Cerita ini hanyalah fiksi tak ada unsur dunia nyata. ini murni hanyalah karangan saja.
Cerita sedang revisi dari alur dan penulisan. jika ada kesalahan dalam pemahaman harap berkomentar dengan bijak! Atau tinggalkan cerita!!
Dilarang spam promosi!!
Area 21+
banyak adegan kekerasan!
Gadis desa itu pergi ke kota berkuliah bermodalkan beasiswa. Seorang muslimah yang menjaga kesuciannya dan juga kehormatannya.
Menjadi sasaran bullying karena pakaiannya yang berbeda dan juga kepolosannya. Hingga datang seorang pria yang terkenal di kampus sebagai laki-laki berwatak kejam dan dingin menyatakan cinta pada gadis muslimah itu.
Di karenakan berbeda keyakinan, gadis itu menolak mentah-mentah karena tak ada istilah pacaran dalam agamanya. Siapa sangka satu kata tidak membuat hidupnya kembali menderita.
Ia diculik dan dikurung di sebuah ruangan, dipaksa menikah dengan pria yang kejam dan tak berperasaan yang ternyata adalah seorang Mafia.
Mampukah gadis itu mengubah watak suaminya?
Dan mampukah ia membawa suaminya ke jalan yang lebih benar mendekat pada sang Maha Pencipta?
Atau malah dia akan tetap menderita dari awal sampai akhir pernikahan.
Penasaran.
Simak kisahnya pada novel berikut!
Terdapat banyak adegan kekerasan. Harap bijak dalam memilih bacaan bagi yang merasa di bawah umur!
Cover: Buatan sendiri. Harap tidak memperbanyak secara ilegal bila tak ingin berurusan secara hukum!
Nb:
Bila tak suka tinggalkan tanpa jejak yah
Nama kota/ tempat di buat secara khusus oleh author. Tidak menyangkut nama kota/ tempat manapun agar tidak terjadi kesalahpahaman!
HARGAI PENULIS DENGAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIAT. SAYA TIDAK MENERIMA SEGALA MACAM JENIS PLAGIAT, JIKA TERDAPAT ATAU KETAHUAN MELAKUKAN HAL TERSEBUT. SAYA TIDAK AKAN RAGU MENUNTUT ANDA. TOLONG HARGAI PENULIS, JIKA ANDA MEMANG MANUSIA!!!!
Happy reading:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Rii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ck, kalian menyebalkan!
Dokter pun masuk dan langsung melakukan pemeriksaan pada Aria.
"Untuk beberapa hari, nona sebaiknya dirawat di rumah sakit saja agar perawatan lebih insentif," saran dokter.
"Tapi aku ingin pulang," kata Aria pelan melirik Gabriel.
"Apa memang harus sekali dirawat di rumah sakit, di rumahkan juga bisa. Lagi pula kau kan memang dokter pribadi keluarga ku," ucap Gabriel.
"Oh, ayolah tuan. Ini demi kebaikan nona muda juga," kata dokter duduk di pinggir ranjang.
"Tapi, Aria tidak mau di rawat di rumah sakit dan aku pun harus pergi berkuliah. Menurut ku akan lebih baik kalau Aria dirawat di rumah saja, keamanannya pun lebih terjaga," kata Gabriel tak bisa dibantah lagi.
Dokter itu menghela nafas panjang lalu tersenyum kecut.
"Anda memang keras kepala! Baiklah, anda boleh pulang dan melakukan rawat jalan. Setiap minggu saya akan datang memeriksa anda."
"Untuk sementara jangan terlalu banyak makan pedas karena lambung anda sedang bermasalah, jangan melakukan pekerjaan yang berat karena...... karena kondisi tubuh Anda belum begitu stabil," ucap dokter.
Aria pun mengangguk patuh. Dokter sudah selesai memeriksa Aria an juga sudah keluar dari ruangan Aria. Kini Aria sedang memakai pakaian nya yang di bantu Gabriel untuk segera pulang.
"Mau naik kursi roda atau di gendong?" tanya Gabriel mendongakkan kepalanya keatas karena posisinya sekarang sedang berjongkok memasangkan Aria kaus kaki.
"Aku bisa berjalan sendiri," ucap Aria.
