NovelToon NovelToon
JUST TO MEET

JUST TO MEET

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Badboy / Romansa-Percintaan bebas / Tamat
Popularitas:95.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: sindi putri aulia

Ada yang lo pengen banget, itu bisa lo liat, tapi gak bisa lo gapai, itu gimana sih rasanya?

***
S1—
Diary Of Jane.

Jane terpaksa kok buat sama Ares, karena dia Ares cuma punya dia. Bahkan sama sekali gak cinta dengan Ares, tapi Ares selalu berusaha, selalu ada di samping Jane, berharap cewek itu pada akhirnya akan jatuh cinta sama dia.

Pahit di awal, manis di akhir. Pada akhirnya Jane jatuh cinta dengan Ares.

S2—
I love you Bramasta.

Kisah bagaimana Bramasta juga ingin di cintai.

——— 🌟

ig. @sindipaulia_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sindi putri aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30. Hayo lho...

Diary of Jane 30.

Jane memajukan bibir bawahnya, "Jangan gitu kenapa bang, jahat banget sih lo..."

"Gue bakal balikin kalo lo berhasil bikin Arka sama nyokap gue bersatu kayak air sama susu." Devano mengangkat tangannya yang sedang memegang buku diary Jane.

"Tapi jangan lo baca, malu gue!"

"Gue gak baca kok. Tenang aja." Devano melipat tangannya, emang isinya berarti banget ya, gue jadi penasaran, Devano melirik buku yang ada di tangannya.

"Oke deh."

Ceroboh. Udah tau banget kalau Devano itu lagi mengincar buku diary nya, Jane malah ceroboh meletakkan bukunya di meja lalu meninggalkan buku itu ke toilet. Tentu saja Devano mengambil kesempatan dalam kesempitan itu.

GGL. Ganteng Ganteng Licik.

Kalo buku gue sama bang Devano, gue curhat ke mana, masa kertas selembar sih, gue kan gak bisa megang kertas selembar, tangan Jane itu terlalu licin buat megang kertas, terlalu lasak dan bisa saja kertas itu terbuang menjadi senjatanya melempar Riko.

"Rayaaaa..." rengek Jane pada sahabatnya itu, "gue harus gimana?"

"Emang lo mau ngapain?"

"Gue itu putus asa, urusan orang mesti gue urus, dan jaminannya diary gue..." Jane mengguncang-guncang tubuh Raya, gak ngerti kalo si sahabatnya itu lagi pake liptint, toh auto berantakan deh mulut Raya.

"Kalo lo bukan temen gue, beneran deh, udah gue santet lo sejak SD dulu," cibir Raya melirik kesal pada Jane yang matanya ajep-ajep sok polos.

"Beeeeh, hebat banget lo SD udah pandai nyantet orang, belajar dimana tuh? Pengen dong, gue pengen santet di Devano."

"Ck, bodo ah. Eh! Devano kata lo? Kakaknya Arka?! Ngapain lo mau nyantet cogan kayak dia, sayang tau, daripada lo santet, mending lo guna-guna biar klepek-klepek sama lo, kalo di santet kasian, ntar kalangan cogan yang udah langka di sekolah bakal tambah langka, susah tau cari cogan, Jane, lo jangan nyantet cogan, noh santet si Riko aja." kini gantian Raya yang mengguncang-guncang tubuh Jane.

Jane pusing pemirsah.

"Kok gue?! Gue juga kalangan cogan kali!" protes Riko tak terima namanya di bawa bawa.

"Cogan versi badak, iya lo ganteng, miriiiip banget sama Justin Bieber, tapi kalo di jejerin dari jarak satu mil, hahaha, anj*r ngakak." Ketawa terus, untung Raya cewek, kalo cowok udah dari tadi Riko sleding.

Riko mencebik.

Please deh, gue lagi bingung mikirin caranya Arka bisa bersatu sama nyokapnya. Jane bangkit, kepalanya sudah cukup pusing di guncang guncan oleh Raya karena satu nama Devano, kalau nama Arka di sebutkan juga, bisa-bisa Jane muntah pelangi di buatnya.

Arka mengambil posisi duduk di samping Ares, "Gimana bokap lo?" tanyanya.

