonya Winda.
"Kenapa kamu diam saja,"ucap nyonya Winda lagi.
"Ramli mah,"lirih tuan Gunawan.
"Ayah? ayah ku kenapa,"lirih meli yang sudah mulai ketakutan.
"Ayah, tolong bicara, ada apa, apa ayah ku baik baik saja,"ucap meli.
"Ramli telah meninggal dunia,"lirih tuan Gunawan.
Meli menutup mulut nya tak percaya, dia menangis sejadi jadinya di dalam pelukan nyonya Winda.
"Itu pasti tidak benar ayah, ayah ku pasti masih hidup,"lirih meli.
"Tuan, ayo antar aku, aku ingin menemui ayah,"lirih meli pada Kevin.
"Eh iya iya, kita ke sana sekarang,"ucap Kevin.
"Yah, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga,"ucap nyonya Winda, yang di angguki oleh tuan Gunawan.
Setiba nya di rumah sakit, meli langsung meninggalkan Kevin.
"Ayah,"lirih meli terus berlari.
Kevin yang baru selesai memarkirkan mobil nya, segera mengejar meli yang kini sudah tak terlihat lagi.
Tepat di depan ruangan sang ayah, meli Melihat begitu banyak perawat yang berdiri di sana.
"Ayah,"teriak meli.
dengan cepat wanita itu masuk,
"Ayah,"
"Bangun ayah, bangun,"teriak meli.
"Tolong jangan tinggalkan meli ayah,hiks hiks hiks.
"Sayang,"lirih Kevin.
Pria itu memeluk tubuh meli begitu kuat, pria itu bahkan berusaha menenangkan meli.
Antiretroviral (ARV) berfungsi menurunkan jumlah virus hingga tidak terdeteksi, sehingga virus "tidur" dan tidak berkembang biak.