"Benarkah? Coba kalau bisa, aku ingin lihat," kata Gabriel menantang. Aria pun perlahan-lahan menurunkan kakinya menginjak lantai, belum juga ia menekan tubuhnya di lantai ************ dan perut nya terasa perih.
"Auuwww," pekik Aria.
"Dasar bodoh! Sudah kubilang kau belum bisa berjalan!" gerutu Gabriel kesal membantu Aria kembali duduk di atas ranjang.
"Maaf."
"Jadi, mau naik kursi roda atau di gendong?" tanya Gabriel kembali.
"Kursi roda saja."
"Oke."
***
Setelah mendorong kursi roda hingga ke mobil, kini Aria sedang berada di dalam mobil di kursi sebelah pengemudi. Aria menatap keluar melihat betapa banyaknya orang-orang yang tertawa dengan keluarga mereka. Apalagi ketika ia melewati sebuah taman yang di penuhi keluarga-keluarga bahagia.
"Apa aku juga akan bahagia seperti mereka? Memiliki anak dan sebuah keluarga kecil nantinya."
Tak ada yang memberitahu Aria bahwa ia sudah mengalami keguguran. Semuanya diam karena Gabriel tidak mengizinkan satu orang pun menyindir hal sensitif itu.
Di lampu merah Aria melihat sebuah tokoh boneka, Aria sebenarnya ragu ingin mengatakan permintaan nya pada Gabriel, hanya saja ia ingin punya boneka juga.
"Hmmmm, apa kita boleh berhenti di situ?" tanya Aria sembari menunjuk tokoh boneka yang ada di pinggir jalan.
Gabriel melirik kesamping, ia ingin mengatakan sesuatu hanya saja klakson mobil sudah berbunyi bising di belakang.
"Nanti saja," ucap Gabriel melajukan mobilnya. Aria hanya bisa diam, entah mengapa ia jadi sangat sensitif.
Gabriel melirik Aria yang memasang wajah sendu. Tangannya terulur menyentuh kepala Aria.
"Aku akan membelikannya untuk mu, tapi tidak sekarang. Jalanan sedang macet, jadi bersabarlah!" kata Gabriel sembari mengelus kepala Aria.
Aria tersenyum senang, walau tidak sekarang tapi Gabriel sudah membuat ia tersenyum karena akan mendapatkan sebuah boneka.
"Terimakasih."
Sedari dulu, ia begitu iri pada teman-teman sekolahnya yang sedang merayakan ulang tahun. Pasti mereka akan menghadiahkan sebuah boneka pada teman yang berulang tahun. Aria pernah berharap sewaktu ia kecil, nanti ketika ia berulang tahun ia juga ingin mendapatkan boneka.
Tapi ternyata semua diluar ekspektasi nya, ketika ia berulang tahun. Tak ada satu orang pun yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ia pun pulang dari sekolah dengan wajah yang sedih, hingga ayahnya bertanya apa yang membuat ia sampai bersedih.
Aria menceritakan semua pada ayahnya, ayahnya pun tersenyum. Aria masih ingat betul bagaimana ayahnya tersenyum padanya lalu berkata " Dalam Islam tak ada yang namanya perayaan ulang tahun, itu tidak benar. Tapi, karena kau menginginkan boneka itu, maka ayah akan mengusahakan nya dalam Minggu ini. Doa kan ayah agar mendapatkan uang yang lebih yah." Itu dia, Aria sangat mengingat perkataan ayahnya.
Sayangnya Aria tidak mendapatkan boneka dari ayahnya, melainkan kabar bahwa ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan di tempat kerja. Hal itu membuat Aria menyesal karena sudah meminta boneka pada ayahnya. Andai waktu dapat diulang, ia tidak akan meminta boneka.
Mengingat itu air matanya kembali jatuh, Gabriel yang melihat Aria menangis menjadi bingung.
"Aria, aku sudah mengatakan aku akan membelinya untuk mu. Nanti, setelah kita sampai aku akan pergi ke tokoh itu lagi. Jadi, jangan menangis!" ucap Gabriel mengelus kelapa Aria.
"Iya, terimakasih."
Aria menghapus air matanya lalu tersenyum. Kalau ada adiknya disini, ia juga ingin membeli boneka untuk adiknya.