"Udah gak apa-apa," Ares tersenyum, senyum pertama yang Arka lihat setelah sebulan ini, lebih tepatnya setelah papanya Ares keluar dari kondisi kritisnya setelah proses operasi, dan sempat tak sadarkan diri juga.

Ares itu gak punya hati.

Kalau menurut Arka, itu salah,

Hanya karena orang itu kuat, strong, perkasa, maka bukan berarti dia tak bisa kecewa,

Ya, manusia pantas bahagia

Tapi manusia juga boleh sedih.

Perasaan itu hanya masing-masing individu yang bisa menentukan dan merasakan.

Bahkan se-empati apapun orang, pasti yang di rasakan si empati itu berbeda jauh dari apa yang di rasakan sebenarnya pada si penderita asli.

Seperti itu juga halnya dengan Ares.

Ingin Arka membicarakan masalah Jane pada Ares, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat, lebih tepatnya gak sopan.

"Jadi bokap lo masih di rumah sakit?"

"Gak, bokap gue rawat jalan, sekarang di rumah." Ares mengusap mukanya lelah.

"Arka!" gadis yang sama lagi datang, tujuannya masih sama untuk mencari Arka, selalu Arka dan Arka, padahal ada sosok lain di sana. Ares.

"Ares, long time no see," senyum, yah Ares memang selalu jadi nomor dua di hati gadis berlesung pipi dalam itu.

"Jeara, lo emang udah lama gak liat gue, maybe lo gak mau liat gue lama-lama." Ares bangkit kemudian pergi.

Jeara tersentak, gue gak bermaksud gitu.

Sesaat Ares melihat punggung seorang gadis, cewek pendek yang sering dia kerjai, cewek yang selalu bawa buku diary sama pulpen kemanapun, cewek yang selalu bilang dirinya jelek, padahal gak seburuk itu.

"Lo ngapain?!" Ares menepuk pundak itu dengan keras, sampai si penerima meringis emosi lalu memakinya dengan sebutan iblis jahanam.

"Kalo pundak gue patah, terus gue cacat, lo mau tanggung jawab?!" teriak gadis itu bersungut-sungut.

"Eh, Jin, kalo lo cacat lo bakal sempurna dibilang gembel,"

"Sialan!" teriak Jane kesal, sementara objek yang membuatnya marah hanya terkekeh kemudian merangkul pundaknya.

"Denger ya, gue sayang lo..." Ares menaikkan alisnya dan melihat wajah Jane dei dekat.

"Tapi bohong." Jane menyambung perkataan Ares seraya mendorong wajah itu sejauh-jauhnya dari wajahnya

"Nah, bener." Ares mengacak rambut Jane kasar sampai benar benar berantakan.

"Cih." Jane mencebik, lupa ingatan, lupa niatan, dia tadi kan mau ketemu Arka buat menyelesaikan misinya dan membuat buku diary nya kembali ke tangannya.

"Dah ah, bye. Lo kurus, gak enak di peluk." Ares melepaskan rangkulannya kemudian berlalu pergi.

Kurus? Gue nambah 2 kilo bro, gue gemuk, perasaan lo yang nambah kurus, Res...

Jane menatap punggung lebar itu yang sedang berjongkok sambil mengikat tali sepatunya, kok gue merasa... aneh.

"Ingat misi lo Jane..."

Et dah, buset. Kapan datangnya ni orang? Jane terpelonjak kaget saat Devano melewatinya sambil meninggalkan sebuah pesan mistis padanya.

Jane menoleh ke tempat tadi, taman baca itu, Arka masih sama Jeara gak ya?

Masih.

Kalo gue kesana, gue yakin bakal di sebut setan, seperti kata orang, kalo berdua yang ketiganya setan.

Jane kan gak mau, "Huh." Ia lebih memilih mundur sebelum bertempur dari pada kalah telak dari si gadis cantik yang bernama Jeara Anindya itu.

"Lo ngapain Jane?" tiba-tiba jane dikejutkan oleh Raya yang ikut mengintip bersamanya di balik dinding, "astaga dragon, kaget gue maemunah!" Jane menepis tangan Raya yang bertengger di pundaknya.

"Gila! Lo ngintip orang pacaran?! Hmpp!" Raya di bungkam oleh Jane kemudian si tarik bersembunyi di balik dinding karena Arka dan Jeara menoleh akibat teriakan Raya.

"Siapa tuh?" Jeara menyipitkan matanya melihat dinding itu.

"Mungkin orang lewat," Arka berdiri, "yaudah deh, bye."

"Bye too, see you again." Jeara melambai-lambaikan tangannya pada Arka yang hanya memberi respon berupa senyuman ramah.

Jane melepaskan tangannya dari mulut Raya, "Jangan berisik, ntar ketahuan tau ishh..." bisik Jane pada Raya dan Raya hanya mengangguk.

"Emang lo ngapain sih ngintip orang pacaran? Lo kalo iri gak usah gitu juga kali, mangkanya cari pacar, biar gak perlu liat orang pacaran buat tau rasanya pacaran." Raya menyentil dahi Jane. Pengen ketawa, tapi langsung kicep pas liat sosok tinggi yang berdiri di belakang Jane.

"Gue itu gak lagi ngintip orang pacaran, gue itu tadi mau ketemu sama Arka, tapi gue liat si Jeara masih di sampingnya, jadi gue nunggu mereka pisah, gue gak mau kali di bilang orang ketiga, toh mereka pacaran." Jane gak ngerti kenapa Raya melotot lebar banget liatin dia yang cerita, "lo saking kagetnya ya, sampai melotot gitu, biasa aja kali."

"Jeeeennnnn." Geram Raya sambil menggigit bibirnya.

"Apaan sih?"

"Hush, gosip." Bisikan di telinga Jane membuat Jane kicep, dia auto diam sambil noleh horor, dia gak denger semua kan? Bahaya gue astaga.

Mamp*s lo Jane. Raya gigit jari.

Bersambung

Hehe, likenya dong💃

1
Ayuwidia
Aku baca dari awal lagi, Sind
SyaSyi
trus semangat y thor
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya y
khairi
👭👭
Sindi Paulia: kenapa?
total 1 replies
KHARDHA LOVE
Authornya masih ABG ya makanya di marahin mamanya 😁 Semoga kamu bisa menjadi anak yang menjadi kebanggaan ortunya ya.
Sindi Paulia: Amin makasih hehe. Kaka juga semangat yah.
Mwehehehe. Makasih udah baca sampai sejauh ini.
Maaf kalau ceritanya bramasta harus berakhir di sini.
Ini juga karena faktor kondisi. 😭😭😭😭


Kaka semangat yah!!!🤗
Terus nulis, jangan kayak aku🤗
total 1 replies
KHARDHA LOVE
Dasar cewek bar-bar
KHARDHA LOVE
Minta maaf tapi nyolot
KHARDHA LOVE
Dokter kok mulutnya gak bisa di filter 🤦
KHARDHA LOVE
Lanjut baca dulu ya 😉
KHARDHA LOVE
Kirain Verrel Bramasta😁
Andariasrtka
huaaa dah end ajaaaaa
sebulan ga buka noveltoon, ceritanya dah end🥺🥺🥺🥺

di tunggu karya barunya thor
Sindi Paulia: Mwehehehe, tunggu tanggal 20 February ya😌
total 1 replies
𝐓𝐢𝐟𝐟𝐚𝐧𝐲
Semangat up kakak author ☺️ ditunggu next up nya 💪 MDL mampir mendaratkan likenya di karya kakak, feedback ❤️
ᵖᵇ🌧️🍾⃝wuwu.ikoy🎐ˢᵖʸ🐋🐯🧚
wahh...udah tamat
maaf ya aku lm baru mampir, dh boom like smua_<
Sindi Paulia: Makasih hehe
total 1 replies
Ulfa
udah end aja kak ,10 like mendarat kak
Sindi Paulia: Makasih hehe
total 1 replies
Gusmandora
waaahhh
akhirnyaa
selamat thir karyamu kereen
Sindi Paulia: Makasihhh
total 1 replies
ILS
Seruu.. lanjut thor
Susi Ana
wah tamat
Tilyt🧚
like ku selalu hadir, semangat kaaa

feedback to yokk ka🤗
Lux Pras
ditunggu up terbarunya y
Lux Pras
Semangat & Lanjut 🆙
Lux Pras
ditunggu up terbarunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!