******
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya Aria dan Gabriel sudah sampai di mansion. Gabriel membantu Aria untuk keluar dari mobil menggunakan kursi roda.
Setelah dirasa aman, Gabriel mendorong kursi roda masuk ke mansion.
"Selamat datang tuan muda, selamat datang nona muda," ucap pelayan dan juga bodyguard secara serentak. Aria pun hanya tersenyum namun Gabriel hanya diam datar seperti tembok.
"Kak Gabriel!!!!" teriak seorang wanita dari lantai atas. Ia berlari menuju Gabriel dan langsung memeluk Gabriel dengan erat. Aria hanya bisa diam melihat betapa eratnya pelukan wanita itu.
"Apa itu kekasih Gabriel yang pernah dikatakan pelayan itu?" pikir Aria.
Melihat keterdiaman Aria, Gabriel langsung melepas pelukan wanita itu dengan kasar.
"Ck, kau kasar sekali!" gerutu wanita itu.
"Siapa yang menyuruh mu memelukku bodoh!" umpat Gabriel menjitak kepala wanita itu.
Wanita itu tampak berdecak kesal lalu melirik kearah Aria. Ia berjongkok dan menatap Aria dengan senyuman manisnya.
"Oh, jadi ini kakak ipar yang dikatakan Roy," kata wanita itu menoel-noel pipi Aria.
"Berhenti mengganggu istriku!"
"Iya-iya. Kenalkan aku dengan kakak ipar," pinta wanita itu.
"Ck, menyusahkan saja. Untuk apa Roy membawa mu kemari!" gerutu Gabriel.
"Katanya kakak ipar butuh bodyguard, jadi aku mencalonkan diri untuk menjadi bodyguard nya," kata wanita itu dengan percaya diri.
"Ck, Aria. Kenalkan ini adik ku. Maksudnya anak dari pengasuh ku dulu, tapi aku sudah menganggap dia sebagai adikku. Dia agak cerewet dan bar-bar jadi aku harap kau bersabar menghadapi manusia itu," ucap Gabriel sembari memasang wajah kesalnya.
"Ck, tidak lengkap. Kau bahkan tidak menyebutkan namaku," ketus wanita itu. Lalu ia mengulurkan tangannya pada Aria.
"Kenalkan, namaku Alisa. Kakak bisa memanggilku Al ataupun Lisa." Aria tersenyum lalu memperkenalkan namanya pada Alisa.
Setelah sesi perkenalan selesai, kini Aria dan Alisa berada di kamar Gabriel. Sedangkan Gabriel kini sedang menghubungi Roy untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena membawa Alisa kemari.
"Wah, kakak ipar hebat sekali karena bisa menikah dengan kak GB. Padahal dia terkenal dingin terhadap wanita manapun, aku saja sampai berfikir kalau kak GB itu gay," ucap Alisa sembari menahan tawa.
Pletak
Gabriel memukul kepala Alisa dengan sebuah buku membuat yang dipukul memasang wajah suram.
"Kau lihat kak, dia ini memang mengerikan. Aku jadi penasaran, bagaimana kalau dia sedang melakukan nya di malam pertama."
Gabriel kembali ingin memukul Alisa, namun Alisa langsung menghindari dan menjulurkan lidahnya.
"Marah saja yang kau tahu, dasar kakek tua!" ledek Alisa kabur dari kamar Gabriel. Aria mencoba menahan tawanya karena sifat keduanya yang sama. Sama-sama menyebalkan.
"Jangan tertawa!" ketus Gabriel.
"Tapi, aku tidak bisa menahannya," kata Aria terkekeh.
"Ck, kalian menyebalkan!"
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
Author cuma up satu eps aja karena hari ini adalah Ahri yang paling sulit untuk update, sekalipun hanya satu bab.
Author setiap hari Senin masuk 4 MK, dari lagi sampai sore tanpa jeda. Apalagi hari ini keempat² nya melakukan UTS.
Gila Aku oi, macam mesinnya otak ku hati ini. Jadi mohon dimaklumi.
Jangan lupa beti dukungan, berupa like, komen, rate dan juga vote. Agar author semakin semangat.
Biar gak pind*h hmmm, taulah aturan sekarang😥😥😒🥰
tbc
sehat selalu author nya😄😄